Sabtu, 05 Mei 2012

The Deepest

Prolog
Suara bising panci dan alat-alat dapur yang ditabuh beberapa anak di kampung untuk membangunkan orang sahur terdengar hingga kamar tempatku tidur yang terletak di lantai dua. Pasti adik laki-lakiku termasuk salah satu dari mereka, batinku. Mataku masih terpejam ingin kembali bermimpi lagi. Lalu kurasakan seperti ada tangan yang menggoyang-goyang bahuku.

“Mbak, sahuuurrr” ternyata adik laki-lakiku yang membangunkanku untuk makan sahur. Aku hanya bergumam tanpa membuka mata.

Tumben dia gak ikut “klotekan” keliling kampung, ujarku dalam hati lagi. Ia kemudian ngeloyor pergi dari kamar, kemungkinan besar ingin bergabung dengan rombongan berisik pembangun sahur tadi.

“Mbaaaak,”kembali kudengar ada yang memanggilku untuk turun.

“Iya iyaaaaa,” ucapku malas-malasan kemudian turun untuk santap sahur.

>>>>>

6 November 2003

Siang itu matahari begitu terik bertahta di atas kota Semarang. Seperti biasa, aku turun dari angkutan sepulang sekolah dan harus berjalan kurang lebih satu kilometer menuju rumah. 6 November 2003 ini adalah hari ke sekian di bulan Ramadhan, cuaca panas dan rasa mengantuk setelah mengikuti pelajaran membuatku ingin segera sampai di rumah. Kupercepat langkahku menuju rumah.

Saat sedang berjalan itu iba-tiba sebuah motor berhenti di sampingku. Aku menoleh. Ternyata itu bapak yang baru pulang dari membeli dagangan. Kemudian ia mematikan mesin motornya dan berkata dengan terbata-bata, namun aku tak dapat menangkap dengan jelas ucapannya . Semakin lama bapak berkata dengan diiringi tangis. Aku semakin bingung dan mencoba berpikir apa yang membuatnya demikian. Jantungku berdetak kencang karena firasatku mengatakan ada sesuatu yang buruk tengah terjadi. Mungkin ada kabar kerabatku yang kecelakaan, meninggal atau jangan-jangan… ah, aku menyalahkan diriku yang berpikiran macam-macam.

“Pak..” kupanggil ia sambil memegang lengannya yang mulai bergetar.

“Adikmu..”

“Adik? Ada apa pak?” Otakku mulai berpikir keras. Apa yang terjadi dengan adikku sampai bapak sangat shock? Adikku yang mana? Aku punya tiga orang adik, satu laki-laki dan dua perempuan. Ada apa ini?

“Adikmu dibawa orang,” kata bapak lagi dengan terisak. Aku mengernyitkan dahi, semakin tak paham.

“Jangan bilang ibumu. Adikmu, Ahmad,” lanjutnya lagi sambil terisak. Aku tambah bingung.

“Sampun, bapak sekarang pulang aja. Istirahat,” akhirnya aku memintanya pulang dan tak minta dibonceng karena tak tega melihat bawaan bapak yang sangat banyak.

Aku kembali berjalan tergesa-gesa dengan berbagai pikiran buruk berkecamuk di dalam kepala. Buntu. Aku tak bisa sama sekali menebak apa gerangan yang sedang terjadi.

***
Dari keterangan salah seorang saudaraku yang sudah ada di rumah, aku mendapati cerita bahwa ada seseorang yang menelepon ke rumah tadi. Si penelepon mengatakan bahwa ia menculik adikku dan meminta sejumlah uang untuk tebusan. Tak lupa pula, seperti yang ada di film-film, ia mengancam bapak yang saat itu menerima telepon untuk tidak lapor ke polisi. Aku terperangah mendengar cerita saudaraku itu. Bagaimana tidak? Keluargaku hanyalah keluarga sederhana yang menggantungkan hidupnya dari sebuah warung. Pun keluargaku tak bermusuhan dengan siapapun. Lalu, apa-apaan ini? Dalam hati aku tak percaya, mungkin kerjaan orang iseng.

Kenyataannya, adik laki-lakiku satu-satunya itu memang tak pulang hingga sore. Padahal, selama bulan Ramadhan ini kegiatan di Madrasah Tsanawiyahnya hanya mengaji. Sekolahnya memang jauh, terletak di perbatasan Semarang-Demak, setengah jam lebih dari rumahku yang relatif dekat dengan pusat kota Semarang. Namun tak biasanya ia pulang telat. Selepas dzuhur biasanya ia sudah ada di rumah. Bapak sudah melaporkan hal ini ke pihak berwajib tadi siang.

Ketakutan bercampur rasa kuatir mulai menyergap. Yang kutakutkan sekarang adalah bagaimana menyampaikan berita ini pada ibuku, mengingat ia anak laki-laki satu-satunya yang paling disayanginya.Ia juga adik kesayanganku. Aku mengambil air wudlu dan menunaikan sholat ashar. Airmataku menetes saat berdoa. Aku memohon padaNya untuk menguatkan ibuku melewati cobaan ini jika benar sesuatu terjadi pada adikku. . Tiba-tiba tangisku semakin deras. Ada perasaan yang tak dapat dijelaskan di dalam hati. Aku kembali meminta padaNya agar aku bisa tegar menghadapi semua ini.

Dari dalam kamar aku mendengar ibuku pulang. Aku mulai was-was saat saudaraku mulai bercerita pada ibuku. Kudengar jeritan kecil. Aku segera keluar. Namun ternyata reaksinya tak seperti yang kuperkirakan. Ia hanya menangis terisak-isak, tidak histeris. Mungkin sama sepertiku, sama sekali tak percaya atau tak mau percaya. Kuminta ibu menunaikan sholat ashar. Dari luar pintu kamar, dengan masih mengenakan mukena aku melihatnya yang sedang berdoa sambil menangis. Aku mendekatinya dan memeluknya.

“Adik gak apa-apa, Bu. Sabar. Berdoa semoga ia baik-baik .”
***

Malamnya selepas sholat tarawih, banyak warga yang mendatangi rumah setelah mendengar berita ini. Beberapa polisi berpakaian preman datang ke rumah dan meminta keterangan dari beberapa anggota keluargaku, termasuk aku. Polisi itu menanyakan banyak hal mulai dari kapan aku bertemu adikku, dengan siapa ia berteman, sampai apa yang belakangan terlihat mencurigakan.

Aku kenal betul adikku. Sebagai anak lelaki satu-satunya ia termasuk anak yang penurut. Ia memang agak cengeng dan gampang sakit-sakitan. Namun, sama sekali ia tak pernah melakukan hal-hal aneh dan buruk. Sebagaimana anak seusianya ia senang sekali bermain dengan teman-teman sebayanya di kampung ini, ia senang bermain tamiya yang saat itu sedang trend, atau bay blade. Walaupun anak laki-laki, ia anak yang rajin. Bahkan sering sekali ia dengan senang hati pergi ke pasar untuk membantu berbelanja. Ia anak yang baik, sangat baik malah. Jadi tak mungkin ada yang tega berbuat jahat padanya.

Sepanjang malam itu aku hanya merenung. Di sudut kamar yang terbuka aku melihat tetangga, saudara, keluarga yang lalu lalang. Beberapa mengitari telepon, menunggu si penculik menghubungi kami lagi mengingat telepon rumah sudah disadap. Namun yang ditunggu tak kunjung datang.

Mataku tak bisa terpejam memikirkan adik kesayanganku ini, dimana ia sekarang, dengan siapa ia, apa dia sudah tidur? Apa dia sudah makan? Aku melewatkan buka puasa dan sahurku begitu saja. Rumah semakin ramai didatangi banyak orang. Namun, pikiranku semakin kalut. Aku tak mau menangis. Aku tak boleh menangis. Aku hanya dapat meminta padaNya untuk Melindungi dimanapun adikku berada.

***
Hari demi hari berlalu. Tiga bulan sudah tak ada kabar lagi tentang adikku. Berbagai usaha sudah dilakukan oleh pihak kepolisian, keluarga, maupun teman-teman orang tuaku. Mulai dari menginterogasi orang-orang yang dicurigai hingga ke paranormal. Namun hasilnya nihil. Ia tetap tak ditemukan. Entah sedang apa dan dimana ia sekarang.

Walaupun sudah mulai tenang, secara tak langsung kejadian ini sangat berdampak terhadap finansial dan psikologis keluarga kami. Kami hanya bisa pasrah. Kami hanya ingin melihatnya kembali.

Aku teringat suatu hari ketika pulang sekolah. Kebetulan SMA ku satu arah dengan sekolahnnya berada. Secara tak sengaja ia naik angkutan yang sama yang kutumpangi menuju ke rumah. Aku kaget saat mendapati ia duduk di bangku paling pojok angkutan mengenakan seragam biru putihnya. Dengan tersenyum lebar ia terlihat senang sekali bisa pulang bersama, pun aku begitu.

Kini setiap pulang sekolah aku selalu melongok ke angkutan-angkutan yang lewat, berharap barangkali ia sudah menungguku disana sambil nyengir. Atau ketika sampai di rumah, aku membayangkan ia sudah ada di depan televisi sedang menonton acara kartun Jepang kesukaannya atau sedang makan siang. Tapi semua itu hanyalah ilusi.

Mulai saat itu setiap berpergian, baik di dalam atau di luar kota, aku selalu mengamati jalan yang ku lewati. Aku berpikir bahwa mungkin saja ia tersesat di suatu tempat dan tak bisa pulang. Atau bisa saja si penculik menyuruhnya jadi peminta-minta di jalan seperti yang ada di sinetron. Aku selalu memperhatikan setiap ada anak jalanan sebayanya yang tersebar di perempatan traffic light. Kemanapun aku pergi aku selalu terbayang sosoknya.

Jangan tanyakan pula apakah aku memimpikannya. Sangat sering. Pernah aku bermimpi ia tiba-tiba ada di sekolahku mengikuti sholat tarawih yang memang diadakan tiap hari di SMA ku selama bulan Ramadhan, pernah aku bermimpi ada yang memberitahuku bahwa ia sedang bersembunyi di genteng rumah hingga aku benar-benar penasaran ingin mengecek ke atas rumah. Pernah juga satu kali ketika aku tertidur dan bermimpi, namun rasanya itu bukan mimpi karena kehadirannya tampak sangat nyata, seolah-olah aku benar-benar melihatnya di depan mataku bahwa ia sedang tidur dengan tenang. Ada perasaan “agak” lega semenjak hari aku memimpikan hal itu.

***
Enam bulan sudah terlewat tanpa kejelasan nasib adikku. Polisi sudah mulai jarang datang ke rumah. Wartawan juga tak diizinkan meliput karena keluarga khawatir keselamatan adikku jika dimunculkan di media. Kami tak dapat mengandalkan siapa pun lagi selain Allah. Yang bisa kami lakukan hanyalah berdoa padaNya, hingga Dia pun Menjawab doa kami selama ini.

Suatu hari sepulang sekolah, pada bulan Mei 2004, saudaraku dari luar kota sudah ada di rumah. Kedatangan saudara atau kerabat secara tiba-tiba sudah biasa sejak peristiwa itu. Entah tujuan mereka ingin mengetahui perkembangan kasus ini atau mengabarkan kemungkinan keberadaan adikku dari “orang pintar” yang telah mereka datangi.

Setelah berbincang sejenak karena tak banyak orang di rumah siang itu, salah seorang saudaraku menunjukkan sebuah artikel di koran hari itu, yang bukanlah surat kabar langganan bapak. Dalam berita itu dikatakan bahwa telah ditemukan kerangka manusia dengan menyebutkan pakaian, tas, topi dan sebagainya oleh seorang pencari kayu di antara “alang-alang” di tepi sungai perbatasan Demak-Semarang. Aku langsung menangkap maksud saudaraku menyuruhku membaca berita itu.

“Ahmad ditemukan,” ucapnya singkat.

Aku paham. Namun entah perasaan apa yang ada di dalam benakku saat itu, rasa syukur, sedih, rasa untuk mengingkari kenyataan, serta apapun campur aduk menjadi satu. Aku ingin berteriak keras, “Bukan! Ini bukan adik! Ia masih hidup di suatu tempat dan mungkin sedang bermain!”

Namun, tak sepatah kata pun keluar dari mulutku. Aku bergetar ketakutan. Takut untuk sekali lagi kehilangan, terlebih kehilangan ia yang yang kusayangi, adikku.

***
Para pelayat sudah memenuhi rumah yang juga telah dipasangi tenda di depan. Kudengar pertanyaan dan cerita sama yang diulang-ulang tentang ditemukannya adikku. Bahwa ketika bapak berkunjung ke tempat salah seorang temannya hari itu, ia menunjukkan sebuah berita di koran pada bapak karena mencurigai kesamaan barang-barang yang dibawa adikku ketika hilang dan barang-barang yang ada di sekitar kerangka yang ditemukan. Setelah itu, bapak mendatangi rumah sakit tempat jenazah adik yang berupa kerangka dan melihat barang-barang yang dibawanya, ternyata bisa dipastikan bahwa itu benar-benar dia. Semua identitas di seragamnya telah diberedel sehingga tak ada yang bisa mengenali. Akan tetapi topi, sepatu sandal serta tasnya masih utuh, lengkap dengan isinya yang terdiri atas alat tulis dan kitab yang dibawanya berangkat mengaji di sekolah sehingga pihak keluarga yakin bahwa itu memang adik.

Polisi-polisi kembali berdatangan lagi meminta keterangan kronologis ditemukannya (jenasah) adikku itu. Tak ketinggalan para pencari berita. Aku tak mau tahu dengan semua itu. Hatiku sangat sakit. Sakit memikirkan siapa gerangan yang tega melakukan hal keji itu pada adikku. Aku sakit membayangkan bagaimana ia menghadapi sakaratul maut sendirian di sana? Aku benar-benar sakit hati hingga tak tega menonton atau membaca berita tentang kematian “tragis” adikku ini. Berhari-hari aku bermimpi buruk detik-detik kematiannya, sampai akhirnya aku jatuh sakit karena tak makan berhari-hari.

Aku bisa berpura-pura kuat saat di rumah dan menangis dalam diam. Lambat laun, berkat dorongan dan perhatian teman-temanku, aku berhenti menyiksa diri. Aku berpikir bahwa aku harus bangkit dari keterpurukan ini. Kemudian, bayang-bayang kejadian yang mengerikan itu pun perlahan-lahan menyingkir dari benakku meski si pelaku belum ditemukan hingga sekarang. Aku sadar, bahwa takdir berkata bahwa telah cukup adikku mengarungi perjalanan hidupnya sampai di sini. Aku harus rela.

Banyak sekali ibrah yang kudapat. Bahwa ada beberapa pertanyaan yang tak akan bisa dijawab serta ada beberapa hal yang tetap akan menjadi misteri dan hanya Dia Yang Mengetahuinya.

Allah Maha Adil. Aku yakin semua perbuatan akan kembali kepada pelakunya, hal baik akan berbuah kebaikan, sebaliknya pun hal buruk akan berbuah keburukan kepada si penanam. Kejadian itu menempaku menjadi seseorang yang lebih tegar. Saat duka menyapa kehidupan, percayalah bahwa kelak akan berganti dengan senyum bahagia jika kita berhasil melewatinya dengan sabar tanpa kenal putus asa.

Epilog
Hari ini ada tugas bahasa Inggris yang harus dikumpulkan. Namun ketika sudah setengah jalan, aku baru sadar bahwa tugasku ketinggalan di rumah. Terpaksa aku turun dari angkutan dan naik angkutan yang berbalik arah ke rumah. Waktuku tinggal beberapa menit lagi sebelum bel masuk sekolah. Aku mengomeli diriku sendiri yang suka berangkat mepet walaupun selama bulan puasa jam masuk dimundurkan menjadi jam 8.

Setelah sampai di rumah aku langsung menyambar tugasku yang tergeletak di meja ruang tamu. Aku melirik jam dinding, syukurlah masih ada waktu cukup untuk berangkat (lagi) ke sekolah. Adik laki-lakiku, Ahmad terlihat sedang sibuk membetulkan jam tangan di pergelangan tangannya di depan pintu rumah. Aku heran mengapa sudah jam segini tapi dia belum berangkat sekolah. Biasanya ia yang nomor satu. Kuperhatikan adikku yang masih berdiri di depan pintu rumah tanpa firasat apapun.

Siapa yang menyangka bahwa itulah saat terakhir melihat adikku, terakhir kali aku menyapanya, terakhir kali ia menjawab salamku, pagi itu terakhir kalinya ia membangunkanku sahur, terakhir kali aku melihat senyumnya dan mendengar tawanya. Setiap orang tak akan pernah tahu kapan perjalanannya di dunia usai. Pun kita tak pernah tahu kapan kita masih bersama dengan orang-orang yang kita cintai dan sayangi hingga penyesalan datang saat kelak kita tak dapat bersapa. Ketika tak ada kata yang sanggup kita ucapkan atau mereka katakan. Ia akan datang dengan cara dan waktu yang tak bisa diduga. Tak ada yang pernah tahu.

“Cepet berangkat. Ntar telat lho dek,” aku mengingatkannya.

“He eh”, jawabnya masih berkutat dengan jam tangannya. Sepintas kulihat raut bingung di wajahnya.

“Ya wis, aku berangkat dulu. Ati-ati ya. Assalamu’alaikum,” kataku berpamitan.

“Wa’alaikum salam”

Kemudian aku berlari agak tergesa-gesa karena harus mencegat angkot menuju sekolah. Hari itu 6 November 2003, hari kesekian bulan Ramadhan di tahun itu.

SELESAI


Panic Room
4 Juni 2010
*Tulisan ini berawal dari coretan di sebuah buku yang telah sobek disana-sini tertanggal 20 Februari 2004 ketika ia belum ditemukan

For my brother, you know we always love you. Ia yang jiwanya tak pernah mati di dalam hati, hanya dapat berharap suatu saat kita akan bertemu. Semoga.
Terima kasih untuk setiap doa dan nasehat dari semuanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar