Hari Pendidikan Nasional membuat tangan saya horny lagi.
Bertahun-tahun yang lalu, saya dan Arfian pernah membahas tentang
PENDIDIKAN dan PERSEKOLAHAN. Saya sudah pernah membahas tentang hal itu
sebelumnya, di note juga. Kali ini saya akan melanjutkan pembahasan saya
yang sama sekali tidak mutu itu untuk memuaskan hasrat kehorny-an
tangan saya.
Sepulang saya dari Manggarai, mindset saya
benar-benar terobrak-abrik dengan pendidikan di sana. Di sana, anak-anak
sudah terkondisi menghormati orang tua, ya ayah ibunya, ya gurunya, ya
orang lain yg lebih tua darinya. Menghormati bukanlah seperti yang
anak-anak Jawa lakukan; dengan basa krama, panggil mas mbak paklik bulik
dll, atau bahkan dengan sikap duduk dan wajah bermanis-manis. Anak-anak
Jawa di sini tentunya tidak semua, tapi most of them (or us, actually).
Saya
sempat berbincang-bincang tentang sekolah di Jawa dengan Ibu Lin, guru
SD di Manggarai. Saya bilang di sini fasilitas lengkap, segala macam ada
dan bahkan siswa tidak diajar guru saja mereka sudah mampu mendapatkan
semua materi dari buku dan internet, as long as siswa tidak malas untuk
belajar. Bu Lin terkagum-kagum dan berkata, "Pastinya anak-anak
Manggarai juga akan pandai kalau fasilitas lengkap."
Saya
seperti disambar petir. Listrik saja tidak ada, mungkinkah kita pakai
LCD saat proses KBM? Mungkinkah kita memberi tugas kepada anak2 untuk
mencari di internet? Mungkinkah kita menyuruh mereka mengirimkan hasil
pekerjaan mereka lewat email?
Padahal, seperti yang saya
pernah ceritakan di catatan saya Berjalan ke Pulau Bunga, tugas mereka
sebagai anak-anak tidaklah seremeh tugas anak-anak Jawa: belajar dan
bermain. Mereka ngangsu (cari air dari sungai untuk diangkut ke rumah),
cari kayu bakar, masak sendiri, cuci pakaian, membantu orang tua
mengurus kebun dan ikut mengasuh anak guru mereka. Mereka tentunya masih
memiliki waktu untuk bermain dan sesekali belajar di waktu senggang.
Sulitnya transportasi membuat mereka berjalan lebih dari 1 km hanya
untuk sampai ke sekolah dengan medan yang tidak mulus.
Masalah
kebersihan, mereka memang sangat kotor dan tidak bisa kinclong seperti
anak-anak Jawa. Tetapi bersih saja tidak cukup. Dengan fasilitas yang
lengkap di Jawa, apakah benar anak-anak Jawa lebih 'berpendidikan'
daripada anak-anak yang di Manggarai? Sayang saya belum sempat ke
Talaud, Rote Ndao, Aceh Besar, Timika atau pedalaan Kapuas. Yang saya
rasakan, Jawa dengan seribu satu kemudahan dan kemewahannya menjanjikan:
PERSEKOLAHAN yang bagus, tapi mengenai pendidikan saya masih tidak
yakin, terutama untuk pendidikan pengembangan diri.
Yang
saya lebih soroti adalah tentang TANGGUNG JAWAB dan DISIPLIN. Anak Jawa
terlalu tergantung pada orang lain. Untuk mencuci pakaiannya, bahkan
seragamnya, mereka lebih menggantungkan diri pada orang yang bis encuci
selain dirinya. HOnestly, dulu saya juga begitu. Yang merasa guru atau
pernah jadi guru, pasti sering menemui anak-anak yang tidak mengerjakan
PR seakan-akan PR itu yang butuh adalah Pak/Bu Guru bukan para siswa.
Siswa tidak mendengarkan ketika diajar adalah hal biasa, karena mereka
merasa sudah membayar. GUru menegur siswa dengan keras, siswa semakin
membangkang. Guru menabok siswa, siswa lapor ke ortu, ortu lapor polisis
lalu guru dipenjara.
Apa itu yang diagung-agungkan atas
nama Pendidikan? Apa sih esensi pendidikan? Nilai yang bagus? Sorry to
say, saya pernah jadi guru dan saya tidak mengalami kesulitan sedikitpun
untuk memberi nilai pada siswa. Jadi nilai yang bagus itu bisa
didapatkan cuma-cuma saja. Kalau esensinya adalah tingkat kelulusan yang
tinggi, kongkalikong dalam UAN itu sudah biasa, rahasia umum ada
sekolah-sekolah tertentu yang mengerahkan sebagian gurunya untuk
mengerjakan UAN dan jawabannya disebar ke siswa. Sudah biasa. Kalau
esensinya adalah perkejaan yang wah, hmm bagi saya pekerjaan itu seperti
jodoh. Mau ganteng, cantik, kaya, terhormat, semua kembali ke diri
sendiri dan sesuai dengan yang dikehendaki Tuhan.
Saya
tidak minta kalian sepakat dengan saya, anggap saja ini Analytical
Exposition. Bagi saya secara pribadi, pendidikan itu lebih
menitikberatkan pembentukan karakter pribadi siswa. Saya sendiri ngeri
kalau saya punya anak nanti. Apakah sekolah benar-benar akan membuatnya
menjadi bertanggung jawab? apakah sekolah akan benar-benar membuatnya
disiplin? apa iya? In fact, anak-anak di sekitar saya jika disuruh tidak
langsung 'menyat', jika diperingatkan PASTI membantah, lebih suka
dibantu daripada membantu diri sendiri. Mereka sekolah, mereka
berprestasi bagus, tapi apa wujud nyata dari persekolahan yang mereka
enyam tiap hari?Salah seorang orang tua siswa yang saya ajar berkata,
"Prinsip saya, anak saya memang sekolahnya harus pinter. GImana nggak,
anak sekarang ini tugasnya cuma sekolah saja, kalau jaman saya dulu
sebelum berangkat asih harus nyuci, pulang sekolah bantu orang tua di
kebun. Anak sekarang tidak melakukan itu, jadi kebangeten kalo sekolah
saja tidak pinter."
Ya, benar! KEBANGETEN kalau sekolah
saja tidak pinter. kebangeten kalau disuruh saja malas-malas, kebangeten
kalau diberitahu masih membantah, kebangeten kalau asih tidak bisa
disiplin dan tangung jawab atas kebutuhan diri sendiri. Saya punya
cita-cita yang membuat saya mbateg karena tidak punya cukup uang untuk
mewujudkannya. Tapi saya meyakini sepenuhnya, kalau bukan saya yang
mewujudkan, akan ada orang yang prihatin akan pendidikan di Jawa, diana
fasilitas lengkap, modernisasi dimana-mana tapi justru meluluskan
pribadi-pribadi manja yang tidak bisa hidup sendiri.
Saya
punya teman dari Polandia, dia bahkan tidak suka jika bajunya dicucikan
orang lain. Padahal tentunya disana fasilitas lebih oke daripada di
Jawa, mutu materi pelajaran jauh lebih tinggi daripada di Jawa tapi
kemandirian, disiplin dan tanggung jawab tetap terdepan. Dan itulah
PENDIDIKAN.
Selamat Hari Pendidikan bagi semua pendidik
dan terdidik.Selamat Hari Pendidikan bagi pengajar dan terajar, semoga
Tuhan menuntun kalian ke jalan pendidikan yang sesungguhnya, bukan
persekolahan yang menipu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar