Saya semakin hancur. Ketika saya mulai meneteska air mata tepat di depan halte bus Mardi Rahayu Ungaran, tempat dimana saya dan kamu tertawa-tawa menghabiskan es cincau yang kita beli dari pasar hewan di Ambarawa. Tiba-tiba saya ingat bertahun-tahun yang lalu ketika kita berdua bicara dalam malam di sebuah tophill di belakang rumah mewah, kamu tidak pakai jaket dan kamu baru sadar angin malam menusukmu tepat ketika kita sama-sama menyadari jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.
Saya tahu kamu tidak lupa, saya tahu kamu tetap ingat ini sampai kapanpun, betapa banyak hal yang kita lalui bedua. Pernah suatu kali saya hampir gila karena orang tua saya, tapi kamu ada disana untuk memegang tangan saya, menggandeng saya dan menjaga saya agar ketika jatuh bisa berdiri lagi. Saya selalu kuat, lebih kuat dari batu karang. Sekarang saya sudah pecah karena kamu tak lagi mau membantu saya berdiri. Kamu ingin pergi. Kemana, entah.
Jadi kapan kamu akan kembali lagi?
Kalau kamu ingin menghukum dirimu sendiri, silakan. Saya beri kamu waktu seumur hidup untuk itu, tapi jangan ikutkan saya untuk merasakan hukuman untuk dirimu sendiri. Saya ingin kita bangkit lagi, kita, bukan hanya saya. Yang kemarin biar jadi hitam di atas putih saja, agar bisa kita baca kapanpun kita mau. Saya biasa saja kalau kamu bisa bersikap seperti layaknya kamu yang dulu, tapi jika kamu tidak bisa, untuk apa saya bangkit hidup lagi? Untuk apa saya pertahankan hidup saya?
Jadi kapan kamu akan kembali lagi, Pe?
Terkadang cerita sangat bermakna namun tabu untuk diceritakan. Mari berbagi cerita di harizkanugroho@yahoo.com Cerita yang masuk akan saya publikasi disini tanpa menunjukkan identitas penulis. Semoga bermanfaat.
Kamis, 26 April 2012
Selasa, 24 April 2012
Tergadai
Apa yang disebut dengan masa depan? Sepertinya saya sudah tergadai. Jujur saya ingin seperti teman-teman saya yang bekerja, merantau, mempertahankan hidup, bergaul... Disini saya hidup enak, semua hal sudah dicukupi dengan baik, saya diperlakukan dengan sangat baik tapi entah mengapa separuh jiwa saya tidak di sini. Mungkin memang saya yang jahat.
Hidup hampir 24 tahun, saya pelajari diri saya seperti apa. Saya memang lebih suka hidup sendiri, tidak nebeng, tidak numpang. Pernah saya merasakan kebahagiaan selama sembilan bulan saya tinggal di sebuah rumah kecil sendiri, yang kemudian ditemani dua ekor anjing kecil milik saya dan Arfian. Setiap hari Arfian datang, saya masak, membersihkan rumah, mencuci baju, bayar listrik, bayar air, bekerja banting tulang, jalan, pacaran, bergaul, berpesta, saya sangat bahagia. Di situlah saya rasa saya benar-benar menemukan kebahagiaan yang membuat saya sangat betah, membuat saya enggan beranjak dan meleburkan ambisi-ambisi yang sering muncul. Di situ saya merasa saya adalah saya. Meski tidak pernah beli baju baru karena uang habis untuk kebutuhan rumah tangga, saya biasa saja. Sampai-sampai teman kerja saya waktu itu pernah dengan gamblang bilang kalau baju saya jelek-jelek.
Sekarang, jiwa saya yang separuh mengembara tanpa raga. Sedih rasanya, sakit rasanya. Meski hidup saya enak sekarang; tidak perlu bayar listrik, bayar air, keluar uang untuk belanja, tapi saya kesepian. Tidak ada lagi Bebe dan Kugy kecil yang menggonggong riang ketika saya pulang. Tidak ada Arfian yang membuat saya bertahan dalam kemalangan. Hidup saya jauh dari kata malang disini, tapi yang saya butuhkan bukan itu. Saya butuh hidup saya yang dulu. Yang meski harus hutang untuk belanja, hati saya tetap lapang.
Saya ingin terbang jauh, tapi sayap saya diberi pemberat bernama orang tua, mertua, hubungan baik, janji, lamaran. Saya hanya setengah jiwa yang hidup dalam raga milik orang lain, milik orang banyak. Kaki saya melangkah bukan ke arah tempat yang saya inginkan, melainkan ke arah tempat yang harus saya tuju. Saya malu, saya sakit. Saya tidak suka jadi parasit. Meski bagi banyak orang ini terlihat seperti komensalis, bagi saya jauh lebih baik jika saya tidak diberi beban. Saya bisa berfikir, saya bisa menjaga diri tanpa harus dijaga seperti ini. Bukan kemudahan yang saya cari, saya cari kenyamanan. Dalam hidup yang tidak mudah, jika dilewati dengan ikhlas, nyaman akan mengikuti. Saya rasa sekarang saya belum ikhlas, itulah mengapa segala kemudahan dan kebaikan hati yang saya terima belum juga membuat saya merasa nyaman dan mampu mengembalikan separuh jiwa saya untuk pulang ke rumahnya, raga.
Hidup hampir 24 tahun, saya pelajari diri saya seperti apa. Saya memang lebih suka hidup sendiri, tidak nebeng, tidak numpang. Pernah saya merasakan kebahagiaan selama sembilan bulan saya tinggal di sebuah rumah kecil sendiri, yang kemudian ditemani dua ekor anjing kecil milik saya dan Arfian. Setiap hari Arfian datang, saya masak, membersihkan rumah, mencuci baju, bayar listrik, bayar air, bekerja banting tulang, jalan, pacaran, bergaul, berpesta, saya sangat bahagia. Di situlah saya rasa saya benar-benar menemukan kebahagiaan yang membuat saya sangat betah, membuat saya enggan beranjak dan meleburkan ambisi-ambisi yang sering muncul. Di situ saya merasa saya adalah saya. Meski tidak pernah beli baju baru karena uang habis untuk kebutuhan rumah tangga, saya biasa saja. Sampai-sampai teman kerja saya waktu itu pernah dengan gamblang bilang kalau baju saya jelek-jelek.
Sekarang, jiwa saya yang separuh mengembara tanpa raga. Sedih rasanya, sakit rasanya. Meski hidup saya enak sekarang; tidak perlu bayar listrik, bayar air, keluar uang untuk belanja, tapi saya kesepian. Tidak ada lagi Bebe dan Kugy kecil yang menggonggong riang ketika saya pulang. Tidak ada Arfian yang membuat saya bertahan dalam kemalangan. Hidup saya jauh dari kata malang disini, tapi yang saya butuhkan bukan itu. Saya butuh hidup saya yang dulu. Yang meski harus hutang untuk belanja, hati saya tetap lapang.
Saya ingin terbang jauh, tapi sayap saya diberi pemberat bernama orang tua, mertua, hubungan baik, janji, lamaran. Saya hanya setengah jiwa yang hidup dalam raga milik orang lain, milik orang banyak. Kaki saya melangkah bukan ke arah tempat yang saya inginkan, melainkan ke arah tempat yang harus saya tuju. Saya malu, saya sakit. Saya tidak suka jadi parasit. Meski bagi banyak orang ini terlihat seperti komensalis, bagi saya jauh lebih baik jika saya tidak diberi beban. Saya bisa berfikir, saya bisa menjaga diri tanpa harus dijaga seperti ini. Bukan kemudahan yang saya cari, saya cari kenyamanan. Dalam hidup yang tidak mudah, jika dilewati dengan ikhlas, nyaman akan mengikuti. Saya rasa sekarang saya belum ikhlas, itulah mengapa segala kemudahan dan kebaikan hati yang saya terima belum juga membuat saya merasa nyaman dan mampu mengembalikan separuh jiwa saya untuk pulang ke rumahnya, raga.
Senin, 23 April 2012
Berjalan ke Pulau Bunga
Ada banyak hal yang
tidak bisa saya lupakan begitu saja dari perjalanan terjauh yang pernah saya
lakukan. Berangkat dari Ambarawa, saya sudah sangat bersemangat namun perasaan
saya cepat sirna ketika bis yang katanya berangkat jam dua baru muncul jam
empat kurang seperempat. Tapi syukurlah, meski perjalanan sedikit terhambat
karena banjir di daerah Solo, saya tidak terlalu menderita.
Saya bersebelahan
dengan seorang Bapak yang dari caranya bertindak mencerminkan beliau pelanggan
setia bis saya yang tumpangi. Saya tidak tahu namanya, beliau orang Salatiga
yang sudah puluhan tahun mengajar di sebuah sekolah pariwisata di Singaraja.
Dari beliau saya tahu beberapa hal tentang Bali yang belum pernah saya temukan
di buku. Bali yang menyimpan segala macam pesona itu sekarang justru
menggeserkan nilai-nilai luhur penduduknya menjadi sangat materialistis. Bapak
tersebut pun bercerita tentang hubungan istrinya yang sudah putus dengan
keluarganya—satu hal yang ia tidak sukai dari adat Bali. Seperti yang pernah
saya baca dalam buku Aku Kartini Bernyawa Sembilan, jika seorang perempuan Bali
menikah maka dirinya menjadi milik keluarga suaminya, itu berarti hubungan
dengan keluarganya sendiri terputus.
Selama perjalanan, kami
jarang ngobrol karena beliau terus-terusan menelpon dan saya terus-terusan
mengunyah.
Sampai di Bali, saya
dijemput Pak Gede, bapak ojek langganan Erva. Saya akan tinggal di kos Erva
selama dua malam. Sesampainya di kos Erva, kami bercerita banyak hal yang
membuat kami terpingkal-pingkal sampai mulas, diantaranya tentang seorang teman
sekelasnya yang pernah duduk bersebelahan dengan saya di dalam bis dari sejak
saya naik sampai turun, kami bersama. Sore harinya kami jalan-jalan ke Kuta
naik Sarbagita, buswaynya Bali. Kami ke Joger, ke toko-toko pinggir jalan lalu
jalan kaki ribuan mil untuk mencapai Pantai Kuta. Saya tidak berminat pada
pantainya, saya sedang mencari suatu prasasti tempat saya akan ketemuan dengan
Anya tiga tahun lagi. Sudah bolak-balik mutar-muter dan tanya-tanya orang
sampai jontor kami masih tidak menemukannya juga. Saya menyerah, Erva bilang
biar suatu hari saya cari sama Arfian saja, pasti ketemu.
Esoknya saya tiduran
saja di kos Erva, jam 10 pagi saya tonton sinetron favorit saya; Buku Harian
Nayla sambil menangis-nangis sesenggukan. Padahal saya sudah tahu ceritanya dan
versi asli yang disadur sinetron itu. Malam harinya kami ke Hardy’s untuk
membeli beberapa oleh-oleh untuk teman-teman kerja Arfian. Saya sangat
bersemangat.
Paginya saya berangkat
jam 6 ke bandara tentunya diantar Pak Gede yang baik hati. Dengan katroknya
saya susuri jalan bersama orang-orang yang berjalan cepat-cepat. Saya tidak
suka orang yang berjalan lambat tapi saya tidak suka orang berjalan terlalu
cepat karena tergesa-gesa. Saya check-in ketika loket pelayanan ke Labuan Bajo
belum dibuka tapi saya tetap dilayani dengan baik. Saya menunggu di ruang
tunggu. Tidak lama kemudian, seseorang datang dan duduk di sebelah saya. Dia
berambut panjang, memakai kaos berlengan buntung, celana pendaki dan tas
jinjingnya—yang biasa saya sebut tas londri sobek.
Basa-basi ia curhat
pada saya betapa ia tidak memperkirakan kenapa memasukkan begitu banyak barang
pada tas yang fragile begitu. Saya tertawa. Dari caranya bicara saya tahu ia
bukan orang Indonesia meski bahasa Indonesianya sangat lancar. Kulitnya yang
hitam karena sinar matahari benar-benar mengaburkan perkiraan saya tentang
asalnya darimana. Ternyata dia orang Jepang. Pegawai kantor pos yang entah
bagaimana caranya berlibur di Indonesia selama enam bulan. Dia ke Bali untuk
memperpanjang visanya dan saat itu ia akan kembali ke Bima untuk berselancar
sepuasnya seperti yang sudah ia lakukan selama enam bulan ini. We o we, WOW!
Harusnya pesawat saya
berangkat pukul 08.25 tapi delay sapai jam 10. Akhirnya si bule jepang bernama
Tamaki itu berangkat duluan. Singkat cerita, saya bicara dengan beberapa orang
disana. Satu Tamaki, tiga ibu-ibu dala waktu yang berbeda-beda. Dan semua yangs
aya ajak bicara selalu terbang lebih dulu ketimbang saya. Pesawat yang katanya
jam 10 terbang, diundur lagi sampai jam 11.30 lalu diundur lagi sampai jam 12
dan masih diundur lagi sampai jam 12.15. Saat itu saya berkenalan dengan
seorang mbak metropolitan yang bajunya terbelah sampai belahan dadanya terlihat
dan seorang cewek China yang wajahnya keanyak-anyakan.
Finally saya naik
pesawat. Di sebelah saya duduk seorang ibu dengan suami dan anaknya.
Penerbangan Bali ke Labuan Bajo memakan waktu 1,5 jam. Tepat setengah
perjalanan, saya yang duduk di pinggir jendela sadar kalau pesawat yang saya
naiki sedang memutar arah. Sekitar lima belas menit kemudian diumumkan bahwa
pesawat yang kami naiki kembali ke Bali lagi karena kesalahan teknis. Saya
kecewa setengah hidup. Sudah dua hari saya deg-degan tidak karuan karena akan
bertemu Arfian eh ini kurang setengah jam malah balik lagi ke Bali. Payah!
Saya tanya orang di
samping saya yang sudah sering bolak-balik menggunakan penerbangan yang sama.
Kata dia baru sekali mengalami hal semacam ini. Beberapa menit kemudian saya
mencium bau gosong. Well, bisa ditebak saya langsung ingat Tuhan dan rumah-Nya.
Saya panik bukan karena banyak kemungkinan kami akan nyebur laut melainkan saya
tidak bawa identitas apapun di dalam kantong. Semua saya taruh dalam tas yang
saya masukkan ke bagasi kabin di atas kepala. Saya pikir kalau sampai saya jadi
korban pesawat jatuh atau pesawat meledak, saya akan jadi korban yang
identitasnya masih belum diketahui lalu arwah saya gentayangan di sekitar selat
Lombok. Saya tidak mau begitu.
Alhamdulillah kami
sampai di Ngurah Rai lagi dengan muka biru-biru keungu-unguan. Seseorang
mendengar awak pesawat sedang berbicara bahwa ada suatu bagian dari pesawat
yang terbakar. Sengaja para awak merahasiakan hal itu kepada penumpang. Apapun,
saya masih selamat.
Arfian sudah menunggu
di Labuan Bajo dengan jenggot yang mencapai mata kaki mungkin. Saya di Bali
difasilitasi hotel dan 3x makan sampai penerbangan keesokan harinya. Beberapa
orang mak-mak China marah-marah dengan frustasi karena kegagalan penerbangan,
beberapa orang mengeluhkan karena ketidaktepatan waktu mereka sampai di Labuan
Bajo akan membuat mereka mendapat masalah dalam pekerjaan, beberapa orang masih
santai saja, beberapa bersyukur karena masih selamat dan satu orang bingung
harus berbuat apa—saya.
Akhirnya saya menginap
di hotel, sekamar dengan dokter PTT yang ditempatkan di Manggarai Barat. Saya
senang sekali bertemu dengannya, saya juga ingin jadi dokter meski seumur hidup
tidak akan pernah bisa jadi dokter. Keesokannya kami terbang dengan selaat,
saya bersebelahan dengan Bule yang ngomongnya muncrat-muncrat tapi dia baik dan
tidak makan manis. Dan tararaaaaaa saya bertemu dengan Arfian yang supergosong!
Dia jadi tambah cuakep dalam kehitaman yang luar biasa.
Dari Labuan Bajo kami
naik travel sampai ke Ruteng. Berangkat jam 1 sampai di Ruteng jam 5an,
dipotong makan siang di jalan. Kami lanjutkan perjalanan ke Rumah Cinta di
Pagal. Sampai Pagal sekitar setengah tujuh. Kami disambut Mbak Jei, Ute, Ana
dan Raras lalu kami makan malam, main uno, ngobrol lalu tidur. Teman-teman di
Rumah Cinta sangat baik hati.
Paginya kami ke tampat
yang paling saya tunggu: SDI WAE PAKU! SD ini terletak di atas bukit yang jalan
naiknya terjal bagi saya dan sangat kuwalahan karena saya terpeleset beberapa
kali. Di sana berdiri beberapa rumah dinas guru-gurunya yang dibangun swadaya
oleh orang tua siswa. Saya disambut dengan sangat baik, teman-teman Arfian
mengagumkan. I love them so much. Murid-muridnya mengikuti saya dan mengintip
lewat jendela. Mereka berbicara dalam bahasa Manggarai yang kedengarannya tidak
jauh beda dengan bahasa Vietnam. Mereka ada yang berkulit coklat, hitam atau
putih. Mereka ada yang berambut kriting, berombak bahkan lurus. Orang Manggarai
tidak sejenis, tapi ketulusan mereka sejenis.
Saya cinta tempat ini. Saya
makan dari sayur yang dipetik langsung dari kebun. Saya berkenalan dengan
anjing bernama Macan yang baru
melahirkan dua minggu yang lalu. Lalu dengan Bleki, juga dengan anak-anaknya
Macan, empat ekor anjing kampung unyu yang seperti anak tikus. Saya bertukar
cerita dengan Bu Ani, Bu Lin, Bu Sis, Pak Max, Papa Wulang, Pak Ito, Pak Fit,
Grace, Dela, Tante Ave, Kakak Ave, Pak Willy, Bu Ati, Pak Safe, Pak Gaby dan
the incredible headmaster; Pak Marje.
Banyak kisah
sehari-hari yang tidak bisa saya lupakan. Saya membawa pelajaran berharga
engenai pendidikan. Di Manggarai, sistem pendidikan yang diterapkan masihlah
seperti pada jaman nenek saya sekolah dulu. Kalau siswa tidak mengerjakan,
tidak memperhatikan atau tidak menurut pada guru, guru akan memukulnya. Disana
siswa takut pada guru. Disana guru galak pada siswa. Tapi guru dan siswa
berhubungan baik, tidak ada yang saling membenci. Bahkan siswa dengan sukarela
melakukan pekerjaan berat untuk guru mereka; mencari kayu bakar, mencuci baju,
mencuci piring, menimba air, mengasuh anak, dll.
Siswa kelas 6 tinggal
di sekolah, mereka masak untuk makan mereka setiap hari. Mereka tidak pernah
mengeluh meski harus masak sendiri, bawa lewing (kuali) dari rumah, masak
dengan kayu bakar, setelah jadi nasi hanya dimakan tanpa lauk atau sayur,
mereka menamainya nasi kosong. Saya trenyuh ketika suatu kali seorang anak
sedang ngobrol dengan temannya berkata, “aku mau tidur, nanti aku akan mimpi
dipeluk nasi goreng yang ada telurnya. Hmmm enak sekali pasti ya!”
Suatu kali setelah saya
dan Arfian makan, Arfian menyuruh saya ebuat sambal trasi yang agak banyak
untuk anak-anak. Saya buatkan meski dalam hati saya berkata mungkin mereka
tidak akan doyan. Seusai saya buatkan, saya bilang mereka boleh memakannya tapi
tidak boleh berebut. Mereka senang sekali. Sekejap, sambal habis diperebutkan
berbelas-belas anak. Saya tanya mereka makan apa, mereka jawab nasi dengan
sambal buatan ibu. Saya seperti disetrum.
Siang itu saya buat
telur ceplok dua butir. Ternyata telur kedua sudah agak busuk. Selama saya
memasak, anak-anak merubungi saya dan mereka sangat mengagumi saya dan Pak Fian
makan enak setiap hari. Tahu telurnya busuk, saya bilang ke mereka bahwa telur
itu sudah tidak enak tapi mereka menyangkal dan berkata bahwa telur adalah
makanan yang sangat enak bagi mereka. Usai makan, saya mau buang telur ceplok
yang bau itu tapi Arfian melarang saya. Dia menyuruh saya menawarkan pada
anak-anak. Saya miris. Itu telur tidak enak. Arfian bilang kalau mereka tidak
mau, baru buang telur ceplok itu. Akhirnya saya tawarkan pada anak-anak whether
mereka mau atau tidak. Tanpa disangka, berbelas-belas anak mengeroyok telur itu
dengan ramainya dan berterimakasih karena telah diberi telur yang enak. Saya
trenyuh.
Jika dibandingkan
dengan makanan saya di rumah, apa yang saya makan disana setiap hari sangatlah
tidak enak namun ketika melihat sekitar saya, betapa saya masak mewah terus
setiap hari. Saya bikin pepes ikan (di Jawa ikan ini untuk umpan mancing), saya
masak mi instan, saya bikin pecel, sayur bening, telur goreng dan itu adalah
makanan yang sangat keren bagi mereka, terutama anak-anak.
Saya mengajari ibu Ani
masak sayur bening, beliau sangat ketagihan dan bilang bahwa sayur bening
sangat enak. Hati saya miris. Mereka setiap hari seringnya makan hanya dengan
gurus (cabe dan garam yang diuleg) atau nasi kosong. Paling enak mereka pergi
cari kicot setelah hujan reda lalu memasaknya. Tapi mereka tidak hidup
menderita. Mereka bahagia, saya juga sangat bahagia disana.
Setiap hari kami
kumpul-kumpul, ngobrol sambil minum kopi Manggarai yang sangat enak, makan
timun dengan gurus, makan kacang goreng atau hanya ngobrol tanpa makan. Orang
Manggarai makan nasi sangat banyak, sekitar 3 kali lipat orang Jawa pada
umumnya. Timun disana sangat besar dan orang sana sangat ramah.
Dari awal saya sudah
bertekad bahwa saya kesana untuk hidup bukan untuk liburan. Suatu kali saya
diajak Arfian ke pantai di Reo bersama Ute dan Raras. Pantainya sangat indah
dan bersih meski jalan menuju kesana jeleknya setengah mati. Itu saja
pengalaman liburan saya. Pada waktu itu saya bahagia, bisa lebih dekat dengan
Ute, bisa menikmati laut yang masih perawan, bisa membuat foto-foto dengan
Arfian, namun belakangan ketika saya hampir pulang, rasanya liburan saya waktu
itu cuma sepenggal kisah bodoh. Untuk apa saya jauh-jauh meninggalkan Wae Paku
untuk bertemu dengan orang yang bisa saya temui di tempat lain, untuk apa saya
berbagi kisah dengan orang yang merampas apa yang saya miliki. Bagaimana,
puitis kan? Hahahaa intinya adalah hati saya ada di kampung kecil tanpa listrik
yang jalannya setengah mati jelek itu. Saya senang hidup disana. Saya merasa
hidup disana. Suatu hari saya ingin kembali kesana.
This journey was really
about eat, pray and love. Bagaimana saya memaknai makanan dari segi gizinya,
harganya dan kekuatan syukurnya. Bagaimana saya brainstorm dengan orang Hindu,
Katholik dan Muslim tentang pemaknaan mereka terhadap Tuhan dan hidup. Serta
bagaimana saya menemukan jawaban akan pertanyaan hati saya yang setengah dukun
(kata Ute) akan hal yang bernama cinta. Saya temukan disini, suatu keikhlasan
luar biasa yang belum pernah saya terima langsung dari Tuhan. Cara memaafkan,
cara menghadapi kenyataan, cara untuk tetap menjadi diri sendiri dan kejujuran
selalu mengalir tanpa paksaan. Kejujuran selalu mampu merembes tembok bata,
menyelip melalui besi, memuai dengan udara dan bersinar lewat cahaya. Kejujuran
berjalan sendiri dan kita tidak bisa menyetirnya. Baik sudah (cara orang
Manggarai kalau mau pamitan), saya tulis apa yang bisa saya tulis, masih banyak
hal yang saya dapatkan disana. 10 hari di Manggarai saya punya 7 hari penuh
harapan dan 3 hari penuh kekuatan. I’ll be back there someday, I’m sure I
will...
Langganan:
Komentar (Atom)