Apa yang disebut dengan masa depan? Sepertinya saya sudah tergadai. Jujur saya ingin seperti teman-teman saya yang bekerja, merantau, mempertahankan hidup, bergaul... Disini saya hidup enak, semua hal sudah dicukupi dengan baik, saya diperlakukan dengan sangat baik tapi entah mengapa separuh jiwa saya tidak di sini. Mungkin memang saya yang jahat.
Hidup hampir 24 tahun, saya pelajari diri saya seperti apa. Saya memang lebih suka hidup sendiri, tidak nebeng, tidak numpang. Pernah saya merasakan kebahagiaan selama sembilan bulan saya tinggal di sebuah rumah kecil sendiri, yang kemudian ditemani dua ekor anjing kecil milik saya dan Arfian. Setiap hari Arfian datang, saya masak, membersihkan rumah, mencuci baju, bayar listrik, bayar air, bekerja banting tulang, jalan, pacaran, bergaul, berpesta, saya sangat bahagia. Di situlah saya rasa saya benar-benar menemukan kebahagiaan yang membuat saya sangat betah, membuat saya enggan beranjak dan meleburkan ambisi-ambisi yang sering muncul. Di situ saya merasa saya adalah saya. Meski tidak pernah beli baju baru karena uang habis untuk kebutuhan rumah tangga, saya biasa saja. Sampai-sampai teman kerja saya waktu itu pernah dengan gamblang bilang kalau baju saya jelek-jelek.
Sekarang, jiwa saya yang separuh mengembara tanpa raga. Sedih rasanya, sakit rasanya. Meski hidup saya enak sekarang; tidak perlu bayar listrik, bayar air, keluar uang untuk belanja, tapi saya kesepian. Tidak ada lagi Bebe dan Kugy kecil yang menggonggong riang ketika saya pulang. Tidak ada Arfian yang membuat saya bertahan dalam kemalangan. Hidup saya jauh dari kata malang disini, tapi yang saya butuhkan bukan itu. Saya butuh hidup saya yang dulu. Yang meski harus hutang untuk belanja, hati saya tetap lapang.
Saya ingin terbang jauh, tapi sayap saya diberi pemberat bernama orang tua, mertua, hubungan baik, janji, lamaran. Saya hanya setengah jiwa yang hidup dalam raga milik orang lain, milik orang banyak. Kaki saya melangkah bukan ke arah tempat yang saya inginkan, melainkan ke arah tempat yang harus saya tuju. Saya malu, saya sakit. Saya tidak suka jadi parasit. Meski bagi banyak orang ini terlihat seperti komensalis, bagi saya jauh lebih baik jika saya tidak diberi beban. Saya bisa berfikir, saya bisa menjaga diri tanpa harus dijaga seperti ini. Bukan kemudahan yang saya cari, saya cari kenyamanan. Dalam hidup yang tidak mudah, jika dilewati dengan ikhlas, nyaman akan mengikuti. Saya rasa sekarang saya belum ikhlas, itulah mengapa segala kemudahan dan kebaikan hati yang saya terima belum juga membuat saya merasa nyaman dan mampu mengembalikan separuh jiwa saya untuk pulang ke rumahnya, raga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar