Rabu, 24 April 2013

LOWONGAN PEKERJAAN

LOWONGAN PEKERJAAN

CV. Hartono Indoperkasa (EASY SPEAK) membutuhkan beberapa kandidat untuk mengisi posisi FULLTIME TUTOR penempatan Balikpapan.
Fasilitas:
- Gaji pokok
- Tunjangan makan
- Tunjangan transport
- JAMSOSTEK
- Tunjangan Overtime
- Tunjangan tempat tinggal*
- Tunjangan kemahalan*
- Tiket pesawat PP*
Syarat:
- Lancar berbahasa Inggris secara lisan dan tulisan
- Memiliki minat untuk mengajar
- Lulusan D3/S1 Bahasa Inggris
- Bersedia ditempatkan di Balikpapan
- Bersedia bekerja fulltime
Kirim lamaran beserta CV, pas photo, scan ijazah dan transkrip nilai ke esepdspvbpp@ymail.com
Untuk profil perusahaan kunjungi www.easyspeak.co.id
*syarat dan ketentuan berlaku

Jumat, 05 Oktober 2012

Benar-Benar Curhat

Hari ini saya mengalami peledakan emosi yang mimpes dan lumayan membuat dada saya sakit. Saya merasa terhina, dianggapnya kami bekerja dengan semrawut tanpa dia pernah mau membuka matanya yang tidak buta untuk benar-benar mencermati apa yang kami sehari-hari hadapi.

Siapapun, tidak hanya saya, pastinya mendamba seorang presiden yang bijaksana, mengerti dan membumi. Bukan kepala yang minta tempat di atas namun berfikir dengan lutut yang bahkan lebih rendah daripada perut. Saya kecewa. Mungkin memang hidup saya penuh dengan kekecewaan karena ekspektasi untuk dihargai yang lumayan tinggi. Saya tidak minta harga mahal sebenarnya, saya cuma minta kualitas saya, kami, dihargai sesuai semestinya.

Kalau kamu mengeluarkan uang sejuta untuk membeli ponsel dengan spesifikasi kamera seadanya, sinyal sebisanya dan memori yang pas-pasan ya tidak apa-apa ketika memang harganya segitu. Tapi mana bisa kalau laptop canggih yang memorinya besar, kecepatannya oke dan bisa melakukan lebih dari yang ponsel lakukan tetap dihargai satu juta meski itu barang baru yang juga masih bagus.

Saya tidak suka ketika saya disamakan dengan orang yang hanya bisa jualan. Saya juga jualan, tapi beda barang. Saya juga bodoh, tapi minimal masih mau belajar. Dan demi seluruh paha mulus di dunia ini, sesungguhnya kepala itu tidak seharusnya menggunakan lutut sebagai alat untuk berfikir.

Minggu, 23 September 2012

MENGGAMBAR


Tiba-tiba saya ingin menulis. Di puncak hasrat saya yang sedang menggebu-gebu, justru tangan saya tergerak kaku untuk menggerakkan telunjuk kanan di atas tetikus dan kiri di atas papan ketik instead of memainkan sepuluh jari di atas tombol-tombol huruf. Setelah crop sana crop sini, blend ini blend itu, jadilah sebuah gambar yang berisi tumpukan gambar lain. Kurang halus, kurang bagus. Tapi inilah saya yang hanya mampu menggunakan pensil untuk menulis.

Suatu hari nanti, siapa tahu anak saya akan bertanya, “Ibu, menggambar itu apa sih?”
Thus, saya harus persiapkan jawaban saya dari sekarang. Secara teori, menggambar itu membuat bentuk atau pola tertentu. Tapi teori akan basi jika berbenturan dengan ruang hampa, yang bahkan membuat kita berpikir dimana letak benturannya. Inilah manusia, suka berteori, suka membatasi, maka ketika batas-batas yang ia karang ternyata hanya fiktif belaka maka orang-orang semacam saya ini yang repot. Apa jawaban yang harus saya ungkapkan pada anak saya?

Kalau hanya menggoreskan pensil di atas kertas, saya bisa. Tulis nama saya, tempat tinggal, umur, paling banter tulis hal-hal yang mengusik pikiran saya. Pada kenyataannya, saya tidak bisa menggambar. Sama sekali. Berbeda dengan menulis, semua orang (terutama yang muda) diwajibkan bisa menulis, jadi sekedar untuk menulis, pasti yang sudah pernah diajari akan bisa. Menggambar tidak begitu. Sejak kecil saya belajar menggambar, hampir mati-matian tapi selalu gagal. Semua gambar seni ukir di masa SMP saya dibuatkan oleh Mbah Kakung yang dengan bangga saya rusak dengan pewarnaan yang tidak bagus.

Aslinya saya tidak mau membahas tentang menggambar dan menulis, saya ingin berterima kasih pada Bos Besar saya, yang telah menginspirasi saya (dan saya yakin, beberapa teman saya juga) dengan kerja kerasnya dan kekerasan terselubungnya. Tadinya saya bermaksud membuat gambar yang bagus untuk dikenang, tapi jujur saja karena keterbatasan saya yang tidak ada batasnya, jadilah gambar itu begini adanya. Tidak halus, tidak bagus tapi 100% saya pakai sotosop yang bagi saya tingkat kesulitannya lebih dari teman-teman seperjuangannya.

Mungkin tulisan ini memang sedikit berlebihan, tapi saya sendiri tidak tahu harus bicara apa untuk berterima kasih (saya harap tidak ada yang mendikte saya untuk mengucapkan te-ri-ma-ka-sih dalam hati). Karena ini bukan teori, saya merasakan betapa sulitnya kata-kata akan keluar dari mulut saya. Maka terimalah gambar amburadul nan menyedihkan ini sebagai wujud ungkapan terimakasih saya yang telah dinasihati, didukung, diajak berfikir bijaksana, terkadang dipuji juga dan atas jemputannya bersama Bos Kecil di bandara pada waktu pertama kali saya kemari (padahal sampai sekarang juga masih pertama kali).

Sejujurnya, meski ini bukan tulisan terjelek saya, tapi tulisan ini sangat amburadul, tidak bagus dan acak-acakan. Dan itulah ternyata untuk mempersembahkan yang terbaik pun saya tidak bisa. Bos, tengkiu ya sudah menyemangati saya, mengguyur kepala saya dengan es batu ketika sedang mendidih, mengarahkan saya memiliki teman-teman yang beragam dan semuanya spesies langka. Intinya saya mau kasih foto ini ke Bos, tapi kalau tiba-tiba saya kasih lewat flesdis, kayaknya saya culun banget gitu kayak anak TK jadi mending biar ada adegan sedih-sedihnya ya saya berikan dalam format seperti ini. Maaf Bos, nggak bisa ngonvert docx jadi 3gp hehehe…

Intinya itulah, makasih ya Bos… Kalau sudah di Bali jangan lupakan kami yang disini. Kalau bisa ya jangan ingat doang, et lis pas kesini bawalah kaos Joger buat masing2 orang atau brownies Amanda juga boleh. Hehehe…

Sekian ah, kepanjangan jadi tambah jelek dan memalukan.







NB: karena tidak semua gambar teman-teman saya punya, jadi yang saya bisa tempel juga tidak semua =) harap maklum

Kamis, 13 September 2012

Baju Lebaran Ayah

jum'at, 7 januari 2000 (kurang lebih 12 tahun yang lalu...)
pukul 19.00 WIB

Jika kau ingat... kau akan tahu kalau malam itu adalah malam terindah untuk semua umat muslim, ya...malam dimana suara2 takbir berkumandang dimana-mana... aku yakin kau hanya bisa tersenyum dan menangis bahagia malam itu...
'malam takbiran' biasanya... aku seharusnya begitu...
tapi kali ini ada yang berbeda, sesuatu telah terjadi dan itu bukanlah sesuatu yang baik atau cukup baik.kurang lebih seperti itulah...

Dan malam itu....
sejak 2 bulan yang lalu aku tidak bisa tersenyum layaknya orang yang bahagia, justru air mata 'bodoh' ini yang selalu keluar, membuat mataku benar2 kering malam ini...
aku tidak bisa berpura2 tersenyum dan menangispun rasanya sudah tidak mungkin lagi, air mataku sudah benar2 kering..
isak tangis lirih ibu diruang tamu membuat aku semakin ngeri. Aku tahu, sebisa mungkin ibu menyembunyikan tangisan itu tapi aku cukup terbiasa dengan semua tangisan dirumah ini...selirih apapun itu aku pasti mendengarnya, dan aku bahkan ngga mampu lagi untuk menenangkannya...aku sendiri tag kuasa menenangkan diri sendiri.

jadi...sejak beberapa bulan yang lalu ayahku sakit paru2 (dia adalah perokok hebat tapi selalu mengajarkan anak2nya untuk tak merokok), dan 3 hari terakhir ini bertambah parah saja, tubuhnya benar2 hanya tersisa tulang...sesekali ayah mengeram kesakitan sampai menangis, dia sudah benar2 berpeluh dengan rasa sakit, aku sudah tidak bisa melakukan apapun...sejak kemarin aku tidak berani melihatnya,

setelah cukup lama aku duduk2 diteras depan,
entah mengapa tiba2 aku sangat ingin menemui ayah dikamarnya.
dan keinginan itu begitu kuat,
dengan langkah pelan aku menuju kekamar ayah.
pintu kamar sedikit terbuka, aku bisa melihat ayahku yang terbujur tak berdaya diranjangnya ditemani kakak, rasanya aku hanya bisa mendekat sedekat itu...
mencoba menahan isak agar ayah dan kakak tag menyadari kehadiranku disana...
"ngesuk bapak tukukna pakean anyar ya" kata ayah tiba2 dengan suara paraunya. kakak yang masih terkejut hanya bisa mengangguk cepat, "sing murahan bae... warnane putih polos" lanjut ayah lagi, kakak hanya bisa diam mendengar kata2 ayah...
ngga biasanya ayah minta dibelikan baju lebaran, dan anehnya lagi... beliau minta baju berwarna putih polos yang murah... astaghfirullah' semoga ini hanya persaanku saja, aku berusaha menghilangkan firasat buruk itu. segera aku menjauh dan kuambil air wudhu kemudian sholat isya...
dan tentu saja, dalam doaku sepenuhnya untuk kesembuhan ayah dan kekuatan ibu dan kami sekeluarga, berharap esok kami berbahagia dalam fitri...

malam ini aku benar2 ngga bisa tidur...
malam paling menegangkan!

selesai sholat id aku langsung menemui ayah dan sungkem dengannya (Alhamdulillah...ayah sempat bersalaman dengan keluarga dan tetangga), kemudian aku membacakan surat yasin 2 kali... kemudian aku kebelakang sebentar... begitu aku kembali...
tepat pukul 08.00 WIB.

'innalillahi wa'innailaihi rajiuun!'

Ayah tertidur, dan benar2 tidur...

Sabtu, 8 januari 2000
(Aku bahagia, karna Ayah tutup usia dengan senyum di Hari yang Fitri)
Bahkan, waktupun menyayangi Ayah, dan membiarkan ayah merasakan Fitri...

Minggu, 06 Mei 2012

Sementara Ini Dulu ya Pasukan!

Terkadang kita mengalami mimpi yang terasa sangat nyata, namun tepat ketika kita bangun kita justru lupa mimpi apa yang baru saja kita alami. Saya merasakan hal yang sama pagi ini. Tepat ketika bangun, saya lupa saya mimpi apa, lalu seperti halnya ibu-ibu rumah tangga yang lain, saya bantu mertua saya masak untuk sarapan. Disitulah saya ingat akan mimpi saya semalam.

Saya seperti benar-benar kembali ke tempat itu, sepetak lahan dengan segala keterbatasannya yang luar biasa yang justru mampu menyedot saya ke suatu kotak yang saya namai hidup. Saya merasa sangat hidup di tempat itu. Saya tidak perlu menjadi orang lain untuk tetap dihargai dan berbaur di sana.

On the top steep cliff  yang terletak pas di belokan jalan, terhampar sebidang tanah yang luas setelah kita memanjat jalan batu di tebing yang tinggi itu. Disana berdiri bangunan permanen yang dua lokalnya sudah setengah ambruk. SDI Wae Paku. Saya menemukan cinta saya di sana. Saya sayang tempat itu, orang-orang disana dan suasananya. Baru sekali seumur hidup saya repot-repot menengadahkan kepala saya untuk melakukan satu hal yang saya sangat tidak suka: MELIHAT BINTANG. Di tempat itu, saya tidak melihat bintang, saya menikmatinya malah.

Di tempat itu saya berbaur dengan Pasukan, mereka anak-anak kelas 6. Mereka tidur dengan Pak Fian, bertigapuluh sekian dalam satu ruang, mereka menimba air, mengisi termos, mencuci piring, membersihkan kamar dan bercanda-canda.

Saya suka mendengarkan mereka menyanyi. Lagu mereka adalah lagu-lagu yang kita tahu tapi cara mereka menyanyi benar-benar membuat lagu itu tampak baru. Sapaan 'selamat pagi Pak' khas mereka selalu mengembangkan senyum saya. Notasi Garuda Pancasila selalu berakhiran 0 di tiap barisnya, hasil gubahan mereka tentu. Sebuah lagu khas SDI Wae Paku yang saya tidak hafal berlirik awal di tengah-tengah kota Jakarta, hampir setiap pagi dinyanyikan dengan penuh semangat. Mereka berseloroh sambil tiduran setiap siang, terkadang disisipi lagu satu-satu aku sayang pacar.

Pasukan telah menawan hati saya. Perjalanan via darat, laut dan udara yang saya lakukan tidaklah sebanding dengan apa yang saya dapatkan di sana. Ketika saya pulang, beberapa dari mereka mengantarkan saya ke pinggir jalan, Lexi yang membawakan kopor 9kg saya menuruni tebing berjalan batu terjal itu. Di sana, mereka tak henti berbisik dan memandangi saya, Pak Fian dan Pak Fit, tiga orang Jawa yang berbincang-bincang dengan bahasa yang asing untuk mereka.

Kala saya hampir bergerak meninggalkan mereka, Rensi, anak paling pintar seangkatan itu berkata dengan jelas, "Ibu jangan lupakan kami ya!"
Sepanjang jalan saya terngiang-ngiang kalimat itu, Saya ingin kembali. Menonton persekolahan tanpa sepatu, memasak pagi dengan makanan superenak; telur dan daun singkong. Menanti sore dengan makan timun di bawah pohon atau tiduran sambil menguping lagu-lagu khas Pasukan, Malam hari kami mencari cahaya, ke rumah Papa Wulang yang punya lampu tenaga surya atau ke rumah Ibu Ani menonton TV jika generator bisa menyala.

Pasukan itu hidup memeriahkan sebidang tanah di atas tebing, Lexi satu-satunya yang bisa menyalakan generator; hal yang sebegitu sulit dilakukan oleh guru-gurunya. Sipri adalah si pemimpin pasukan yang bertanggung jawab dan dewasa. Bajang suka melucu, rajin dan cerewet. Kardus, anaknya Pak Sales Latung (dalam bahasa Manggarai latung berarti jagung) yang kakeknya pun bernama Latung, termasuk anak yang malas namun jika dihitung tingkat kemalasannya pasti dia 98% jauh lebih rajin daripada anak-anak sekolah di sekitar saya. Rensi dan Elis yang tinggal di rumah Papa Wulang, malu-malu menjawab tebakan, lucu sekali. Foni dan seorang temannya yang membantu saya napeni beras, terimakasih ya hehehe...

Hari ini kalian berjuang, Pasukan. Saya sedang membayangkan wajah-wajah kalian yang pastinya jadi jauh lebih cantik dan ganteng dengan sepatu yang kinclong, kaos kaki, baju rapi dimasukkan ke bawahan yang diikatpinggangi. Selamat berjuang ya Pasukan! Semoga kalian bisa masuk SMP yang kalian inginkan, semoga kalian bisa membangun tanah kelahiran kalian nantinya, semoga kalian menjadi orang-orang jujur yang akan memajukan negeri kita. Jangan lupakan saya, Pasukan! Saya memang istrinya pak guru kalian, tapi saya murid kalian. Seorang murid tidak akan melupakan gurunya, percayalah! Tuhan punya rencana, Pasukan. Saya akan terus berusaha untuk kembali ke sana, melihat pasukan-pasukan generasi berikutnya.

The Point doesn't float, It's burried deep inside the soil

Awal Tahun Ajaran Baru 2004/2005.

“Dia masuk kelas ini?” batinku shock mendapati kenyataan bahwa aku akan sekelas dengan seorang anak yang memilki track record negatif selama di kelas X.

Namanya Berlian. Sebenarnya aku tak begitu mengenalnya. Sejauh ini aku hanya mendengarnya dari cerita “ini itu”. Aku tak sanggup membeberkan apa saja “ini itu” yang dimaksud. Satu hal yang sudah dapat dipastikan kebenarannya, ia pernah menjalani operasi tumor otak waktu di kelas X. Tak heran jika rambutnya sekarang dipotong cepak mirip laki-laki.

Aku meliriknya. Gadis putih bertubuh mungil itu tersenyum padaku. Ia memakai seragam yang sudah dimodif lebih pendek. Sekilas aku seperti melihat bekas luka di kepalanya, mungkin bekas operasinya dulu. Ia duduk sendirian terlihat seperti kebingungan. Aku membalas senyumnya.

“Cobaan apa lagi ini?” aku berkeluh kesah pada diriku sendiri.

Ini tahun keduaku di SMA, memulai “kehidupan baru” dengan memilih jurusan bahasa, sebuah jurusan yang oleh kebanyakan orang dijadikan “underdog”, diremehkan dan semacam itu. Aku tak pernah menyangka bakal terjerumus ke kelas bahasa. Di sisi lain, aku sama sekali gak berminat masuk jurusan IPS. Bukannya sombong, tapi sebenarnya nilaiku lebih dari cukup untuk masuk di kelas IPA. Namun karena tak memenuhi syarat yang kutetapkan untuk diriku sendiri, akhirnya dengan sangat terpaksa akan kucoba jalani dua tahun ke depan di kelas ini. Terdampar di sebuah kelas yang asing dengan orang-orang yang asing sama sekali!

Keadaan terasa begitu sepi, hanya ada 23 siswa di kelas bahasa. Kuulangi lagi, dua puluh tiga! Jumlah itu adalah separuh dari jumlah sebuah kelas normal di SMA ini. Ini artinya, tiap siswa bakal mendapat giliran yang sama rata seumpama ada guru yang memberi pertanyaan. Ditambah lagi, ada beberapa anak yang dianggap “bermasalah” masuk di kelas ini.

“Arrrrgggghhhh!!!!”

Menyesal? Agak sih, tapi sudah terlambat.

17 Agustus 2004

Setelah mengikuti upacara hari kemerdekaan RI di sekolah, aku bingung mau kemana. Rasanya masih malas untuk beranjak pulang ke rumah. Kelas sudah sepi. Hanya ada tiga orang di dalam. Berlian bersama dua temanku yang lain, Rahma dan Indah.

“Koq belum pulang?” tanyaku pada mereka sambil menghampiri.

“Mo ke swalayan sama Indah,” jawab Rahma, “Tapi jam segini kan belum buka.”

“Berlian juga?” tanyaku pada gadis itu.

“Aku gak ikut. Cuma nunggu jemputan.” kata Berlian sambil memasukkan handphone ke dalam tas.

“Oh, kalo aku si lagi males pulang.” sahutku tanpa ditanya.

Tanpa sengaja, kita berempat sudah duduk mengitari satu meja. Awalnya kita hanya membahas tentang PR-PR baru yang sudah menyerbu. Lama-lama kita sampai pada topik mengapa-masuk-jurusan-bahasa. Satu persatu bercerita. Indah beralasan kalo dia pengen banget belajar bahasa Prancis. Sedangkan Rahma beranggapan karena jurusan ini kelihatannya asik. Berlian bilang karena ia disarankan masuk sini. Tiba giliranku, kuceritakan tentang sikap anti-IPS ku dan diriku yang tak memenuhi syarat-masuk-IPA-sesuai-standarku. Anehnya, setelah bercerita seolah-olah ada sebuah beban yang terlepas dari kepalaku. Aku baru menyadari bahwa aku mulai merasa nyaman berada di kelas bahasa. Selama beberapa jam, kita saling bertukar pikiran, tertawa, dan bercanda. Hingga akhirnya terlontar sebuah pertanyaan pada teman-teman ngobrolku itu.

“Kejadian apa yang sangat membekas buat kalian?”

Mereka bertiga mencoba mengingat-ingat.

“Kalo aku..” aku tak meneruskan kalimatku. Mengurungkan niatku untuk bercerita.

“Apa hayo? Cerita…” Indah mendesak.

Aku diam sejenak. Peristiwa itu terputar kembali di dalam ingatan. Insiden tahun lalu yang mengubah hidupku dan keluargaku secara drastis. Adik laki-lakiku diculik pada November 2003 dan baru ditemukan 6 bulan setelahnya dalam keadaan meninggal. Ketiga temanku mendengarkan dengan serius. Sebenarnya aku tak mau mengingat kejadian itu lagi. Namun ada sebuah keinginan untuk bisa membagi. Aku bertutur sambil tetap tersenyum walau suaraku terdengar bergetar menahan tangis. Tiba-tiba aku merindukan adikku itu.

“Kalau kamu Ber?” todongku tiba-tiba pada Berlian.

Kemudian ia mulai bercerita. Ia bercerita tentang awal-awal ketika ia sering mengeluh pusing. Mamanya tahu namun tak mempedulikannya. Malah Berlian dianggap hanya mencari-cari alasan saja untuk bisa bersantai. Semakin hari ia sering pingsan dan dari situ diketahui bahwa ia mengidap tumor otak. Operasi telah dilakukan dan sekarang Berlian masih perlu menjalani berbagai macam perawatan. Dari apa yang diceritakannya, kusimpulkan bahwa ia merasa sangat kesepian. Di antara keluarganya, papanya lah yang sangat memperhatikan Berlian. Kurasa ia membutuhkan dukungan.

Kami mendengar ceritanya dengan seksama. Seketika itu aku merasa kasihan padanya. Aku malu pada diriku sendiri yang dulu sempat berpikiran macam-macam tentangnya. Berlian, maafin aku ya.

Juni 2005

Sudah hampir setahun aku menghabiskan waktu bersama teman-teman kelas bahasaku. Coba tebak? Jika awalnya aku sempat menyesal telah masuk ke jurusan ini. Sekarang aku justru bersyukur dengan pilihanku. Aku kini memiliki mereka, teman-teman dan guru-guru yang hebat. Kami memang sudah biasa dipandang sebelah mata, namun karena itulah kami saling menguatkan dan bersama-sama membuktikan bahwa kami mampu untuk bersaing dalam prestasi. Tak hanya itu, kelas kita juga terkenal kompak. Bahkan dengan senior sesama jurusan bahasa. Aku seperti menemukan keluarga baru di kelas ini.

Kabar Berlian? Ia kembali menjalani operasi di kelas XI. Setelahnya, ia mengenakan scraft untuk menutupi kepalanya. Ia juga memakai kacamata minus berwarna biru. Kini Berlian memiliki ciri khas. Dan kami jadi tahu bahwa ia fans berat tokoh kartun bernama “Pucca”, gadis sipit berbaju merah yang rambutnya dikuncir dua itu kalau tidak salah.

Berlian mulai bisa menyesuaikan diri dengan sekolah. Walaupun untuk membaca tulisan di papan tulis saja ia masih harus dibantu. Akan tetapi disitulah letak keindahannya. Bagi kami, Berlian bukanlah beban namun sebuah titipan yang harus kami jaga. Kami maklum ia sering tidak masuk karena sakit. Kami mencoba membantunya jika sedikit-sedikit ia bertanya tentang pelajaran yang bahkan bisa membuatnya sakit kepala karena tidak mengerti. Dan terkadang akhirnya menyerah. Berlian memang kami istimewakan. Kami Seakan-akan kami ingin mengatakan padanya, “Jangan bersedih dan menyerah. Kami akan selalu ada untukmu kawan.”

Aku teringat sesuatu. Pernah suatu sore, tertera nomornya memanggil di handphoneku. Ketika kuangkat, hanya tangisan yang kudengar. Aku panik.

“Berlian, kamu kenapa?”

Ia masih menangis. “Berlian, kenapa? Coba cerita. Tarik nafas dulu.” Ucapku mencoba menenangkan.

Berlian masih menangis sesenggukan. “Tugasnya..”, ia menjawab lirih.

“Apa Ber? Gak denger. Tenang dulu ya. Cerita pelan-pelan coba.” Aku berkata dengan lembut.

“Tugasnya-kemarin-ilang.” Ia menjawab lagi dengan terbata-bata.

Tugas? tanyaku dalam hati sambil mencerna maksudnya. Kemudian aku paham. Aku ingat kemarin lusa guru sejarah memberi tugas kelompok dan Berlian mendapat bagian untuk mengetiknya. Ternyata tugas yang dibawa Berlian hilang. Aku tersenyum lega kerena ternyata hanya itu penyebab ia sampai menangis histeris. Kukira ada sesuatu yang serius. Lalu aku mengatakan padanya untuk tenang, “Ntar biar aku ma temen-temen yang bikin aja. Udah Ber, gak usah dipikirin ya. Gak pa-pa koq.”

Begitulah Berlian. Kadang bisa sangat polos, kadang bisa sangat bijak. Ia juga bisa menjadi sangat frustasi karena hal kecil. Kadang-kadang ia bersikap sangat manja. Namun ada satu waktu terlihat raut aku-bisa-mengerjakan-semua-sendiri di wajahnya. Yang menarik darinya adalah tawanya yang khas. Dan ia selalu tersenyum pada siapapun.

Persiapan Menjelang UAN 2006

Hari demi hari berlalu, sebentar lagi kami hampir meninggalkan bangku sekolah menengah. Akhir-akhir ini mulai disibukkan dengan berbagai persiapan menjelang ujian nasional. Lagi-lagi Berlian masuk rumah sakit. Kembali ia harus menjalani operasi.

Beberapa minggu sudah ia dirawat dan belum bisa bergabung bersama kami di sekolah. Kami bergiliran menjenguknya. Terakhir aku melihatnya, ia masih ceria seperti biasa. Hingga aku mendengar kabar bahwa syaraf Berlian sudah tidak bisa berfungsi dengan baik, ia tak bisa bergerak bahkan untuk membuka mata.

Januari 2006

Suatu malam, aku menjenguknya bersama teman-teman. Kami bergiliran masuk dua orang ke kamarnya. Kuperhatikan teman-temanku selalu keluar kamar dengan menangis. Aku jadi semakin penasaran.
Kini giliranku dan temanku, Karina masuk. Kubuka tirai. Miris rasanya melihat Berlian yang biasanya tertawa sudah tidak berdaya. Berbagai macam selang dan alat-alat yang tak kuketahui namanya membelenggunya disana sini. Ia tak bergerak. Hanya diam terbaring di atas tempat tidur di ruang ICU. Karina sudah tak tega menatap gadis itu. Aku mendekati Berlian. Kugenggam tangannya yang terasa dingin.

Aku berbisik di telinganya, “Berlian, ini aku ma Karina. Cepet sembuh ya.. Jangan menyerah. Jangan putus asa. Kita semua sayang sama Berlian. Pokoknya kita berdoa terus ya, biar dikasi yang terbaik. Kita sayang Berlian, pokoknya jangan menyerah ya.”

Aku meliriknya sekilas, sebulir air mata mengalir di pipinya.

Aku terdiam sejenak, menghela nafas. Aku kehilangan kata untuk beberapa saat.

“Ber, kita pamit dulu ya. Besok-besok kita jenguk lagi, ok. Tetep berjuang ya.” bisikku lagi. Kemudian Karina dan aku keluar dari kamar sambil menangis juga.

9 Februari 2006


Hari itu hari Kamis, kalau tak salah ingat. Karena sudah kelas XII, kami diberi pelajaran tambahan yang dimulai jam 6 pagi. Dan seperti biasa aku datang terlambat ke sekolah. Tirai kelas sudah ditutup, aku berpikir “Wah, ini pasti kerjaan anak-anak buat ngerjain anak yang sering telat kayak aku. Biar dikiranya jam tambahan udah dimulai.” Dengan cengengesan aku membuka pintu dan masuk, meletakkan helm di meja depan kelas sambil terus senyum-senyum.

Sewaktu berbalik menghadap teman-teman yang sudah duduk di bangku kelas, aku kaget. Pemandangan kontras sekali dengan suasana hatiku yang girang karena ternyata kali ini aku tidak terlambat masuk. Aku mengedarkan pandangan ke isi kelas. Sebagian temanku menunduk ke meja, mereka hanya mendongak sekilas melihatku sambil menunjukkan ekspresi sedih. Aku hafal betul ekspresi semacam itu. Sebuah ekspresi kehilangan.

Aku mencoba memikirkan alasan penyebab mendung gelap di kelas pagi ini. Aku benci sekali menebaknya, dan semoga tebakanku meleset. Belum sempat aku bertanya, salahsatu temanku yang duduk paling depan mengucapkan satu kata kemudian tersedu-sedu, sebuah nama “Berlian”.

Rasanya hati ini tertusuk pisau yang tak terlihat. Tanpa mereka menjelaskan lebih detail, otakku bekerja lebih cepat mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Walaupun aku berharap itu tak nyata, rasa pahit itu kembali kurasakan. Rasa tidak percaya, rasa ingin menyangkal dan menghindari kenyataan, serta rasa takut. Takut akan kehilangan orang yang kusayangi. Aku mendekati teman-temanku. Menguatkan mereka dan diriku sendiri, mencoba mengingatkan bahwa semua ini adalah yang terbaik untuknya.

“Innalillahi wa innailaihi roji’un.….” sebuah pengumuman duka cita terdengar dari intercom dan disiarkan di seluruh sekolah. Suasana kelas begitu memilukan. Hari itu kami menangis bersama. Berlian, perhiasan kami telah Diambil oleh Sang Pemilik dan kami harus merelakannya.


8 Desember 2009

Aku menemukan senyumnya di sebuah album foto yang tanpa sengaja kubuka. Aku tak berhasil mengingat kapan persisnya gambar itu diambil. Sepertinya waktu masih di kelas XI sebab ia belum mengenakan scraft. Kucoba mengais memori tentangnya. Kususun dalam sebuah catatan. Ya, ini hanyalah sebuah catatan yang dibungkus dalam kisah dengan bahasa seadanya. Semuanya mengalir begitu saja. Entahlah, namun aku hanya ingin menulis tentangnya, agar ia selalu hidup dalam ingatan semua orang yang pernah mengenalnya.

Aku menggeledah isi kamar, mencari diaryku sewaktu SMA. Kalau tidak salah aku pernah menuliskan sebuah puisi pendek untuknya pada hari kepergiannya.

“Nah, ketemu!”

Our Shining Star

You’ll be our spirit,
Not to fulfill the sadness
Dear…
No words can describe you, friend
But we’ll always love you…


Kembali kupandangi potret dirinya yang sedang tersenyum sambil memegang tasnya. Aku pun membalas senyumnya.
__________________________________________________________


*Semarang
8 Desember 2009


*** Untuk seorang sahabat yang kami rindukan senyumnya. Ia yang secara tak langsung menyatukan kami dalam sebuah ikatan persahabatan. Ia yang memang seperti namanya, perhiasan bagi kami di kelas bahasa tercinta. Ia yang sering bersikap manja namun tersimpan jiwa yang sangat tegar dibaliknya. Kami akan selalu ada untukmu, kawan.