Minggu, 18 Maret 2012

Tetralogi Cerpen The Shadow episode #4 (final)

KAMERA

Entah ini kelebihan atau kekuranganku, yang jelas keanehan ini terkadang menggangguku, sangat menggangguku. Aku bisa mengerti tentang suatu keadaan hanya dengan melihat saja. Aku yakin kamu belum mengerti. Begini, hanya dengan memandang wajahmu, aku bisa mengerti betapa hebatnya hari-hari yang kau lalui, betapa sedihnya perasaannmu, betapa senangnya hatimu dan semacamnya.
Tentu, dalam banyak hal, keanehanku ini justru sangat membantu, tapi kurasa kali ini tidak. Dua hari yang lalu, dengan tidak sengaja, kutemukan sebuah kamera digital yangsudah agak usang. Baterainya pun habis. Awalnya kupikir benda itu rusak. Aku memungutnya dari pinggir jalan yang kanan kirinya sawah. Kubelikanlah baterai baru lalu kunyalakan. Masih bisa dan ternyata masih ada kartu memorinya.
Ia menyimpan lebih dari lima ratus gambar dengan objek yang berbeda-beda. Satu persatu gambar kuperhatikan, tubuhku serasa masuk tersedot pensieve lalu terlempar ke suatu masa yang aku sendiri tak mengerti kapan dan dimana. Kepalaku berputar dan terus berputar. Gambar tak bisa berhenti berpindah, tubuhku terhempas dari sini ke sana, dari sana ke sini.
Lama-kelamaan aku mulai mengerti. Hanya ada beberapa tokoh dalam kamera tersebut. Tokoh pertama, gadis periang yang kaya raya. Aku tahu dari bajunya, mobilnya, dandanannya dan aksesorisnya. Jika kuperhatikan, ia sangat up to date baik dalam hal fashion, make up bahkan gaya berfoto. Temannya banyak, cantik-cantik dan tampan-tampan. Dari seluruh gambar mengenai dirinya, ada sebuah gambar yang paling mengena; ia berdiri di puncak gunung mengibarkan bendera kebebasan dan mengenakan kalung bertuliskan I WANNA REACH THE SKY. Aku mendengus, gadis periang yang punya segalanya namun tak pernah puas dan selalu merasa kurang. Aku yakin ia kurang mengerti bahwa dengan menggapai langit ia akan semakin ingin mencapai langit di atasnya.
Tokoh kedua adalah seorang gadis bermata sayu. Wajahnya menyiratkan kesedihan yang dalam. Tak satupun foto yang memuat ia sedang tersenyum. Tangan hitamnya yang berotot dan kasar cukup membuktikan bahwa ia pekerja keras yang pantang menyerah. Dari seluruh fotonya, kudapati sebuah foto yang paling menyedihkan; ia duduk dikelilingi pecahan-pecahan berwarna cokelat. Sepertinya itu adalah pecahan genting, kendi atau poci. Wajah sayunya mengiba, seperti menginginkan pecahan-pecahan tersebut kembali utuh.
Tokoh yang lainnya berambut panjang, bermata sipit dengan kulit kecokelatan. Ia suka memakai rok mini, hot pants, tank top, bikini, atau bahkan tidak memakai apa-apa. Kebanyakan fotonya bersama pria; berbeda-beda, kadang satu kadang banyak. Yang  jelas, menurutku posenya selalu tak pantas dilihat. Ia pemabuk, perokok dan mungkin bintang panas. Paling tidak, itu kesimpulan yang dapat kutarik setelah melihat semua fotonya dalam kamera.
Kumatikan kamera temuanku itu, lalu kubungkus plastik, hendak kubuang jauh-jauh. Saat aku keluar dari kamar, Ibu memandangku heran. Mau kemana? tanyanya. Mau buang ini sebentar, jawabku sembari menunjukkan bungkusan plastik hitam di tanganku. Jangan bilang isinya sebuah kamera digital, kata Ibu menebak. Kalau iya kenapa? Kok Ibu bisa tahu? aku mulai penasaran. Setiap hari kamu selalu membuangnya. Tapi tiap hari pula kamu memungutnya. Tentu aku tidak percaya. Ibu tidak pernah bohong padamu, kata Ibu ketus, simpan saja kameramu itu, lebih baik kamu bantu ibu. Bantu apa? tanyaku bergeming. Bantu Ibu mengeluarkan rayap-rayap dari dalam tubuh Ibu, katanya.
Aku kembali masuk kamar. Kutaruh kamera itu di atas bantal. Di sampingnya, ada kotak harta karunku. Kubuka lalu kuambil sebuah kalung cantik kesayanganku. Tulisan I WANNA REACH THE SKY masih tercetak apik pada liontinnya. Bersama dengan kalung itu kusimpan pula pecahan-pecahan hasil karyaku dari tanah liat yang dipecahkan Dedi di depan mataku. Kubungkus rapi dengan selembar kain putih.
Kudengar suara Ibu memanggilku dengan tercekik. Dua detik kemudian kudapati Ibu terkapar di lantai, rayap-rayap mengerubunginya, mencekik lehernya dari dalam. Aku hanya mematung. Seharusnya Ibu cukup mengerti apa yang sebaiknya ia lakukan sebelum dimakan rayap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar