Saya semakin hancur. Ketika saya mulai meneteska air mata tepat di depan halte bus Mardi Rahayu Ungaran, tempat dimana saya dan kamu tertawa-tawa menghabiskan es cincau yang kita beli dari pasar hewan di Ambarawa. Tiba-tiba saya ingat bertahun-tahun yang lalu ketika kita berdua bicara dalam malam di sebuah tophill di belakang rumah mewah, kamu tidak pakai jaket dan kamu baru sadar angin malam menusukmu tepat ketika kita sama-sama menyadari jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.
Saya tahu kamu tidak lupa, saya tahu kamu tetap ingat ini sampai kapanpun, betapa banyak hal yang kita lalui bedua. Pernah suatu kali saya hampir gila karena orang tua saya, tapi kamu ada disana untuk memegang tangan saya, menggandeng saya dan menjaga saya agar ketika jatuh bisa berdiri lagi. Saya selalu kuat, lebih kuat dari batu karang. Sekarang saya sudah pecah karena kamu tak lagi mau membantu saya berdiri. Kamu ingin pergi. Kemana, entah.
Jadi kapan kamu akan kembali lagi?
Kalau kamu ingin menghukum dirimu sendiri, silakan. Saya beri kamu waktu seumur hidup untuk itu, tapi jangan ikutkan saya untuk merasakan hukuman untuk dirimu sendiri. Saya ingin kita bangkit lagi, kita, bukan hanya saya. Yang kemarin biar jadi hitam di atas putih saja, agar bisa kita baca kapanpun kita mau. Saya biasa saja kalau kamu bisa bersikap seperti layaknya kamu yang dulu, tapi jika kamu tidak bisa, untuk apa saya bangkit hidup lagi? Untuk apa saya pertahankan hidup saya?
Jadi kapan kamu akan kembali lagi, Pe?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar