Awal Tahun Ajaran Baru 2004/2005.
“Dia masuk kelas ini?”
batinku shock mendapati kenyataan bahwa aku akan sekelas dengan seorang
anak yang memilki track record negatif selama di kelas X.
Namanya
Berlian. Sebenarnya aku tak begitu mengenalnya. Sejauh ini aku hanya
mendengarnya dari cerita “ini itu”. Aku tak sanggup membeberkan apa saja
“ini itu” yang dimaksud. Satu hal yang sudah dapat dipastikan
kebenarannya, ia pernah menjalani operasi tumor otak waktu di kelas X.
Tak heran jika rambutnya sekarang dipotong cepak mirip laki-laki.
Aku
meliriknya. Gadis putih bertubuh mungil itu tersenyum padaku. Ia
memakai seragam yang sudah dimodif lebih pendek. Sekilas aku seperti
melihat bekas luka di kepalanya, mungkin bekas operasinya dulu. Ia duduk
sendirian terlihat seperti kebingungan. Aku membalas senyumnya.
“Cobaan apa lagi ini?” aku berkeluh kesah pada diriku sendiri.
Ini
tahun keduaku di SMA, memulai “kehidupan baru” dengan memilih jurusan
bahasa, sebuah jurusan yang oleh kebanyakan orang dijadikan “underdog”,
diremehkan dan semacam itu. Aku tak pernah menyangka bakal terjerumus ke
kelas bahasa. Di sisi lain, aku sama sekali gak berminat masuk jurusan
IPS. Bukannya sombong, tapi sebenarnya nilaiku lebih dari cukup untuk
masuk di kelas IPA. Namun karena tak memenuhi syarat yang kutetapkan
untuk diriku sendiri, akhirnya dengan sangat terpaksa akan kucoba jalani
dua tahun ke depan di kelas ini. Terdampar di sebuah kelas yang asing
dengan orang-orang yang asing sama sekali!
Keadaan terasa begitu
sepi, hanya ada 23 siswa di kelas bahasa. Kuulangi lagi, dua puluh tiga!
Jumlah itu adalah separuh dari jumlah sebuah kelas normal di SMA ini.
Ini artinya, tiap siswa bakal mendapat giliran yang sama rata seumpama
ada guru yang memberi pertanyaan. Ditambah lagi, ada beberapa anak yang
dianggap “bermasalah” masuk di kelas ini.
“Arrrrgggghhhh!!!!”
Menyesal? Agak sih, tapi sudah terlambat.
17 Agustus 2004
Setelah mengikuti upacara hari kemerdekaan RI di sekolah, aku bingung
mau kemana. Rasanya masih malas untuk beranjak pulang ke rumah. Kelas
sudah sepi. Hanya ada tiga orang di dalam. Berlian bersama dua temanku
yang lain, Rahma dan Indah.
“Koq belum pulang?” tanyaku pada mereka sambil menghampiri.
“Mo ke swalayan sama Indah,” jawab Rahma, “Tapi jam segini kan belum buka.”
“Berlian juga?” tanyaku pada gadis itu.
“Aku gak ikut. Cuma nunggu jemputan.” kata Berlian sambil memasukkan handphone ke dalam tas.
“Oh, kalo aku si lagi males pulang.” sahutku tanpa ditanya.
Tanpa
sengaja, kita berempat sudah duduk mengitari satu meja. Awalnya kita
hanya membahas tentang PR-PR baru yang sudah menyerbu. Lama-lama kita
sampai pada topik mengapa-masuk-jurusan-bahasa. Satu persatu bercerita.
Indah beralasan kalo dia pengen banget belajar bahasa Prancis. Sedangkan
Rahma beranggapan karena jurusan ini kelihatannya asik. Berlian bilang
karena ia disarankan masuk sini. Tiba giliranku, kuceritakan tentang
sikap anti-IPS ku dan diriku yang tak memenuhi
syarat-masuk-IPA-sesuai-standarku. Anehnya, setelah bercerita
seolah-olah ada sebuah beban yang terlepas dari kepalaku. Aku baru
menyadari bahwa aku mulai merasa nyaman berada di kelas bahasa. Selama
beberapa jam, kita saling bertukar pikiran, tertawa, dan bercanda.
Hingga akhirnya terlontar sebuah pertanyaan pada teman-teman ngobrolku
itu.
“Kejadian apa yang sangat membekas buat kalian?”
Mereka bertiga mencoba mengingat-ingat.
“Kalo aku..” aku tak meneruskan kalimatku. Mengurungkan niatku untuk bercerita.
“Apa hayo? Cerita…” Indah mendesak.
Aku
diam sejenak. Peristiwa itu terputar kembali di dalam ingatan. Insiden
tahun lalu yang mengubah hidupku dan keluargaku secara drastis. Adik
laki-lakiku diculik pada November 2003 dan baru ditemukan 6 bulan
setelahnya dalam keadaan meninggal. Ketiga temanku mendengarkan dengan
serius. Sebenarnya aku tak mau mengingat kejadian itu lagi. Namun ada
sebuah keinginan untuk bisa membagi. Aku bertutur sambil tetap tersenyum
walau suaraku terdengar bergetar menahan tangis. Tiba-tiba aku
merindukan adikku itu.
“Kalau kamu Ber?” todongku tiba-tiba pada Berlian.
Kemudian
ia mulai bercerita. Ia bercerita tentang awal-awal ketika ia sering
mengeluh pusing. Mamanya tahu namun tak mempedulikannya. Malah Berlian
dianggap hanya mencari-cari alasan saja untuk bisa bersantai. Semakin
hari ia sering pingsan dan dari situ diketahui bahwa ia mengidap tumor
otak. Operasi telah dilakukan dan sekarang Berlian masih perlu menjalani
berbagai macam perawatan. Dari apa yang diceritakannya, kusimpulkan
bahwa ia merasa sangat kesepian. Di antara keluarganya, papanya lah yang
sangat memperhatikan Berlian. Kurasa ia membutuhkan dukungan.
Kami
mendengar ceritanya dengan seksama. Seketika itu aku merasa kasihan
padanya. Aku malu pada diriku sendiri yang dulu sempat berpikiran
macam-macam tentangnya. Berlian, maafin aku ya.
Juni 2005
Sudah
hampir setahun aku menghabiskan waktu bersama teman-teman kelas
bahasaku. Coba tebak? Jika awalnya aku sempat menyesal telah masuk ke
jurusan ini. Sekarang aku justru bersyukur dengan pilihanku. Aku kini
memiliki mereka, teman-teman dan guru-guru yang hebat. Kami memang sudah
biasa dipandang sebelah mata, namun karena itulah kami saling
menguatkan dan bersama-sama membuktikan bahwa kami mampu untuk bersaing
dalam prestasi. Tak hanya itu, kelas kita juga terkenal kompak. Bahkan
dengan senior sesama jurusan bahasa. Aku seperti menemukan keluarga baru
di kelas ini.
Kabar Berlian? Ia kembali menjalani operasi di
kelas XI. Setelahnya, ia mengenakan scraft untuk menutupi kepalanya. Ia
juga memakai kacamata minus berwarna biru. Kini Berlian memiliki ciri
khas. Dan kami jadi tahu bahwa ia fans berat tokoh kartun bernama
“Pucca”, gadis sipit berbaju merah yang rambutnya dikuncir dua itu kalau
tidak salah.
Berlian mulai bisa menyesuaikan diri dengan
sekolah. Walaupun untuk membaca tulisan di papan tulis saja ia masih
harus dibantu. Akan tetapi disitulah letak keindahannya. Bagi kami,
Berlian bukanlah beban namun sebuah titipan yang harus kami jaga. Kami
maklum ia sering tidak masuk karena sakit. Kami mencoba membantunya jika
sedikit-sedikit ia bertanya tentang pelajaran yang bahkan bisa
membuatnya sakit kepala karena tidak mengerti. Dan terkadang akhirnya
menyerah. Berlian memang kami istimewakan. Kami Seakan-akan kami ingin
mengatakan padanya, “Jangan bersedih dan menyerah. Kami akan selalu ada
untukmu kawan.”
Aku teringat sesuatu. Pernah suatu sore, tertera
nomornya memanggil di handphoneku. Ketika kuangkat, hanya tangisan yang
kudengar. Aku panik.
“Berlian, kamu kenapa?”
Ia masih menangis. “Berlian, kenapa? Coba cerita. Tarik nafas dulu.” Ucapku mencoba menenangkan.
Berlian masih menangis sesenggukan. “Tugasnya..”, ia menjawab lirih.
“Apa Ber? Gak denger. Tenang dulu ya. Cerita pelan-pelan coba.” Aku berkata dengan lembut.
“Tugasnya-kemarin-ilang.” Ia menjawab lagi dengan terbata-bata.
Tugas?
tanyaku dalam hati sambil mencerna maksudnya. Kemudian aku paham. Aku
ingat kemarin lusa guru sejarah memberi tugas kelompok dan Berlian
mendapat bagian untuk mengetiknya. Ternyata tugas yang dibawa Berlian
hilang. Aku tersenyum lega kerena ternyata hanya itu penyebab ia sampai
menangis histeris. Kukira ada sesuatu yang serius. Lalu aku mengatakan
padanya untuk tenang, “Ntar biar aku ma temen-temen yang bikin aja. Udah
Ber, gak usah dipikirin ya. Gak pa-pa koq.”
Begitulah Berlian.
Kadang bisa sangat polos, kadang bisa sangat bijak. Ia juga bisa menjadi
sangat frustasi karena hal kecil. Kadang-kadang ia bersikap sangat
manja. Namun ada satu waktu terlihat raut
aku-bisa-mengerjakan-semua-sendiri di wajahnya. Yang menarik darinya
adalah tawanya yang khas. Dan ia selalu tersenyum pada siapapun.
Persiapan Menjelang UAN 2006
Hari
demi hari berlalu, sebentar lagi kami hampir meninggalkan bangku
sekolah menengah. Akhir-akhir ini mulai disibukkan dengan berbagai
persiapan menjelang ujian nasional. Lagi-lagi Berlian masuk rumah sakit.
Kembali ia harus menjalani operasi.
Beberapa minggu sudah ia
dirawat dan belum bisa bergabung bersama kami di sekolah. Kami
bergiliran menjenguknya. Terakhir aku melihatnya, ia masih ceria seperti
biasa. Hingga aku mendengar kabar bahwa syaraf Berlian sudah tidak bisa
berfungsi dengan baik, ia tak bisa bergerak bahkan untuk membuka mata.
Januari 2006
Suatu
malam, aku menjenguknya bersama teman-teman. Kami bergiliran masuk dua
orang ke kamarnya. Kuperhatikan teman-temanku selalu keluar kamar dengan
menangis. Aku jadi semakin penasaran.
Kini giliranku dan temanku,
Karina masuk. Kubuka tirai. Miris rasanya melihat Berlian yang biasanya
tertawa sudah tidak berdaya. Berbagai macam selang dan alat-alat yang
tak kuketahui namanya membelenggunya disana sini. Ia tak bergerak. Hanya
diam terbaring di atas tempat tidur di ruang ICU. Karina sudah tak tega
menatap gadis itu. Aku mendekati Berlian. Kugenggam tangannya yang
terasa dingin.
Aku berbisik di telinganya, “Berlian, ini aku ma
Karina. Cepet sembuh ya.. Jangan menyerah. Jangan putus asa. Kita semua
sayang sama Berlian. Pokoknya kita berdoa terus ya, biar dikasi yang
terbaik. Kita sayang Berlian, pokoknya jangan menyerah ya.”
Aku meliriknya sekilas, sebulir air mata mengalir di pipinya.
Aku terdiam sejenak, menghela nafas. Aku kehilangan kata untuk beberapa saat.
“Ber,
kita pamit dulu ya. Besok-besok kita jenguk lagi, ok. Tetep berjuang
ya.” bisikku lagi. Kemudian Karina dan aku keluar dari kamar sambil
menangis juga.
9 Februari 2006
Hari itu hari
Kamis, kalau tak salah ingat. Karena sudah kelas XII, kami diberi
pelajaran tambahan yang dimulai jam 6 pagi. Dan seperti biasa aku datang
terlambat ke sekolah. Tirai kelas sudah ditutup, aku berpikir “Wah, ini
pasti kerjaan anak-anak buat ngerjain anak yang sering telat kayak aku.
Biar dikiranya jam tambahan udah dimulai.” Dengan cengengesan aku
membuka pintu dan masuk, meletakkan helm di meja depan kelas sambil
terus senyum-senyum.
Sewaktu berbalik menghadap teman-teman
yang sudah duduk di bangku kelas, aku kaget. Pemandangan kontras sekali
dengan suasana hatiku yang girang karena ternyata kali ini aku tidak
terlambat masuk. Aku mengedarkan pandangan ke isi kelas. Sebagian
temanku menunduk ke meja, mereka hanya mendongak sekilas melihatku
sambil menunjukkan ekspresi sedih. Aku hafal betul ekspresi semacam itu.
Sebuah ekspresi kehilangan.
Aku mencoba memikirkan alasan
penyebab mendung gelap di kelas pagi ini. Aku benci sekali menebaknya,
dan semoga tebakanku meleset. Belum sempat aku bertanya, salahsatu
temanku yang duduk paling depan mengucapkan satu kata kemudian
tersedu-sedu, sebuah nama “Berlian”.
Rasanya hati ini tertusuk
pisau yang tak terlihat. Tanpa mereka menjelaskan lebih detail, otakku
bekerja lebih cepat mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Walaupun
aku berharap itu tak nyata, rasa pahit itu kembali kurasakan. Rasa tidak
percaya, rasa ingin menyangkal dan menghindari kenyataan, serta rasa
takut. Takut akan kehilangan orang yang kusayangi. Aku mendekati
teman-temanku. Menguatkan mereka dan diriku sendiri, mencoba
mengingatkan bahwa semua ini adalah yang terbaik untuknya.
“Innalillahi wa innailaihi roji’un.….” sebuah pengumuman duka cita
terdengar dari intercom dan disiarkan di seluruh sekolah. Suasana kelas
begitu memilukan. Hari itu kami menangis bersama. Berlian, perhiasan
kami telah Diambil oleh Sang Pemilik dan kami harus merelakannya.
8 Desember 2009
Aku menemukan senyumnya di sebuah album foto yang tanpa sengaja kubuka.
Aku tak berhasil mengingat kapan persisnya gambar itu diambil.
Sepertinya waktu masih di kelas XI sebab ia belum mengenakan scraft.
Kucoba mengais memori tentangnya. Kususun dalam sebuah catatan. Ya, ini
hanyalah sebuah catatan yang dibungkus dalam kisah dengan bahasa
seadanya. Semuanya mengalir begitu saja. Entahlah, namun aku hanya ingin
menulis tentangnya, agar ia selalu hidup dalam ingatan semua orang yang
pernah mengenalnya.
Aku menggeledah isi kamar, mencari diaryku
sewaktu SMA. Kalau tidak salah aku pernah menuliskan sebuah puisi pendek
untuknya pada hari kepergiannya.
“Nah, ketemu!”
Our Shining Star
You’ll be our spirit,
Not to fulfill the sadness
Dear…
No words can describe you, friend
But we’ll always love you…
Kembali kupandangi potret dirinya yang sedang tersenyum sambil memegang tasnya. Aku pun membalas senyumnya.
__________________________________________________________
*Semarang
8 Desember 2009
***
Untuk seorang sahabat yang kami rindukan senyumnya. Ia yang secara tak
langsung menyatukan kami dalam sebuah ikatan persahabatan. Ia yang
memang seperti namanya, perhiasan bagi kami di kelas bahasa tercinta. Ia
yang sering bersikap manja namun tersimpan jiwa yang sangat tegar
dibaliknya. Kami akan selalu ada untukmu, kawan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar