Akhir-akhir ini semua bertambah buruk. Saya tidak punya teman lagi untuk bercerita seblak-blakan yang saya bisa. Ya, teman saya banyak namun mereka berbeda pola pikir, berbeda kasus dan mungkin agak sulit melontarkan kata-kata yang berterima untuk saya cerna.
Seketika, rasa kehilangan yang dalam menyergap masuk ke dada, sama sekali tidak menyisakan sepetak ruang untuk bernafas. Banyak alasan yang tidak akan saya tuliskan satu persatu. Banyak sekali. Saya bisa tuliskan semua, tapi akan jadi masalah lagi di belakangnya. Masalah ini akan segera usai kalau kedua belah pihak saling mengerti, saling mengalah, saling memahami, saling berbicara dengan otak yang dingin, saling terbuka dan siap dibuka.
Dia hidup bersama seribu satu wanita saya tidak bisa cegah, saya tidak akan marah, saya mau apalagi selain pasrah,,saya hanya ingin jadi seperti dia: yang selalu ingin saya butuhkan.
Beberapa tahun yang lalu, saya sesak nafas, yang ada hanya dia. Karena saya jengkel, saya minta dia tanya kepada sahabat saya bagaimana cara menangani penyakit saya. Raut mukanya berubah drastis, dia benar-benar tersinggung. Sejak saat itu saya simpulkan bahwa dia ingin posisinya tak tergantikan. He won't.
Kita, manusia, memang punya banyak sekali indera. Namun tidaklah selalu mereka berjalan beriringan dengan rasa. Rasa terkadang membuat lidah terlalu kelu untuk mengecap hingga semua rasa berakhir pada getir yang sama. Rasa sering membuat kulit enggan untuk meraba karena semua hal terasa sungguh menjijikkan seperti lendir dan nanah. Rasa sering membuat buta; bukan berniat jahat akan langsung dicap buruk karena interpretasi diri yang mendominasi, berniat buruk sering tidak disangka karena pesona dahsyat yang disanjung dan dipuja.
Rasa membuat saya luruh secara perlahan. Bersama darah yang sebatu bata besarnya. Bersama cinta yang 'lamat-lamat' kian menggerogoti badan saya. Bersama kelimbungan seumur hidup dengan segudang pertanyaan tentang ikhlas, ibadah dan cinta. Bersama anak-anak kecil yang dibunuh ibunya. Bersama para lelaki yang tidak memuji, tidak memegang erat kekasihnya, tidak memikirkan dirinya, tidak merancang masa depannya. Bersama tinta cumi-cumi yang akan dibeli di tengah malam. Bersama semua kenangan yang hadir, pernah ada, selalu ada, seperti ada namun terkadang tak diakui atau terlupa.
Saya luruh sedikit demi sedikit. Ketika tampon terlalu lemah untuk menyimpan dan pembalut terlalu repot untuk menampung, bebaskanlah kelaminmu memuntahkan seluruh isinya. Biar dia puas. Biar dia lega. Satu bulan dia mengikis sedikit demi sedikit apa yang ia punya, maka beri waktu beberapa hari saja agar dia bisa merasa bagaimana bebasnya tidur tanpa penetrasi, bagaimana rikuhnya menolak persetubuhan (selayaknya lelaki yang rikuh untuk meminta persetubuhan), bagaimana perempuan akan luruh karena rasa; cepat atau lamat-lamat.
Harizka, dengan segala insiden mematikan,
yang benar-benar membenci kata
LAMAT-LAMAT
LAMAT-LAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar