Minggu, 06 Mei 2012

The Point doesn't float, It's burried deep inside the soil

Awal Tahun Ajaran Baru 2004/2005.

“Dia masuk kelas ini?” batinku shock mendapati kenyataan bahwa aku akan sekelas dengan seorang anak yang memilki track record negatif selama di kelas X.

Namanya Berlian. Sebenarnya aku tak begitu mengenalnya. Sejauh ini aku hanya mendengarnya dari cerita “ini itu”. Aku tak sanggup membeberkan apa saja “ini itu” yang dimaksud. Satu hal yang sudah dapat dipastikan kebenarannya, ia pernah menjalani operasi tumor otak waktu di kelas X. Tak heran jika rambutnya sekarang dipotong cepak mirip laki-laki.

Aku meliriknya. Gadis putih bertubuh mungil itu tersenyum padaku. Ia memakai seragam yang sudah dimodif lebih pendek. Sekilas aku seperti melihat bekas luka di kepalanya, mungkin bekas operasinya dulu. Ia duduk sendirian terlihat seperti kebingungan. Aku membalas senyumnya.

“Cobaan apa lagi ini?” aku berkeluh kesah pada diriku sendiri.

Ini tahun keduaku di SMA, memulai “kehidupan baru” dengan memilih jurusan bahasa, sebuah jurusan yang oleh kebanyakan orang dijadikan “underdog”, diremehkan dan semacam itu. Aku tak pernah menyangka bakal terjerumus ke kelas bahasa. Di sisi lain, aku sama sekali gak berminat masuk jurusan IPS. Bukannya sombong, tapi sebenarnya nilaiku lebih dari cukup untuk masuk di kelas IPA. Namun karena tak memenuhi syarat yang kutetapkan untuk diriku sendiri, akhirnya dengan sangat terpaksa akan kucoba jalani dua tahun ke depan di kelas ini. Terdampar di sebuah kelas yang asing dengan orang-orang yang asing sama sekali!

Keadaan terasa begitu sepi, hanya ada 23 siswa di kelas bahasa. Kuulangi lagi, dua puluh tiga! Jumlah itu adalah separuh dari jumlah sebuah kelas normal di SMA ini. Ini artinya, tiap siswa bakal mendapat giliran yang sama rata seumpama ada guru yang memberi pertanyaan. Ditambah lagi, ada beberapa anak yang dianggap “bermasalah” masuk di kelas ini.

“Arrrrgggghhhh!!!!”

Menyesal? Agak sih, tapi sudah terlambat.

17 Agustus 2004

Setelah mengikuti upacara hari kemerdekaan RI di sekolah, aku bingung mau kemana. Rasanya masih malas untuk beranjak pulang ke rumah. Kelas sudah sepi. Hanya ada tiga orang di dalam. Berlian bersama dua temanku yang lain, Rahma dan Indah.

“Koq belum pulang?” tanyaku pada mereka sambil menghampiri.

“Mo ke swalayan sama Indah,” jawab Rahma, “Tapi jam segini kan belum buka.”

“Berlian juga?” tanyaku pada gadis itu.

“Aku gak ikut. Cuma nunggu jemputan.” kata Berlian sambil memasukkan handphone ke dalam tas.

“Oh, kalo aku si lagi males pulang.” sahutku tanpa ditanya.

Tanpa sengaja, kita berempat sudah duduk mengitari satu meja. Awalnya kita hanya membahas tentang PR-PR baru yang sudah menyerbu. Lama-lama kita sampai pada topik mengapa-masuk-jurusan-bahasa. Satu persatu bercerita. Indah beralasan kalo dia pengen banget belajar bahasa Prancis. Sedangkan Rahma beranggapan karena jurusan ini kelihatannya asik. Berlian bilang karena ia disarankan masuk sini. Tiba giliranku, kuceritakan tentang sikap anti-IPS ku dan diriku yang tak memenuhi syarat-masuk-IPA-sesuai-standarku. Anehnya, setelah bercerita seolah-olah ada sebuah beban yang terlepas dari kepalaku. Aku baru menyadari bahwa aku mulai merasa nyaman berada di kelas bahasa. Selama beberapa jam, kita saling bertukar pikiran, tertawa, dan bercanda. Hingga akhirnya terlontar sebuah pertanyaan pada teman-teman ngobrolku itu.

“Kejadian apa yang sangat membekas buat kalian?”

Mereka bertiga mencoba mengingat-ingat.

“Kalo aku..” aku tak meneruskan kalimatku. Mengurungkan niatku untuk bercerita.

“Apa hayo? Cerita…” Indah mendesak.

Aku diam sejenak. Peristiwa itu terputar kembali di dalam ingatan. Insiden tahun lalu yang mengubah hidupku dan keluargaku secara drastis. Adik laki-lakiku diculik pada November 2003 dan baru ditemukan 6 bulan setelahnya dalam keadaan meninggal. Ketiga temanku mendengarkan dengan serius. Sebenarnya aku tak mau mengingat kejadian itu lagi. Namun ada sebuah keinginan untuk bisa membagi. Aku bertutur sambil tetap tersenyum walau suaraku terdengar bergetar menahan tangis. Tiba-tiba aku merindukan adikku itu.

“Kalau kamu Ber?” todongku tiba-tiba pada Berlian.

Kemudian ia mulai bercerita. Ia bercerita tentang awal-awal ketika ia sering mengeluh pusing. Mamanya tahu namun tak mempedulikannya. Malah Berlian dianggap hanya mencari-cari alasan saja untuk bisa bersantai. Semakin hari ia sering pingsan dan dari situ diketahui bahwa ia mengidap tumor otak. Operasi telah dilakukan dan sekarang Berlian masih perlu menjalani berbagai macam perawatan. Dari apa yang diceritakannya, kusimpulkan bahwa ia merasa sangat kesepian. Di antara keluarganya, papanya lah yang sangat memperhatikan Berlian. Kurasa ia membutuhkan dukungan.

Kami mendengar ceritanya dengan seksama. Seketika itu aku merasa kasihan padanya. Aku malu pada diriku sendiri yang dulu sempat berpikiran macam-macam tentangnya. Berlian, maafin aku ya.

Juni 2005

Sudah hampir setahun aku menghabiskan waktu bersama teman-teman kelas bahasaku. Coba tebak? Jika awalnya aku sempat menyesal telah masuk ke jurusan ini. Sekarang aku justru bersyukur dengan pilihanku. Aku kini memiliki mereka, teman-teman dan guru-guru yang hebat. Kami memang sudah biasa dipandang sebelah mata, namun karena itulah kami saling menguatkan dan bersama-sama membuktikan bahwa kami mampu untuk bersaing dalam prestasi. Tak hanya itu, kelas kita juga terkenal kompak. Bahkan dengan senior sesama jurusan bahasa. Aku seperti menemukan keluarga baru di kelas ini.

Kabar Berlian? Ia kembali menjalani operasi di kelas XI. Setelahnya, ia mengenakan scraft untuk menutupi kepalanya. Ia juga memakai kacamata minus berwarna biru. Kini Berlian memiliki ciri khas. Dan kami jadi tahu bahwa ia fans berat tokoh kartun bernama “Pucca”, gadis sipit berbaju merah yang rambutnya dikuncir dua itu kalau tidak salah.

Berlian mulai bisa menyesuaikan diri dengan sekolah. Walaupun untuk membaca tulisan di papan tulis saja ia masih harus dibantu. Akan tetapi disitulah letak keindahannya. Bagi kami, Berlian bukanlah beban namun sebuah titipan yang harus kami jaga. Kami maklum ia sering tidak masuk karena sakit. Kami mencoba membantunya jika sedikit-sedikit ia bertanya tentang pelajaran yang bahkan bisa membuatnya sakit kepala karena tidak mengerti. Dan terkadang akhirnya menyerah. Berlian memang kami istimewakan. Kami Seakan-akan kami ingin mengatakan padanya, “Jangan bersedih dan menyerah. Kami akan selalu ada untukmu kawan.”

Aku teringat sesuatu. Pernah suatu sore, tertera nomornya memanggil di handphoneku. Ketika kuangkat, hanya tangisan yang kudengar. Aku panik.

“Berlian, kamu kenapa?”

Ia masih menangis. “Berlian, kenapa? Coba cerita. Tarik nafas dulu.” Ucapku mencoba menenangkan.

Berlian masih menangis sesenggukan. “Tugasnya..”, ia menjawab lirih.

“Apa Ber? Gak denger. Tenang dulu ya. Cerita pelan-pelan coba.” Aku berkata dengan lembut.

“Tugasnya-kemarin-ilang.” Ia menjawab lagi dengan terbata-bata.

Tugas? tanyaku dalam hati sambil mencerna maksudnya. Kemudian aku paham. Aku ingat kemarin lusa guru sejarah memberi tugas kelompok dan Berlian mendapat bagian untuk mengetiknya. Ternyata tugas yang dibawa Berlian hilang. Aku tersenyum lega kerena ternyata hanya itu penyebab ia sampai menangis histeris. Kukira ada sesuatu yang serius. Lalu aku mengatakan padanya untuk tenang, “Ntar biar aku ma temen-temen yang bikin aja. Udah Ber, gak usah dipikirin ya. Gak pa-pa koq.”

Begitulah Berlian. Kadang bisa sangat polos, kadang bisa sangat bijak. Ia juga bisa menjadi sangat frustasi karena hal kecil. Kadang-kadang ia bersikap sangat manja. Namun ada satu waktu terlihat raut aku-bisa-mengerjakan-semua-sendiri di wajahnya. Yang menarik darinya adalah tawanya yang khas. Dan ia selalu tersenyum pada siapapun.

Persiapan Menjelang UAN 2006

Hari demi hari berlalu, sebentar lagi kami hampir meninggalkan bangku sekolah menengah. Akhir-akhir ini mulai disibukkan dengan berbagai persiapan menjelang ujian nasional. Lagi-lagi Berlian masuk rumah sakit. Kembali ia harus menjalani operasi.

Beberapa minggu sudah ia dirawat dan belum bisa bergabung bersama kami di sekolah. Kami bergiliran menjenguknya. Terakhir aku melihatnya, ia masih ceria seperti biasa. Hingga aku mendengar kabar bahwa syaraf Berlian sudah tidak bisa berfungsi dengan baik, ia tak bisa bergerak bahkan untuk membuka mata.

Januari 2006

Suatu malam, aku menjenguknya bersama teman-teman. Kami bergiliran masuk dua orang ke kamarnya. Kuperhatikan teman-temanku selalu keluar kamar dengan menangis. Aku jadi semakin penasaran.
Kini giliranku dan temanku, Karina masuk. Kubuka tirai. Miris rasanya melihat Berlian yang biasanya tertawa sudah tidak berdaya. Berbagai macam selang dan alat-alat yang tak kuketahui namanya membelenggunya disana sini. Ia tak bergerak. Hanya diam terbaring di atas tempat tidur di ruang ICU. Karina sudah tak tega menatap gadis itu. Aku mendekati Berlian. Kugenggam tangannya yang terasa dingin.

Aku berbisik di telinganya, “Berlian, ini aku ma Karina. Cepet sembuh ya.. Jangan menyerah. Jangan putus asa. Kita semua sayang sama Berlian. Pokoknya kita berdoa terus ya, biar dikasi yang terbaik. Kita sayang Berlian, pokoknya jangan menyerah ya.”

Aku meliriknya sekilas, sebulir air mata mengalir di pipinya.

Aku terdiam sejenak, menghela nafas. Aku kehilangan kata untuk beberapa saat.

“Ber, kita pamit dulu ya. Besok-besok kita jenguk lagi, ok. Tetep berjuang ya.” bisikku lagi. Kemudian Karina dan aku keluar dari kamar sambil menangis juga.

9 Februari 2006


Hari itu hari Kamis, kalau tak salah ingat. Karena sudah kelas XII, kami diberi pelajaran tambahan yang dimulai jam 6 pagi. Dan seperti biasa aku datang terlambat ke sekolah. Tirai kelas sudah ditutup, aku berpikir “Wah, ini pasti kerjaan anak-anak buat ngerjain anak yang sering telat kayak aku. Biar dikiranya jam tambahan udah dimulai.” Dengan cengengesan aku membuka pintu dan masuk, meletakkan helm di meja depan kelas sambil terus senyum-senyum.

Sewaktu berbalik menghadap teman-teman yang sudah duduk di bangku kelas, aku kaget. Pemandangan kontras sekali dengan suasana hatiku yang girang karena ternyata kali ini aku tidak terlambat masuk. Aku mengedarkan pandangan ke isi kelas. Sebagian temanku menunduk ke meja, mereka hanya mendongak sekilas melihatku sambil menunjukkan ekspresi sedih. Aku hafal betul ekspresi semacam itu. Sebuah ekspresi kehilangan.

Aku mencoba memikirkan alasan penyebab mendung gelap di kelas pagi ini. Aku benci sekali menebaknya, dan semoga tebakanku meleset. Belum sempat aku bertanya, salahsatu temanku yang duduk paling depan mengucapkan satu kata kemudian tersedu-sedu, sebuah nama “Berlian”.

Rasanya hati ini tertusuk pisau yang tak terlihat. Tanpa mereka menjelaskan lebih detail, otakku bekerja lebih cepat mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Walaupun aku berharap itu tak nyata, rasa pahit itu kembali kurasakan. Rasa tidak percaya, rasa ingin menyangkal dan menghindari kenyataan, serta rasa takut. Takut akan kehilangan orang yang kusayangi. Aku mendekati teman-temanku. Menguatkan mereka dan diriku sendiri, mencoba mengingatkan bahwa semua ini adalah yang terbaik untuknya.

“Innalillahi wa innailaihi roji’un.….” sebuah pengumuman duka cita terdengar dari intercom dan disiarkan di seluruh sekolah. Suasana kelas begitu memilukan. Hari itu kami menangis bersama. Berlian, perhiasan kami telah Diambil oleh Sang Pemilik dan kami harus merelakannya.


8 Desember 2009

Aku menemukan senyumnya di sebuah album foto yang tanpa sengaja kubuka. Aku tak berhasil mengingat kapan persisnya gambar itu diambil. Sepertinya waktu masih di kelas XI sebab ia belum mengenakan scraft. Kucoba mengais memori tentangnya. Kususun dalam sebuah catatan. Ya, ini hanyalah sebuah catatan yang dibungkus dalam kisah dengan bahasa seadanya. Semuanya mengalir begitu saja. Entahlah, namun aku hanya ingin menulis tentangnya, agar ia selalu hidup dalam ingatan semua orang yang pernah mengenalnya.

Aku menggeledah isi kamar, mencari diaryku sewaktu SMA. Kalau tidak salah aku pernah menuliskan sebuah puisi pendek untuknya pada hari kepergiannya.

“Nah, ketemu!”

Our Shining Star

You’ll be our spirit,
Not to fulfill the sadness
Dear…
No words can describe you, friend
But we’ll always love you…


Kembali kupandangi potret dirinya yang sedang tersenyum sambil memegang tasnya. Aku pun membalas senyumnya.
__________________________________________________________


*Semarang
8 Desember 2009


*** Untuk seorang sahabat yang kami rindukan senyumnya. Ia yang secara tak langsung menyatukan kami dalam sebuah ikatan persahabatan. Ia yang memang seperti namanya, perhiasan bagi kami di kelas bahasa tercinta. Ia yang sering bersikap manja namun tersimpan jiwa yang sangat tegar dibaliknya. Kami akan selalu ada untukmu, kawan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar