Hari ini saya mengalami peledakan emosi yang mimpes dan lumayan membuat dada saya sakit. Saya merasa terhina, dianggapnya kami bekerja dengan semrawut tanpa dia pernah mau membuka matanya yang tidak buta untuk benar-benar mencermati apa yang kami sehari-hari hadapi.
Siapapun, tidak hanya saya, pastinya mendamba seorang presiden yang bijaksana, mengerti dan membumi. Bukan kepala yang minta tempat di atas namun berfikir dengan lutut yang bahkan lebih rendah daripada perut. Saya kecewa. Mungkin memang hidup saya penuh dengan kekecewaan karena ekspektasi untuk dihargai yang lumayan tinggi. Saya tidak minta harga mahal sebenarnya, saya cuma minta kualitas saya, kami, dihargai sesuai semestinya.
Kalau kamu mengeluarkan uang sejuta untuk membeli ponsel dengan spesifikasi kamera seadanya, sinyal sebisanya dan memori yang pas-pasan ya tidak apa-apa ketika memang harganya segitu. Tapi mana bisa kalau laptop canggih yang memorinya besar, kecepatannya oke dan bisa melakukan lebih dari yang ponsel lakukan tetap dihargai satu juta meski itu barang baru yang juga masih bagus.
Saya tidak suka ketika saya disamakan dengan orang yang hanya bisa jualan. Saya juga jualan, tapi beda barang. Saya juga bodoh, tapi minimal masih mau belajar. Dan demi seluruh paha mulus di dunia ini, sesungguhnya kepala itu tidak seharusnya menggunakan lutut sebagai alat untuk berfikir.
Terkadang cerita sangat bermakna namun tabu untuk diceritakan. Mari berbagi cerita di harizkanugroho@yahoo.com Cerita yang masuk akan saya publikasi disini tanpa menunjukkan identitas penulis. Semoga bermanfaat.
Jumat, 05 Oktober 2012
Minggu, 23 September 2012
MENGGAMBAR
Tiba-tiba saya ingin menulis. Di puncak hasrat saya
yang sedang menggebu-gebu, justru tangan saya tergerak kaku untuk menggerakkan telunjuk
kanan di atas tetikus dan kiri di atas papan ketik instead of memainkan sepuluh jari di atas tombol-tombol huruf.
Setelah crop sana crop sini, blend ini blend itu,
jadilah sebuah gambar yang berisi tumpukan gambar lain. Kurang halus, kurang
bagus. Tapi inilah saya yang hanya mampu menggunakan pensil untuk menulis.
Suatu hari nanti, siapa tahu anak saya akan
bertanya, “Ibu, menggambar itu apa sih?”
Thus, saya harus persiapkan jawaban saya dari sekarang. Secara teori, menggambar itu membuat bentuk atau pola tertentu. Tapi teori akan basi jika berbenturan dengan ruang hampa, yang bahkan membuat kita berpikir dimana letak benturannya. Inilah manusia, suka berteori, suka membatasi, maka ketika batas-batas yang ia karang ternyata hanya fiktif belaka maka orang-orang semacam saya ini yang repot. Apa jawaban yang harus saya ungkapkan pada anak saya?
Thus, saya harus persiapkan jawaban saya dari sekarang. Secara teori, menggambar itu membuat bentuk atau pola tertentu. Tapi teori akan basi jika berbenturan dengan ruang hampa, yang bahkan membuat kita berpikir dimana letak benturannya. Inilah manusia, suka berteori, suka membatasi, maka ketika batas-batas yang ia karang ternyata hanya fiktif belaka maka orang-orang semacam saya ini yang repot. Apa jawaban yang harus saya ungkapkan pada anak saya?
Kalau hanya menggoreskan pensil di atas kertas,
saya bisa. Tulis nama saya, tempat tinggal, umur, paling banter tulis hal-hal yang mengusik pikiran saya. Pada kenyataannya,
saya tidak bisa menggambar. Sama sekali. Berbeda dengan menulis, semua orang
(terutama yang muda) diwajibkan bisa menulis, jadi sekedar untuk menulis, pasti
yang sudah pernah diajari akan bisa. Menggambar tidak begitu. Sejak kecil saya
belajar menggambar, hampir mati-matian tapi selalu gagal. Semua gambar seni
ukir di masa SMP saya dibuatkan oleh Mbah Kakung yang dengan bangga saya rusak
dengan pewarnaan yang tidak bagus.
Aslinya saya tidak mau membahas tentang menggambar
dan menulis, saya ingin berterima kasih pada Bos Besar saya, yang telah menginspirasi
saya (dan saya yakin, beberapa teman saya juga) dengan kerja kerasnya dan
kekerasan terselubungnya. Tadinya saya bermaksud membuat gambar yang bagus untuk
dikenang, tapi jujur saja karena keterbatasan saya yang tidak ada batasnya,
jadilah gambar itu begini adanya. Tidak halus, tidak bagus tapi 100% saya pakai
sotosop yang bagi saya tingkat kesulitannya lebih dari teman-teman
seperjuangannya.
Mungkin tulisan ini memang sedikit berlebihan,
tapi saya sendiri tidak tahu harus bicara apa untuk berterima kasih (saya harap
tidak ada yang mendikte saya untuk mengucapkan te-ri-ma-ka-sih dalam hati).
Karena ini bukan teori, saya merasakan betapa sulitnya kata-kata akan keluar
dari mulut saya. Maka terimalah gambar amburadul nan menyedihkan ini sebagai
wujud ungkapan terimakasih saya yang telah dinasihati, didukung, diajak
berfikir bijaksana, terkadang dipuji juga dan atas jemputannya bersama Bos
Kecil di bandara pada waktu pertama kali saya kemari (padahal sampai sekarang
juga masih pertama kali).
Sejujurnya, meski ini bukan tulisan terjelek saya,
tapi tulisan ini sangat amburadul, tidak bagus dan acak-acakan. Dan itulah
ternyata untuk mempersembahkan yang terbaik pun saya tidak bisa. Bos, tengkiu
ya sudah menyemangati saya, mengguyur kepala saya dengan es batu ketika sedang
mendidih, mengarahkan saya memiliki teman-teman yang beragam dan semuanya spesies
langka. Intinya saya mau kasih foto ini ke Bos, tapi kalau tiba-tiba saya kasih
lewat flesdis, kayaknya saya culun banget gitu kayak anak TK jadi mending biar
ada adegan sedih-sedihnya ya saya berikan dalam format seperti ini. Maaf Bos,
nggak bisa ngonvert docx jadi 3gp hehehe…
Intinya itulah, makasih ya Bos… Kalau sudah di
Bali jangan lupakan kami yang disini. Kalau bisa ya jangan ingat doang, et lis
pas kesini bawalah kaos Joger buat masing2 orang atau brownies Amanda juga
boleh. Hehehe…
NB: karena tidak semua gambar teman-teman saya punya, jadi yang saya bisa tempel juga tidak semua =) harap maklum
Kamis, 13 September 2012
Baju Lebaran Ayah
pukul 19.00 WIB
Jika kau ingat... kau akan tahu kalau malam itu adalah malam terindah untuk semua umat muslim, ya...malam dimana suara2 takbir berkumandang dimana-mana... aku yakin kau hanya bisa tersenyum dan menangis bahagia malam itu...
'malam takbiran' biasanya... aku seharusnya begitu...
tapi kali ini ada yang berbeda, sesuatu telah terjadi dan itu bukanlah sesuatu yang baik atau cukup baik.kurang lebih seperti itulah...
Dan malam itu....
sejak 2 bulan yang lalu aku tidak bisa tersenyum layaknya orang yang bahagia, justru air mata 'bodoh' ini yang selalu keluar, membuat mataku benar2 kering malam ini...
aku tidak bisa berpura2 tersenyum dan menangispun rasanya sudah tidak mungkin lagi, air mataku sudah benar2 kering..
isak tangis lirih ibu diruang tamu membuat aku semakin ngeri. Aku tahu, sebisa mungkin ibu menyembunyikan tangisan itu tapi aku cukup terbiasa dengan semua tangisan dirumah ini...selirih apapun itu aku pasti mendengarnya, dan aku bahkan ngga mampu lagi untuk menenangkannya...aku sendiri tag kuasa menenangkan diri sendiri.
jadi...sejak beberapa bulan yang lalu ayahku sakit paru2 (dia adalah perokok hebat tapi selalu mengajarkan anak2nya untuk tak merokok), dan 3 hari terakhir ini bertambah parah saja, tubuhnya benar2 hanya tersisa tulang...sesekali ayah mengeram kesakitan sampai menangis, dia sudah benar2 berpeluh dengan rasa sakit, aku sudah tidak bisa melakukan apapun...sejak kemarin aku tidak berani melihatnya,
setelah cukup lama aku duduk2 diteras depan,
entah mengapa tiba2 aku sangat ingin menemui ayah dikamarnya.
dan keinginan itu begitu kuat,
dengan langkah pelan aku menuju kekamar ayah.
pintu kamar sedikit terbuka, aku bisa melihat ayahku yang terbujur tak berdaya diranjangnya ditemani kakak, rasanya aku hanya bisa mendekat sedekat itu...
mencoba menahan isak agar ayah dan kakak tag menyadari kehadiranku disana...
"ngesuk bapak tukukna pakean anyar ya" kata ayah tiba2 dengan suara paraunya. kakak yang masih terkejut hanya bisa mengangguk cepat, "sing murahan bae... warnane putih polos" lanjut ayah lagi, kakak hanya bisa diam mendengar kata2 ayah...
ngga biasanya ayah minta dibelikan baju lebaran, dan anehnya lagi... beliau minta baju berwarna putih polos yang murah... astaghfirullah' semoga ini hanya persaanku saja, aku berusaha menghilangkan firasat buruk itu. segera aku menjauh dan kuambil air wudhu kemudian sholat isya...
dan tentu saja, dalam doaku sepenuhnya untuk kesembuhan ayah dan kekuatan ibu dan kami sekeluarga, berharap esok kami berbahagia dalam fitri...
malam ini aku benar2 ngga bisa tidur...
malam paling menegangkan!
selesai sholat id aku langsung menemui ayah dan sungkem dengannya (Alhamdulillah...ayah sempat bersalaman dengan keluarga dan tetangga), kemudian aku membacakan surat yasin 2 kali... kemudian aku kebelakang sebentar... begitu aku kembali...
tepat pukul 08.00 WIB.
'innalillahi wa'innailaihi rajiuun!'
Ayah tertidur, dan benar2 tidur...
Sabtu, 8 januari 2000
(Aku bahagia, karna Ayah tutup usia dengan senyum di Hari yang Fitri)
Bahkan, waktupun menyayangi Ayah, dan membiarkan ayah merasakan Fitri...
Minggu, 06 Mei 2012
Sementara Ini Dulu ya Pasukan!
Terkadang kita mengalami mimpi yang terasa sangat nyata, namun tepat ketika kita bangun kita justru lupa mimpi apa yang baru saja kita alami. Saya merasakan hal yang sama pagi ini. Tepat ketika bangun, saya lupa saya mimpi apa, lalu seperti halnya ibu-ibu rumah tangga yang lain, saya bantu mertua saya masak untuk sarapan. Disitulah saya ingat akan mimpi saya semalam.
Saya seperti benar-benar kembali ke tempat itu, sepetak lahan dengan segala keterbatasannya yang luar biasa yang justru mampu menyedot saya ke suatu kotak yang saya namai hidup. Saya merasa sangat hidup di tempat itu. Saya tidak perlu menjadi orang lain untuk tetap dihargai dan berbaur di sana.
On the top steep cliff yang terletak pas di belokan jalan, terhampar sebidang tanah yang luas setelah kita memanjat jalan batu di tebing yang tinggi itu. Disana berdiri bangunan permanen yang dua lokalnya sudah setengah ambruk. SDI Wae Paku. Saya menemukan cinta saya di sana. Saya sayang tempat itu, orang-orang disana dan suasananya. Baru sekali seumur hidup saya repot-repot menengadahkan kepala saya untuk melakukan satu hal yang saya sangat tidak suka: MELIHAT BINTANG. Di tempat itu, saya tidak melihat bintang, saya menikmatinya malah.
Di tempat itu saya berbaur dengan Pasukan, mereka anak-anak kelas 6. Mereka tidur dengan Pak Fian, bertigapuluh sekian dalam satu ruang, mereka menimba air, mengisi termos, mencuci piring, membersihkan kamar dan bercanda-canda.
Saya suka mendengarkan mereka menyanyi. Lagu mereka adalah lagu-lagu yang kita tahu tapi cara mereka menyanyi benar-benar membuat lagu itu tampak baru. Sapaan 'selamat pagi Pak' khas mereka selalu mengembangkan senyum saya. Notasi Garuda Pancasila selalu berakhiran 0 di tiap barisnya, hasil gubahan mereka tentu. Sebuah lagu khas SDI Wae Paku yang saya tidak hafal berlirik awal di tengah-tengah kota Jakarta, hampir setiap pagi dinyanyikan dengan penuh semangat. Mereka berseloroh sambil tiduran setiap siang, terkadang disisipi lagu satu-satu aku sayang pacar.
Pasukan telah menawan hati saya. Perjalanan via darat, laut dan udara yang saya lakukan tidaklah sebanding dengan apa yang saya dapatkan di sana. Ketika saya pulang, beberapa dari mereka mengantarkan saya ke pinggir jalan, Lexi yang membawakan kopor 9kg saya menuruni tebing berjalan batu terjal itu. Di sana, mereka tak henti berbisik dan memandangi saya, Pak Fian dan Pak Fit, tiga orang Jawa yang berbincang-bincang dengan bahasa yang asing untuk mereka.
Kala saya hampir bergerak meninggalkan mereka, Rensi, anak paling pintar seangkatan itu berkata dengan jelas, "Ibu jangan lupakan kami ya!"
Sepanjang jalan saya terngiang-ngiang kalimat itu, Saya ingin kembali. Menonton persekolahan tanpa sepatu, memasak pagi dengan makanan superenak; telur dan daun singkong. Menanti sore dengan makan timun di bawah pohon atau tiduran sambil menguping lagu-lagu khas Pasukan, Malam hari kami mencari cahaya, ke rumah Papa Wulang yang punya lampu tenaga surya atau ke rumah Ibu Ani menonton TV jika generator bisa menyala.
Pasukan itu hidup memeriahkan sebidang tanah di atas tebing, Lexi satu-satunya yang bisa menyalakan generator; hal yang sebegitu sulit dilakukan oleh guru-gurunya. Sipri adalah si pemimpin pasukan yang bertanggung jawab dan dewasa. Bajang suka melucu, rajin dan cerewet. Kardus, anaknya Pak Sales Latung (dalam bahasa Manggarai latung berarti jagung) yang kakeknya pun bernama Latung, termasuk anak yang malas namun jika dihitung tingkat kemalasannya pasti dia 98% jauh lebih rajin daripada anak-anak sekolah di sekitar saya. Rensi dan Elis yang tinggal di rumah Papa Wulang, malu-malu menjawab tebakan, lucu sekali. Foni dan seorang temannya yang membantu saya napeni beras, terimakasih ya hehehe...
Hari ini kalian berjuang, Pasukan. Saya sedang membayangkan wajah-wajah kalian yang pastinya jadi jauh lebih cantik dan ganteng dengan sepatu yang kinclong, kaos kaki, baju rapi dimasukkan ke bawahan yang diikatpinggangi. Selamat berjuang ya Pasukan! Semoga kalian bisa masuk SMP yang kalian inginkan, semoga kalian bisa membangun tanah kelahiran kalian nantinya, semoga kalian menjadi orang-orang jujur yang akan memajukan negeri kita. Jangan lupakan saya, Pasukan! Saya memang istrinya pak guru kalian, tapi saya murid kalian. Seorang murid tidak akan melupakan gurunya, percayalah! Tuhan punya rencana, Pasukan. Saya akan terus berusaha untuk kembali ke sana, melihat pasukan-pasukan generasi berikutnya.
Saya seperti benar-benar kembali ke tempat itu, sepetak lahan dengan segala keterbatasannya yang luar biasa yang justru mampu menyedot saya ke suatu kotak yang saya namai hidup. Saya merasa sangat hidup di tempat itu. Saya tidak perlu menjadi orang lain untuk tetap dihargai dan berbaur di sana.
On the top steep cliff yang terletak pas di belokan jalan, terhampar sebidang tanah yang luas setelah kita memanjat jalan batu di tebing yang tinggi itu. Disana berdiri bangunan permanen yang dua lokalnya sudah setengah ambruk. SDI Wae Paku. Saya menemukan cinta saya di sana. Saya sayang tempat itu, orang-orang disana dan suasananya. Baru sekali seumur hidup saya repot-repot menengadahkan kepala saya untuk melakukan satu hal yang saya sangat tidak suka: MELIHAT BINTANG. Di tempat itu, saya tidak melihat bintang, saya menikmatinya malah.
Di tempat itu saya berbaur dengan Pasukan, mereka anak-anak kelas 6. Mereka tidur dengan Pak Fian, bertigapuluh sekian dalam satu ruang, mereka menimba air, mengisi termos, mencuci piring, membersihkan kamar dan bercanda-canda.
Saya suka mendengarkan mereka menyanyi. Lagu mereka adalah lagu-lagu yang kita tahu tapi cara mereka menyanyi benar-benar membuat lagu itu tampak baru. Sapaan 'selamat pagi Pak' khas mereka selalu mengembangkan senyum saya. Notasi Garuda Pancasila selalu berakhiran 0 di tiap barisnya, hasil gubahan mereka tentu. Sebuah lagu khas SDI Wae Paku yang saya tidak hafal berlirik awal di tengah-tengah kota Jakarta, hampir setiap pagi dinyanyikan dengan penuh semangat. Mereka berseloroh sambil tiduran setiap siang, terkadang disisipi lagu satu-satu aku sayang pacar.
Pasukan telah menawan hati saya. Perjalanan via darat, laut dan udara yang saya lakukan tidaklah sebanding dengan apa yang saya dapatkan di sana. Ketika saya pulang, beberapa dari mereka mengantarkan saya ke pinggir jalan, Lexi yang membawakan kopor 9kg saya menuruni tebing berjalan batu terjal itu. Di sana, mereka tak henti berbisik dan memandangi saya, Pak Fian dan Pak Fit, tiga orang Jawa yang berbincang-bincang dengan bahasa yang asing untuk mereka.
Kala saya hampir bergerak meninggalkan mereka, Rensi, anak paling pintar seangkatan itu berkata dengan jelas, "Ibu jangan lupakan kami ya!"
Sepanjang jalan saya terngiang-ngiang kalimat itu, Saya ingin kembali. Menonton persekolahan tanpa sepatu, memasak pagi dengan makanan superenak; telur dan daun singkong. Menanti sore dengan makan timun di bawah pohon atau tiduran sambil menguping lagu-lagu khas Pasukan, Malam hari kami mencari cahaya, ke rumah Papa Wulang yang punya lampu tenaga surya atau ke rumah Ibu Ani menonton TV jika generator bisa menyala.
Pasukan itu hidup memeriahkan sebidang tanah di atas tebing, Lexi satu-satunya yang bisa menyalakan generator; hal yang sebegitu sulit dilakukan oleh guru-gurunya. Sipri adalah si pemimpin pasukan yang bertanggung jawab dan dewasa. Bajang suka melucu, rajin dan cerewet. Kardus, anaknya Pak Sales Latung (dalam bahasa Manggarai latung berarti jagung) yang kakeknya pun bernama Latung, termasuk anak yang malas namun jika dihitung tingkat kemalasannya pasti dia 98% jauh lebih rajin daripada anak-anak sekolah di sekitar saya. Rensi dan Elis yang tinggal di rumah Papa Wulang, malu-malu menjawab tebakan, lucu sekali. Foni dan seorang temannya yang membantu saya napeni beras, terimakasih ya hehehe...
Hari ini kalian berjuang, Pasukan. Saya sedang membayangkan wajah-wajah kalian yang pastinya jadi jauh lebih cantik dan ganteng dengan sepatu yang kinclong, kaos kaki, baju rapi dimasukkan ke bawahan yang diikatpinggangi. Selamat berjuang ya Pasukan! Semoga kalian bisa masuk SMP yang kalian inginkan, semoga kalian bisa membangun tanah kelahiran kalian nantinya, semoga kalian menjadi orang-orang jujur yang akan memajukan negeri kita. Jangan lupakan saya, Pasukan! Saya memang istrinya pak guru kalian, tapi saya murid kalian. Seorang murid tidak akan melupakan gurunya, percayalah! Tuhan punya rencana, Pasukan. Saya akan terus berusaha untuk kembali ke sana, melihat pasukan-pasukan generasi berikutnya.
The Point doesn't float, It's burried deep inside the soil
Awal Tahun Ajaran Baru 2004/2005.
“Dia masuk kelas ini?” batinku shock mendapati kenyataan bahwa aku akan sekelas dengan seorang anak yang memilki track record negatif selama di kelas X.
Namanya Berlian. Sebenarnya aku tak begitu mengenalnya. Sejauh ini aku hanya mendengarnya dari cerita “ini itu”. Aku tak sanggup membeberkan apa saja “ini itu” yang dimaksud. Satu hal yang sudah dapat dipastikan kebenarannya, ia pernah menjalani operasi tumor otak waktu di kelas X. Tak heran jika rambutnya sekarang dipotong cepak mirip laki-laki.
Aku meliriknya. Gadis putih bertubuh mungil itu tersenyum padaku. Ia memakai seragam yang sudah dimodif lebih pendek. Sekilas aku seperti melihat bekas luka di kepalanya, mungkin bekas operasinya dulu. Ia duduk sendirian terlihat seperti kebingungan. Aku membalas senyumnya.
“Cobaan apa lagi ini?” aku berkeluh kesah pada diriku sendiri.
Ini tahun keduaku di SMA, memulai “kehidupan baru” dengan memilih jurusan bahasa, sebuah jurusan yang oleh kebanyakan orang dijadikan “underdog”, diremehkan dan semacam itu. Aku tak pernah menyangka bakal terjerumus ke kelas bahasa. Di sisi lain, aku sama sekali gak berminat masuk jurusan IPS. Bukannya sombong, tapi sebenarnya nilaiku lebih dari cukup untuk masuk di kelas IPA. Namun karena tak memenuhi syarat yang kutetapkan untuk diriku sendiri, akhirnya dengan sangat terpaksa akan kucoba jalani dua tahun ke depan di kelas ini. Terdampar di sebuah kelas yang asing dengan orang-orang yang asing sama sekali!
Keadaan terasa begitu sepi, hanya ada 23 siswa di kelas bahasa. Kuulangi lagi, dua puluh tiga! Jumlah itu adalah separuh dari jumlah sebuah kelas normal di SMA ini. Ini artinya, tiap siswa bakal mendapat giliran yang sama rata seumpama ada guru yang memberi pertanyaan. Ditambah lagi, ada beberapa anak yang dianggap “bermasalah” masuk di kelas ini.
“Arrrrgggghhhh!!!!”
Menyesal? Agak sih, tapi sudah terlambat.
17 Agustus 2004
Setelah mengikuti upacara hari kemerdekaan RI di sekolah, aku bingung mau kemana. Rasanya masih malas untuk beranjak pulang ke rumah. Kelas sudah sepi. Hanya ada tiga orang di dalam. Berlian bersama dua temanku yang lain, Rahma dan Indah.
“Koq belum pulang?” tanyaku pada mereka sambil menghampiri.
“Mo ke swalayan sama Indah,” jawab Rahma, “Tapi jam segini kan belum buka.”
“Berlian juga?” tanyaku pada gadis itu.
“Aku gak ikut. Cuma nunggu jemputan.” kata Berlian sambil memasukkan handphone ke dalam tas.
“Oh, kalo aku si lagi males pulang.” sahutku tanpa ditanya.
Tanpa sengaja, kita berempat sudah duduk mengitari satu meja. Awalnya kita hanya membahas tentang PR-PR baru yang sudah menyerbu. Lama-lama kita sampai pada topik mengapa-masuk-jurusan-bahasa. Satu persatu bercerita. Indah beralasan kalo dia pengen banget belajar bahasa Prancis. Sedangkan Rahma beranggapan karena jurusan ini kelihatannya asik. Berlian bilang karena ia disarankan masuk sini. Tiba giliranku, kuceritakan tentang sikap anti-IPS ku dan diriku yang tak memenuhi syarat-masuk-IPA-sesuai-standarku. Anehnya, setelah bercerita seolah-olah ada sebuah beban yang terlepas dari kepalaku. Aku baru menyadari bahwa aku mulai merasa nyaman berada di kelas bahasa. Selama beberapa jam, kita saling bertukar pikiran, tertawa, dan bercanda. Hingga akhirnya terlontar sebuah pertanyaan pada teman-teman ngobrolku itu.
“Kejadian apa yang sangat membekas buat kalian?”
Mereka bertiga mencoba mengingat-ingat.
“Kalo aku..” aku tak meneruskan kalimatku. Mengurungkan niatku untuk bercerita.
“Apa hayo? Cerita…” Indah mendesak.
Aku diam sejenak. Peristiwa itu terputar kembali di dalam ingatan. Insiden tahun lalu yang mengubah hidupku dan keluargaku secara drastis. Adik laki-lakiku diculik pada November 2003 dan baru ditemukan 6 bulan setelahnya dalam keadaan meninggal. Ketiga temanku mendengarkan dengan serius. Sebenarnya aku tak mau mengingat kejadian itu lagi. Namun ada sebuah keinginan untuk bisa membagi. Aku bertutur sambil tetap tersenyum walau suaraku terdengar bergetar menahan tangis. Tiba-tiba aku merindukan adikku itu.
“Kalau kamu Ber?” todongku tiba-tiba pada Berlian.
Kemudian ia mulai bercerita. Ia bercerita tentang awal-awal ketika ia sering mengeluh pusing. Mamanya tahu namun tak mempedulikannya. Malah Berlian dianggap hanya mencari-cari alasan saja untuk bisa bersantai. Semakin hari ia sering pingsan dan dari situ diketahui bahwa ia mengidap tumor otak. Operasi telah dilakukan dan sekarang Berlian masih perlu menjalani berbagai macam perawatan. Dari apa yang diceritakannya, kusimpulkan bahwa ia merasa sangat kesepian. Di antara keluarganya, papanya lah yang sangat memperhatikan Berlian. Kurasa ia membutuhkan dukungan.
Kami mendengar ceritanya dengan seksama. Seketika itu aku merasa kasihan padanya. Aku malu pada diriku sendiri yang dulu sempat berpikiran macam-macam tentangnya. Berlian, maafin aku ya.
Juni 2005
Sudah hampir setahun aku menghabiskan waktu bersama teman-teman kelas bahasaku. Coba tebak? Jika awalnya aku sempat menyesal telah masuk ke jurusan ini. Sekarang aku justru bersyukur dengan pilihanku. Aku kini memiliki mereka, teman-teman dan guru-guru yang hebat. Kami memang sudah biasa dipandang sebelah mata, namun karena itulah kami saling menguatkan dan bersama-sama membuktikan bahwa kami mampu untuk bersaing dalam prestasi. Tak hanya itu, kelas kita juga terkenal kompak. Bahkan dengan senior sesama jurusan bahasa. Aku seperti menemukan keluarga baru di kelas ini.
Kabar Berlian? Ia kembali menjalani operasi di kelas XI. Setelahnya, ia mengenakan scraft untuk menutupi kepalanya. Ia juga memakai kacamata minus berwarna biru. Kini Berlian memiliki ciri khas. Dan kami jadi tahu bahwa ia fans berat tokoh kartun bernama “Pucca”, gadis sipit berbaju merah yang rambutnya dikuncir dua itu kalau tidak salah.
Berlian mulai bisa menyesuaikan diri dengan sekolah. Walaupun untuk membaca tulisan di papan tulis saja ia masih harus dibantu. Akan tetapi disitulah letak keindahannya. Bagi kami, Berlian bukanlah beban namun sebuah titipan yang harus kami jaga. Kami maklum ia sering tidak masuk karena sakit. Kami mencoba membantunya jika sedikit-sedikit ia bertanya tentang pelajaran yang bahkan bisa membuatnya sakit kepala karena tidak mengerti. Dan terkadang akhirnya menyerah. Berlian memang kami istimewakan. Kami Seakan-akan kami ingin mengatakan padanya, “Jangan bersedih dan menyerah. Kami akan selalu ada untukmu kawan.”
Aku teringat sesuatu. Pernah suatu sore, tertera nomornya memanggil di handphoneku. Ketika kuangkat, hanya tangisan yang kudengar. Aku panik.
“Berlian, kamu kenapa?”
Ia masih menangis. “Berlian, kenapa? Coba cerita. Tarik nafas dulu.” Ucapku mencoba menenangkan.
Berlian masih menangis sesenggukan. “Tugasnya..”, ia menjawab lirih.
“Apa Ber? Gak denger. Tenang dulu ya. Cerita pelan-pelan coba.” Aku berkata dengan lembut.
“Tugasnya-kemarin-ilang.” Ia menjawab lagi dengan terbata-bata.
Tugas? tanyaku dalam hati sambil mencerna maksudnya. Kemudian aku paham. Aku ingat kemarin lusa guru sejarah memberi tugas kelompok dan Berlian mendapat bagian untuk mengetiknya. Ternyata tugas yang dibawa Berlian hilang. Aku tersenyum lega kerena ternyata hanya itu penyebab ia sampai menangis histeris. Kukira ada sesuatu yang serius. Lalu aku mengatakan padanya untuk tenang, “Ntar biar aku ma temen-temen yang bikin aja. Udah Ber, gak usah dipikirin ya. Gak pa-pa koq.”
Begitulah Berlian. Kadang bisa sangat polos, kadang bisa sangat bijak. Ia juga bisa menjadi sangat frustasi karena hal kecil. Kadang-kadang ia bersikap sangat manja. Namun ada satu waktu terlihat raut aku-bisa-mengerjakan-semua-sendiri di wajahnya. Yang menarik darinya adalah tawanya yang khas. Dan ia selalu tersenyum pada siapapun.
Persiapan Menjelang UAN 2006
Hari demi hari berlalu, sebentar lagi kami hampir meninggalkan bangku sekolah menengah. Akhir-akhir ini mulai disibukkan dengan berbagai persiapan menjelang ujian nasional. Lagi-lagi Berlian masuk rumah sakit. Kembali ia harus menjalani operasi.
Beberapa minggu sudah ia dirawat dan belum bisa bergabung bersama kami di sekolah. Kami bergiliran menjenguknya. Terakhir aku melihatnya, ia masih ceria seperti biasa. Hingga aku mendengar kabar bahwa syaraf Berlian sudah tidak bisa berfungsi dengan baik, ia tak bisa bergerak bahkan untuk membuka mata.
Januari 2006
Suatu malam, aku menjenguknya bersama teman-teman. Kami bergiliran masuk dua orang ke kamarnya. Kuperhatikan teman-temanku selalu keluar kamar dengan menangis. Aku jadi semakin penasaran.
Kini giliranku dan temanku, Karina masuk. Kubuka tirai. Miris rasanya melihat Berlian yang biasanya tertawa sudah tidak berdaya. Berbagai macam selang dan alat-alat yang tak kuketahui namanya membelenggunya disana sini. Ia tak bergerak. Hanya diam terbaring di atas tempat tidur di ruang ICU. Karina sudah tak tega menatap gadis itu. Aku mendekati Berlian. Kugenggam tangannya yang terasa dingin.
Aku berbisik di telinganya, “Berlian, ini aku ma Karina. Cepet sembuh ya.. Jangan menyerah. Jangan putus asa. Kita semua sayang sama Berlian. Pokoknya kita berdoa terus ya, biar dikasi yang terbaik. Kita sayang Berlian, pokoknya jangan menyerah ya.”
Aku meliriknya sekilas, sebulir air mata mengalir di pipinya.
Aku terdiam sejenak, menghela nafas. Aku kehilangan kata untuk beberapa saat.
“Ber, kita pamit dulu ya. Besok-besok kita jenguk lagi, ok. Tetep berjuang ya.” bisikku lagi. Kemudian Karina dan aku keluar dari kamar sambil menangis juga.
9 Februari 2006
Hari itu hari Kamis, kalau tak salah ingat. Karena sudah kelas XII, kami diberi pelajaran tambahan yang dimulai jam 6 pagi. Dan seperti biasa aku datang terlambat ke sekolah. Tirai kelas sudah ditutup, aku berpikir “Wah, ini pasti kerjaan anak-anak buat ngerjain anak yang sering telat kayak aku. Biar dikiranya jam tambahan udah dimulai.” Dengan cengengesan aku membuka pintu dan masuk, meletakkan helm di meja depan kelas sambil terus senyum-senyum.
Sewaktu berbalik menghadap teman-teman yang sudah duduk di bangku kelas, aku kaget. Pemandangan kontras sekali dengan suasana hatiku yang girang karena ternyata kali ini aku tidak terlambat masuk. Aku mengedarkan pandangan ke isi kelas. Sebagian temanku menunduk ke meja, mereka hanya mendongak sekilas melihatku sambil menunjukkan ekspresi sedih. Aku hafal betul ekspresi semacam itu. Sebuah ekspresi kehilangan.
Aku mencoba memikirkan alasan penyebab mendung gelap di kelas pagi ini. Aku benci sekali menebaknya, dan semoga tebakanku meleset. Belum sempat aku bertanya, salahsatu temanku yang duduk paling depan mengucapkan satu kata kemudian tersedu-sedu, sebuah nama “Berlian”.
Rasanya hati ini tertusuk pisau yang tak terlihat. Tanpa mereka menjelaskan lebih detail, otakku bekerja lebih cepat mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Walaupun aku berharap itu tak nyata, rasa pahit itu kembali kurasakan. Rasa tidak percaya, rasa ingin menyangkal dan menghindari kenyataan, serta rasa takut. Takut akan kehilangan orang yang kusayangi. Aku mendekati teman-temanku. Menguatkan mereka dan diriku sendiri, mencoba mengingatkan bahwa semua ini adalah yang terbaik untuknya.
“Innalillahi wa innailaihi roji’un.….” sebuah pengumuman duka cita terdengar dari intercom dan disiarkan di seluruh sekolah. Suasana kelas begitu memilukan. Hari itu kami menangis bersama. Berlian, perhiasan kami telah Diambil oleh Sang Pemilik dan kami harus merelakannya.
8 Desember 2009
Aku menemukan senyumnya di sebuah album foto yang tanpa sengaja kubuka. Aku tak berhasil mengingat kapan persisnya gambar itu diambil. Sepertinya waktu masih di kelas XI sebab ia belum mengenakan scraft. Kucoba mengais memori tentangnya. Kususun dalam sebuah catatan. Ya, ini hanyalah sebuah catatan yang dibungkus dalam kisah dengan bahasa seadanya. Semuanya mengalir begitu saja. Entahlah, namun aku hanya ingin menulis tentangnya, agar ia selalu hidup dalam ingatan semua orang yang pernah mengenalnya.
Aku menggeledah isi kamar, mencari diaryku sewaktu SMA. Kalau tidak salah aku pernah menuliskan sebuah puisi pendek untuknya pada hari kepergiannya.
“Nah, ketemu!”
Our Shining Star
You’ll be our spirit,
Not to fulfill the sadness
Dear…
No words can describe you, friend
But we’ll always love you…
Kembali kupandangi potret dirinya yang sedang tersenyum sambil memegang tasnya. Aku pun membalas senyumnya.
__________________________________________________________
*Semarang
8 Desember 2009
*** Untuk seorang sahabat yang kami rindukan senyumnya. Ia yang secara tak langsung menyatukan kami dalam sebuah ikatan persahabatan. Ia yang memang seperti namanya, perhiasan bagi kami di kelas bahasa tercinta. Ia yang sering bersikap manja namun tersimpan jiwa yang sangat tegar dibaliknya. Kami akan selalu ada untukmu, kawan.
“Dia masuk kelas ini?” batinku shock mendapati kenyataan bahwa aku akan sekelas dengan seorang anak yang memilki track record negatif selama di kelas X.
Namanya Berlian. Sebenarnya aku tak begitu mengenalnya. Sejauh ini aku hanya mendengarnya dari cerita “ini itu”. Aku tak sanggup membeberkan apa saja “ini itu” yang dimaksud. Satu hal yang sudah dapat dipastikan kebenarannya, ia pernah menjalani operasi tumor otak waktu di kelas X. Tak heran jika rambutnya sekarang dipotong cepak mirip laki-laki.
Aku meliriknya. Gadis putih bertubuh mungil itu tersenyum padaku. Ia memakai seragam yang sudah dimodif lebih pendek. Sekilas aku seperti melihat bekas luka di kepalanya, mungkin bekas operasinya dulu. Ia duduk sendirian terlihat seperti kebingungan. Aku membalas senyumnya.
“Cobaan apa lagi ini?” aku berkeluh kesah pada diriku sendiri.
Ini tahun keduaku di SMA, memulai “kehidupan baru” dengan memilih jurusan bahasa, sebuah jurusan yang oleh kebanyakan orang dijadikan “underdog”, diremehkan dan semacam itu. Aku tak pernah menyangka bakal terjerumus ke kelas bahasa. Di sisi lain, aku sama sekali gak berminat masuk jurusan IPS. Bukannya sombong, tapi sebenarnya nilaiku lebih dari cukup untuk masuk di kelas IPA. Namun karena tak memenuhi syarat yang kutetapkan untuk diriku sendiri, akhirnya dengan sangat terpaksa akan kucoba jalani dua tahun ke depan di kelas ini. Terdampar di sebuah kelas yang asing dengan orang-orang yang asing sama sekali!
Keadaan terasa begitu sepi, hanya ada 23 siswa di kelas bahasa. Kuulangi lagi, dua puluh tiga! Jumlah itu adalah separuh dari jumlah sebuah kelas normal di SMA ini. Ini artinya, tiap siswa bakal mendapat giliran yang sama rata seumpama ada guru yang memberi pertanyaan. Ditambah lagi, ada beberapa anak yang dianggap “bermasalah” masuk di kelas ini.
“Arrrrgggghhhh!!!!”
Menyesal? Agak sih, tapi sudah terlambat.
17 Agustus 2004
Setelah mengikuti upacara hari kemerdekaan RI di sekolah, aku bingung mau kemana. Rasanya masih malas untuk beranjak pulang ke rumah. Kelas sudah sepi. Hanya ada tiga orang di dalam. Berlian bersama dua temanku yang lain, Rahma dan Indah.
“Koq belum pulang?” tanyaku pada mereka sambil menghampiri.
“Mo ke swalayan sama Indah,” jawab Rahma, “Tapi jam segini kan belum buka.”
“Berlian juga?” tanyaku pada gadis itu.
“Aku gak ikut. Cuma nunggu jemputan.” kata Berlian sambil memasukkan handphone ke dalam tas.
“Oh, kalo aku si lagi males pulang.” sahutku tanpa ditanya.
Tanpa sengaja, kita berempat sudah duduk mengitari satu meja. Awalnya kita hanya membahas tentang PR-PR baru yang sudah menyerbu. Lama-lama kita sampai pada topik mengapa-masuk-jurusan-bahasa. Satu persatu bercerita. Indah beralasan kalo dia pengen banget belajar bahasa Prancis. Sedangkan Rahma beranggapan karena jurusan ini kelihatannya asik. Berlian bilang karena ia disarankan masuk sini. Tiba giliranku, kuceritakan tentang sikap anti-IPS ku dan diriku yang tak memenuhi syarat-masuk-IPA-sesuai-standarku. Anehnya, setelah bercerita seolah-olah ada sebuah beban yang terlepas dari kepalaku. Aku baru menyadari bahwa aku mulai merasa nyaman berada di kelas bahasa. Selama beberapa jam, kita saling bertukar pikiran, tertawa, dan bercanda. Hingga akhirnya terlontar sebuah pertanyaan pada teman-teman ngobrolku itu.
“Kejadian apa yang sangat membekas buat kalian?”
Mereka bertiga mencoba mengingat-ingat.
“Kalo aku..” aku tak meneruskan kalimatku. Mengurungkan niatku untuk bercerita.
“Apa hayo? Cerita…” Indah mendesak.
Aku diam sejenak. Peristiwa itu terputar kembali di dalam ingatan. Insiden tahun lalu yang mengubah hidupku dan keluargaku secara drastis. Adik laki-lakiku diculik pada November 2003 dan baru ditemukan 6 bulan setelahnya dalam keadaan meninggal. Ketiga temanku mendengarkan dengan serius. Sebenarnya aku tak mau mengingat kejadian itu lagi. Namun ada sebuah keinginan untuk bisa membagi. Aku bertutur sambil tetap tersenyum walau suaraku terdengar bergetar menahan tangis. Tiba-tiba aku merindukan adikku itu.
“Kalau kamu Ber?” todongku tiba-tiba pada Berlian.
Kemudian ia mulai bercerita. Ia bercerita tentang awal-awal ketika ia sering mengeluh pusing. Mamanya tahu namun tak mempedulikannya. Malah Berlian dianggap hanya mencari-cari alasan saja untuk bisa bersantai. Semakin hari ia sering pingsan dan dari situ diketahui bahwa ia mengidap tumor otak. Operasi telah dilakukan dan sekarang Berlian masih perlu menjalani berbagai macam perawatan. Dari apa yang diceritakannya, kusimpulkan bahwa ia merasa sangat kesepian. Di antara keluarganya, papanya lah yang sangat memperhatikan Berlian. Kurasa ia membutuhkan dukungan.
Kami mendengar ceritanya dengan seksama. Seketika itu aku merasa kasihan padanya. Aku malu pada diriku sendiri yang dulu sempat berpikiran macam-macam tentangnya. Berlian, maafin aku ya.
Juni 2005
Sudah hampir setahun aku menghabiskan waktu bersama teman-teman kelas bahasaku. Coba tebak? Jika awalnya aku sempat menyesal telah masuk ke jurusan ini. Sekarang aku justru bersyukur dengan pilihanku. Aku kini memiliki mereka, teman-teman dan guru-guru yang hebat. Kami memang sudah biasa dipandang sebelah mata, namun karena itulah kami saling menguatkan dan bersama-sama membuktikan bahwa kami mampu untuk bersaing dalam prestasi. Tak hanya itu, kelas kita juga terkenal kompak. Bahkan dengan senior sesama jurusan bahasa. Aku seperti menemukan keluarga baru di kelas ini.
Kabar Berlian? Ia kembali menjalani operasi di kelas XI. Setelahnya, ia mengenakan scraft untuk menutupi kepalanya. Ia juga memakai kacamata minus berwarna biru. Kini Berlian memiliki ciri khas. Dan kami jadi tahu bahwa ia fans berat tokoh kartun bernama “Pucca”, gadis sipit berbaju merah yang rambutnya dikuncir dua itu kalau tidak salah.
Berlian mulai bisa menyesuaikan diri dengan sekolah. Walaupun untuk membaca tulisan di papan tulis saja ia masih harus dibantu. Akan tetapi disitulah letak keindahannya. Bagi kami, Berlian bukanlah beban namun sebuah titipan yang harus kami jaga. Kami maklum ia sering tidak masuk karena sakit. Kami mencoba membantunya jika sedikit-sedikit ia bertanya tentang pelajaran yang bahkan bisa membuatnya sakit kepala karena tidak mengerti. Dan terkadang akhirnya menyerah. Berlian memang kami istimewakan. Kami Seakan-akan kami ingin mengatakan padanya, “Jangan bersedih dan menyerah. Kami akan selalu ada untukmu kawan.”
Aku teringat sesuatu. Pernah suatu sore, tertera nomornya memanggil di handphoneku. Ketika kuangkat, hanya tangisan yang kudengar. Aku panik.
“Berlian, kamu kenapa?”
Ia masih menangis. “Berlian, kenapa? Coba cerita. Tarik nafas dulu.” Ucapku mencoba menenangkan.
Berlian masih menangis sesenggukan. “Tugasnya..”, ia menjawab lirih.
“Apa Ber? Gak denger. Tenang dulu ya. Cerita pelan-pelan coba.” Aku berkata dengan lembut.
“Tugasnya-kemarin-ilang.” Ia menjawab lagi dengan terbata-bata.
Tugas? tanyaku dalam hati sambil mencerna maksudnya. Kemudian aku paham. Aku ingat kemarin lusa guru sejarah memberi tugas kelompok dan Berlian mendapat bagian untuk mengetiknya. Ternyata tugas yang dibawa Berlian hilang. Aku tersenyum lega kerena ternyata hanya itu penyebab ia sampai menangis histeris. Kukira ada sesuatu yang serius. Lalu aku mengatakan padanya untuk tenang, “Ntar biar aku ma temen-temen yang bikin aja. Udah Ber, gak usah dipikirin ya. Gak pa-pa koq.”
Begitulah Berlian. Kadang bisa sangat polos, kadang bisa sangat bijak. Ia juga bisa menjadi sangat frustasi karena hal kecil. Kadang-kadang ia bersikap sangat manja. Namun ada satu waktu terlihat raut aku-bisa-mengerjakan-semua-sendiri di wajahnya. Yang menarik darinya adalah tawanya yang khas. Dan ia selalu tersenyum pada siapapun.
Persiapan Menjelang UAN 2006
Hari demi hari berlalu, sebentar lagi kami hampir meninggalkan bangku sekolah menengah. Akhir-akhir ini mulai disibukkan dengan berbagai persiapan menjelang ujian nasional. Lagi-lagi Berlian masuk rumah sakit. Kembali ia harus menjalani operasi.
Beberapa minggu sudah ia dirawat dan belum bisa bergabung bersama kami di sekolah. Kami bergiliran menjenguknya. Terakhir aku melihatnya, ia masih ceria seperti biasa. Hingga aku mendengar kabar bahwa syaraf Berlian sudah tidak bisa berfungsi dengan baik, ia tak bisa bergerak bahkan untuk membuka mata.
Januari 2006
Suatu malam, aku menjenguknya bersama teman-teman. Kami bergiliran masuk dua orang ke kamarnya. Kuperhatikan teman-temanku selalu keluar kamar dengan menangis. Aku jadi semakin penasaran.
Kini giliranku dan temanku, Karina masuk. Kubuka tirai. Miris rasanya melihat Berlian yang biasanya tertawa sudah tidak berdaya. Berbagai macam selang dan alat-alat yang tak kuketahui namanya membelenggunya disana sini. Ia tak bergerak. Hanya diam terbaring di atas tempat tidur di ruang ICU. Karina sudah tak tega menatap gadis itu. Aku mendekati Berlian. Kugenggam tangannya yang terasa dingin.
Aku berbisik di telinganya, “Berlian, ini aku ma Karina. Cepet sembuh ya.. Jangan menyerah. Jangan putus asa. Kita semua sayang sama Berlian. Pokoknya kita berdoa terus ya, biar dikasi yang terbaik. Kita sayang Berlian, pokoknya jangan menyerah ya.”
Aku meliriknya sekilas, sebulir air mata mengalir di pipinya.
Aku terdiam sejenak, menghela nafas. Aku kehilangan kata untuk beberapa saat.
“Ber, kita pamit dulu ya. Besok-besok kita jenguk lagi, ok. Tetep berjuang ya.” bisikku lagi. Kemudian Karina dan aku keluar dari kamar sambil menangis juga.
9 Februari 2006
Hari itu hari Kamis, kalau tak salah ingat. Karena sudah kelas XII, kami diberi pelajaran tambahan yang dimulai jam 6 pagi. Dan seperti biasa aku datang terlambat ke sekolah. Tirai kelas sudah ditutup, aku berpikir “Wah, ini pasti kerjaan anak-anak buat ngerjain anak yang sering telat kayak aku. Biar dikiranya jam tambahan udah dimulai.” Dengan cengengesan aku membuka pintu dan masuk, meletakkan helm di meja depan kelas sambil terus senyum-senyum.
Sewaktu berbalik menghadap teman-teman yang sudah duduk di bangku kelas, aku kaget. Pemandangan kontras sekali dengan suasana hatiku yang girang karena ternyata kali ini aku tidak terlambat masuk. Aku mengedarkan pandangan ke isi kelas. Sebagian temanku menunduk ke meja, mereka hanya mendongak sekilas melihatku sambil menunjukkan ekspresi sedih. Aku hafal betul ekspresi semacam itu. Sebuah ekspresi kehilangan.
Aku mencoba memikirkan alasan penyebab mendung gelap di kelas pagi ini. Aku benci sekali menebaknya, dan semoga tebakanku meleset. Belum sempat aku bertanya, salahsatu temanku yang duduk paling depan mengucapkan satu kata kemudian tersedu-sedu, sebuah nama “Berlian”.
Rasanya hati ini tertusuk pisau yang tak terlihat. Tanpa mereka menjelaskan lebih detail, otakku bekerja lebih cepat mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Walaupun aku berharap itu tak nyata, rasa pahit itu kembali kurasakan. Rasa tidak percaya, rasa ingin menyangkal dan menghindari kenyataan, serta rasa takut. Takut akan kehilangan orang yang kusayangi. Aku mendekati teman-temanku. Menguatkan mereka dan diriku sendiri, mencoba mengingatkan bahwa semua ini adalah yang terbaik untuknya.
“Innalillahi wa innailaihi roji’un.….” sebuah pengumuman duka cita terdengar dari intercom dan disiarkan di seluruh sekolah. Suasana kelas begitu memilukan. Hari itu kami menangis bersama. Berlian, perhiasan kami telah Diambil oleh Sang Pemilik dan kami harus merelakannya.
8 Desember 2009
Aku menemukan senyumnya di sebuah album foto yang tanpa sengaja kubuka. Aku tak berhasil mengingat kapan persisnya gambar itu diambil. Sepertinya waktu masih di kelas XI sebab ia belum mengenakan scraft. Kucoba mengais memori tentangnya. Kususun dalam sebuah catatan. Ya, ini hanyalah sebuah catatan yang dibungkus dalam kisah dengan bahasa seadanya. Semuanya mengalir begitu saja. Entahlah, namun aku hanya ingin menulis tentangnya, agar ia selalu hidup dalam ingatan semua orang yang pernah mengenalnya.
Aku menggeledah isi kamar, mencari diaryku sewaktu SMA. Kalau tidak salah aku pernah menuliskan sebuah puisi pendek untuknya pada hari kepergiannya.
“Nah, ketemu!”
Our Shining Star
You’ll be our spirit,
Not to fulfill the sadness
Dear…
No words can describe you, friend
But we’ll always love you…
Kembali kupandangi potret dirinya yang sedang tersenyum sambil memegang tasnya. Aku pun membalas senyumnya.
__________________________________________________________
*Semarang
8 Desember 2009
*** Untuk seorang sahabat yang kami rindukan senyumnya. Ia yang secara tak langsung menyatukan kami dalam sebuah ikatan persahabatan. Ia yang memang seperti namanya, perhiasan bagi kami di kelas bahasa tercinta. Ia yang sering bersikap manja namun tersimpan jiwa yang sangat tegar dibaliknya. Kami akan selalu ada untukmu, kawan.
Sabtu, 05 Mei 2012
The Deepest
Prolog
Suara bising panci dan alat-alat dapur yang ditabuh beberapa anak di kampung untuk membangunkan orang sahur terdengar hingga kamar tempatku tidur yang terletak di lantai dua. Pasti adik laki-lakiku termasuk salah satu dari mereka, batinku. Mataku masih terpejam ingin kembali bermimpi lagi. Lalu kurasakan seperti ada tangan yang menggoyang-goyang bahuku.
“Mbak, sahuuurrr” ternyata adik laki-lakiku yang membangunkanku untuk makan sahur. Aku hanya bergumam tanpa membuka mata.
Tumben dia gak ikut “klotekan” keliling kampung, ujarku dalam hati lagi. Ia kemudian ngeloyor pergi dari kamar, kemungkinan besar ingin bergabung dengan rombongan berisik pembangun sahur tadi.
“Mbaaaak,”kembali kudengar ada yang memanggilku untuk turun.
“Iya iyaaaaa,” ucapku malas-malasan kemudian turun untuk santap sahur.
>>>>>
6 November 2003
Siang itu matahari begitu terik bertahta di atas kota Semarang. Seperti biasa, aku turun dari angkutan sepulang sekolah dan harus berjalan kurang lebih satu kilometer menuju rumah. 6 November 2003 ini adalah hari ke sekian di bulan Ramadhan, cuaca panas dan rasa mengantuk setelah mengikuti pelajaran membuatku ingin segera sampai di rumah. Kupercepat langkahku menuju rumah.
Saat sedang berjalan itu iba-tiba sebuah motor berhenti di sampingku. Aku menoleh. Ternyata itu bapak yang baru pulang dari membeli dagangan. Kemudian ia mematikan mesin motornya dan berkata dengan terbata-bata, namun aku tak dapat menangkap dengan jelas ucapannya . Semakin lama bapak berkata dengan diiringi tangis. Aku semakin bingung dan mencoba berpikir apa yang membuatnya demikian. Jantungku berdetak kencang karena firasatku mengatakan ada sesuatu yang buruk tengah terjadi. Mungkin ada kabar kerabatku yang kecelakaan, meninggal atau jangan-jangan… ah, aku menyalahkan diriku yang berpikiran macam-macam.
“Pak..” kupanggil ia sambil memegang lengannya yang mulai bergetar.
“Adikmu..”
“Adik? Ada apa pak?” Otakku mulai berpikir keras. Apa yang terjadi dengan adikku sampai bapak sangat shock? Adikku yang mana? Aku punya tiga orang adik, satu laki-laki dan dua perempuan. Ada apa ini?
“Adikmu dibawa orang,” kata bapak lagi dengan terisak. Aku mengernyitkan dahi, semakin tak paham.
“Jangan bilang ibumu. Adikmu, Ahmad,” lanjutnya lagi sambil terisak. Aku tambah bingung.
“Sampun, bapak sekarang pulang aja. Istirahat,” akhirnya aku memintanya pulang dan tak minta dibonceng karena tak tega melihat bawaan bapak yang sangat banyak.
Aku kembali berjalan tergesa-gesa dengan berbagai pikiran buruk berkecamuk di dalam kepala. Buntu. Aku tak bisa sama sekali menebak apa gerangan yang sedang terjadi.
***
Dari keterangan salah seorang saudaraku yang sudah ada di rumah, aku mendapati cerita bahwa ada seseorang yang menelepon ke rumah tadi. Si penelepon mengatakan bahwa ia menculik adikku dan meminta sejumlah uang untuk tebusan. Tak lupa pula, seperti yang ada di film-film, ia mengancam bapak yang saat itu menerima telepon untuk tidak lapor ke polisi. Aku terperangah mendengar cerita saudaraku itu. Bagaimana tidak? Keluargaku hanyalah keluarga sederhana yang menggantungkan hidupnya dari sebuah warung. Pun keluargaku tak bermusuhan dengan siapapun. Lalu, apa-apaan ini? Dalam hati aku tak percaya, mungkin kerjaan orang iseng.
Kenyataannya, adik laki-lakiku satu-satunya itu memang tak pulang hingga sore. Padahal, selama bulan Ramadhan ini kegiatan di Madrasah Tsanawiyahnya hanya mengaji. Sekolahnya memang jauh, terletak di perbatasan Semarang-Demak, setengah jam lebih dari rumahku yang relatif dekat dengan pusat kota Semarang. Namun tak biasanya ia pulang telat. Selepas dzuhur biasanya ia sudah ada di rumah. Bapak sudah melaporkan hal ini ke pihak berwajib tadi siang.
Ketakutan bercampur rasa kuatir mulai menyergap. Yang kutakutkan sekarang adalah bagaimana menyampaikan berita ini pada ibuku, mengingat ia anak laki-laki satu-satunya yang paling disayanginya.Ia juga adik kesayanganku. Aku mengambil air wudlu dan menunaikan sholat ashar. Airmataku menetes saat berdoa. Aku memohon padaNya untuk menguatkan ibuku melewati cobaan ini jika benar sesuatu terjadi pada adikku. . Tiba-tiba tangisku semakin deras. Ada perasaan yang tak dapat dijelaskan di dalam hati. Aku kembali meminta padaNya agar aku bisa tegar menghadapi semua ini.
Dari dalam kamar aku mendengar ibuku pulang. Aku mulai was-was saat saudaraku mulai bercerita pada ibuku. Kudengar jeritan kecil. Aku segera keluar. Namun ternyata reaksinya tak seperti yang kuperkirakan. Ia hanya menangis terisak-isak, tidak histeris. Mungkin sama sepertiku, sama sekali tak percaya atau tak mau percaya. Kuminta ibu menunaikan sholat ashar. Dari luar pintu kamar, dengan masih mengenakan mukena aku melihatnya yang sedang berdoa sambil menangis. Aku mendekatinya dan memeluknya.
“Adik gak apa-apa, Bu. Sabar. Berdoa semoga ia baik-baik .”
***
Malamnya selepas sholat tarawih, banyak warga yang mendatangi rumah setelah mendengar berita ini. Beberapa polisi berpakaian preman datang ke rumah dan meminta keterangan dari beberapa anggota keluargaku, termasuk aku. Polisi itu menanyakan banyak hal mulai dari kapan aku bertemu adikku, dengan siapa ia berteman, sampai apa yang belakangan terlihat mencurigakan.
Aku kenal betul adikku. Sebagai anak lelaki satu-satunya ia termasuk anak yang penurut. Ia memang agak cengeng dan gampang sakit-sakitan. Namun, sama sekali ia tak pernah melakukan hal-hal aneh dan buruk. Sebagaimana anak seusianya ia senang sekali bermain dengan teman-teman sebayanya di kampung ini, ia senang bermain tamiya yang saat itu sedang trend, atau bay blade. Walaupun anak laki-laki, ia anak yang rajin. Bahkan sering sekali ia dengan senang hati pergi ke pasar untuk membantu berbelanja. Ia anak yang baik, sangat baik malah. Jadi tak mungkin ada yang tega berbuat jahat padanya.
Sepanjang malam itu aku hanya merenung. Di sudut kamar yang terbuka aku melihat tetangga, saudara, keluarga yang lalu lalang. Beberapa mengitari telepon, menunggu si penculik menghubungi kami lagi mengingat telepon rumah sudah disadap. Namun yang ditunggu tak kunjung datang.
Mataku tak bisa terpejam memikirkan adik kesayanganku ini, dimana ia sekarang, dengan siapa ia, apa dia sudah tidur? Apa dia sudah makan? Aku melewatkan buka puasa dan sahurku begitu saja. Rumah semakin ramai didatangi banyak orang. Namun, pikiranku semakin kalut. Aku tak mau menangis. Aku tak boleh menangis. Aku hanya dapat meminta padaNya untuk Melindungi dimanapun adikku berada.
***
Hari demi hari berlalu. Tiga bulan sudah tak ada kabar lagi tentang adikku. Berbagai usaha sudah dilakukan oleh pihak kepolisian, keluarga, maupun teman-teman orang tuaku. Mulai dari menginterogasi orang-orang yang dicurigai hingga ke paranormal. Namun hasilnya nihil. Ia tetap tak ditemukan. Entah sedang apa dan dimana ia sekarang.
Walaupun sudah mulai tenang, secara tak langsung kejadian ini sangat berdampak terhadap finansial dan psikologis keluarga kami. Kami hanya bisa pasrah. Kami hanya ingin melihatnya kembali.
Aku teringat suatu hari ketika pulang sekolah. Kebetulan SMA ku satu arah dengan sekolahnnya berada. Secara tak sengaja ia naik angkutan yang sama yang kutumpangi menuju ke rumah. Aku kaget saat mendapati ia duduk di bangku paling pojok angkutan mengenakan seragam biru putihnya. Dengan tersenyum lebar ia terlihat senang sekali bisa pulang bersama, pun aku begitu.
Kini setiap pulang sekolah aku selalu melongok ke angkutan-angkutan yang lewat, berharap barangkali ia sudah menungguku disana sambil nyengir. Atau ketika sampai di rumah, aku membayangkan ia sudah ada di depan televisi sedang menonton acara kartun Jepang kesukaannya atau sedang makan siang. Tapi semua itu hanyalah ilusi.
Mulai saat itu setiap berpergian, baik di dalam atau di luar kota, aku selalu mengamati jalan yang ku lewati. Aku berpikir bahwa mungkin saja ia tersesat di suatu tempat dan tak bisa pulang. Atau bisa saja si penculik menyuruhnya jadi peminta-minta di jalan seperti yang ada di sinetron. Aku selalu memperhatikan setiap ada anak jalanan sebayanya yang tersebar di perempatan traffic light. Kemanapun aku pergi aku selalu terbayang sosoknya.
Jangan tanyakan pula apakah aku memimpikannya. Sangat sering. Pernah aku bermimpi ia tiba-tiba ada di sekolahku mengikuti sholat tarawih yang memang diadakan tiap hari di SMA ku selama bulan Ramadhan, pernah aku bermimpi ada yang memberitahuku bahwa ia sedang bersembunyi di genteng rumah hingga aku benar-benar penasaran ingin mengecek ke atas rumah. Pernah juga satu kali ketika aku tertidur dan bermimpi, namun rasanya itu bukan mimpi karena kehadirannya tampak sangat nyata, seolah-olah aku benar-benar melihatnya di depan mataku bahwa ia sedang tidur dengan tenang. Ada perasaan “agak” lega semenjak hari aku memimpikan hal itu.
***
Enam bulan sudah terlewat tanpa kejelasan nasib adikku. Polisi sudah mulai jarang datang ke rumah. Wartawan juga tak diizinkan meliput karena keluarga khawatir keselamatan adikku jika dimunculkan di media. Kami tak dapat mengandalkan siapa pun lagi selain Allah. Yang bisa kami lakukan hanyalah berdoa padaNya, hingga Dia pun Menjawab doa kami selama ini.
Suatu hari sepulang sekolah, pada bulan Mei 2004, saudaraku dari luar kota sudah ada di rumah. Kedatangan saudara atau kerabat secara tiba-tiba sudah biasa sejak peristiwa itu. Entah tujuan mereka ingin mengetahui perkembangan kasus ini atau mengabarkan kemungkinan keberadaan adikku dari “orang pintar” yang telah mereka datangi.
Setelah berbincang sejenak karena tak banyak orang di rumah siang itu, salah seorang saudaraku menunjukkan sebuah artikel di koran hari itu, yang bukanlah surat kabar langganan bapak. Dalam berita itu dikatakan bahwa telah ditemukan kerangka manusia dengan menyebutkan pakaian, tas, topi dan sebagainya oleh seorang pencari kayu di antara “alang-alang” di tepi sungai perbatasan Demak-Semarang. Aku langsung menangkap maksud saudaraku menyuruhku membaca berita itu.
“Ahmad ditemukan,” ucapnya singkat.
Aku paham. Namun entah perasaan apa yang ada di dalam benakku saat itu, rasa syukur, sedih, rasa untuk mengingkari kenyataan, serta apapun campur aduk menjadi satu. Aku ingin berteriak keras, “Bukan! Ini bukan adik! Ia masih hidup di suatu tempat dan mungkin sedang bermain!”
Namun, tak sepatah kata pun keluar dari mulutku. Aku bergetar ketakutan. Takut untuk sekali lagi kehilangan, terlebih kehilangan ia yang yang kusayangi, adikku.
***
Para pelayat sudah memenuhi rumah yang juga telah dipasangi tenda di depan. Kudengar pertanyaan dan cerita sama yang diulang-ulang tentang ditemukannya adikku. Bahwa ketika bapak berkunjung ke tempat salah seorang temannya hari itu, ia menunjukkan sebuah berita di koran pada bapak karena mencurigai kesamaan barang-barang yang dibawa adikku ketika hilang dan barang-barang yang ada di sekitar kerangka yang ditemukan. Setelah itu, bapak mendatangi rumah sakit tempat jenazah adik yang berupa kerangka dan melihat barang-barang yang dibawanya, ternyata bisa dipastikan bahwa itu benar-benar dia. Semua identitas di seragamnya telah diberedel sehingga tak ada yang bisa mengenali. Akan tetapi topi, sepatu sandal serta tasnya masih utuh, lengkap dengan isinya yang terdiri atas alat tulis dan kitab yang dibawanya berangkat mengaji di sekolah sehingga pihak keluarga yakin bahwa itu memang adik.
Polisi-polisi kembali berdatangan lagi meminta keterangan kronologis ditemukannya (jenasah) adikku itu. Tak ketinggalan para pencari berita. Aku tak mau tahu dengan semua itu. Hatiku sangat sakit. Sakit memikirkan siapa gerangan yang tega melakukan hal keji itu pada adikku. Aku sakit membayangkan bagaimana ia menghadapi sakaratul maut sendirian di sana? Aku benar-benar sakit hati hingga tak tega menonton atau membaca berita tentang kematian “tragis” adikku ini. Berhari-hari aku bermimpi buruk detik-detik kematiannya, sampai akhirnya aku jatuh sakit karena tak makan berhari-hari.
Aku bisa berpura-pura kuat saat di rumah dan menangis dalam diam. Lambat laun, berkat dorongan dan perhatian teman-temanku, aku berhenti menyiksa diri. Aku berpikir bahwa aku harus bangkit dari keterpurukan ini. Kemudian, bayang-bayang kejadian yang mengerikan itu pun perlahan-lahan menyingkir dari benakku meski si pelaku belum ditemukan hingga sekarang. Aku sadar, bahwa takdir berkata bahwa telah cukup adikku mengarungi perjalanan hidupnya sampai di sini. Aku harus rela.
Banyak sekali ibrah yang kudapat. Bahwa ada beberapa pertanyaan yang tak akan bisa dijawab serta ada beberapa hal yang tetap akan menjadi misteri dan hanya Dia Yang Mengetahuinya.
Allah Maha Adil. Aku yakin semua perbuatan akan kembali kepada pelakunya, hal baik akan berbuah kebaikan, sebaliknya pun hal buruk akan berbuah keburukan kepada si penanam. Kejadian itu menempaku menjadi seseorang yang lebih tegar. Saat duka menyapa kehidupan, percayalah bahwa kelak akan berganti dengan senyum bahagia jika kita berhasil melewatinya dengan sabar tanpa kenal putus asa.
Epilog
Hari ini ada tugas bahasa Inggris yang harus dikumpulkan. Namun ketika sudah setengah jalan, aku baru sadar bahwa tugasku ketinggalan di rumah. Terpaksa aku turun dari angkutan dan naik angkutan yang berbalik arah ke rumah. Waktuku tinggal beberapa menit lagi sebelum bel masuk sekolah. Aku mengomeli diriku sendiri yang suka berangkat mepet walaupun selama bulan puasa jam masuk dimundurkan menjadi jam 8.
Setelah sampai di rumah aku langsung menyambar tugasku yang tergeletak di meja ruang tamu. Aku melirik jam dinding, syukurlah masih ada waktu cukup untuk berangkat (lagi) ke sekolah. Adik laki-lakiku, Ahmad terlihat sedang sibuk membetulkan jam tangan di pergelangan tangannya di depan pintu rumah. Aku heran mengapa sudah jam segini tapi dia belum berangkat sekolah. Biasanya ia yang nomor satu. Kuperhatikan adikku yang masih berdiri di depan pintu rumah tanpa firasat apapun.
Siapa yang menyangka bahwa itulah saat terakhir melihat adikku, terakhir kali aku menyapanya, terakhir kali ia menjawab salamku, pagi itu terakhir kalinya ia membangunkanku sahur, terakhir kali aku melihat senyumnya dan mendengar tawanya. Setiap orang tak akan pernah tahu kapan perjalanannya di dunia usai. Pun kita tak pernah tahu kapan kita masih bersama dengan orang-orang yang kita cintai dan sayangi hingga penyesalan datang saat kelak kita tak dapat bersapa. Ketika tak ada kata yang sanggup kita ucapkan atau mereka katakan. Ia akan datang dengan cara dan waktu yang tak bisa diduga. Tak ada yang pernah tahu.
“Cepet berangkat. Ntar telat lho dek,” aku mengingatkannya.
“He eh”, jawabnya masih berkutat dengan jam tangannya. Sepintas kulihat raut bingung di wajahnya.
“Ya wis, aku berangkat dulu. Ati-ati ya. Assalamu’alaikum,” kataku berpamitan.
“Wa’alaikum salam”
Kemudian aku berlari agak tergesa-gesa karena harus mencegat angkot menuju sekolah. Hari itu 6 November 2003, hari kesekian bulan Ramadhan di tahun itu.
SELESAI
Panic Room
4 Juni 2010
*Tulisan ini berawal dari coretan di sebuah buku yang telah sobek disana-sini tertanggal 20 Februari 2004 ketika ia belum ditemukan
For my brother, you know we always love you. Ia yang jiwanya tak pernah mati di dalam hati, hanya dapat berharap suatu saat kita akan bertemu. Semoga.
Terima kasih untuk setiap doa dan nasehat dari semuanya.
Suara bising panci dan alat-alat dapur yang ditabuh beberapa anak di kampung untuk membangunkan orang sahur terdengar hingga kamar tempatku tidur yang terletak di lantai dua. Pasti adik laki-lakiku termasuk salah satu dari mereka, batinku. Mataku masih terpejam ingin kembali bermimpi lagi. Lalu kurasakan seperti ada tangan yang menggoyang-goyang bahuku.
“Mbak, sahuuurrr” ternyata adik laki-lakiku yang membangunkanku untuk makan sahur. Aku hanya bergumam tanpa membuka mata.
Tumben dia gak ikut “klotekan” keliling kampung, ujarku dalam hati lagi. Ia kemudian ngeloyor pergi dari kamar, kemungkinan besar ingin bergabung dengan rombongan berisik pembangun sahur tadi.
“Mbaaaak,”kembali kudengar ada yang memanggilku untuk turun.
“Iya iyaaaaa,” ucapku malas-malasan kemudian turun untuk santap sahur.
>>>>>
6 November 2003
Siang itu matahari begitu terik bertahta di atas kota Semarang. Seperti biasa, aku turun dari angkutan sepulang sekolah dan harus berjalan kurang lebih satu kilometer menuju rumah. 6 November 2003 ini adalah hari ke sekian di bulan Ramadhan, cuaca panas dan rasa mengantuk setelah mengikuti pelajaran membuatku ingin segera sampai di rumah. Kupercepat langkahku menuju rumah.
Saat sedang berjalan itu iba-tiba sebuah motor berhenti di sampingku. Aku menoleh. Ternyata itu bapak yang baru pulang dari membeli dagangan. Kemudian ia mematikan mesin motornya dan berkata dengan terbata-bata, namun aku tak dapat menangkap dengan jelas ucapannya . Semakin lama bapak berkata dengan diiringi tangis. Aku semakin bingung dan mencoba berpikir apa yang membuatnya demikian. Jantungku berdetak kencang karena firasatku mengatakan ada sesuatu yang buruk tengah terjadi. Mungkin ada kabar kerabatku yang kecelakaan, meninggal atau jangan-jangan… ah, aku menyalahkan diriku yang berpikiran macam-macam.
“Pak..” kupanggil ia sambil memegang lengannya yang mulai bergetar.
“Adikmu..”
“Adik? Ada apa pak?” Otakku mulai berpikir keras. Apa yang terjadi dengan adikku sampai bapak sangat shock? Adikku yang mana? Aku punya tiga orang adik, satu laki-laki dan dua perempuan. Ada apa ini?
“Adikmu dibawa orang,” kata bapak lagi dengan terisak. Aku mengernyitkan dahi, semakin tak paham.
“Jangan bilang ibumu. Adikmu, Ahmad,” lanjutnya lagi sambil terisak. Aku tambah bingung.
“Sampun, bapak sekarang pulang aja. Istirahat,” akhirnya aku memintanya pulang dan tak minta dibonceng karena tak tega melihat bawaan bapak yang sangat banyak.
Aku kembali berjalan tergesa-gesa dengan berbagai pikiran buruk berkecamuk di dalam kepala. Buntu. Aku tak bisa sama sekali menebak apa gerangan yang sedang terjadi.
***
Dari keterangan salah seorang saudaraku yang sudah ada di rumah, aku mendapati cerita bahwa ada seseorang yang menelepon ke rumah tadi. Si penelepon mengatakan bahwa ia menculik adikku dan meminta sejumlah uang untuk tebusan. Tak lupa pula, seperti yang ada di film-film, ia mengancam bapak yang saat itu menerima telepon untuk tidak lapor ke polisi. Aku terperangah mendengar cerita saudaraku itu. Bagaimana tidak? Keluargaku hanyalah keluarga sederhana yang menggantungkan hidupnya dari sebuah warung. Pun keluargaku tak bermusuhan dengan siapapun. Lalu, apa-apaan ini? Dalam hati aku tak percaya, mungkin kerjaan orang iseng.
Kenyataannya, adik laki-lakiku satu-satunya itu memang tak pulang hingga sore. Padahal, selama bulan Ramadhan ini kegiatan di Madrasah Tsanawiyahnya hanya mengaji. Sekolahnya memang jauh, terletak di perbatasan Semarang-Demak, setengah jam lebih dari rumahku yang relatif dekat dengan pusat kota Semarang. Namun tak biasanya ia pulang telat. Selepas dzuhur biasanya ia sudah ada di rumah. Bapak sudah melaporkan hal ini ke pihak berwajib tadi siang.
Ketakutan bercampur rasa kuatir mulai menyergap. Yang kutakutkan sekarang adalah bagaimana menyampaikan berita ini pada ibuku, mengingat ia anak laki-laki satu-satunya yang paling disayanginya.Ia juga adik kesayanganku. Aku mengambil air wudlu dan menunaikan sholat ashar. Airmataku menetes saat berdoa. Aku memohon padaNya untuk menguatkan ibuku melewati cobaan ini jika benar sesuatu terjadi pada adikku. . Tiba-tiba tangisku semakin deras. Ada perasaan yang tak dapat dijelaskan di dalam hati. Aku kembali meminta padaNya agar aku bisa tegar menghadapi semua ini.
Dari dalam kamar aku mendengar ibuku pulang. Aku mulai was-was saat saudaraku mulai bercerita pada ibuku. Kudengar jeritan kecil. Aku segera keluar. Namun ternyata reaksinya tak seperti yang kuperkirakan. Ia hanya menangis terisak-isak, tidak histeris. Mungkin sama sepertiku, sama sekali tak percaya atau tak mau percaya. Kuminta ibu menunaikan sholat ashar. Dari luar pintu kamar, dengan masih mengenakan mukena aku melihatnya yang sedang berdoa sambil menangis. Aku mendekatinya dan memeluknya.
“Adik gak apa-apa, Bu. Sabar. Berdoa semoga ia baik-baik .”
***
Malamnya selepas sholat tarawih, banyak warga yang mendatangi rumah setelah mendengar berita ini. Beberapa polisi berpakaian preman datang ke rumah dan meminta keterangan dari beberapa anggota keluargaku, termasuk aku. Polisi itu menanyakan banyak hal mulai dari kapan aku bertemu adikku, dengan siapa ia berteman, sampai apa yang belakangan terlihat mencurigakan.
Aku kenal betul adikku. Sebagai anak lelaki satu-satunya ia termasuk anak yang penurut. Ia memang agak cengeng dan gampang sakit-sakitan. Namun, sama sekali ia tak pernah melakukan hal-hal aneh dan buruk. Sebagaimana anak seusianya ia senang sekali bermain dengan teman-teman sebayanya di kampung ini, ia senang bermain tamiya yang saat itu sedang trend, atau bay blade. Walaupun anak laki-laki, ia anak yang rajin. Bahkan sering sekali ia dengan senang hati pergi ke pasar untuk membantu berbelanja. Ia anak yang baik, sangat baik malah. Jadi tak mungkin ada yang tega berbuat jahat padanya.
Sepanjang malam itu aku hanya merenung. Di sudut kamar yang terbuka aku melihat tetangga, saudara, keluarga yang lalu lalang. Beberapa mengitari telepon, menunggu si penculik menghubungi kami lagi mengingat telepon rumah sudah disadap. Namun yang ditunggu tak kunjung datang.
Mataku tak bisa terpejam memikirkan adik kesayanganku ini, dimana ia sekarang, dengan siapa ia, apa dia sudah tidur? Apa dia sudah makan? Aku melewatkan buka puasa dan sahurku begitu saja. Rumah semakin ramai didatangi banyak orang. Namun, pikiranku semakin kalut. Aku tak mau menangis. Aku tak boleh menangis. Aku hanya dapat meminta padaNya untuk Melindungi dimanapun adikku berada.
***
Hari demi hari berlalu. Tiga bulan sudah tak ada kabar lagi tentang adikku. Berbagai usaha sudah dilakukan oleh pihak kepolisian, keluarga, maupun teman-teman orang tuaku. Mulai dari menginterogasi orang-orang yang dicurigai hingga ke paranormal. Namun hasilnya nihil. Ia tetap tak ditemukan. Entah sedang apa dan dimana ia sekarang.
Walaupun sudah mulai tenang, secara tak langsung kejadian ini sangat berdampak terhadap finansial dan psikologis keluarga kami. Kami hanya bisa pasrah. Kami hanya ingin melihatnya kembali.
Aku teringat suatu hari ketika pulang sekolah. Kebetulan SMA ku satu arah dengan sekolahnnya berada. Secara tak sengaja ia naik angkutan yang sama yang kutumpangi menuju ke rumah. Aku kaget saat mendapati ia duduk di bangku paling pojok angkutan mengenakan seragam biru putihnya. Dengan tersenyum lebar ia terlihat senang sekali bisa pulang bersama, pun aku begitu.
Kini setiap pulang sekolah aku selalu melongok ke angkutan-angkutan yang lewat, berharap barangkali ia sudah menungguku disana sambil nyengir. Atau ketika sampai di rumah, aku membayangkan ia sudah ada di depan televisi sedang menonton acara kartun Jepang kesukaannya atau sedang makan siang. Tapi semua itu hanyalah ilusi.
Mulai saat itu setiap berpergian, baik di dalam atau di luar kota, aku selalu mengamati jalan yang ku lewati. Aku berpikir bahwa mungkin saja ia tersesat di suatu tempat dan tak bisa pulang. Atau bisa saja si penculik menyuruhnya jadi peminta-minta di jalan seperti yang ada di sinetron. Aku selalu memperhatikan setiap ada anak jalanan sebayanya yang tersebar di perempatan traffic light. Kemanapun aku pergi aku selalu terbayang sosoknya.
Jangan tanyakan pula apakah aku memimpikannya. Sangat sering. Pernah aku bermimpi ia tiba-tiba ada di sekolahku mengikuti sholat tarawih yang memang diadakan tiap hari di SMA ku selama bulan Ramadhan, pernah aku bermimpi ada yang memberitahuku bahwa ia sedang bersembunyi di genteng rumah hingga aku benar-benar penasaran ingin mengecek ke atas rumah. Pernah juga satu kali ketika aku tertidur dan bermimpi, namun rasanya itu bukan mimpi karena kehadirannya tampak sangat nyata, seolah-olah aku benar-benar melihatnya di depan mataku bahwa ia sedang tidur dengan tenang. Ada perasaan “agak” lega semenjak hari aku memimpikan hal itu.
***
Enam bulan sudah terlewat tanpa kejelasan nasib adikku. Polisi sudah mulai jarang datang ke rumah. Wartawan juga tak diizinkan meliput karena keluarga khawatir keselamatan adikku jika dimunculkan di media. Kami tak dapat mengandalkan siapa pun lagi selain Allah. Yang bisa kami lakukan hanyalah berdoa padaNya, hingga Dia pun Menjawab doa kami selama ini.
Suatu hari sepulang sekolah, pada bulan Mei 2004, saudaraku dari luar kota sudah ada di rumah. Kedatangan saudara atau kerabat secara tiba-tiba sudah biasa sejak peristiwa itu. Entah tujuan mereka ingin mengetahui perkembangan kasus ini atau mengabarkan kemungkinan keberadaan adikku dari “orang pintar” yang telah mereka datangi.
Setelah berbincang sejenak karena tak banyak orang di rumah siang itu, salah seorang saudaraku menunjukkan sebuah artikel di koran hari itu, yang bukanlah surat kabar langganan bapak. Dalam berita itu dikatakan bahwa telah ditemukan kerangka manusia dengan menyebutkan pakaian, tas, topi dan sebagainya oleh seorang pencari kayu di antara “alang-alang” di tepi sungai perbatasan Demak-Semarang. Aku langsung menangkap maksud saudaraku menyuruhku membaca berita itu.
“Ahmad ditemukan,” ucapnya singkat.
Aku paham. Namun entah perasaan apa yang ada di dalam benakku saat itu, rasa syukur, sedih, rasa untuk mengingkari kenyataan, serta apapun campur aduk menjadi satu. Aku ingin berteriak keras, “Bukan! Ini bukan adik! Ia masih hidup di suatu tempat dan mungkin sedang bermain!”
Namun, tak sepatah kata pun keluar dari mulutku. Aku bergetar ketakutan. Takut untuk sekali lagi kehilangan, terlebih kehilangan ia yang yang kusayangi, adikku.
***
Para pelayat sudah memenuhi rumah yang juga telah dipasangi tenda di depan. Kudengar pertanyaan dan cerita sama yang diulang-ulang tentang ditemukannya adikku. Bahwa ketika bapak berkunjung ke tempat salah seorang temannya hari itu, ia menunjukkan sebuah berita di koran pada bapak karena mencurigai kesamaan barang-barang yang dibawa adikku ketika hilang dan barang-barang yang ada di sekitar kerangka yang ditemukan. Setelah itu, bapak mendatangi rumah sakit tempat jenazah adik yang berupa kerangka dan melihat barang-barang yang dibawanya, ternyata bisa dipastikan bahwa itu benar-benar dia. Semua identitas di seragamnya telah diberedel sehingga tak ada yang bisa mengenali. Akan tetapi topi, sepatu sandal serta tasnya masih utuh, lengkap dengan isinya yang terdiri atas alat tulis dan kitab yang dibawanya berangkat mengaji di sekolah sehingga pihak keluarga yakin bahwa itu memang adik.
Polisi-polisi kembali berdatangan lagi meminta keterangan kronologis ditemukannya (jenasah) adikku itu. Tak ketinggalan para pencari berita. Aku tak mau tahu dengan semua itu. Hatiku sangat sakit. Sakit memikirkan siapa gerangan yang tega melakukan hal keji itu pada adikku. Aku sakit membayangkan bagaimana ia menghadapi sakaratul maut sendirian di sana? Aku benar-benar sakit hati hingga tak tega menonton atau membaca berita tentang kematian “tragis” adikku ini. Berhari-hari aku bermimpi buruk detik-detik kematiannya, sampai akhirnya aku jatuh sakit karena tak makan berhari-hari.
Aku bisa berpura-pura kuat saat di rumah dan menangis dalam diam. Lambat laun, berkat dorongan dan perhatian teman-temanku, aku berhenti menyiksa diri. Aku berpikir bahwa aku harus bangkit dari keterpurukan ini. Kemudian, bayang-bayang kejadian yang mengerikan itu pun perlahan-lahan menyingkir dari benakku meski si pelaku belum ditemukan hingga sekarang. Aku sadar, bahwa takdir berkata bahwa telah cukup adikku mengarungi perjalanan hidupnya sampai di sini. Aku harus rela.
Banyak sekali ibrah yang kudapat. Bahwa ada beberapa pertanyaan yang tak akan bisa dijawab serta ada beberapa hal yang tetap akan menjadi misteri dan hanya Dia Yang Mengetahuinya.
Allah Maha Adil. Aku yakin semua perbuatan akan kembali kepada pelakunya, hal baik akan berbuah kebaikan, sebaliknya pun hal buruk akan berbuah keburukan kepada si penanam. Kejadian itu menempaku menjadi seseorang yang lebih tegar. Saat duka menyapa kehidupan, percayalah bahwa kelak akan berganti dengan senyum bahagia jika kita berhasil melewatinya dengan sabar tanpa kenal putus asa.
Epilog
Hari ini ada tugas bahasa Inggris yang harus dikumpulkan. Namun ketika sudah setengah jalan, aku baru sadar bahwa tugasku ketinggalan di rumah. Terpaksa aku turun dari angkutan dan naik angkutan yang berbalik arah ke rumah. Waktuku tinggal beberapa menit lagi sebelum bel masuk sekolah. Aku mengomeli diriku sendiri yang suka berangkat mepet walaupun selama bulan puasa jam masuk dimundurkan menjadi jam 8.
Setelah sampai di rumah aku langsung menyambar tugasku yang tergeletak di meja ruang tamu. Aku melirik jam dinding, syukurlah masih ada waktu cukup untuk berangkat (lagi) ke sekolah. Adik laki-lakiku, Ahmad terlihat sedang sibuk membetulkan jam tangan di pergelangan tangannya di depan pintu rumah. Aku heran mengapa sudah jam segini tapi dia belum berangkat sekolah. Biasanya ia yang nomor satu. Kuperhatikan adikku yang masih berdiri di depan pintu rumah tanpa firasat apapun.
Siapa yang menyangka bahwa itulah saat terakhir melihat adikku, terakhir kali aku menyapanya, terakhir kali ia menjawab salamku, pagi itu terakhir kalinya ia membangunkanku sahur, terakhir kali aku melihat senyumnya dan mendengar tawanya. Setiap orang tak akan pernah tahu kapan perjalanannya di dunia usai. Pun kita tak pernah tahu kapan kita masih bersama dengan orang-orang yang kita cintai dan sayangi hingga penyesalan datang saat kelak kita tak dapat bersapa. Ketika tak ada kata yang sanggup kita ucapkan atau mereka katakan. Ia akan datang dengan cara dan waktu yang tak bisa diduga. Tak ada yang pernah tahu.
“Cepet berangkat. Ntar telat lho dek,” aku mengingatkannya.
“He eh”, jawabnya masih berkutat dengan jam tangannya. Sepintas kulihat raut bingung di wajahnya.
“Ya wis, aku berangkat dulu. Ati-ati ya. Assalamu’alaikum,” kataku berpamitan.
“Wa’alaikum salam”
Kemudian aku berlari agak tergesa-gesa karena harus mencegat angkot menuju sekolah. Hari itu 6 November 2003, hari kesekian bulan Ramadhan di tahun itu.
SELESAI
Panic Room
4 Juni 2010
*Tulisan ini berawal dari coretan di sebuah buku yang telah sobek disana-sini tertanggal 20 Februari 2004 ketika ia belum ditemukan
For my brother, you know we always love you. Ia yang jiwanya tak pernah mati di dalam hati, hanya dapat berharap suatu saat kita akan bertemu. Semoga.
Terima kasih untuk setiap doa dan nasehat dari semuanya.
Kamis, 03 Mei 2012
FEELing
Sering saya mendapat perasaan-perasaaan aneh, sepertinya itu yang orang sebut firasat. Saya tidak tahu berawal darimana dan bagaimana bisa menghentikannya. Yang saya tahu, firasat itu memberitahu saya suatu hal yang berhubungan erat dengan saya. Saya hanya diberitahu lewat rasa, itu saja. Saya tidak bisa menghentikan, saya tidak bisa memutar waktu atau menghalang-halangi. Bahkan sering saya tidak bisa menentukan 'tema' apa yang sedang diberikan lewat firasat yang saya terima.
Teman saya Trisetya, dia bilang saya manusia setengah dukun. Waw, kalau saya boleh memilih, lebih baik saya tidak. Dewi Lestari membuat cerpen berjudul Firasat, intinya menceritakan orang-orang semacam saya ini. Saya bukan indigo loh ya, saya tidak bisa meramal, saya tidak bisa melihat masa depan, saya tidak bisa membaca sifat orang, saya hanya sering dikirimi 'rasa'.
Banyak hal dalam hidup saya yang melibatkan rasa itu sebagai suatu pembuktian. That's why saya sering lebay, saya terkesan sering menuduh, padahal aslinya saya cuma ngomong apa yang saya rasakan. Kalau omongan saya dijadikan alasan untuk benar-benar merealisasikan apa yang saya khawatirkan, itu sungguh di luar keinginan saya.
Beberapa hari yang lalu, ketika saya akan mendatangi suatu tes kerja, rasa itu datang. Saya sering ikut wawancara dan grogi yang saya rasakan tidak pernah terasa mengganggu seperti ini. FYI, rasa itu ketika datang sangat mengganggu, sangat tidak menyenangkan. Ternyata, apa yang rasa coba katakan pada saya adalah tes yang mungkin hampir tidak mungkin saya lewati tapi berbekal kepedean over dosis yang saya punyai, tes itu terlewati. Apa tesnya? Saya disuruh mengajari orang untuk membaca perbedaan kurs mata uang satu dengan yang lain. Padahal sejujurnya, membacanya dalam bahasa Indonesia saja saya tidak bisa. Kala itu saya HARUS mengajari orang cara membaca kurs dalam Bhs. INggris dan saya terangkan dengan Bahasa Inggris juga dalam waktu ajar 30 menit, the real 30 menit. Sejauh ini belum pernah saya micro teaching dalam waktu yang tidak dipotong.
In short, saya lolos dan yang saya ajar bilang: penjelasan Anda tidak membingungkan dan understandable, pasti Anda diterima. She's right!
Saya dihadapkan pada pilihan Denpasar atau Balikpapan. Atau tidak saa sekali, menurut saya hahahaa...
Kemarin seharian saya diserang rasa, dia memperkosa saya untuk khawatir sepanjang waktu. Saya mainkan tangan saya, berhasil saya tulis 8 halaman tulisan yang sedang menjadi proyek pribadi saya. Biasanya, dala sehari saya hanya bisa tulis 3-4 halaman saja, paling banter 5.
Hari ini akan saya temui yang menjadi jawaban dari rasa yang terus-terusan menyerang saya kemarin. Mungkin saya benar-benar akan ditepatkan di Balikpapan. Semoga saja tidak, semoga yang saya inginkan adalah yang Tuhan kabulkan. Amin...
Teman saya Trisetya, dia bilang saya manusia setengah dukun. Waw, kalau saya boleh memilih, lebih baik saya tidak. Dewi Lestari membuat cerpen berjudul Firasat, intinya menceritakan orang-orang semacam saya ini. Saya bukan indigo loh ya, saya tidak bisa meramal, saya tidak bisa melihat masa depan, saya tidak bisa membaca sifat orang, saya hanya sering dikirimi 'rasa'.
Banyak hal dalam hidup saya yang melibatkan rasa itu sebagai suatu pembuktian. That's why saya sering lebay, saya terkesan sering menuduh, padahal aslinya saya cuma ngomong apa yang saya rasakan. Kalau omongan saya dijadikan alasan untuk benar-benar merealisasikan apa yang saya khawatirkan, itu sungguh di luar keinginan saya.
Beberapa hari yang lalu, ketika saya akan mendatangi suatu tes kerja, rasa itu datang. Saya sering ikut wawancara dan grogi yang saya rasakan tidak pernah terasa mengganggu seperti ini. FYI, rasa itu ketika datang sangat mengganggu, sangat tidak menyenangkan. Ternyata, apa yang rasa coba katakan pada saya adalah tes yang mungkin hampir tidak mungkin saya lewati tapi berbekal kepedean over dosis yang saya punyai, tes itu terlewati. Apa tesnya? Saya disuruh mengajari orang untuk membaca perbedaan kurs mata uang satu dengan yang lain. Padahal sejujurnya, membacanya dalam bahasa Indonesia saja saya tidak bisa. Kala itu saya HARUS mengajari orang cara membaca kurs dalam Bhs. INggris dan saya terangkan dengan Bahasa Inggris juga dalam waktu ajar 30 menit, the real 30 menit. Sejauh ini belum pernah saya micro teaching dalam waktu yang tidak dipotong.
In short, saya lolos dan yang saya ajar bilang: penjelasan Anda tidak membingungkan dan understandable, pasti Anda diterima. She's right!
Saya dihadapkan pada pilihan Denpasar atau Balikpapan. Atau tidak saa sekali, menurut saya hahahaa...
Kemarin seharian saya diserang rasa, dia memperkosa saya untuk khawatir sepanjang waktu. Saya mainkan tangan saya, berhasil saya tulis 8 halaman tulisan yang sedang menjadi proyek pribadi saya. Biasanya, dala sehari saya hanya bisa tulis 3-4 halaman saja, paling banter 5.
Hari ini akan saya temui yang menjadi jawaban dari rasa yang terus-terusan menyerang saya kemarin. Mungkin saya benar-benar akan ditepatkan di Balikpapan. Semoga saja tidak, semoga yang saya inginkan adalah yang Tuhan kabulkan. Amin...
Untuk May 2nd
Hari Pendidikan Nasional membuat tangan saya horny lagi.
Bertahun-tahun yang lalu, saya dan Arfian pernah membahas tentang
PENDIDIKAN dan PERSEKOLAHAN. Saya sudah pernah membahas tentang hal itu
sebelumnya, di note juga. Kali ini saya akan melanjutkan pembahasan saya
yang sama sekali tidak mutu itu untuk memuaskan hasrat kehorny-an
tangan saya.
Sepulang saya dari Manggarai, mindset saya benar-benar terobrak-abrik dengan pendidikan di sana. Di sana, anak-anak sudah terkondisi menghormati orang tua, ya ayah ibunya, ya gurunya, ya orang lain yg lebih tua darinya. Menghormati bukanlah seperti yang anak-anak Jawa lakukan; dengan basa krama, panggil mas mbak paklik bulik dll, atau bahkan dengan sikap duduk dan wajah bermanis-manis. Anak-anak Jawa di sini tentunya tidak semua, tapi most of them (or us, actually).
Saya sempat berbincang-bincang tentang sekolah di Jawa dengan Ibu Lin, guru SD di Manggarai. Saya bilang di sini fasilitas lengkap, segala macam ada dan bahkan siswa tidak diajar guru saja mereka sudah mampu mendapatkan semua materi dari buku dan internet, as long as siswa tidak malas untuk belajar. Bu Lin terkagum-kagum dan berkata, "Pastinya anak-anak Manggarai juga akan pandai kalau fasilitas lengkap."
Saya seperti disambar petir. Listrik saja tidak ada, mungkinkah kita pakai LCD saat proses KBM? Mungkinkah kita memberi tugas kepada anak2 untuk mencari di internet? Mungkinkah kita menyuruh mereka mengirimkan hasil pekerjaan mereka lewat email?
Padahal, seperti yang saya pernah ceritakan di catatan saya Berjalan ke Pulau Bunga, tugas mereka sebagai anak-anak tidaklah seremeh tugas anak-anak Jawa: belajar dan bermain. Mereka ngangsu (cari air dari sungai untuk diangkut ke rumah), cari kayu bakar, masak sendiri, cuci pakaian, membantu orang tua mengurus kebun dan ikut mengasuh anak guru mereka. Mereka tentunya masih memiliki waktu untuk bermain dan sesekali belajar di waktu senggang. Sulitnya transportasi membuat mereka berjalan lebih dari 1 km hanya untuk sampai ke sekolah dengan medan yang tidak mulus.
Masalah kebersihan, mereka memang sangat kotor dan tidak bisa kinclong seperti anak-anak Jawa. Tetapi bersih saja tidak cukup. Dengan fasilitas yang lengkap di Jawa, apakah benar anak-anak Jawa lebih 'berpendidikan' daripada anak-anak yang di Manggarai? Sayang saya belum sempat ke Talaud, Rote Ndao, Aceh Besar, Timika atau pedalaan Kapuas. Yang saya rasakan, Jawa dengan seribu satu kemudahan dan kemewahannya menjanjikan: PERSEKOLAHAN yang bagus, tapi mengenai pendidikan saya masih tidak yakin, terutama untuk pendidikan pengembangan diri.
Yang saya lebih soroti adalah tentang TANGGUNG JAWAB dan DISIPLIN. Anak Jawa terlalu tergantung pada orang lain. Untuk mencuci pakaiannya, bahkan seragamnya, mereka lebih menggantungkan diri pada orang yang bis encuci selain dirinya. HOnestly, dulu saya juga begitu. Yang merasa guru atau pernah jadi guru, pasti sering menemui anak-anak yang tidak mengerjakan PR seakan-akan PR itu yang butuh adalah Pak/Bu Guru bukan para siswa. Siswa tidak mendengarkan ketika diajar adalah hal biasa, karena mereka merasa sudah membayar. GUru menegur siswa dengan keras, siswa semakin membangkang. Guru menabok siswa, siswa lapor ke ortu, ortu lapor polisis lalu guru dipenjara.
Apa itu yang diagung-agungkan atas nama Pendidikan? Apa sih esensi pendidikan? Nilai yang bagus? Sorry to say, saya pernah jadi guru dan saya tidak mengalami kesulitan sedikitpun untuk memberi nilai pada siswa. Jadi nilai yang bagus itu bisa didapatkan cuma-cuma saja. Kalau esensinya adalah tingkat kelulusan yang tinggi, kongkalikong dalam UAN itu sudah biasa, rahasia umum ada sekolah-sekolah tertentu yang mengerahkan sebagian gurunya untuk mengerjakan UAN dan jawabannya disebar ke siswa. Sudah biasa. Kalau esensinya adalah perkejaan yang wah, hmm bagi saya pekerjaan itu seperti jodoh. Mau ganteng, cantik, kaya, terhormat, semua kembali ke diri sendiri dan sesuai dengan yang dikehendaki Tuhan.
Saya tidak minta kalian sepakat dengan saya, anggap saja ini Analytical Exposition. Bagi saya secara pribadi, pendidikan itu lebih menitikberatkan pembentukan karakter pribadi siswa. Saya sendiri ngeri kalau saya punya anak nanti. Apakah sekolah benar-benar akan membuatnya menjadi bertanggung jawab? apakah sekolah akan benar-benar membuatnya disiplin? apa iya? In fact, anak-anak di sekitar saya jika disuruh tidak langsung 'menyat', jika diperingatkan PASTI membantah, lebih suka dibantu daripada membantu diri sendiri. Mereka sekolah, mereka berprestasi bagus, tapi apa wujud nyata dari persekolahan yang mereka enyam tiap hari?Salah seorang orang tua siswa yang saya ajar berkata, "Prinsip saya, anak saya memang sekolahnya harus pinter. GImana nggak, anak sekarang ini tugasnya cuma sekolah saja, kalau jaman saya dulu sebelum berangkat asih harus nyuci, pulang sekolah bantu orang tua di kebun. Anak sekarang tidak melakukan itu, jadi kebangeten kalo sekolah saja tidak pinter."
Ya, benar! KEBANGETEN kalau sekolah saja tidak pinter. kebangeten kalau disuruh saja malas-malas, kebangeten kalau diberitahu masih membantah, kebangeten kalau asih tidak bisa disiplin dan tangung jawab atas kebutuhan diri sendiri. Saya punya cita-cita yang membuat saya mbateg karena tidak punya cukup uang untuk mewujudkannya. Tapi saya meyakini sepenuhnya, kalau bukan saya yang mewujudkan, akan ada orang yang prihatin akan pendidikan di Jawa, diana fasilitas lengkap, modernisasi dimana-mana tapi justru meluluskan pribadi-pribadi manja yang tidak bisa hidup sendiri.
Saya punya teman dari Polandia, dia bahkan tidak suka jika bajunya dicucikan orang lain. Padahal tentunya disana fasilitas lebih oke daripada di Jawa, mutu materi pelajaran jauh lebih tinggi daripada di Jawa tapi kemandirian, disiplin dan tanggung jawab tetap terdepan. Dan itulah PENDIDIKAN.
Selamat Hari Pendidikan bagi semua pendidik dan terdidik.Selamat Hari Pendidikan bagi pengajar dan terajar, semoga Tuhan menuntun kalian ke jalan pendidikan yang sesungguhnya, bukan persekolahan yang menipu.
Sepulang saya dari Manggarai, mindset saya benar-benar terobrak-abrik dengan pendidikan di sana. Di sana, anak-anak sudah terkondisi menghormati orang tua, ya ayah ibunya, ya gurunya, ya orang lain yg lebih tua darinya. Menghormati bukanlah seperti yang anak-anak Jawa lakukan; dengan basa krama, panggil mas mbak paklik bulik dll, atau bahkan dengan sikap duduk dan wajah bermanis-manis. Anak-anak Jawa di sini tentunya tidak semua, tapi most of them (or us, actually).
Saya sempat berbincang-bincang tentang sekolah di Jawa dengan Ibu Lin, guru SD di Manggarai. Saya bilang di sini fasilitas lengkap, segala macam ada dan bahkan siswa tidak diajar guru saja mereka sudah mampu mendapatkan semua materi dari buku dan internet, as long as siswa tidak malas untuk belajar. Bu Lin terkagum-kagum dan berkata, "Pastinya anak-anak Manggarai juga akan pandai kalau fasilitas lengkap."
Saya seperti disambar petir. Listrik saja tidak ada, mungkinkah kita pakai LCD saat proses KBM? Mungkinkah kita memberi tugas kepada anak2 untuk mencari di internet? Mungkinkah kita menyuruh mereka mengirimkan hasil pekerjaan mereka lewat email?
Padahal, seperti yang saya pernah ceritakan di catatan saya Berjalan ke Pulau Bunga, tugas mereka sebagai anak-anak tidaklah seremeh tugas anak-anak Jawa: belajar dan bermain. Mereka ngangsu (cari air dari sungai untuk diangkut ke rumah), cari kayu bakar, masak sendiri, cuci pakaian, membantu orang tua mengurus kebun dan ikut mengasuh anak guru mereka. Mereka tentunya masih memiliki waktu untuk bermain dan sesekali belajar di waktu senggang. Sulitnya transportasi membuat mereka berjalan lebih dari 1 km hanya untuk sampai ke sekolah dengan medan yang tidak mulus.
Masalah kebersihan, mereka memang sangat kotor dan tidak bisa kinclong seperti anak-anak Jawa. Tetapi bersih saja tidak cukup. Dengan fasilitas yang lengkap di Jawa, apakah benar anak-anak Jawa lebih 'berpendidikan' daripada anak-anak yang di Manggarai? Sayang saya belum sempat ke Talaud, Rote Ndao, Aceh Besar, Timika atau pedalaan Kapuas. Yang saya rasakan, Jawa dengan seribu satu kemudahan dan kemewahannya menjanjikan: PERSEKOLAHAN yang bagus, tapi mengenai pendidikan saya masih tidak yakin, terutama untuk pendidikan pengembangan diri.
Yang saya lebih soroti adalah tentang TANGGUNG JAWAB dan DISIPLIN. Anak Jawa terlalu tergantung pada orang lain. Untuk mencuci pakaiannya, bahkan seragamnya, mereka lebih menggantungkan diri pada orang yang bis encuci selain dirinya. HOnestly, dulu saya juga begitu. Yang merasa guru atau pernah jadi guru, pasti sering menemui anak-anak yang tidak mengerjakan PR seakan-akan PR itu yang butuh adalah Pak/Bu Guru bukan para siswa. Siswa tidak mendengarkan ketika diajar adalah hal biasa, karena mereka merasa sudah membayar. GUru menegur siswa dengan keras, siswa semakin membangkang. Guru menabok siswa, siswa lapor ke ortu, ortu lapor polisis lalu guru dipenjara.
Apa itu yang diagung-agungkan atas nama Pendidikan? Apa sih esensi pendidikan? Nilai yang bagus? Sorry to say, saya pernah jadi guru dan saya tidak mengalami kesulitan sedikitpun untuk memberi nilai pada siswa. Jadi nilai yang bagus itu bisa didapatkan cuma-cuma saja. Kalau esensinya adalah tingkat kelulusan yang tinggi, kongkalikong dalam UAN itu sudah biasa, rahasia umum ada sekolah-sekolah tertentu yang mengerahkan sebagian gurunya untuk mengerjakan UAN dan jawabannya disebar ke siswa. Sudah biasa. Kalau esensinya adalah perkejaan yang wah, hmm bagi saya pekerjaan itu seperti jodoh. Mau ganteng, cantik, kaya, terhormat, semua kembali ke diri sendiri dan sesuai dengan yang dikehendaki Tuhan.
Saya tidak minta kalian sepakat dengan saya, anggap saja ini Analytical Exposition. Bagi saya secara pribadi, pendidikan itu lebih menitikberatkan pembentukan karakter pribadi siswa. Saya sendiri ngeri kalau saya punya anak nanti. Apakah sekolah benar-benar akan membuatnya menjadi bertanggung jawab? apakah sekolah akan benar-benar membuatnya disiplin? apa iya? In fact, anak-anak di sekitar saya jika disuruh tidak langsung 'menyat', jika diperingatkan PASTI membantah, lebih suka dibantu daripada membantu diri sendiri. Mereka sekolah, mereka berprestasi bagus, tapi apa wujud nyata dari persekolahan yang mereka enyam tiap hari?Salah seorang orang tua siswa yang saya ajar berkata, "Prinsip saya, anak saya memang sekolahnya harus pinter. GImana nggak, anak sekarang ini tugasnya cuma sekolah saja, kalau jaman saya dulu sebelum berangkat asih harus nyuci, pulang sekolah bantu orang tua di kebun. Anak sekarang tidak melakukan itu, jadi kebangeten kalo sekolah saja tidak pinter."
Ya, benar! KEBANGETEN kalau sekolah saja tidak pinter. kebangeten kalau disuruh saja malas-malas, kebangeten kalau diberitahu masih membantah, kebangeten kalau asih tidak bisa disiplin dan tangung jawab atas kebutuhan diri sendiri. Saya punya cita-cita yang membuat saya mbateg karena tidak punya cukup uang untuk mewujudkannya. Tapi saya meyakini sepenuhnya, kalau bukan saya yang mewujudkan, akan ada orang yang prihatin akan pendidikan di Jawa, diana fasilitas lengkap, modernisasi dimana-mana tapi justru meluluskan pribadi-pribadi manja yang tidak bisa hidup sendiri.
Saya punya teman dari Polandia, dia bahkan tidak suka jika bajunya dicucikan orang lain. Padahal tentunya disana fasilitas lebih oke daripada di Jawa, mutu materi pelajaran jauh lebih tinggi daripada di Jawa tapi kemandirian, disiplin dan tanggung jawab tetap terdepan. Dan itulah PENDIDIKAN.
Selamat Hari Pendidikan bagi semua pendidik dan terdidik.Selamat Hari Pendidikan bagi pengajar dan terajar, semoga Tuhan menuntun kalian ke jalan pendidikan yang sesungguhnya, bukan persekolahan yang menipu.
Kamis, 26 April 2012
For You, My Pe
Saya semakin hancur. Ketika saya mulai meneteska air mata tepat di depan halte bus Mardi Rahayu Ungaran, tempat dimana saya dan kamu tertawa-tawa menghabiskan es cincau yang kita beli dari pasar hewan di Ambarawa. Tiba-tiba saya ingat bertahun-tahun yang lalu ketika kita berdua bicara dalam malam di sebuah tophill di belakang rumah mewah, kamu tidak pakai jaket dan kamu baru sadar angin malam menusukmu tepat ketika kita sama-sama menyadari jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.
Saya tahu kamu tidak lupa, saya tahu kamu tetap ingat ini sampai kapanpun, betapa banyak hal yang kita lalui bedua. Pernah suatu kali saya hampir gila karena orang tua saya, tapi kamu ada disana untuk memegang tangan saya, menggandeng saya dan menjaga saya agar ketika jatuh bisa berdiri lagi. Saya selalu kuat, lebih kuat dari batu karang. Sekarang saya sudah pecah karena kamu tak lagi mau membantu saya berdiri. Kamu ingin pergi. Kemana, entah.
Jadi kapan kamu akan kembali lagi?
Kalau kamu ingin menghukum dirimu sendiri, silakan. Saya beri kamu waktu seumur hidup untuk itu, tapi jangan ikutkan saya untuk merasakan hukuman untuk dirimu sendiri. Saya ingin kita bangkit lagi, kita, bukan hanya saya. Yang kemarin biar jadi hitam di atas putih saja, agar bisa kita baca kapanpun kita mau. Saya biasa saja kalau kamu bisa bersikap seperti layaknya kamu yang dulu, tapi jika kamu tidak bisa, untuk apa saya bangkit hidup lagi? Untuk apa saya pertahankan hidup saya?
Jadi kapan kamu akan kembali lagi, Pe?
Saya tahu kamu tidak lupa, saya tahu kamu tetap ingat ini sampai kapanpun, betapa banyak hal yang kita lalui bedua. Pernah suatu kali saya hampir gila karena orang tua saya, tapi kamu ada disana untuk memegang tangan saya, menggandeng saya dan menjaga saya agar ketika jatuh bisa berdiri lagi. Saya selalu kuat, lebih kuat dari batu karang. Sekarang saya sudah pecah karena kamu tak lagi mau membantu saya berdiri. Kamu ingin pergi. Kemana, entah.
Jadi kapan kamu akan kembali lagi?
Kalau kamu ingin menghukum dirimu sendiri, silakan. Saya beri kamu waktu seumur hidup untuk itu, tapi jangan ikutkan saya untuk merasakan hukuman untuk dirimu sendiri. Saya ingin kita bangkit lagi, kita, bukan hanya saya. Yang kemarin biar jadi hitam di atas putih saja, agar bisa kita baca kapanpun kita mau. Saya biasa saja kalau kamu bisa bersikap seperti layaknya kamu yang dulu, tapi jika kamu tidak bisa, untuk apa saya bangkit hidup lagi? Untuk apa saya pertahankan hidup saya?
Jadi kapan kamu akan kembali lagi, Pe?
Selasa, 24 April 2012
Tergadai
Apa yang disebut dengan masa depan? Sepertinya saya sudah tergadai. Jujur saya ingin seperti teman-teman saya yang bekerja, merantau, mempertahankan hidup, bergaul... Disini saya hidup enak, semua hal sudah dicukupi dengan baik, saya diperlakukan dengan sangat baik tapi entah mengapa separuh jiwa saya tidak di sini. Mungkin memang saya yang jahat.
Hidup hampir 24 tahun, saya pelajari diri saya seperti apa. Saya memang lebih suka hidup sendiri, tidak nebeng, tidak numpang. Pernah saya merasakan kebahagiaan selama sembilan bulan saya tinggal di sebuah rumah kecil sendiri, yang kemudian ditemani dua ekor anjing kecil milik saya dan Arfian. Setiap hari Arfian datang, saya masak, membersihkan rumah, mencuci baju, bayar listrik, bayar air, bekerja banting tulang, jalan, pacaran, bergaul, berpesta, saya sangat bahagia. Di situlah saya rasa saya benar-benar menemukan kebahagiaan yang membuat saya sangat betah, membuat saya enggan beranjak dan meleburkan ambisi-ambisi yang sering muncul. Di situ saya merasa saya adalah saya. Meski tidak pernah beli baju baru karena uang habis untuk kebutuhan rumah tangga, saya biasa saja. Sampai-sampai teman kerja saya waktu itu pernah dengan gamblang bilang kalau baju saya jelek-jelek.
Sekarang, jiwa saya yang separuh mengembara tanpa raga. Sedih rasanya, sakit rasanya. Meski hidup saya enak sekarang; tidak perlu bayar listrik, bayar air, keluar uang untuk belanja, tapi saya kesepian. Tidak ada lagi Bebe dan Kugy kecil yang menggonggong riang ketika saya pulang. Tidak ada Arfian yang membuat saya bertahan dalam kemalangan. Hidup saya jauh dari kata malang disini, tapi yang saya butuhkan bukan itu. Saya butuh hidup saya yang dulu. Yang meski harus hutang untuk belanja, hati saya tetap lapang.
Saya ingin terbang jauh, tapi sayap saya diberi pemberat bernama orang tua, mertua, hubungan baik, janji, lamaran. Saya hanya setengah jiwa yang hidup dalam raga milik orang lain, milik orang banyak. Kaki saya melangkah bukan ke arah tempat yang saya inginkan, melainkan ke arah tempat yang harus saya tuju. Saya malu, saya sakit. Saya tidak suka jadi parasit. Meski bagi banyak orang ini terlihat seperti komensalis, bagi saya jauh lebih baik jika saya tidak diberi beban. Saya bisa berfikir, saya bisa menjaga diri tanpa harus dijaga seperti ini. Bukan kemudahan yang saya cari, saya cari kenyamanan. Dalam hidup yang tidak mudah, jika dilewati dengan ikhlas, nyaman akan mengikuti. Saya rasa sekarang saya belum ikhlas, itulah mengapa segala kemudahan dan kebaikan hati yang saya terima belum juga membuat saya merasa nyaman dan mampu mengembalikan separuh jiwa saya untuk pulang ke rumahnya, raga.
Hidup hampir 24 tahun, saya pelajari diri saya seperti apa. Saya memang lebih suka hidup sendiri, tidak nebeng, tidak numpang. Pernah saya merasakan kebahagiaan selama sembilan bulan saya tinggal di sebuah rumah kecil sendiri, yang kemudian ditemani dua ekor anjing kecil milik saya dan Arfian. Setiap hari Arfian datang, saya masak, membersihkan rumah, mencuci baju, bayar listrik, bayar air, bekerja banting tulang, jalan, pacaran, bergaul, berpesta, saya sangat bahagia. Di situlah saya rasa saya benar-benar menemukan kebahagiaan yang membuat saya sangat betah, membuat saya enggan beranjak dan meleburkan ambisi-ambisi yang sering muncul. Di situ saya merasa saya adalah saya. Meski tidak pernah beli baju baru karena uang habis untuk kebutuhan rumah tangga, saya biasa saja. Sampai-sampai teman kerja saya waktu itu pernah dengan gamblang bilang kalau baju saya jelek-jelek.
Sekarang, jiwa saya yang separuh mengembara tanpa raga. Sedih rasanya, sakit rasanya. Meski hidup saya enak sekarang; tidak perlu bayar listrik, bayar air, keluar uang untuk belanja, tapi saya kesepian. Tidak ada lagi Bebe dan Kugy kecil yang menggonggong riang ketika saya pulang. Tidak ada Arfian yang membuat saya bertahan dalam kemalangan. Hidup saya jauh dari kata malang disini, tapi yang saya butuhkan bukan itu. Saya butuh hidup saya yang dulu. Yang meski harus hutang untuk belanja, hati saya tetap lapang.
Saya ingin terbang jauh, tapi sayap saya diberi pemberat bernama orang tua, mertua, hubungan baik, janji, lamaran. Saya hanya setengah jiwa yang hidup dalam raga milik orang lain, milik orang banyak. Kaki saya melangkah bukan ke arah tempat yang saya inginkan, melainkan ke arah tempat yang harus saya tuju. Saya malu, saya sakit. Saya tidak suka jadi parasit. Meski bagi banyak orang ini terlihat seperti komensalis, bagi saya jauh lebih baik jika saya tidak diberi beban. Saya bisa berfikir, saya bisa menjaga diri tanpa harus dijaga seperti ini. Bukan kemudahan yang saya cari, saya cari kenyamanan. Dalam hidup yang tidak mudah, jika dilewati dengan ikhlas, nyaman akan mengikuti. Saya rasa sekarang saya belum ikhlas, itulah mengapa segala kemudahan dan kebaikan hati yang saya terima belum juga membuat saya merasa nyaman dan mampu mengembalikan separuh jiwa saya untuk pulang ke rumahnya, raga.
Senin, 23 April 2012
Berjalan ke Pulau Bunga
Ada banyak hal yang
tidak bisa saya lupakan begitu saja dari perjalanan terjauh yang pernah saya
lakukan. Berangkat dari Ambarawa, saya sudah sangat bersemangat namun perasaan
saya cepat sirna ketika bis yang katanya berangkat jam dua baru muncul jam
empat kurang seperempat. Tapi syukurlah, meski perjalanan sedikit terhambat
karena banjir di daerah Solo, saya tidak terlalu menderita.
Saya bersebelahan
dengan seorang Bapak yang dari caranya bertindak mencerminkan beliau pelanggan
setia bis saya yang tumpangi. Saya tidak tahu namanya, beliau orang Salatiga
yang sudah puluhan tahun mengajar di sebuah sekolah pariwisata di Singaraja.
Dari beliau saya tahu beberapa hal tentang Bali yang belum pernah saya temukan
di buku. Bali yang menyimpan segala macam pesona itu sekarang justru
menggeserkan nilai-nilai luhur penduduknya menjadi sangat materialistis. Bapak
tersebut pun bercerita tentang hubungan istrinya yang sudah putus dengan
keluarganya—satu hal yang ia tidak sukai dari adat Bali. Seperti yang pernah
saya baca dalam buku Aku Kartini Bernyawa Sembilan, jika seorang perempuan Bali
menikah maka dirinya menjadi milik keluarga suaminya, itu berarti hubungan
dengan keluarganya sendiri terputus.
Selama perjalanan, kami
jarang ngobrol karena beliau terus-terusan menelpon dan saya terus-terusan
mengunyah.
Sampai di Bali, saya
dijemput Pak Gede, bapak ojek langganan Erva. Saya akan tinggal di kos Erva
selama dua malam. Sesampainya di kos Erva, kami bercerita banyak hal yang
membuat kami terpingkal-pingkal sampai mulas, diantaranya tentang seorang teman
sekelasnya yang pernah duduk bersebelahan dengan saya di dalam bis dari sejak
saya naik sampai turun, kami bersama. Sore harinya kami jalan-jalan ke Kuta
naik Sarbagita, buswaynya Bali. Kami ke Joger, ke toko-toko pinggir jalan lalu
jalan kaki ribuan mil untuk mencapai Pantai Kuta. Saya tidak berminat pada
pantainya, saya sedang mencari suatu prasasti tempat saya akan ketemuan dengan
Anya tiga tahun lagi. Sudah bolak-balik mutar-muter dan tanya-tanya orang
sampai jontor kami masih tidak menemukannya juga. Saya menyerah, Erva bilang
biar suatu hari saya cari sama Arfian saja, pasti ketemu.
Esoknya saya tiduran
saja di kos Erva, jam 10 pagi saya tonton sinetron favorit saya; Buku Harian
Nayla sambil menangis-nangis sesenggukan. Padahal saya sudah tahu ceritanya dan
versi asli yang disadur sinetron itu. Malam harinya kami ke Hardy’s untuk
membeli beberapa oleh-oleh untuk teman-teman kerja Arfian. Saya sangat
bersemangat.
Paginya saya berangkat
jam 6 ke bandara tentunya diantar Pak Gede yang baik hati. Dengan katroknya
saya susuri jalan bersama orang-orang yang berjalan cepat-cepat. Saya tidak
suka orang yang berjalan lambat tapi saya tidak suka orang berjalan terlalu
cepat karena tergesa-gesa. Saya check-in ketika loket pelayanan ke Labuan Bajo
belum dibuka tapi saya tetap dilayani dengan baik. Saya menunggu di ruang
tunggu. Tidak lama kemudian, seseorang datang dan duduk di sebelah saya. Dia
berambut panjang, memakai kaos berlengan buntung, celana pendaki dan tas
jinjingnya—yang biasa saya sebut tas londri sobek.
Basa-basi ia curhat
pada saya betapa ia tidak memperkirakan kenapa memasukkan begitu banyak barang
pada tas yang fragile begitu. Saya tertawa. Dari caranya bicara saya tahu ia
bukan orang Indonesia meski bahasa Indonesianya sangat lancar. Kulitnya yang
hitam karena sinar matahari benar-benar mengaburkan perkiraan saya tentang
asalnya darimana. Ternyata dia orang Jepang. Pegawai kantor pos yang entah
bagaimana caranya berlibur di Indonesia selama enam bulan. Dia ke Bali untuk
memperpanjang visanya dan saat itu ia akan kembali ke Bima untuk berselancar
sepuasnya seperti yang sudah ia lakukan selama enam bulan ini. We o we, WOW!
Harusnya pesawat saya
berangkat pukul 08.25 tapi delay sapai jam 10. Akhirnya si bule jepang bernama
Tamaki itu berangkat duluan. Singkat cerita, saya bicara dengan beberapa orang
disana. Satu Tamaki, tiga ibu-ibu dala waktu yang berbeda-beda. Dan semua yangs
aya ajak bicara selalu terbang lebih dulu ketimbang saya. Pesawat yang katanya
jam 10 terbang, diundur lagi sampai jam 11.30 lalu diundur lagi sampai jam 12
dan masih diundur lagi sampai jam 12.15. Saat itu saya berkenalan dengan
seorang mbak metropolitan yang bajunya terbelah sampai belahan dadanya terlihat
dan seorang cewek China yang wajahnya keanyak-anyakan.
Finally saya naik
pesawat. Di sebelah saya duduk seorang ibu dengan suami dan anaknya.
Penerbangan Bali ke Labuan Bajo memakan waktu 1,5 jam. Tepat setengah
perjalanan, saya yang duduk di pinggir jendela sadar kalau pesawat yang saya
naiki sedang memutar arah. Sekitar lima belas menit kemudian diumumkan bahwa
pesawat yang kami naiki kembali ke Bali lagi karena kesalahan teknis. Saya
kecewa setengah hidup. Sudah dua hari saya deg-degan tidak karuan karena akan
bertemu Arfian eh ini kurang setengah jam malah balik lagi ke Bali. Payah!
Saya tanya orang di
samping saya yang sudah sering bolak-balik menggunakan penerbangan yang sama.
Kata dia baru sekali mengalami hal semacam ini. Beberapa menit kemudian saya
mencium bau gosong. Well, bisa ditebak saya langsung ingat Tuhan dan rumah-Nya.
Saya panik bukan karena banyak kemungkinan kami akan nyebur laut melainkan saya
tidak bawa identitas apapun di dalam kantong. Semua saya taruh dalam tas yang
saya masukkan ke bagasi kabin di atas kepala. Saya pikir kalau sampai saya jadi
korban pesawat jatuh atau pesawat meledak, saya akan jadi korban yang
identitasnya masih belum diketahui lalu arwah saya gentayangan di sekitar selat
Lombok. Saya tidak mau begitu.
Alhamdulillah kami
sampai di Ngurah Rai lagi dengan muka biru-biru keungu-unguan. Seseorang
mendengar awak pesawat sedang berbicara bahwa ada suatu bagian dari pesawat
yang terbakar. Sengaja para awak merahasiakan hal itu kepada penumpang. Apapun,
saya masih selamat.
Arfian sudah menunggu
di Labuan Bajo dengan jenggot yang mencapai mata kaki mungkin. Saya di Bali
difasilitasi hotel dan 3x makan sampai penerbangan keesokan harinya. Beberapa
orang mak-mak China marah-marah dengan frustasi karena kegagalan penerbangan,
beberapa orang mengeluhkan karena ketidaktepatan waktu mereka sampai di Labuan
Bajo akan membuat mereka mendapat masalah dalam pekerjaan, beberapa orang masih
santai saja, beberapa bersyukur karena masih selamat dan satu orang bingung
harus berbuat apa—saya.
Akhirnya saya menginap
di hotel, sekamar dengan dokter PTT yang ditempatkan di Manggarai Barat. Saya
senang sekali bertemu dengannya, saya juga ingin jadi dokter meski seumur hidup
tidak akan pernah bisa jadi dokter. Keesokannya kami terbang dengan selaat,
saya bersebelahan dengan Bule yang ngomongnya muncrat-muncrat tapi dia baik dan
tidak makan manis. Dan tararaaaaaa saya bertemu dengan Arfian yang supergosong!
Dia jadi tambah cuakep dalam kehitaman yang luar biasa.
Dari Labuan Bajo kami
naik travel sampai ke Ruteng. Berangkat jam 1 sampai di Ruteng jam 5an,
dipotong makan siang di jalan. Kami lanjutkan perjalanan ke Rumah Cinta di
Pagal. Sampai Pagal sekitar setengah tujuh. Kami disambut Mbak Jei, Ute, Ana
dan Raras lalu kami makan malam, main uno, ngobrol lalu tidur. Teman-teman di
Rumah Cinta sangat baik hati.
Paginya kami ke tampat
yang paling saya tunggu: SDI WAE PAKU! SD ini terletak di atas bukit yang jalan
naiknya terjal bagi saya dan sangat kuwalahan karena saya terpeleset beberapa
kali. Di sana berdiri beberapa rumah dinas guru-gurunya yang dibangun swadaya
oleh orang tua siswa. Saya disambut dengan sangat baik, teman-teman Arfian
mengagumkan. I love them so much. Murid-muridnya mengikuti saya dan mengintip
lewat jendela. Mereka berbicara dalam bahasa Manggarai yang kedengarannya tidak
jauh beda dengan bahasa Vietnam. Mereka ada yang berkulit coklat, hitam atau
putih. Mereka ada yang berambut kriting, berombak bahkan lurus. Orang Manggarai
tidak sejenis, tapi ketulusan mereka sejenis.
Saya cinta tempat ini. Saya
makan dari sayur yang dipetik langsung dari kebun. Saya berkenalan dengan
anjing bernama Macan yang baru
melahirkan dua minggu yang lalu. Lalu dengan Bleki, juga dengan anak-anaknya
Macan, empat ekor anjing kampung unyu yang seperti anak tikus. Saya bertukar
cerita dengan Bu Ani, Bu Lin, Bu Sis, Pak Max, Papa Wulang, Pak Ito, Pak Fit,
Grace, Dela, Tante Ave, Kakak Ave, Pak Willy, Bu Ati, Pak Safe, Pak Gaby dan
the incredible headmaster; Pak Marje.
Banyak kisah
sehari-hari yang tidak bisa saya lupakan. Saya membawa pelajaran berharga
engenai pendidikan. Di Manggarai, sistem pendidikan yang diterapkan masihlah
seperti pada jaman nenek saya sekolah dulu. Kalau siswa tidak mengerjakan,
tidak memperhatikan atau tidak menurut pada guru, guru akan memukulnya. Disana
siswa takut pada guru. Disana guru galak pada siswa. Tapi guru dan siswa
berhubungan baik, tidak ada yang saling membenci. Bahkan siswa dengan sukarela
melakukan pekerjaan berat untuk guru mereka; mencari kayu bakar, mencuci baju,
mencuci piring, menimba air, mengasuh anak, dll.
Siswa kelas 6 tinggal
di sekolah, mereka masak untuk makan mereka setiap hari. Mereka tidak pernah
mengeluh meski harus masak sendiri, bawa lewing (kuali) dari rumah, masak
dengan kayu bakar, setelah jadi nasi hanya dimakan tanpa lauk atau sayur,
mereka menamainya nasi kosong. Saya trenyuh ketika suatu kali seorang anak
sedang ngobrol dengan temannya berkata, “aku mau tidur, nanti aku akan mimpi
dipeluk nasi goreng yang ada telurnya. Hmmm enak sekali pasti ya!”
Suatu kali setelah saya
dan Arfian makan, Arfian menyuruh saya ebuat sambal trasi yang agak banyak
untuk anak-anak. Saya buatkan meski dalam hati saya berkata mungkin mereka
tidak akan doyan. Seusai saya buatkan, saya bilang mereka boleh memakannya tapi
tidak boleh berebut. Mereka senang sekali. Sekejap, sambal habis diperebutkan
berbelas-belas anak. Saya tanya mereka makan apa, mereka jawab nasi dengan
sambal buatan ibu. Saya seperti disetrum.
Siang itu saya buat
telur ceplok dua butir. Ternyata telur kedua sudah agak busuk. Selama saya
memasak, anak-anak merubungi saya dan mereka sangat mengagumi saya dan Pak Fian
makan enak setiap hari. Tahu telurnya busuk, saya bilang ke mereka bahwa telur
itu sudah tidak enak tapi mereka menyangkal dan berkata bahwa telur adalah
makanan yang sangat enak bagi mereka. Usai makan, saya mau buang telur ceplok
yang bau itu tapi Arfian melarang saya. Dia menyuruh saya menawarkan pada
anak-anak. Saya miris. Itu telur tidak enak. Arfian bilang kalau mereka tidak
mau, baru buang telur ceplok itu. Akhirnya saya tawarkan pada anak-anak whether
mereka mau atau tidak. Tanpa disangka, berbelas-belas anak mengeroyok telur itu
dengan ramainya dan berterimakasih karena telah diberi telur yang enak. Saya
trenyuh.
Jika dibandingkan
dengan makanan saya di rumah, apa yang saya makan disana setiap hari sangatlah
tidak enak namun ketika melihat sekitar saya, betapa saya masak mewah terus
setiap hari. Saya bikin pepes ikan (di Jawa ikan ini untuk umpan mancing), saya
masak mi instan, saya bikin pecel, sayur bening, telur goreng dan itu adalah
makanan yang sangat keren bagi mereka, terutama anak-anak.
Saya mengajari ibu Ani
masak sayur bening, beliau sangat ketagihan dan bilang bahwa sayur bening
sangat enak. Hati saya miris. Mereka setiap hari seringnya makan hanya dengan
gurus (cabe dan garam yang diuleg) atau nasi kosong. Paling enak mereka pergi
cari kicot setelah hujan reda lalu memasaknya. Tapi mereka tidak hidup
menderita. Mereka bahagia, saya juga sangat bahagia disana.
Setiap hari kami
kumpul-kumpul, ngobrol sambil minum kopi Manggarai yang sangat enak, makan
timun dengan gurus, makan kacang goreng atau hanya ngobrol tanpa makan. Orang
Manggarai makan nasi sangat banyak, sekitar 3 kali lipat orang Jawa pada
umumnya. Timun disana sangat besar dan orang sana sangat ramah.
Dari awal saya sudah
bertekad bahwa saya kesana untuk hidup bukan untuk liburan. Suatu kali saya
diajak Arfian ke pantai di Reo bersama Ute dan Raras. Pantainya sangat indah
dan bersih meski jalan menuju kesana jeleknya setengah mati. Itu saja
pengalaman liburan saya. Pada waktu itu saya bahagia, bisa lebih dekat dengan
Ute, bisa menikmati laut yang masih perawan, bisa membuat foto-foto dengan
Arfian, namun belakangan ketika saya hampir pulang, rasanya liburan saya waktu
itu cuma sepenggal kisah bodoh. Untuk apa saya jauh-jauh meninggalkan Wae Paku
untuk bertemu dengan orang yang bisa saya temui di tempat lain, untuk apa saya
berbagi kisah dengan orang yang merampas apa yang saya miliki. Bagaimana,
puitis kan? Hahahaa intinya adalah hati saya ada di kampung kecil tanpa listrik
yang jalannya setengah mati jelek itu. Saya senang hidup disana. Saya merasa
hidup disana. Suatu hari saya ingin kembali kesana.
This journey was really
about eat, pray and love. Bagaimana saya memaknai makanan dari segi gizinya,
harganya dan kekuatan syukurnya. Bagaimana saya brainstorm dengan orang Hindu,
Katholik dan Muslim tentang pemaknaan mereka terhadap Tuhan dan hidup. Serta
bagaimana saya menemukan jawaban akan pertanyaan hati saya yang setengah dukun
(kata Ute) akan hal yang bernama cinta. Saya temukan disini, suatu keikhlasan
luar biasa yang belum pernah saya terima langsung dari Tuhan. Cara memaafkan,
cara menghadapi kenyataan, cara untuk tetap menjadi diri sendiri dan kejujuran
selalu mengalir tanpa paksaan. Kejujuran selalu mampu merembes tembok bata,
menyelip melalui besi, memuai dengan udara dan bersinar lewat cahaya. Kejujuran
berjalan sendiri dan kita tidak bisa menyetirnya. Baik sudah (cara orang
Manggarai kalau mau pamitan), saya tulis apa yang bisa saya tulis, masih banyak
hal yang saya dapatkan disana. 10 hari di Manggarai saya punya 7 hari penuh
harapan dan 3 hari penuh kekuatan. I’ll be back there someday, I’m sure I
will...
Jumat, 23 Maret 2012
Rasa, Wanita dan Lamat-Lamat
Rasanya aneh, ketika orang yang biasanya mengerti dan hadir untuk kita tiba-tiba bermutasi menjadi makhluk unidentified jenisnya. Terkadang sangat romantis dan mengerti, terkadang sangat galakdan memojokkan. Saya bertanya dianggap curiga. Saya berkata dianggap takabur. Saya harus bagaimana?
Akhir-akhir ini semua bertambah buruk. Saya tidak punya teman lagi untuk bercerita seblak-blakan yang saya bisa. Ya, teman saya banyak namun mereka berbeda pola pikir, berbeda kasus dan mungkin agak sulit melontarkan kata-kata yang berterima untuk saya cerna.
Seketika, rasa kehilangan yang dalam menyergap masuk ke dada, sama sekali tidak menyisakan sepetak ruang untuk bernafas. Banyak alasan yang tidak akan saya tuliskan satu persatu. Banyak sekali. Saya bisa tuliskan semua, tapi akan jadi masalah lagi di belakangnya. Masalah ini akan segera usai kalau kedua belah pihak saling mengerti, saling mengalah, saling memahami, saling berbicara dengan otak yang dingin, saling terbuka dan siap dibuka.
Dia hidup bersama seribu satu wanita saya tidak bisa cegah, saya tidak akan marah, saya mau apalagi selain pasrah,,saya hanya ingin jadi seperti dia: yang selalu ingin saya butuhkan.
Beberapa tahun yang lalu, saya sesak nafas, yang ada hanya dia. Karena saya jengkel, saya minta dia tanya kepada sahabat saya bagaimana cara menangani penyakit saya. Raut mukanya berubah drastis, dia benar-benar tersinggung. Sejak saat itu saya simpulkan bahwa dia ingin posisinya tak tergantikan. He won't.
Kita, manusia, memang punya banyak sekali indera. Namun tidaklah selalu mereka berjalan beriringan dengan rasa. Rasa terkadang membuat lidah terlalu kelu untuk mengecap hingga semua rasa berakhir pada getir yang sama. Rasa sering membuat kulit enggan untuk meraba karena semua hal terasa sungguh menjijikkan seperti lendir dan nanah. Rasa sering membuat buta; bukan berniat jahat akan langsung dicap buruk karena interpretasi diri yang mendominasi, berniat buruk sering tidak disangka karena pesona dahsyat yang disanjung dan dipuja.
Rasa membuat saya luruh secara perlahan. Bersama darah yang sebatu bata besarnya. Bersama cinta yang 'lamat-lamat' kian menggerogoti badan saya. Bersama kelimbungan seumur hidup dengan segudang pertanyaan tentang ikhlas, ibadah dan cinta. Bersama anak-anak kecil yang dibunuh ibunya. Bersama para lelaki yang tidak memuji, tidak memegang erat kekasihnya, tidak memikirkan dirinya, tidak merancang masa depannya. Bersama tinta cumi-cumi yang akan dibeli di tengah malam. Bersama semua kenangan yang hadir, pernah ada, selalu ada, seperti ada namun terkadang tak diakui atau terlupa.
Saya luruh sedikit demi sedikit. Ketika tampon terlalu lemah untuk menyimpan dan pembalut terlalu repot untuk menampung, bebaskanlah kelaminmu memuntahkan seluruh isinya. Biar dia puas. Biar dia lega. Satu bulan dia mengikis sedikit demi sedikit apa yang ia punya, maka beri waktu beberapa hari saja agar dia bisa merasa bagaimana bebasnya tidur tanpa penetrasi, bagaimana rikuhnya menolak persetubuhan (selayaknya lelaki yang rikuh untuk meminta persetubuhan), bagaimana perempuan akan luruh karena rasa; cepat atau lamat-lamat.
Akhir-akhir ini semua bertambah buruk. Saya tidak punya teman lagi untuk bercerita seblak-blakan yang saya bisa. Ya, teman saya banyak namun mereka berbeda pola pikir, berbeda kasus dan mungkin agak sulit melontarkan kata-kata yang berterima untuk saya cerna.
Seketika, rasa kehilangan yang dalam menyergap masuk ke dada, sama sekali tidak menyisakan sepetak ruang untuk bernafas. Banyak alasan yang tidak akan saya tuliskan satu persatu. Banyak sekali. Saya bisa tuliskan semua, tapi akan jadi masalah lagi di belakangnya. Masalah ini akan segera usai kalau kedua belah pihak saling mengerti, saling mengalah, saling memahami, saling berbicara dengan otak yang dingin, saling terbuka dan siap dibuka.
Dia hidup bersama seribu satu wanita saya tidak bisa cegah, saya tidak akan marah, saya mau apalagi selain pasrah,,saya hanya ingin jadi seperti dia: yang selalu ingin saya butuhkan.
Beberapa tahun yang lalu, saya sesak nafas, yang ada hanya dia. Karena saya jengkel, saya minta dia tanya kepada sahabat saya bagaimana cara menangani penyakit saya. Raut mukanya berubah drastis, dia benar-benar tersinggung. Sejak saat itu saya simpulkan bahwa dia ingin posisinya tak tergantikan. He won't.
Kita, manusia, memang punya banyak sekali indera. Namun tidaklah selalu mereka berjalan beriringan dengan rasa. Rasa terkadang membuat lidah terlalu kelu untuk mengecap hingga semua rasa berakhir pada getir yang sama. Rasa sering membuat kulit enggan untuk meraba karena semua hal terasa sungguh menjijikkan seperti lendir dan nanah. Rasa sering membuat buta; bukan berniat jahat akan langsung dicap buruk karena interpretasi diri yang mendominasi, berniat buruk sering tidak disangka karena pesona dahsyat yang disanjung dan dipuja.
Rasa membuat saya luruh secara perlahan. Bersama darah yang sebatu bata besarnya. Bersama cinta yang 'lamat-lamat' kian menggerogoti badan saya. Bersama kelimbungan seumur hidup dengan segudang pertanyaan tentang ikhlas, ibadah dan cinta. Bersama anak-anak kecil yang dibunuh ibunya. Bersama para lelaki yang tidak memuji, tidak memegang erat kekasihnya, tidak memikirkan dirinya, tidak merancang masa depannya. Bersama tinta cumi-cumi yang akan dibeli di tengah malam. Bersama semua kenangan yang hadir, pernah ada, selalu ada, seperti ada namun terkadang tak diakui atau terlupa.
Saya luruh sedikit demi sedikit. Ketika tampon terlalu lemah untuk menyimpan dan pembalut terlalu repot untuk menampung, bebaskanlah kelaminmu memuntahkan seluruh isinya. Biar dia puas. Biar dia lega. Satu bulan dia mengikis sedikit demi sedikit apa yang ia punya, maka beri waktu beberapa hari saja agar dia bisa merasa bagaimana bebasnya tidur tanpa penetrasi, bagaimana rikuhnya menolak persetubuhan (selayaknya lelaki yang rikuh untuk meminta persetubuhan), bagaimana perempuan akan luruh karena rasa; cepat atau lamat-lamat.
Harizka, dengan segala insiden mematikan,
yang benar-benar membenci kata
LAMAT-LAMAT
LAMAT-LAMAT
Minggu, 18 Maret 2012
Tetralogi Cerpen The Shadow episode #4 (final)
KAMERA
Entah ini kelebihan atau kekuranganku, yang jelas keanehan ini terkadang menggangguku, sangat menggangguku. Aku bisa mengerti tentang suatu keadaan hanya dengan melihat saja. Aku yakin kamu belum mengerti. Begini, hanya dengan memandang wajahmu, aku bisa mengerti betapa hebatnya hari-hari yang kau lalui, betapa sedihnya perasaannmu, betapa senangnya hatimu dan semacamnya.
Tentu, dalam banyak hal, keanehanku ini justru sangat membantu, tapi kurasa kali ini tidak. Dua hari yang lalu, dengan tidak sengaja, kutemukan sebuah kamera digital yangsudah agak usang. Baterainya pun habis. Awalnya kupikir benda itu rusak. Aku memungutnya dari pinggir jalan yang kanan kirinya sawah. Kubelikanlah baterai baru lalu kunyalakan. Masih bisa dan ternyata masih ada kartu memorinya.
Ia menyimpan lebih dari lima ratus gambar dengan objek yang berbeda-beda. Satu persatu gambar kuperhatikan, tubuhku serasa masuk tersedot pensieve lalu terlempar ke suatu masa yang aku sendiri tak mengerti kapan dan dimana. Kepalaku berputar dan terus berputar. Gambar tak bisa berhenti berpindah, tubuhku terhempas dari sini ke sana, dari sana ke sini.
Lama-kelamaan aku mulai mengerti. Hanya ada beberapa tokoh dalam kamera tersebut. Tokoh pertama, gadis periang yang kaya raya. Aku tahu dari bajunya, mobilnya, dandanannya dan aksesorisnya. Jika kuperhatikan, ia sangat up to date baik dalam hal fashion, make up bahkan gaya berfoto. Temannya banyak, cantik-cantik dan tampan-tampan. Dari seluruh gambar mengenai dirinya, ada sebuah gambar yang paling mengena; ia berdiri di puncak gunung mengibarkan bendera kebebasan dan mengenakan kalung bertuliskan I WANNA REACH THE SKY. Aku mendengus, gadis periang yang punya segalanya namun tak pernah puas dan selalu merasa kurang. Aku yakin ia kurang mengerti bahwa dengan menggapai langit ia akan semakin ingin mencapai langit di atasnya.
Tokoh kedua adalah seorang gadis bermata sayu. Wajahnya menyiratkan kesedihan yang dalam. Tak satupun foto yang memuat ia sedang tersenyum. Tangan hitamnya yang berotot dan kasar cukup membuktikan bahwa ia pekerja keras yang pantang menyerah. Dari seluruh fotonya, kudapati sebuah foto yang paling menyedihkan; ia duduk dikelilingi pecahan-pecahan berwarna cokelat. Sepertinya itu adalah pecahan genting, kendi atau poci. Wajah sayunya mengiba, seperti menginginkan pecahan-pecahan tersebut kembali utuh.
Tokoh yang lainnya berambut panjang, bermata sipit dengan kulit kecokelatan. Ia suka memakai rok mini, hot pants, tank top, bikini, atau bahkan tidak memakai apa-apa. Kebanyakan fotonya bersama pria; berbeda-beda, kadang satu kadang banyak. Yang jelas, menurutku posenya selalu tak pantas dilihat. Ia pemabuk, perokok dan mungkin bintang panas. Paling tidak, itu kesimpulan yang dapat kutarik setelah melihat semua fotonya dalam kamera.
Kumatikan kamera temuanku itu, lalu kubungkus plastik, hendak kubuang jauh-jauh. Saat aku keluar dari kamar, Ibu memandangku heran. Mau kemana? tanyanya. Mau buang ini sebentar, jawabku sembari menunjukkan bungkusan plastik hitam di tanganku. Jangan bilang isinya sebuah kamera digital, kata Ibu menebak. Kalau iya kenapa? Kok Ibu bisa tahu? aku mulai penasaran. Setiap hari kamu selalu membuangnya. Tapi tiap hari pula kamu memungutnya. Tentu aku tidak percaya. Ibu tidak pernah bohong padamu, kata Ibu ketus, simpan saja kameramu itu, lebih baik kamu bantu ibu. Bantu apa? tanyaku bergeming. Bantu Ibu mengeluarkan rayap-rayap dari dalam tubuh Ibu, katanya.
Aku kembali masuk kamar. Kutaruh kamera itu di atas bantal. Di sampingnya, ada kotak harta karunku. Kubuka lalu kuambil sebuah kalung cantik kesayanganku. Tulisan I WANNA REACH THE SKY masih tercetak apik pada liontinnya. Bersama dengan kalung itu kusimpan pula pecahan-pecahan hasil karyaku dari tanah liat yang dipecahkan Dedi di depan mataku. Kubungkus rapi dengan selembar kain putih.
Kudengar suara Ibu memanggilku dengan tercekik. Dua detik kemudian kudapati Ibu terkapar di lantai, rayap-rayap mengerubunginya, mencekik lehernya dari dalam. Aku hanya mematung. Seharusnya Ibu cukup mengerti apa yang sebaiknya ia lakukan sebelum dimakan rayap.
Entah ini kelebihan atau kekuranganku, yang jelas keanehan ini terkadang menggangguku, sangat menggangguku. Aku bisa mengerti tentang suatu keadaan hanya dengan melihat saja. Aku yakin kamu belum mengerti. Begini, hanya dengan memandang wajahmu, aku bisa mengerti betapa hebatnya hari-hari yang kau lalui, betapa sedihnya perasaannmu, betapa senangnya hatimu dan semacamnya.
Tentu, dalam banyak hal, keanehanku ini justru sangat membantu, tapi kurasa kali ini tidak. Dua hari yang lalu, dengan tidak sengaja, kutemukan sebuah kamera digital yangsudah agak usang. Baterainya pun habis. Awalnya kupikir benda itu rusak. Aku memungutnya dari pinggir jalan yang kanan kirinya sawah. Kubelikanlah baterai baru lalu kunyalakan. Masih bisa dan ternyata masih ada kartu memorinya.
Ia menyimpan lebih dari lima ratus gambar dengan objek yang berbeda-beda. Satu persatu gambar kuperhatikan, tubuhku serasa masuk tersedot pensieve lalu terlempar ke suatu masa yang aku sendiri tak mengerti kapan dan dimana. Kepalaku berputar dan terus berputar. Gambar tak bisa berhenti berpindah, tubuhku terhempas dari sini ke sana, dari sana ke sini.
Lama-kelamaan aku mulai mengerti. Hanya ada beberapa tokoh dalam kamera tersebut. Tokoh pertama, gadis periang yang kaya raya. Aku tahu dari bajunya, mobilnya, dandanannya dan aksesorisnya. Jika kuperhatikan, ia sangat up to date baik dalam hal fashion, make up bahkan gaya berfoto. Temannya banyak, cantik-cantik dan tampan-tampan. Dari seluruh gambar mengenai dirinya, ada sebuah gambar yang paling mengena; ia berdiri di puncak gunung mengibarkan bendera kebebasan dan mengenakan kalung bertuliskan I WANNA REACH THE SKY. Aku mendengus, gadis periang yang punya segalanya namun tak pernah puas dan selalu merasa kurang. Aku yakin ia kurang mengerti bahwa dengan menggapai langit ia akan semakin ingin mencapai langit di atasnya.
Tokoh kedua adalah seorang gadis bermata sayu. Wajahnya menyiratkan kesedihan yang dalam. Tak satupun foto yang memuat ia sedang tersenyum. Tangan hitamnya yang berotot dan kasar cukup membuktikan bahwa ia pekerja keras yang pantang menyerah. Dari seluruh fotonya, kudapati sebuah foto yang paling menyedihkan; ia duduk dikelilingi pecahan-pecahan berwarna cokelat. Sepertinya itu adalah pecahan genting, kendi atau poci. Wajah sayunya mengiba, seperti menginginkan pecahan-pecahan tersebut kembali utuh.
Tokoh yang lainnya berambut panjang, bermata sipit dengan kulit kecokelatan. Ia suka memakai rok mini, hot pants, tank top, bikini, atau bahkan tidak memakai apa-apa. Kebanyakan fotonya bersama pria; berbeda-beda, kadang satu kadang banyak. Yang jelas, menurutku posenya selalu tak pantas dilihat. Ia pemabuk, perokok dan mungkin bintang panas. Paling tidak, itu kesimpulan yang dapat kutarik setelah melihat semua fotonya dalam kamera.
Kumatikan kamera temuanku itu, lalu kubungkus plastik, hendak kubuang jauh-jauh. Saat aku keluar dari kamar, Ibu memandangku heran. Mau kemana? tanyanya. Mau buang ini sebentar, jawabku sembari menunjukkan bungkusan plastik hitam di tanganku. Jangan bilang isinya sebuah kamera digital, kata Ibu menebak. Kalau iya kenapa? Kok Ibu bisa tahu? aku mulai penasaran. Setiap hari kamu selalu membuangnya. Tapi tiap hari pula kamu memungutnya. Tentu aku tidak percaya. Ibu tidak pernah bohong padamu, kata Ibu ketus, simpan saja kameramu itu, lebih baik kamu bantu ibu. Bantu apa? tanyaku bergeming. Bantu Ibu mengeluarkan rayap-rayap dari dalam tubuh Ibu, katanya.
Aku kembali masuk kamar. Kutaruh kamera itu di atas bantal. Di sampingnya, ada kotak harta karunku. Kubuka lalu kuambil sebuah kalung cantik kesayanganku. Tulisan I WANNA REACH THE SKY masih tercetak apik pada liontinnya. Bersama dengan kalung itu kusimpan pula pecahan-pecahan hasil karyaku dari tanah liat yang dipecahkan Dedi di depan mataku. Kubungkus rapi dengan selembar kain putih.
Kudengar suara Ibu memanggilku dengan tercekik. Dua detik kemudian kudapati Ibu terkapar di lantai, rayap-rayap mengerubunginya, mencekik lehernya dari dalam. Aku hanya mematung. Seharusnya Ibu cukup mengerti apa yang sebaiknya ia lakukan sebelum dimakan rayap.
Langganan:
Komentar (Atom)
