Jumat, 23 Maret 2012

Rasa, Wanita dan Lamat-Lamat

Rasanya aneh, ketika orang yang biasanya mengerti dan hadir untuk kita tiba-tiba bermutasi menjadi makhluk unidentified jenisnya. Terkadang sangat romantis dan mengerti, terkadang sangat galakdan memojokkan. Saya bertanya dianggap curiga. Saya berkata dianggap takabur. Saya harus bagaimana?

Akhir-akhir ini semua bertambah buruk. Saya tidak punya teman lagi untuk bercerita seblak-blakan yang saya bisa. Ya, teman saya banyak namun mereka berbeda pola pikir, berbeda kasus dan mungkin agak sulit melontarkan kata-kata yang berterima untuk saya cerna.

Seketika, rasa kehilangan yang dalam menyergap masuk ke dada, sama sekali tidak menyisakan sepetak ruang untuk bernafas. Banyak alasan yang tidak akan saya tuliskan satu persatu. Banyak sekali. Saya bisa tuliskan semua, tapi akan jadi masalah lagi di belakangnya. Masalah ini akan segera usai kalau kedua belah pihak saling mengerti, saling mengalah, saling memahami, saling berbicara dengan otak yang dingin, saling terbuka dan siap dibuka.

Dia hidup bersama seribu satu wanita saya tidak bisa cegah, saya tidak akan marah, saya mau apalagi selain pasrah,,saya hanya ingin jadi seperti dia: yang selalu ingin saya butuhkan.

Beberapa tahun yang lalu, saya sesak nafas, yang ada hanya dia. Karena saya jengkel, saya minta dia tanya kepada sahabat saya bagaimana cara menangani penyakit saya. Raut mukanya berubah drastis, dia benar-benar tersinggung. Sejak saat itu saya simpulkan bahwa dia ingin posisinya tak tergantikan. He won't.

Kita, manusia, memang punya banyak sekali indera. Namun tidaklah selalu mereka berjalan beriringan dengan rasa. Rasa terkadang membuat lidah terlalu kelu untuk mengecap hingga semua rasa berakhir pada getir yang sama. Rasa sering membuat kulit enggan untuk meraba karena semua hal terasa sungguh menjijikkan seperti lendir dan nanah. Rasa sering membuat buta; bukan berniat jahat akan langsung dicap buruk karena interpretasi diri yang mendominasi, berniat buruk sering tidak disangka karena pesona dahsyat yang disanjung dan dipuja.

Rasa membuat saya luruh secara perlahan. Bersama darah yang sebatu bata besarnya. Bersama cinta yang 'lamat-lamat' kian menggerogoti badan saya. Bersama kelimbungan seumur hidup dengan segudang pertanyaan tentang ikhlas, ibadah dan cinta. Bersama anak-anak kecil yang dibunuh ibunya. Bersama para lelaki yang tidak memuji, tidak memegang erat kekasihnya, tidak memikirkan dirinya, tidak merancang masa depannya. Bersama tinta cumi-cumi yang akan dibeli di tengah malam. Bersama semua kenangan yang hadir, pernah ada, selalu ada, seperti ada namun terkadang tak diakui atau terlupa.

Saya luruh sedikit demi sedikit. Ketika tampon terlalu lemah untuk menyimpan dan pembalut terlalu repot untuk menampung, bebaskanlah kelaminmu memuntahkan seluruh isinya. Biar dia puas. Biar dia lega. Satu bulan dia mengikis sedikit demi sedikit apa yang ia punya, maka beri waktu beberapa hari saja agar dia bisa merasa bagaimana bebasnya tidur tanpa penetrasi, bagaimana rikuhnya menolak persetubuhan (selayaknya lelaki yang rikuh untuk meminta persetubuhan), bagaimana perempuan akan luruh karena rasa; cepat atau lamat-lamat.

Harizka, dengan segala insiden mematikan,
yang benar-benar membenci kata
LAMAT-LAMAT

Minggu, 18 Maret 2012

Tetralogi Cerpen The Shadow episode #4 (final)

KAMERA

Entah ini kelebihan atau kekuranganku, yang jelas keanehan ini terkadang menggangguku, sangat menggangguku. Aku bisa mengerti tentang suatu keadaan hanya dengan melihat saja. Aku yakin kamu belum mengerti. Begini, hanya dengan memandang wajahmu, aku bisa mengerti betapa hebatnya hari-hari yang kau lalui, betapa sedihnya perasaannmu, betapa senangnya hatimu dan semacamnya.
Tentu, dalam banyak hal, keanehanku ini justru sangat membantu, tapi kurasa kali ini tidak. Dua hari yang lalu, dengan tidak sengaja, kutemukan sebuah kamera digital yangsudah agak usang. Baterainya pun habis. Awalnya kupikir benda itu rusak. Aku memungutnya dari pinggir jalan yang kanan kirinya sawah. Kubelikanlah baterai baru lalu kunyalakan. Masih bisa dan ternyata masih ada kartu memorinya.
Ia menyimpan lebih dari lima ratus gambar dengan objek yang berbeda-beda. Satu persatu gambar kuperhatikan, tubuhku serasa masuk tersedot pensieve lalu terlempar ke suatu masa yang aku sendiri tak mengerti kapan dan dimana. Kepalaku berputar dan terus berputar. Gambar tak bisa berhenti berpindah, tubuhku terhempas dari sini ke sana, dari sana ke sini.
Lama-kelamaan aku mulai mengerti. Hanya ada beberapa tokoh dalam kamera tersebut. Tokoh pertama, gadis periang yang kaya raya. Aku tahu dari bajunya, mobilnya, dandanannya dan aksesorisnya. Jika kuperhatikan, ia sangat up to date baik dalam hal fashion, make up bahkan gaya berfoto. Temannya banyak, cantik-cantik dan tampan-tampan. Dari seluruh gambar mengenai dirinya, ada sebuah gambar yang paling mengena; ia berdiri di puncak gunung mengibarkan bendera kebebasan dan mengenakan kalung bertuliskan I WANNA REACH THE SKY. Aku mendengus, gadis periang yang punya segalanya namun tak pernah puas dan selalu merasa kurang. Aku yakin ia kurang mengerti bahwa dengan menggapai langit ia akan semakin ingin mencapai langit di atasnya.
Tokoh kedua adalah seorang gadis bermata sayu. Wajahnya menyiratkan kesedihan yang dalam. Tak satupun foto yang memuat ia sedang tersenyum. Tangan hitamnya yang berotot dan kasar cukup membuktikan bahwa ia pekerja keras yang pantang menyerah. Dari seluruh fotonya, kudapati sebuah foto yang paling menyedihkan; ia duduk dikelilingi pecahan-pecahan berwarna cokelat. Sepertinya itu adalah pecahan genting, kendi atau poci. Wajah sayunya mengiba, seperti menginginkan pecahan-pecahan tersebut kembali utuh.
Tokoh yang lainnya berambut panjang, bermata sipit dengan kulit kecokelatan. Ia suka memakai rok mini, hot pants, tank top, bikini, atau bahkan tidak memakai apa-apa. Kebanyakan fotonya bersama pria; berbeda-beda, kadang satu kadang banyak. Yang  jelas, menurutku posenya selalu tak pantas dilihat. Ia pemabuk, perokok dan mungkin bintang panas. Paling tidak, itu kesimpulan yang dapat kutarik setelah melihat semua fotonya dalam kamera.
Kumatikan kamera temuanku itu, lalu kubungkus plastik, hendak kubuang jauh-jauh. Saat aku keluar dari kamar, Ibu memandangku heran. Mau kemana? tanyanya. Mau buang ini sebentar, jawabku sembari menunjukkan bungkusan plastik hitam di tanganku. Jangan bilang isinya sebuah kamera digital, kata Ibu menebak. Kalau iya kenapa? Kok Ibu bisa tahu? aku mulai penasaran. Setiap hari kamu selalu membuangnya. Tapi tiap hari pula kamu memungutnya. Tentu aku tidak percaya. Ibu tidak pernah bohong padamu, kata Ibu ketus, simpan saja kameramu itu, lebih baik kamu bantu ibu. Bantu apa? tanyaku bergeming. Bantu Ibu mengeluarkan rayap-rayap dari dalam tubuh Ibu, katanya.
Aku kembali masuk kamar. Kutaruh kamera itu di atas bantal. Di sampingnya, ada kotak harta karunku. Kubuka lalu kuambil sebuah kalung cantik kesayanganku. Tulisan I WANNA REACH THE SKY masih tercetak apik pada liontinnya. Bersama dengan kalung itu kusimpan pula pecahan-pecahan hasil karyaku dari tanah liat yang dipecahkan Dedi di depan mataku. Kubungkus rapi dengan selembar kain putih.
Kudengar suara Ibu memanggilku dengan tercekik. Dua detik kemudian kudapati Ibu terkapar di lantai, rayap-rayap mengerubunginya, mencekik lehernya dari dalam. Aku hanya mematung. Seharusnya Ibu cukup mengerti apa yang sebaiknya ia lakukan sebelum dimakan rayap.

Tetralogi Cerpen The Shadow episode #3

Seputar Dedi

Aku membenci orang bernama Dedi. Meski aku tahu bahwa tidak semua Dedi seburuk dedi yang kukenal, aku tetap saja tidak suka jika di sebuah rumah ada yang bernama Dedi.

Dedi yang kukenal *yang membuatku membenci dedi-dedi yang lain* orangnya sangat penyayang. Ia rela memberikan apapun pada orang yang disayangnya, termasuk pernikahan dan anak. Dedi meninggalkanku dan memilih hidup bersama seorang dukun mistis yang ia yakini mampu memberi kebahagiaan untuknya. Dukun itu bertanduk dua seperti kerbau, hidung mancungnya berwarna merah dan bercula. Matanya membelalak berwarna hijau berkilat. Dari mulutnya selalu menetes air liur berupa lendir berwarna ungu. Napasnya berbau kamboja, dengar-dengar ia memang tidak makan nasi, makanannya adalah kembang tujuh rupa. Kulitnya kuning bersisik namun wajahnya putih pucat seperti tak berdarah.

Aku sendiri tak pernah bertemu dukun itu, karena pertemuan akan berujung kematian. Entah dia yang mati atau aku, atau justru Dedi yang akan mati.

Foto-foto mesranya bersama Dedi membuatku murka. Dengan semena-mena dedi membuangku demi dukun mistis itu, dengan tidak masuk akal Dedi memberikan semua uangnya pada si dukun, padahal bertahun-tahun aku menjalin hubungan dengan Dedi, jarang sekali ia memberiku uang.

Yang membuatku semakin tidak habis pikir, Dedi yang sudah beristri-istri itu tega melihat istrinya membusuk digerogoti rayap. Rayap itu masuk lewat telinga, mengaduk-aduk isi telinga hingga perih, merambat ke tenggorokan, masuk kerongkongan, membuat si empunya mual tidak doyan makan, bertelur dan bertai di situ, lalu pergi meninggalkan ribuan telurnya di kerongkongan dan tai-tainya masuk ke lambung. Ia sendiri kabur menuju kepala, mengikuti aliran darah sampai ke jantung, dipompa lagi sampai ke tangan, kaki, pipi, leher, hidung, mata dan bertengger di otak. Bagi rayap, otak adalah kasur terempuk dan terhangat untuknya tidur, berliur, ngompol dan mimpi basah.

Istri dedi kaku, seperti hidup tak bernyawa, mati belum diterima. dedi tetap santai, asmaranya dengan dukun mistis tidak bisa diganggu gugat oleh apapun dan siapapun.

Kuputuskan hubungan dengan Dedi. Tidak seharusnya, aku tahu. Tapi aku jauh lebih sakit hati daripada apapun. memang aku tidak pikir panjang, tapi aku tidak menyesal. Kesebatangkaraanku menuntunku untuk mengenal orang-orang lain bernama Dedi dan lama-kelamaan aku semakin tahu bahwa tidak semua Dedi seperti dedi yang kukenal.

Aku mulai belajar, mau tak mau aku lahir dengan keadaan yang sangat tidak kuinginkan. Mau tak mau aku menjalin hubungan aneh dengan Dedi dan istri-istrinya beserta anak-anaknya yang berbahagia. Mau tak mau aku pura-pura bahagia melihat bola dunia di genggamanku yang warnanya coklat kehitaman seperti habis tercebur lumpur lalu disambar petir. Mau tak mau aku menjalani hidup yang manisnya seperti brotowali ini. Tapi entah aku mau atau tidak, Tuhan selalu Maha Tahu bahwa aku pastinya mampu. Jadi tidak usah khawatir dengan Dedi di sekitarmu, mereka baik, mereka penyayang, mereka hebat dan mereka Dedi yang bisa diharapkan.

*catatan bohong dari anaknya Dedi #3 yang sangat bahagia

Tetralogi Cerpen The Shadow episode #2

REFLEKSI

Namaku Manusia. Terkadang, aku ingin berteriak sekencang-kencangnya kalau aku terusik, sakit atau tidak bahagia. Tapi aku takut orang-orang di sekitarku terganggu dengan teriakanku. terkadang, aku ingin bernyanyi, melompat, dan menari dengan senangnya kalau aku merasa menang, bebas dan bahagia. Tapi aku takut orang-orang di sekitarku terganggu dengan ulahku.

Sama sekali aku tak malu dianggap gila, tidak waras atau aneh. SEperti sekarang, aku hanya bisa menangis sesenggukan di dalam kamar tanpa kasur. Aku kalah dalam lomba menyanyi. Kata juri, suaraku terlalu serak, fals dan di bawah standar. Berani-beraninya aku ikut lomba menyanyi.

Yang membuatku sesenggukan begini bukanlah kekalahanku, melainkan sikap dan kata-kata juri padaku. Bukankah keberanian untuk ikut lomba menyanyi seharusnya mendapat perhatian juga, bukan hanya suara yang bagus saja yang dianggap. Bolehlah aku disadarkan agar tidak lagi ikut lomba menyanyi, tapi sikap dan kata-kata yang ditujukan padaku seharusnya yang lebih berterima.

Satu lagi, aku kalah dalam lomba berenang. Kata juri, fisikku terlalu lemah, gerakanku lambat dan tidak beraturan. Berani-beraninya aku ikut lomba berenang. AKu tidak menyesalkan kekalahanku, tapi sikap dan kata-kata juri padaku membuatku sakit hati. Bukankah keberanian untuk ikut lomba berenang, merenangi kolam dengan kedalaman 3m seharusnya juga mendapat perhatian, bukan hanya kehebatan fisik dan tehnik yang dihargai.

Kali ini aku ingin ikut lomba membentuk tanah liat. Sudah kubuat beberapa bentuk yang masih belum sempurna, dari tanah liat yang kukumpulkan tiap hari. Ada asbak, kendi, vas, piring, bahkan patung. Rencananya, besok akan kukirimkan benda-benda itu ke panitia.

Dua jam yang lalu, Dedi membuang hasil karyaku begitu saja, membuat benda-benda itu hancur berkeping-keping. Ia boleh tak suka dengan hasil karyaku, ia boleh menganggap benda-benda itu jelek dan tidak berharga, tapi ada keringat menetes saat membuatnya, ada ratusan joule energi yang terkuras saat membentuknya, ada ribuan detik terlewai dan kini berliter-liter air mata tak akan bisa mengembalikannya.

Di kamar yang sempit tanpa kasur ini, aku dengan masih sesenggukan menatap cermin. Mataku sembab, wajahku merah, rambutku semrawut. Sekarang aku sedang terpenjara dalam sel tanpa jeruji, sel tanpa pintu, sel tanpa tembok. Aku sendiri, sayu, sepi dan sadar bahwa aku tak bisa apa-apa. Bahwa tak akan ada yang menolongku karena aku tak bisa apa-apa. Aku tak berguna.

Dedi anggap aku bodoh. Mami tentunya malu punya anak macam aku. Namaku Manusia, aku tidak kenal dengan orang-orang yang bernama Teman, Cinta, Sahabat, Musuh. Yang aku kenal, semuanya bernama Orang, yang akan jadi teman, cinta, sahabat atau musuh semau mereka.

Kupecahkan cermin di depanku, dengan pecahannya, kusayat tanganku dengan serangkaian huruf kapital BERSAMBUNG

*karena hidup tidak ada akhirnya

Tetralogi Cerpen The Shadow episode #1

TERLAMBAT

Ada segumpal tanah liat di depan pintu rumahku. Entah siapa yang menaruhnya di situ.Usut punya usut, bukan hanya aku yang dikirimi tanah liat. Beberapa orang temanku pun menemukan segumpal tanah liat di depan pintu rumah mereka. Satu dua orang hanya memandang tanah liat itu dan membiarkannya tetap di depan pintu, beberapa ada yang menyimpannya, ada pula yang tidak menghiraukannya, bahkan ada pula yang langsung mengguyurnya.
Tanah liat di depan pintu rumahku sangat menjijikkan. Warnanya yang merah kecoklatan membuatku mual-mual, bentuknya yang berupa gumpalan lembek membuatku bergidik tidak doyan makan. Akhirnya kubuang segumpal tanah liat itu.

Keesokan paginya, ketika kubuka pintu rumahku, ada segumpal tanah liat lagi di situ. Kutelpon beberapa temanku; sama, mereka pun menerima ‘bingkisan indah’ itu. Ada yang melakukan hal yang sama dengan kemarin, ada pula yang memberikan perlakuan yang berbeda pada segumpal tanah liat itu.

Satu minggu, tetap kudapatkan tanah liat menjijikkan di depan pintu rumahku – dan tentu saja tetap kubuang. Beberapa temanku mulai memelihara tanah anugrah itu. Sampai berbulan-bulan lamanya masih tetap ada kiriman tanah liat di depan pintu rumahku, hanya segumpal setiap harinya namun tetap sangat menjijikkan bagiku.

Setelah setahun, tidak ada lagi yang mengirimiku segumpal tanah liat di depan pintu rumahku. Aku tenang. Satu per satu temanku menelponku, menanyakan perihal segumpal tanah liat yang tak lagi menunggu di depan pintu rumah mereka. Beberapa kecewa. Beberapa biasa saja. Beberapa sedih. Beberapa bingung. Tapi semuanya memelihara. Ya, semuanya. Hanya aku yang tidak tertarik untuk menyentuh apalagi memelihara tanah liat itu.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Kukunjungi rumah salah seorang temanku. Ia punya banyak vas dan pot bunga cantik yang berisi tanaman-tanaman indah dan wangi. Kutanya, berapa uang yang ia keluarkan untuk membeli vas dan pot sebanyak itu. Ia terkekeh, tanpa biaya, katanya. Ia buat semua vas dan pot yang cantik itu dari tanah liat yang setiap hari datang segumpal di depan pintu rumahnya. Aku terperanjat.

Kukunjungi rumah temanku yang lain. Ia punya bermacam-macam guci dan gentong antic nan mewah di rumahnya. Ada yang berukir naga, ada pula yang berukir putri Cina. Ada yang polos sederhana berwarna menyala. Kutanya, berapa uang yang ia keluarkan untuk menghias rumahnya dengan guci dan gentong antik sebanyak itu. Ia menggeleng, katanya ia buat sendiri semua benda-benda itu dari tanah liat yang selalu menghampirinya segumpal demi segumpal setiap hari. Aku terkesiap.

Kukunjungi rumah temanku yang lain. Tidak ada vas dan pot, tidak ada guci dan gentong. Masih sama seperti dulu, ketika kami belum dikirimi tanah liat. Lima menit aku duduk mengobrol dengannya, anak perempuannya datang membawa nampan berisi cangkir-cangkir kecil dan poci cantik ditemani cawan-cawan manis nan indah. Kutujukan kekagumanku pada wadah-wadah makanan yang ia suguhkan. Ia tergelak, katanya ia punya banyak sekali di lemari penyimpanan. Ia menunjukkanku koleksinya yang sangat amat banyak dan menakjubkan. Ambil berapapun jika kau mau, katanya padaku. Aku kaget, sungguh? Tanyaku. Ia mengangguk, menawariku beberapa jenis poci, cangkir, bahkan kendi yang unik dan cantik. Kau tak sayang jika ini kuambil? Tanyaku memastikan. Ia terkekeh, Aku justru senangjika kau menyukai hasil karyaku. AKu membuatnya sendiri dari tanah liat yang selalu datang setiap hari di depan pintu rumahku. Deg! Kukembalikan lagi poci yang tadi kupegang. Aku tidak percaya.

Di rumah, kusadari kebodohanku. Kusesali keangkuhanku. Aku berdoa pada Tuhan untuk mengirimiku tanah liat lagi. Meski hanya segumpal, namun jika dikumpulkan setiap hari pasti hasilnya akan banyak juga. Dua tahun aku menunggu dan berdoa, kiriman tanah liat itu tak juga datang. Kucari sendiri tanah liat dimana-mana, namun sudah tidak ada. Lapangan sudah menjadi gedung, sawah sudah menjadi perumahan, tepi jalan sudah dipaving seluruhnya. Di perjalanan pulang, langit menurunkan hujan dengan lebatnya. Bukan hujan air, tapi hujan lumpur. Bersungut-sungut, kucari tempat berteduh. Tak juga reda. Sementara aku melontarkan sumpah serapah karena hujan lumpur telah mengotori pakaian dan tubuhku, orang-orang justru berbondong-bondong keluar dari rumahnya, membawa ember-ember besar dan menampung lumpur sebanyak mereka bias.

Kuangka bahu, kupikir orang-orang ini sudah gila. Seorang wanita bertubuh besar lewat di depanku, sayup-sayup berkata pada dirinya sendiri, Semoga panas segera datang agar aku bisa membuat patung peri cantik untuk pernikahan anakku.

Aku tersadar, kucari plastik, ember atau apapun yang bias kugunakan untuk menampung hujan lumpur yang tinggal setetes-setetes ini. Tak ada. Kutadahi dengan tangan, habis. Tak ada lumpur yang bisa kupegang, hanya ada bekas lumpur yang mengotori tanganku. Langit cerah, semua orang riang. Aku lemas, terduduk kaku menatap hingar-bingar orang-orang.

Terima kasih Tuhan, Kau selalu memberi apa yang kubutuhkan, meski bukan selalu hal yang kuminta. Akulah yang selalu terlambat untuk mengerti dan mensyukuri.

Kamis, 15 Maret 2012

Ditulis pada Malam Jumat

Suatu hari di suatu bulan, saya lupa tepatnya kapan. Saya tinggal di sebuah kota kecil di pesisir pantai utara pulau jawa, Jepara. Hari itu kami akan berkemah dalam rangka pelantikan suatu tingkaatan dalam Pramuka. Biasanya, kami hanya akan mendirikan tenda di lapangan sekolah selama satu atau dua malam, tapi kali ini lain. Kami didampingi alumni berkemah di sebuah hutan pinus yang terletak di Kecamatan Batealit. Saya lupa nama hutan itu apa. Kami berangkat di pagi hari menjelang siang. Awalnya tidak ada kejadian janggal apapun sampai setelah dzuhur ditemukanlah benda itu, awal dari sebuah pengalaman yang tidak ingin saya ulangi untuk kedua kali.

Bentuknya seperti sapu lidi tapi berukuran lebih kecil, kurang lebih seperti sikat pemoles pipi. Benda itu ditemukan oleh adik kelas saya yang tentu saja dengan hebohnya langsung memamerkan benda itu ke siapa saja, termasuk saya. Kontan kami memainkannya, menggilirnya untuk menjadi mainan yang mengasyikkan dan seru. Entah karena bosan atau dimulainya kegiatan, benda itu terlupakan begitu saja oleh kami.

Selepas maghrib, mulailah segala bentuk kejadian menakutkan yang baru pertama kali saya alami itu. Satu persatu teman saya melihat apa yang tidak bisa saya lihat, menuai reaksi yang sangat beragam namun tidak satupun menyenangkan. Ada yang berteriak histeris, ada yang pingsan, ada yang menangis ketakutan, satu persatu dari kami mulai tidak sadarkan diri. Saya sangat takut tentunya, saya diam sambil terus berdoa di dalam hati. Saya adalah orang yang buta, tuli dan bisu dalam masalah ghaib semacam itu. Saya tidak ingin dan benar-benar tidak ingin terlibat.

Seorang teman yang katanya memiliki 'balung kuning' menjadi perantara yang menghubungkan komunikasi kami dan mereka. Mereka bilang mereka tidak suka karena beberapa diantara kami bertutur tidak sopan dan bertingkah laku sembarangan. Mereka merasa kami telah mengganggu acara pesta yang seharusnya mereka adakan malam ini di tempat yang kami gunakan untuk berkemah. Memang kami tidak 'permisi' dulu pada mereka sejak awal karena beberapa alumni kami meyakini asal tujuan kami baik, siapapun akan dapat menerima kami dengan baik. Satu lagi, mereka mengungkapkan bahwa seorang anak kecil dari bangsa mereka kehilangan mainannya yaitu sapu lidi kecil seukuran pemulas pipi. Well, singkat cerita, kami harus menemukan sapu itu sebelum subuh jika ingin teman-teman kami (yang berjumlah sekitar 20 orang lebih, dari 40an peserta) sadar sepenuhnya dan kembali normal.

Dalam tengah malam yang gelap, kami yang masih sadar harus meraba-raba dan mencari sapu tersebt ke segala penjuru. Yang menyulitkan pencarian adalah sapu tersebut terbuat dari daun pinus dan kami berada di lautan daun pinus yang berguguran. Kami terus mencari dan mencari, akhirnya ditemukannya sapu kecil itu menjelang subuh. Mereka berterimakasih tapi menyuruh kami segera meninggalkan tempat itu begitu pagi tiba.

Rencana kami berkemah 4 hari 3 malam di hutan pinus itu luntur, kami berjalan kaki ke desa di dekat hutan lalu memutuskan untuk mendirikan tenda di halaman SD yang sedang libur. Pada waktu itu memang kami tidak diperbolehkan bercerita ke pihak sekolah atau orang tua mengenai apa yang terjadi di malam pertama perkemahan. Mengingat jumlah korban yang sangat banyak yaitu lebih dari separuh peserta, panitia khawatir ke depannya mereka tidak lagi dipercaya pihak sekolah untuk mengadakan perkemahan di luar. 

Beberapa teman saya yang sempat tidak sadarkan diri, hari itu sudah pulih dan mampu berjalan. Hanya saja, beberapa diantaranya masih diikuti 'seseorang'. Ada yang hanya merasa, ada yang benar-benar melihat. Bahkan teman saya yang awalnya buta, tuli dan bisu seperti saya, karena pada hari pertama ia menjadi 'korban', seterusnya ia bisa merasakan, bahkan melihat. Saya ngeri dengan itu.

Sampai tulisan ini saya buat, saya masih tidak menceritakan hal ini pada orang tua saya. Saya terlalu takut mengingat kejadian teman yang duduk di sebelah saya merasa punggungnya sangat panas padahal tangannya kedinginan, beberapa detik kemudian ia ambruk. Ada yang bilang ia 'kesenggol'. Teman saya yang lain melihat 'seseorang' duduk di atas pohon dengan rambut panjangnya yang menjuntai sampai tanah. Teman yang lain lagi mendengar tangisan dan jeritan anak kecil mencari mainannya.

Sungguh, saya bersyukur dengan menjadi buta, tuli dan bisu. Terimakasih Tuhan karena telah memberitahu saya dengan cara-Mu bahwa dunia itu memang benar adanya, tanpa melibatkan saya masuk ke dalamnya.

-The Real Story of Harizka-

Rabu, 14 Maret 2012

Durhaka

Namaku Alice (nama bajakan). Aku ingin membagi kisahku sama teman-teman. Semoga kisah ini membuka mata kalian tentang betapa Tuhan selalu punya rencana yang aneh meski menyakitkan.

Aku adalah korban broken home, ayah ibuku tidak harmonis. AKu tidak tinggal bersama mereka jadi aku tidak begitu tahu keadaan mereka sehari-hari seperti apa. Suatu hari, di semester akhir kuliahku (aku sedang menyusun skripsi), ibu menelponku dengan menangis meraung-raung dan ingin bunuh diri.



Tidak tahu harus berbuat apa, aku  hanya diam mendengarkan ceritanya. Usut punya usut, ayah berselingkuh dengan janda beranak empat. Karena sedang dimabuk cinta, ayah sering melontarkan kata-kata kasar pada ibu. Ibu stress dan melibatkanku.

Lama-lama aku tidak tahan, akhirnya kuputuskan untuk mengungkapkan apa yang membebaniku selama ini. Ayah marah besar padaku, Ibu menyesali perbuatannya. Aku hampir gila, berbulan-bulan aku tidak mau bertemu mereka, bahkan aku benar-benar putus hubungan dengan ayah.

Jujur aku ingin sekali punya keluarga yang baik-baik saja tapi inilah hidup, apa yang kita inginkan belum tentu apa yang kita dapatkan. Aku mau tak mau hanya bisa bersyukur atas apa yang kualami, biar dikata durhaka atau apapun namanya, Tuhan Maha Bijaksana, Dia Maha Tahu aku ini termasuk anak yang bagaimana. Aku stress dan aku tidak tahu harus berbuat apa.

Selasa, 13 Maret 2012

Cinta adalah Setia atau Selingkuh

Hoaaaahmm... Masih pagi begini ‘saya’ sudah diributkan perkara cinta. Saya adalah barang lembek yang bersarang di dalam tempurung fosfor dan kalsium, saya punya banyak cairan menjijikkan yang terkadang keluar dari lubang hidung tanpa bisa dikontrol. Well kembali tentang cinta. Mata saya menonton Dahsyat yang menghadirkan bintang tamu Opa Felix. Dia sudah tua, dia ikut audisi Indonesian Idol dan suaranya aduhai bohay. Dia mempersembahkan sebuah lagu klasik romantis untuk istrinya tercinta. Bahkan dengan terang-terangan ia mengungkapkan betapa ia sangat mencintai istrinya di depan kamera yang sedang live on air itu.

Saya memikirkan pengertiannya tentang cinta; full attention, care and forgiveness. Dengan sedikit jeda ia menambahkan forever. Mungkin kalau Adung dengar ini ia akan berkomentar ‘dasar, cah cinta!’ wkwkwk

I try to synchronize it with something happened in my life. Accidentally, yesterday I knew that someone I love felt uncomfort with my feeling (read: love). He wanted me to love him, yes just to love him not love him so much. =) I was confused how to decrease something flow automatically.  Perhaps there’s something wrong with me or him. I don’t even know. 

If love were really full attention, care and forgiveness forever, it should be easy to accept love without asking to do that nor this. I’m confused. Totally confused. I don’t know how to love someone. I don’t know how to feel something. I don’t know what to do.

A friend of mine was cheating, actually she had a fiancee. She said that cheating was just for fun and her fiancee was really her husband in the future. I knew something had happened to her before yet I didn’t agree how cheating must be revenged with cheating.

This is love, how love can influence everybody with extremely different reactions each other. I try not to think anymore, I try not to be confused anymore, just accept the feeling you all guys give to me. =)
Keep loving in our own ways.

Senin, 12 Maret 2012

Harap Maklum

Halo teman-teman, blog saya baru haha wagu sekali... kenapa bikin blog baru? tentu saja karena biar keren wkwk bohong ding. Honestly, saya lupa passwordnya blog saya yang pertama (www.harizka.blogspot.com) dan saya lupa email saya untuk blog saya yang kedua (www.sayaharizka.blogspot.com) jadilah saya membuat yang baru ini (www.harizkanugroho.blogspot.com)

meski culun dan sangat tidak bermartabat, saya harap ada manfaatnya apapun yang akan mengisi lembaran-lembaran blog saya ini. HIhihiii sekian dan terimakasih.