Kamis, 03 Mei 2012

Untuk May 2nd

Hari Pendidikan Nasional membuat tangan saya horny lagi. Bertahun-tahun yang lalu, saya dan Arfian pernah membahas tentang PENDIDIKAN dan PERSEKOLAHAN. Saya sudah pernah membahas tentang hal itu sebelumnya, di note juga. Kali ini saya akan melanjutkan pembahasan saya yang sama sekali tidak mutu itu untuk memuaskan hasrat kehorny-an tangan saya.

Sepulang saya dari Manggarai, mindset saya benar-benar terobrak-abrik dengan pendidikan di sana. Di sana, anak-anak sudah terkondisi menghormati orang tua, ya ayah ibunya, ya gurunya, ya orang lain yg lebih tua darinya. Menghormati bukanlah seperti yang anak-anak Jawa lakukan; dengan basa krama, panggil mas mbak paklik bulik dll, atau bahkan dengan sikap duduk dan wajah bermanis-manis. Anak-anak Jawa di sini tentunya tidak semua, tapi most of them (or us, actually).

Saya sempat berbincang-bincang tentang sekolah di Jawa dengan Ibu Lin, guru SD di Manggarai. Saya bilang di sini fasilitas lengkap, segala macam ada dan bahkan siswa tidak diajar guru saja mereka sudah mampu mendapatkan semua materi dari buku dan internet, as long as siswa tidak malas untuk belajar. Bu Lin terkagum-kagum dan berkata, "Pastinya anak-anak Manggarai juga akan pandai kalau fasilitas lengkap."

Saya seperti disambar petir. Listrik saja tidak ada, mungkinkah kita pakai LCD saat proses KBM? Mungkinkah kita memberi tugas kepada anak2 untuk mencari di internet? Mungkinkah kita menyuruh mereka mengirimkan hasil pekerjaan mereka lewat email?

Padahal, seperti yang saya pernah ceritakan di catatan saya Berjalan ke Pulau Bunga, tugas mereka sebagai anak-anak tidaklah seremeh tugas anak-anak Jawa: belajar dan bermain. Mereka ngangsu (cari air dari sungai untuk diangkut ke rumah), cari kayu bakar, masak sendiri, cuci pakaian, membantu orang tua mengurus kebun dan ikut mengasuh anak guru mereka. Mereka tentunya masih memiliki waktu untuk bermain dan sesekali belajar di waktu senggang. Sulitnya transportasi membuat mereka berjalan lebih dari 1 km hanya untuk sampai ke sekolah dengan medan yang tidak mulus.

Masalah kebersihan, mereka memang sangat kotor dan tidak bisa kinclong seperti anak-anak Jawa. Tetapi bersih saja tidak cukup. Dengan fasilitas yang lengkap di Jawa, apakah benar anak-anak Jawa lebih 'berpendidikan' daripada anak-anak yang di Manggarai? Sayang saya belum sempat ke Talaud, Rote Ndao, Aceh Besar, Timika atau pedalaan Kapuas. Yang saya rasakan, Jawa dengan seribu satu kemudahan dan kemewahannya menjanjikan: PERSEKOLAHAN yang bagus, tapi mengenai pendidikan saya masih tidak yakin, terutama untuk pendidikan pengembangan diri.

Yang saya lebih soroti adalah tentang TANGGUNG JAWAB dan DISIPLIN. Anak Jawa terlalu tergantung pada orang lain. Untuk mencuci pakaiannya, bahkan seragamnya, mereka lebih menggantungkan diri pada orang yang bis encuci selain dirinya. HOnestly, dulu saya juga begitu. Yang merasa guru atau pernah jadi guru, pasti sering menemui anak-anak yang tidak mengerjakan PR seakan-akan PR itu yang butuh adalah Pak/Bu Guru bukan para siswa. Siswa tidak mendengarkan ketika diajar adalah hal biasa, karena mereka merasa sudah membayar. GUru menegur siswa dengan keras, siswa semakin membangkang. Guru menabok siswa, siswa lapor ke ortu, ortu lapor polisis lalu guru dipenjara.

Apa itu yang diagung-agungkan atas nama Pendidikan? Apa sih esensi pendidikan? Nilai yang bagus? Sorry to say, saya pernah jadi guru dan saya tidak mengalami kesulitan sedikitpun untuk memberi nilai pada siswa. Jadi nilai yang bagus itu bisa didapatkan cuma-cuma saja. Kalau esensinya adalah tingkat kelulusan yang tinggi, kongkalikong dalam UAN itu sudah biasa, rahasia umum ada sekolah-sekolah tertentu yang mengerahkan sebagian gurunya untuk mengerjakan UAN dan jawabannya disebar ke siswa. Sudah biasa. Kalau esensinya adalah perkejaan yang wah, hmm bagi saya pekerjaan itu seperti jodoh. Mau ganteng, cantik, kaya, terhormat, semua kembali ke diri sendiri dan sesuai dengan yang dikehendaki Tuhan.

Saya tidak minta kalian sepakat dengan saya, anggap saja ini Analytical Exposition. Bagi saya secara pribadi, pendidikan itu lebih menitikberatkan pembentukan karakter pribadi siswa. Saya sendiri ngeri kalau saya punya anak nanti. Apakah sekolah benar-benar akan membuatnya menjadi bertanggung jawab? apakah sekolah akan benar-benar membuatnya disiplin? apa iya? In fact, anak-anak di sekitar saya jika disuruh tidak langsung 'menyat', jika diperingatkan PASTI membantah, lebih suka dibantu daripada membantu diri sendiri. Mereka sekolah, mereka berprestasi bagus, tapi apa wujud nyata dari persekolahan yang mereka enyam tiap hari?Salah seorang orang tua siswa yang saya ajar berkata, "Prinsip saya, anak saya memang sekolahnya harus pinter. GImana nggak, anak sekarang ini tugasnya cuma sekolah saja, kalau jaman saya dulu sebelum berangkat asih harus nyuci, pulang sekolah bantu orang tua di kebun. Anak sekarang tidak melakukan itu, jadi kebangeten kalo sekolah saja tidak pinter."

Ya, benar! KEBANGETEN kalau sekolah saja tidak pinter. kebangeten kalau disuruh saja malas-malas, kebangeten kalau diberitahu masih membantah, kebangeten kalau asih tidak bisa disiplin dan tangung jawab atas kebutuhan diri sendiri. Saya punya cita-cita yang membuat saya mbateg  karena tidak punya cukup uang untuk mewujudkannya. Tapi saya meyakini sepenuhnya, kalau bukan saya yang mewujudkan, akan ada orang yang prihatin akan pendidikan di Jawa, diana fasilitas lengkap, modernisasi dimana-mana tapi justru meluluskan pribadi-pribadi manja yang tidak bisa hidup sendiri.

Saya punya teman dari Polandia, dia bahkan tidak suka jika bajunya dicucikan orang lain. Padahal tentunya disana fasilitas lebih oke daripada di Jawa, mutu materi pelajaran jauh lebih tinggi daripada di Jawa tapi kemandirian, disiplin dan tanggung jawab tetap terdepan. Dan itulah PENDIDIKAN.

Selamat Hari Pendidikan bagi semua pendidik dan terdidik.Selamat Hari Pendidikan bagi pengajar dan terajar, semoga Tuhan menuntun kalian ke jalan pendidikan yang sesungguhnya, bukan persekolahan yang menipu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar