KAMERA
Entah ini
kelebihan atau kekuranganku, yang jelas keanehan ini terkadang
menggangguku, sangat menggangguku. Aku bisa mengerti tentang suatu
keadaan hanya dengan melihat saja. Aku yakin kamu belum mengerti.
Begini, hanya dengan memandang wajahmu, aku bisa mengerti betapa
hebatnya hari-hari yang kau lalui, betapa sedihnya perasaannmu, betapa
senangnya hatimu dan semacamnya.
Tentu, dalam banyak hal,
keanehanku ini justru sangat membantu, tapi kurasa kali ini tidak. Dua
hari yang lalu, dengan tidak sengaja, kutemukan sebuah kamera digital
yangsudah agak usang. Baterainya pun habis. Awalnya kupikir benda itu
rusak. Aku memungutnya dari pinggir jalan yang kanan kirinya sawah.
Kubelikanlah baterai baru lalu kunyalakan. Masih bisa dan ternyata masih
ada kartu memorinya.
Ia menyimpan lebih dari lima ratus gambar
dengan objek yang berbeda-beda. Satu persatu gambar kuperhatikan,
tubuhku serasa masuk tersedot pensieve lalu terlempar ke suatu
masa yang aku sendiri tak mengerti kapan dan dimana. Kepalaku berputar
dan terus berputar. Gambar tak bisa berhenti berpindah, tubuhku
terhempas dari sini ke sana, dari sana ke sini.
Lama-kelamaan aku
mulai mengerti. Hanya ada beberapa tokoh dalam kamera tersebut. Tokoh
pertama, gadis periang yang kaya raya. Aku tahu dari bajunya, mobilnya,
dandanannya dan aksesorisnya. Jika kuperhatikan, ia sangat up to date baik dalam hal fashion, make up bahkan
gaya berfoto. Temannya banyak, cantik-cantik dan tampan-tampan. Dari
seluruh gambar mengenai dirinya, ada sebuah gambar yang paling mengena;
ia berdiri di puncak gunung mengibarkan bendera kebebasan dan mengenakan
kalung bertuliskan I WANNA REACH THE SKY. Aku mendengus, gadis
periang yang punya segalanya namun tak pernah puas dan selalu merasa
kurang. Aku yakin ia kurang mengerti bahwa dengan menggapai langit ia
akan semakin ingin mencapai langit di atasnya.
Tokoh kedua adalah
seorang gadis bermata sayu. Wajahnya menyiratkan kesedihan yang dalam.
Tak satupun foto yang memuat ia sedang tersenyum. Tangan hitamnya yang
berotot dan kasar cukup membuktikan bahwa ia pekerja keras yang pantang
menyerah. Dari seluruh fotonya, kudapati sebuah foto yang paling
menyedihkan; ia duduk dikelilingi pecahan-pecahan berwarna cokelat.
Sepertinya itu adalah pecahan genting, kendi atau poci. Wajah sayunya
mengiba, seperti menginginkan pecahan-pecahan tersebut kembali utuh.
Tokoh yang lainnya berambut panjang, bermata sipit dengan kulit kecokelatan. Ia suka memakai rok mini, hot pants, tank top, bikini,
atau bahkan tidak memakai apa-apa. Kebanyakan fotonya bersama pria;
berbeda-beda, kadang satu kadang banyak. Yang jelas, menurutku posenya
selalu tak pantas dilihat. Ia pemabuk, perokok dan mungkin bintang
panas. Paling tidak, itu kesimpulan yang dapat kutarik setelah melihat
semua fotonya dalam kamera.
Kumatikan kamera temuanku itu, lalu
kubungkus plastik, hendak kubuang jauh-jauh. Saat aku keluar dari kamar,
Ibu memandangku heran. Mau kemana? tanyanya. Mau buang ini sebentar,
jawabku sembari menunjukkan bungkusan plastik hitam di tanganku. Jangan
bilang isinya sebuah kamera digital, kata Ibu menebak. Kalau iya kenapa?
Kok Ibu bisa tahu? aku mulai penasaran. Setiap hari kamu selalu
membuangnya. Tapi tiap hari pula kamu memungutnya. Tentu aku tidak
percaya. Ibu tidak pernah bohong padamu, kata Ibu ketus, simpan saja
kameramu itu, lebih baik kamu bantu ibu. Bantu apa? tanyaku bergeming.
Bantu Ibu mengeluarkan rayap-rayap dari dalam tubuh Ibu, katanya.
Aku
kembali masuk kamar. Kutaruh kamera itu di atas bantal. Di sampingnya,
ada kotak harta karunku. Kubuka lalu kuambil sebuah kalung cantik
kesayanganku. Tulisan I WANNA REACH THE SKY masih tercetak apik
pada liontinnya. Bersama dengan kalung itu kusimpan pula
pecahan-pecahan hasil karyaku dari tanah liat yang dipecahkan Dedi di
depan mataku. Kubungkus rapi dengan selembar kain putih.
Kudengar
suara Ibu memanggilku dengan tercekik. Dua detik kemudian kudapati Ibu
terkapar di lantai, rayap-rayap mengerubunginya, mencekik lehernya dari
dalam. Aku hanya mematung. Seharusnya Ibu cukup mengerti apa yang
sebaiknya ia lakukan sebelum dimakan rayap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar