Kamis, 26 April 2012

For You, My Pe

Saya semakin hancur. Ketika saya mulai meneteska air mata tepat di depan halte bus Mardi Rahayu Ungaran, tempat dimana saya dan kamu tertawa-tawa menghabiskan es cincau yang kita beli dari pasar hewan di Ambarawa. Tiba-tiba saya ingat bertahun-tahun yang lalu ketika kita berdua bicara dalam malam di sebuah tophill di belakang rumah mewah, kamu tidak pakai jaket dan kamu baru sadar angin malam menusukmu tepat ketika kita sama-sama menyadari jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.

Saya tahu kamu tidak lupa, saya tahu kamu tetap ingat ini sampai kapanpun, betapa banyak hal yang kita lalui bedua. Pernah suatu kali saya hampir gila karena orang tua saya, tapi kamu ada disana untuk memegang tangan saya, menggandeng saya dan menjaga saya agar ketika jatuh bisa berdiri lagi. Saya selalu kuat, lebih kuat dari batu karang. Sekarang saya sudah pecah karena kamu tak lagi mau membantu saya berdiri. Kamu ingin pergi. Kemana, entah.

Jadi kapan kamu akan kembali lagi?

Kalau kamu ingin menghukum dirimu sendiri, silakan. Saya beri kamu waktu seumur hidup untuk itu, tapi jangan ikutkan saya untuk merasakan hukuman untuk dirimu sendiri. Saya ingin kita bangkit lagi, kita, bukan hanya saya. Yang kemarin biar jadi hitam di atas putih saja, agar bisa kita baca kapanpun kita mau. Saya biasa saja kalau kamu bisa bersikap seperti layaknya kamu yang dulu, tapi jika kamu tidak bisa, untuk apa saya bangkit hidup lagi? Untuk apa saya pertahankan hidup saya?

Jadi kapan kamu akan kembali lagi, Pe?

Selasa, 24 April 2012

Tergadai

Apa yang disebut dengan masa depan? Sepertinya saya sudah tergadai. Jujur saya ingin seperti teman-teman saya yang bekerja, merantau, mempertahankan hidup, bergaul... Disini saya hidup enak, semua hal sudah dicukupi dengan baik, saya diperlakukan dengan sangat baik tapi entah mengapa separuh jiwa saya tidak di sini. Mungkin memang saya yang jahat.

Hidup hampir 24 tahun, saya pelajari diri saya seperti apa. Saya memang lebih suka hidup sendiri, tidak nebeng, tidak numpang. Pernah saya merasakan kebahagiaan selama sembilan bulan saya tinggal di sebuah rumah kecil sendiri, yang kemudian ditemani dua ekor anjing kecil milik saya dan Arfian. Setiap hari Arfian datang, saya masak, membersihkan rumah, mencuci baju, bayar listrik, bayar air, bekerja banting tulang, jalan, pacaran, bergaul, berpesta, saya sangat bahagia. Di situlah saya rasa saya benar-benar menemukan kebahagiaan yang membuat saya sangat betah, membuat saya enggan beranjak dan meleburkan ambisi-ambisi yang sering muncul. Di situ saya merasa saya adalah saya. Meski tidak pernah beli baju baru karena uang habis untuk kebutuhan rumah tangga, saya biasa saja. Sampai-sampai teman kerja saya waktu itu pernah dengan gamblang bilang kalau baju saya jelek-jelek.

Sekarang, jiwa saya yang separuh mengembara tanpa raga. Sedih rasanya, sakit rasanya. Meski hidup saya enak sekarang; tidak perlu bayar listrik, bayar air, keluar uang untuk belanja, tapi saya kesepian. Tidak ada lagi Bebe dan Kugy kecil yang menggonggong riang ketika saya pulang. Tidak ada Arfian yang membuat saya bertahan dalam kemalangan. Hidup saya jauh dari kata malang disini, tapi yang saya butuhkan bukan itu. Saya butuh hidup saya yang dulu. Yang meski harus hutang untuk belanja, hati saya tetap lapang.

Saya ingin terbang jauh, tapi sayap saya diberi pemberat bernama orang tua, mertua, hubungan baik, janji, lamaran. Saya hanya setengah jiwa yang hidup dalam raga milik orang lain, milik orang banyak. Kaki saya melangkah bukan ke arah tempat yang saya inginkan, melainkan ke arah tempat yang harus saya tuju. Saya malu, saya sakit. Saya tidak suka jadi parasit. Meski bagi banyak orang ini terlihat seperti komensalis, bagi saya jauh lebih baik jika saya tidak diberi beban. Saya bisa berfikir, saya bisa menjaga diri tanpa harus dijaga seperti ini. Bukan kemudahan yang saya cari, saya cari kenyamanan. Dalam hidup yang tidak mudah, jika dilewati dengan ikhlas, nyaman akan mengikuti. Saya rasa sekarang saya belum ikhlas, itulah mengapa segala kemudahan dan kebaikan hati yang saya terima belum juga membuat saya merasa nyaman dan mampu mengembalikan separuh jiwa saya untuk pulang ke rumahnya, raga.

Senin, 23 April 2012

Berjalan ke Pulau Bunga


Ada banyak hal yang tidak bisa saya lupakan begitu saja dari perjalanan terjauh yang pernah saya lakukan. Berangkat dari Ambarawa, saya sudah sangat bersemangat namun perasaan saya cepat sirna ketika bis yang katanya berangkat jam dua baru muncul jam empat kurang seperempat. Tapi syukurlah, meski perjalanan sedikit terhambat karena banjir di daerah Solo, saya tidak terlalu menderita.
Saya bersebelahan dengan seorang Bapak yang dari caranya bertindak mencerminkan beliau pelanggan setia bis saya yang tumpangi. Saya tidak tahu namanya, beliau orang Salatiga yang sudah puluhan tahun mengajar di sebuah sekolah pariwisata di Singaraja. Dari beliau saya tahu beberapa hal tentang Bali yang belum pernah saya temukan di buku. Bali yang menyimpan segala macam pesona itu sekarang justru menggeserkan nilai-nilai luhur penduduknya menjadi sangat materialistis. Bapak tersebut pun bercerita tentang hubungan istrinya yang sudah putus dengan keluarganya—satu hal yang ia tidak sukai dari adat Bali. Seperti yang pernah saya baca dalam buku Aku Kartini Bernyawa Sembilan, jika seorang perempuan Bali menikah maka dirinya menjadi milik keluarga suaminya, itu berarti hubungan dengan keluarganya sendiri terputus.
Selama perjalanan, kami jarang ngobrol karena beliau terus-terusan menelpon dan saya terus-terusan mengunyah.

Sampai di Bali, saya dijemput Pak Gede, bapak ojek langganan Erva. Saya akan tinggal di kos Erva selama dua malam. Sesampainya di kos Erva, kami bercerita banyak hal yang membuat kami terpingkal-pingkal sampai mulas, diantaranya tentang seorang teman sekelasnya yang pernah duduk bersebelahan dengan saya di dalam bis dari sejak saya naik sampai turun, kami bersama. Sore harinya kami jalan-jalan ke Kuta naik Sarbagita, buswaynya Bali. Kami ke Joger, ke toko-toko pinggir jalan lalu jalan kaki ribuan mil untuk mencapai Pantai Kuta. Saya tidak berminat pada pantainya, saya sedang mencari suatu prasasti tempat saya akan ketemuan dengan Anya tiga tahun lagi. Sudah bolak-balik mutar-muter dan tanya-tanya orang sampai jontor kami masih tidak menemukannya juga. Saya menyerah, Erva bilang biar suatu hari saya cari sama Arfian saja, pasti ketemu.
Esoknya saya tiduran saja di kos Erva, jam 10 pagi saya tonton sinetron favorit saya; Buku Harian Nayla sambil menangis-nangis sesenggukan. Padahal saya sudah tahu ceritanya dan versi asli yang disadur sinetron itu. Malam harinya kami ke Hardy’s untuk membeli beberapa oleh-oleh untuk teman-teman kerja Arfian. Saya sangat bersemangat.

Paginya saya berangkat jam 6 ke bandara tentunya diantar Pak Gede yang baik hati. Dengan katroknya saya susuri jalan bersama orang-orang yang berjalan cepat-cepat. Saya tidak suka orang yang berjalan lambat tapi saya tidak suka orang berjalan terlalu cepat karena tergesa-gesa. Saya check-in ketika loket pelayanan ke Labuan Bajo belum dibuka tapi saya tetap dilayani dengan baik. Saya menunggu di ruang tunggu. Tidak lama kemudian, seseorang datang dan duduk di sebelah saya. Dia berambut panjang, memakai kaos berlengan buntung, celana pendaki dan tas jinjingnya—yang biasa saya sebut tas londri sobek.
Basa-basi ia curhat pada saya betapa ia tidak memperkirakan kenapa memasukkan begitu banyak barang pada tas yang fragile begitu. Saya tertawa. Dari caranya bicara saya tahu ia bukan orang Indonesia meski bahasa Indonesianya sangat lancar. Kulitnya yang hitam karena sinar matahari benar-benar mengaburkan perkiraan saya tentang asalnya darimana. Ternyata dia orang Jepang. Pegawai kantor pos yang entah bagaimana caranya berlibur di Indonesia selama enam bulan. Dia ke Bali untuk memperpanjang visanya dan saat itu ia akan kembali ke Bima untuk berselancar sepuasnya seperti yang sudah ia lakukan selama enam bulan ini. We o we, WOW!
Harusnya pesawat saya berangkat pukul 08.25 tapi delay sapai jam 10. Akhirnya si bule jepang bernama Tamaki itu berangkat duluan. Singkat cerita, saya bicara dengan beberapa orang disana. Satu Tamaki, tiga ibu-ibu dala waktu yang berbeda-beda. Dan semua yangs aya ajak bicara selalu terbang lebih dulu ketimbang saya. Pesawat yang katanya jam 10 terbang, diundur lagi sampai jam 11.30 lalu diundur lagi sampai jam 12 dan masih diundur lagi sampai jam 12.15. Saat itu saya berkenalan dengan seorang mbak metropolitan yang bajunya terbelah sampai belahan dadanya terlihat dan seorang cewek China yang wajahnya keanyak-anyakan.
Finally saya naik pesawat. Di sebelah saya duduk seorang ibu dengan suami dan anaknya. Penerbangan Bali ke Labuan Bajo memakan waktu 1,5 jam. Tepat setengah perjalanan, saya yang duduk di pinggir jendela sadar kalau pesawat yang saya naiki sedang memutar arah. Sekitar lima belas menit kemudian diumumkan bahwa pesawat yang kami naiki kembali ke Bali lagi karena kesalahan teknis. Saya kecewa setengah hidup. Sudah dua hari saya deg-degan tidak karuan karena akan bertemu Arfian eh ini kurang setengah jam malah balik lagi ke Bali. Payah!
Saya tanya orang di samping saya yang sudah sering bolak-balik menggunakan penerbangan yang sama. Kata dia baru sekali mengalami hal semacam ini. Beberapa menit kemudian saya mencium bau gosong. Well, bisa ditebak saya langsung ingat Tuhan dan rumah-Nya. Saya panik bukan karena banyak kemungkinan kami akan nyebur laut melainkan saya tidak bawa identitas apapun di dalam kantong. Semua saya taruh dalam tas yang saya masukkan ke bagasi kabin di atas kepala. Saya pikir kalau sampai saya jadi korban pesawat jatuh atau pesawat meledak, saya akan jadi korban yang identitasnya masih belum diketahui lalu arwah saya gentayangan di sekitar selat Lombok. Saya tidak mau begitu.
Alhamdulillah kami sampai di Ngurah Rai lagi dengan muka biru-biru keungu-unguan. Seseorang mendengar awak pesawat sedang berbicara bahwa ada suatu bagian dari pesawat yang terbakar. Sengaja para awak merahasiakan hal itu kepada penumpang. Apapun, saya masih selamat.

Arfian sudah menunggu di Labuan Bajo dengan jenggot yang mencapai mata kaki mungkin. Saya di Bali difasilitasi hotel dan 3x makan sampai penerbangan keesokan harinya. Beberapa orang mak-mak China marah-marah dengan frustasi karena kegagalan penerbangan, beberapa orang mengeluhkan karena ketidaktepatan waktu mereka sampai di Labuan Bajo akan membuat mereka mendapat masalah dalam pekerjaan, beberapa orang masih santai saja, beberapa bersyukur karena masih selamat dan satu orang bingung harus berbuat apa—saya.

Akhirnya saya menginap di hotel, sekamar dengan dokter PTT yang ditempatkan di Manggarai Barat. Saya senang sekali bertemu dengannya, saya juga ingin jadi dokter meski seumur hidup tidak akan pernah bisa jadi dokter. Keesokannya kami terbang dengan selaat, saya bersebelahan dengan Bule yang ngomongnya muncrat-muncrat tapi dia baik dan tidak makan manis. Dan tararaaaaaa saya bertemu dengan Arfian yang supergosong! Dia jadi tambah cuakep dalam kehitaman yang luar biasa.

Dari Labuan Bajo kami naik travel sampai ke Ruteng. Berangkat jam 1 sampai di Ruteng jam 5an, dipotong makan siang di jalan. Kami lanjutkan perjalanan ke Rumah Cinta di Pagal. Sampai Pagal sekitar setengah tujuh. Kami disambut Mbak Jei, Ute, Ana dan Raras lalu kami makan malam, main uno, ngobrol lalu tidur. Teman-teman di Rumah Cinta sangat baik hati.

Paginya kami ke tampat yang paling saya tunggu: SDI WAE PAKU! SD ini terletak di atas bukit yang jalan naiknya terjal bagi saya dan sangat kuwalahan karena saya terpeleset beberapa kali. Di sana berdiri beberapa rumah dinas guru-gurunya yang dibangun swadaya oleh orang tua siswa. Saya disambut dengan sangat baik, teman-teman Arfian mengagumkan. I love them so much. Murid-muridnya mengikuti saya dan mengintip lewat jendela. Mereka berbicara dalam bahasa Manggarai yang kedengarannya tidak jauh beda dengan bahasa Vietnam. Mereka ada yang berkulit coklat, hitam atau putih. Mereka ada yang berambut kriting, berombak bahkan lurus. Orang Manggarai tidak sejenis, tapi ketulusan mereka sejenis.

Saya cinta tempat ini. Saya makan dari sayur yang dipetik langsung dari kebun. Saya berkenalan dengan anjing bernama Macan yang  baru melahirkan dua minggu yang lalu. Lalu dengan Bleki, juga dengan anak-anaknya Macan, empat ekor anjing kampung unyu yang seperti anak tikus. Saya bertukar cerita dengan Bu Ani, Bu Lin, Bu Sis, Pak Max, Papa Wulang, Pak Ito, Pak Fit, Grace, Dela, Tante Ave, Kakak Ave, Pak Willy, Bu Ati, Pak Safe, Pak Gaby dan the incredible headmaster; Pak Marje.

Banyak kisah sehari-hari yang tidak bisa saya lupakan. Saya membawa pelajaran berharga engenai pendidikan. Di Manggarai, sistem pendidikan yang diterapkan masihlah seperti pada jaman nenek saya sekolah dulu. Kalau siswa tidak mengerjakan, tidak memperhatikan atau tidak menurut pada guru, guru akan memukulnya. Disana siswa takut pada guru. Disana guru galak pada siswa. Tapi guru dan siswa berhubungan baik, tidak ada yang saling membenci. Bahkan siswa dengan sukarela melakukan pekerjaan berat untuk guru mereka; mencari kayu bakar, mencuci baju, mencuci piring, menimba air, mengasuh anak, dll.

Siswa kelas 6 tinggal di sekolah, mereka masak untuk makan mereka setiap hari. Mereka tidak pernah mengeluh meski harus masak sendiri, bawa lewing (kuali) dari rumah, masak dengan kayu bakar, setelah jadi nasi hanya dimakan tanpa lauk atau sayur, mereka menamainya nasi kosong. Saya trenyuh ketika suatu kali seorang anak sedang ngobrol dengan temannya berkata, “aku mau tidur, nanti aku akan mimpi dipeluk nasi goreng yang ada telurnya. Hmmm enak sekali pasti ya!”

Suatu kali setelah saya dan Arfian makan, Arfian menyuruh saya ebuat sambal trasi yang agak banyak untuk anak-anak. Saya buatkan meski dalam hati saya berkata mungkin mereka tidak akan doyan. Seusai saya buatkan, saya bilang mereka boleh memakannya tapi tidak boleh berebut. Mereka senang sekali. Sekejap, sambal habis diperebutkan berbelas-belas anak. Saya tanya mereka makan apa, mereka jawab nasi dengan sambal buatan ibu. Saya seperti disetrum.

Siang itu saya buat telur ceplok dua butir. Ternyata telur kedua sudah agak busuk. Selama saya memasak, anak-anak merubungi saya dan mereka sangat mengagumi saya dan Pak Fian makan enak setiap hari. Tahu telurnya busuk, saya bilang ke mereka bahwa telur itu sudah tidak enak tapi mereka menyangkal dan berkata bahwa telur adalah makanan yang sangat enak bagi mereka. Usai makan, saya mau buang telur ceplok yang bau itu tapi Arfian melarang saya. Dia menyuruh saya menawarkan pada anak-anak. Saya miris. Itu telur tidak enak. Arfian bilang kalau mereka tidak mau, baru buang telur ceplok itu. Akhirnya saya tawarkan pada anak-anak whether mereka mau atau tidak. Tanpa disangka, berbelas-belas anak mengeroyok telur itu dengan ramainya dan berterimakasih karena telah diberi telur yang enak. Saya trenyuh.
Jika dibandingkan dengan makanan saya di rumah, apa yang saya makan disana setiap hari sangatlah tidak enak namun ketika melihat sekitar saya, betapa saya masak mewah terus setiap hari. Saya bikin pepes ikan (di Jawa ikan ini untuk umpan mancing), saya masak mi instan, saya bikin pecel, sayur bening, telur goreng dan itu adalah makanan yang sangat keren bagi mereka, terutama anak-anak.

Saya mengajari ibu Ani masak sayur bening, beliau sangat ketagihan dan bilang bahwa sayur bening sangat enak. Hati saya miris. Mereka setiap hari seringnya makan hanya dengan gurus (cabe dan garam yang diuleg) atau nasi kosong. Paling enak mereka pergi cari kicot setelah hujan reda lalu memasaknya. Tapi mereka tidak hidup menderita. Mereka bahagia, saya juga sangat bahagia disana.
Setiap hari kami kumpul-kumpul, ngobrol sambil minum kopi Manggarai yang sangat enak, makan timun dengan gurus, makan kacang goreng atau hanya ngobrol tanpa makan. Orang Manggarai makan nasi sangat banyak, sekitar 3 kali lipat orang Jawa pada umumnya. Timun disana sangat besar dan orang sana sangat ramah.

Dari awal saya sudah bertekad bahwa saya kesana untuk hidup bukan untuk liburan. Suatu kali saya diajak Arfian ke pantai di Reo bersama Ute dan Raras. Pantainya sangat indah dan bersih meski jalan menuju kesana jeleknya setengah mati. Itu saja pengalaman liburan saya. Pada waktu itu saya bahagia, bisa lebih dekat dengan Ute, bisa menikmati laut yang masih perawan, bisa membuat foto-foto dengan Arfian, namun belakangan ketika saya hampir pulang, rasanya liburan saya waktu itu cuma sepenggal kisah bodoh. Untuk apa saya jauh-jauh meninggalkan Wae Paku untuk bertemu dengan orang yang bisa saya temui di tempat lain, untuk apa saya berbagi kisah dengan orang yang merampas apa yang saya miliki. Bagaimana, puitis kan? Hahahaa intinya adalah hati saya ada di kampung kecil tanpa listrik yang jalannya setengah mati jelek itu. Saya senang hidup disana. Saya merasa hidup disana. Suatu hari saya ingin kembali kesana.

This journey was really about eat, pray and love. Bagaimana saya memaknai makanan dari segi gizinya, harganya dan kekuatan syukurnya. Bagaimana saya brainstorm dengan orang Hindu, Katholik dan Muslim tentang pemaknaan mereka terhadap Tuhan dan hidup. Serta bagaimana saya menemukan jawaban akan pertanyaan hati saya yang setengah dukun (kata Ute) akan hal yang bernama cinta. Saya temukan disini, suatu keikhlasan luar biasa yang belum pernah saya terima langsung dari Tuhan. Cara memaafkan, cara menghadapi kenyataan, cara untuk tetap menjadi diri sendiri dan kejujuran selalu mengalir tanpa paksaan. Kejujuran selalu mampu merembes tembok bata, menyelip melalui besi, memuai dengan udara dan bersinar lewat cahaya. Kejujuran berjalan sendiri dan kita tidak bisa menyetirnya. Baik sudah (cara orang Manggarai kalau mau pamitan), saya tulis apa yang bisa saya tulis, masih banyak hal yang saya dapatkan disana. 10 hari di Manggarai saya punya 7 hari penuh harapan dan 3 hari penuh kekuatan. I’ll be back there someday, I’m sure I will...