Prolog
Suara bising panci dan alat-alat dapur
yang ditabuh beberapa anak di kampung untuk membangunkan orang sahur
terdengar hingga kamar tempatku tidur yang terletak di lantai dua.
Pasti adik laki-lakiku termasuk salah satu dari mereka, batinku. Mataku
masih terpejam ingin kembali bermimpi lagi. Lalu kurasakan seperti ada
tangan yang menggoyang-goyang bahuku.
“Mbak, sahuuurrr” ternyata adik laki-lakiku yang membangunkanku untuk makan sahur. Aku hanya bergumam tanpa membuka mata.
Tumben
dia gak ikut “klotekan” keliling kampung, ujarku dalam hati lagi. Ia
kemudian ngeloyor pergi dari kamar, kemungkinan besar ingin bergabung
dengan rombongan berisik pembangun sahur tadi.
“Mbaaaak,”kembali kudengar ada yang memanggilku untuk turun.
“Iya iyaaaaa,” ucapku malas-malasan kemudian turun untuk santap sahur.
>>>>>
6 November 2003
Siang
itu matahari begitu terik bertahta di atas kota Semarang. Seperti
biasa, aku turun dari angkutan sepulang sekolah dan harus berjalan
kurang lebih satu kilometer menuju rumah. 6 November 2003 ini adalah
hari ke sekian di bulan Ramadhan, cuaca panas dan rasa mengantuk setelah
mengikuti pelajaran membuatku ingin segera sampai di rumah. Kupercepat
langkahku menuju rumah.
Saat sedang berjalan itu iba-tiba
sebuah motor berhenti di sampingku. Aku menoleh. Ternyata itu bapak yang
baru pulang dari membeli dagangan. Kemudian ia mematikan mesin motornya
dan berkata dengan terbata-bata, namun aku tak dapat menangkap dengan
jelas ucapannya . Semakin lama bapak berkata dengan diiringi tangis.
Aku semakin bingung dan mencoba berpikir apa yang membuatnya demikian.
Jantungku berdetak kencang karena firasatku mengatakan ada sesuatu yang
buruk tengah terjadi. Mungkin ada kabar kerabatku yang kecelakaan,
meninggal atau jangan-jangan… ah, aku menyalahkan diriku yang berpikiran
macam-macam.
“Pak..” kupanggil ia sambil memegang lengannya yang mulai bergetar.
“Adikmu..”
“Adik?
Ada apa pak?” Otakku mulai berpikir keras. Apa yang terjadi dengan
adikku sampai bapak sangat shock? Adikku yang mana? Aku punya tiga orang
adik, satu laki-laki dan dua perempuan. Ada apa ini?
“Adikmu dibawa orang,” kata bapak lagi dengan terisak. Aku mengernyitkan dahi, semakin tak paham.
“Jangan bilang ibumu. Adikmu, Ahmad,” lanjutnya lagi sambil terisak. Aku tambah bingung.
“Sampun,
bapak sekarang pulang aja. Istirahat,” akhirnya aku memintanya pulang
dan tak minta dibonceng karena tak tega melihat bawaan bapak yang sangat
banyak.
Aku kembali berjalan tergesa-gesa dengan berbagai
pikiran buruk berkecamuk di dalam kepala. Buntu. Aku tak bisa sama
sekali menebak apa gerangan yang sedang terjadi.
***
Dari
keterangan salah seorang saudaraku yang sudah ada di rumah, aku
mendapati cerita bahwa ada seseorang yang menelepon ke rumah tadi. Si
penelepon mengatakan bahwa ia menculik adikku dan meminta sejumlah uang
untuk tebusan. Tak lupa pula, seperti yang ada di film-film, ia
mengancam bapak yang saat itu menerima telepon untuk tidak lapor ke
polisi. Aku terperangah mendengar cerita saudaraku itu. Bagaimana tidak?
Keluargaku hanyalah keluarga sederhana yang menggantungkan hidupnya
dari sebuah warung. Pun keluargaku tak bermusuhan dengan siapapun. Lalu,
apa-apaan ini? Dalam hati aku tak percaya, mungkin kerjaan orang iseng.
Kenyataannya,
adik laki-lakiku satu-satunya itu memang tak pulang hingga sore.
Padahal, selama bulan Ramadhan ini kegiatan di Madrasah Tsanawiyahnya
hanya mengaji. Sekolahnya memang jauh, terletak di perbatasan
Semarang-Demak, setengah jam lebih dari rumahku yang relatif dekat
dengan pusat kota Semarang. Namun tak biasanya ia pulang telat. Selepas
dzuhur biasanya ia sudah ada di rumah. Bapak sudah melaporkan hal ini ke
pihak berwajib tadi siang.
Ketakutan bercampur rasa
kuatir mulai menyergap. Yang kutakutkan sekarang adalah bagaimana
menyampaikan berita ini pada ibuku, mengingat ia anak laki-laki
satu-satunya yang paling disayanginya.Ia juga adik kesayanganku. Aku
mengambil air wudlu dan menunaikan sholat ashar. Airmataku menetes saat
berdoa. Aku memohon padaNya untuk menguatkan ibuku melewati cobaan ini
jika benar sesuatu terjadi pada adikku. . Tiba-tiba tangisku semakin
deras. Ada perasaan yang tak dapat dijelaskan di dalam hati. Aku kembali
meminta padaNya agar aku bisa tegar menghadapi semua ini.
Dari
dalam kamar aku mendengar ibuku pulang. Aku mulai was-was saat
saudaraku mulai bercerita pada ibuku. Kudengar jeritan kecil. Aku segera
keluar. Namun ternyata reaksinya tak seperti yang kuperkirakan. Ia
hanya menangis terisak-isak, tidak histeris. Mungkin sama sepertiku,
sama sekali tak percaya atau tak mau percaya. Kuminta ibu menunaikan
sholat ashar. Dari luar pintu kamar, dengan masih mengenakan mukena aku
melihatnya yang sedang berdoa sambil menangis. Aku mendekatinya dan
memeluknya.
“Adik gak apa-apa, Bu. Sabar. Berdoa semoga ia baik-baik .”
***
Malamnya
selepas sholat tarawih, banyak warga yang mendatangi rumah setelah
mendengar berita ini. Beberapa polisi berpakaian preman datang ke rumah
dan meminta keterangan dari beberapa anggota keluargaku, termasuk aku.
Polisi itu menanyakan banyak hal mulai dari kapan aku bertemu adikku,
dengan siapa ia berteman, sampai apa yang belakangan terlihat
mencurigakan.
Aku kenal betul adikku. Sebagai anak lelaki
satu-satunya ia termasuk anak yang penurut. Ia memang agak cengeng dan
gampang sakit-sakitan. Namun, sama sekali ia tak pernah melakukan
hal-hal aneh dan buruk. Sebagaimana anak seusianya ia senang sekali
bermain dengan teman-teman sebayanya di kampung ini, ia senang bermain
tamiya yang saat itu sedang trend, atau bay blade. Walaupun anak
laki-laki, ia anak yang rajin. Bahkan sering sekali ia dengan senang
hati pergi ke pasar untuk membantu berbelanja. Ia anak yang baik, sangat
baik malah. Jadi tak mungkin ada yang tega berbuat jahat padanya.
Sepanjang
malam itu aku hanya merenung. Di sudut kamar yang terbuka aku melihat
tetangga, saudara, keluarga yang lalu lalang. Beberapa mengitari
telepon, menunggu si penculik menghubungi kami lagi mengingat telepon
rumah sudah disadap. Namun yang ditunggu tak kunjung datang.
Mataku
tak bisa terpejam memikirkan adik kesayanganku ini, dimana ia sekarang,
dengan siapa ia, apa dia sudah tidur? Apa dia sudah makan? Aku
melewatkan buka puasa dan sahurku begitu saja. Rumah semakin ramai
didatangi banyak orang. Namun, pikiranku semakin kalut. Aku tak mau
menangis. Aku tak boleh menangis. Aku hanya dapat meminta padaNya untuk
Melindungi dimanapun adikku berada.
***
Hari demi
hari berlalu. Tiga bulan sudah tak ada kabar lagi tentang adikku.
Berbagai usaha sudah dilakukan oleh pihak kepolisian, keluarga, maupun
teman-teman orang tuaku. Mulai dari menginterogasi orang-orang yang
dicurigai hingga ke paranormal. Namun hasilnya nihil. Ia tetap tak
ditemukan. Entah sedang apa dan dimana ia sekarang.
Walaupun
sudah mulai tenang, secara tak langsung kejadian ini sangat berdampak
terhadap finansial dan psikologis keluarga kami. Kami hanya bisa pasrah.
Kami hanya ingin melihatnya kembali.
Aku teringat suatu
hari ketika pulang sekolah. Kebetulan SMA ku satu arah dengan
sekolahnnya berada. Secara tak sengaja ia naik angkutan yang sama yang
kutumpangi menuju ke rumah. Aku kaget saat mendapati ia duduk di bangku
paling pojok angkutan mengenakan seragam biru putihnya. Dengan tersenyum
lebar ia terlihat senang sekali bisa pulang bersama, pun aku begitu.
Kini
setiap pulang sekolah aku selalu melongok ke angkutan-angkutan yang
lewat, berharap barangkali ia sudah menungguku disana sambil nyengir.
Atau ketika sampai di rumah, aku membayangkan ia sudah ada di depan
televisi sedang menonton acara kartun Jepang kesukaannya atau sedang
makan siang. Tapi semua itu hanyalah ilusi.
Mulai saat itu
setiap berpergian, baik di dalam atau di luar kota, aku selalu
mengamati jalan yang ku lewati. Aku berpikir bahwa mungkin saja ia
tersesat di suatu tempat dan tak bisa pulang. Atau bisa saja si penculik
menyuruhnya jadi peminta-minta di jalan seperti yang ada di sinetron.
Aku selalu memperhatikan setiap ada anak jalanan sebayanya yang tersebar
di perempatan traffic light. Kemanapun aku pergi aku selalu terbayang
sosoknya.
Jangan tanyakan pula apakah aku memimpikannya.
Sangat sering. Pernah aku bermimpi ia tiba-tiba ada di sekolahku
mengikuti sholat tarawih yang memang diadakan tiap hari di SMA ku selama
bulan Ramadhan, pernah aku bermimpi ada yang memberitahuku bahwa ia
sedang bersembunyi di genteng rumah hingga aku benar-benar penasaran
ingin mengecek ke atas rumah. Pernah juga satu kali ketika aku tertidur
dan bermimpi, namun rasanya itu bukan mimpi karena kehadirannya tampak
sangat nyata, seolah-olah aku benar-benar melihatnya di depan mataku
bahwa ia sedang tidur dengan tenang. Ada perasaan “agak” lega semenjak
hari aku memimpikan hal itu.
***
Enam bulan sudah
terlewat tanpa kejelasan nasib adikku. Polisi sudah mulai jarang datang
ke rumah. Wartawan juga tak diizinkan meliput karena keluarga khawatir
keselamatan adikku jika dimunculkan di media. Kami tak dapat
mengandalkan siapa pun lagi selain Allah. Yang bisa kami lakukan
hanyalah berdoa padaNya, hingga Dia pun Menjawab doa kami selama ini.
Suatu
hari sepulang sekolah, pada bulan Mei 2004, saudaraku dari luar kota
sudah ada di rumah. Kedatangan saudara atau kerabat secara tiba-tiba
sudah biasa sejak peristiwa itu. Entah tujuan mereka ingin mengetahui
perkembangan kasus ini atau mengabarkan kemungkinan keberadaan adikku
dari “orang pintar” yang telah mereka datangi.
Setelah
berbincang sejenak karena tak banyak orang di rumah siang itu, salah
seorang saudaraku menunjukkan sebuah artikel di koran hari itu, yang
bukanlah surat kabar langganan bapak. Dalam berita itu dikatakan bahwa
telah ditemukan kerangka manusia dengan menyebutkan pakaian, tas, topi
dan sebagainya oleh seorang pencari kayu di antara “alang-alang” di tepi
sungai perbatasan Demak-Semarang. Aku langsung menangkap maksud
saudaraku menyuruhku membaca berita itu.
“Ahmad ditemukan,” ucapnya singkat.
Aku
paham. Namun entah perasaan apa yang ada di dalam benakku saat itu,
rasa syukur, sedih, rasa untuk mengingkari kenyataan, serta apapun
campur aduk menjadi satu. Aku ingin berteriak keras, “Bukan! Ini bukan
adik! Ia masih hidup di suatu tempat dan mungkin sedang bermain!”
Namun,
tak sepatah kata pun keluar dari mulutku. Aku bergetar ketakutan. Takut
untuk sekali lagi kehilangan, terlebih kehilangan ia yang yang
kusayangi, adikku.
***
Para pelayat sudah memenuhi
rumah yang juga telah dipasangi tenda di depan. Kudengar pertanyaan dan
cerita sama yang diulang-ulang tentang ditemukannya adikku. Bahwa ketika
bapak berkunjung ke tempat salah seorang temannya hari itu, ia
menunjukkan sebuah berita di koran pada bapak karena mencurigai kesamaan
barang-barang yang dibawa adikku ketika hilang dan barang-barang yang
ada di sekitar kerangka yang ditemukan. Setelah itu, bapak mendatangi
rumah sakit tempat jenazah adik yang berupa kerangka dan melihat
barang-barang yang dibawanya, ternyata bisa dipastikan bahwa itu
benar-benar dia. Semua identitas di seragamnya telah diberedel sehingga
tak ada yang bisa mengenali. Akan tetapi topi, sepatu sandal serta
tasnya masih utuh, lengkap dengan isinya yang terdiri atas alat tulis
dan kitab yang dibawanya berangkat mengaji di sekolah sehingga pihak
keluarga yakin bahwa itu memang adik.
Polisi-polisi
kembali berdatangan lagi meminta keterangan kronologis ditemukannya
(jenasah) adikku itu. Tak ketinggalan para pencari berita. Aku tak mau
tahu dengan semua itu. Hatiku sangat sakit. Sakit memikirkan siapa
gerangan yang tega melakukan hal keji itu pada adikku. Aku sakit
membayangkan bagaimana ia menghadapi sakaratul maut sendirian di sana?
Aku benar-benar sakit hati hingga tak tega menonton atau membaca berita
tentang kematian “tragis” adikku ini. Berhari-hari aku bermimpi buruk
detik-detik kematiannya, sampai akhirnya aku jatuh sakit karena tak
makan berhari-hari.
Aku bisa berpura-pura kuat saat di
rumah dan menangis dalam diam. Lambat laun, berkat dorongan dan
perhatian teman-temanku, aku berhenti menyiksa diri. Aku berpikir bahwa
aku harus bangkit dari keterpurukan ini. Kemudian, bayang-bayang
kejadian yang mengerikan itu pun perlahan-lahan menyingkir dari benakku
meski si pelaku belum ditemukan hingga sekarang. Aku sadar, bahwa takdir
berkata bahwa telah cukup adikku mengarungi perjalanan hidupnya sampai
di sini. Aku harus rela.
Banyak sekali ibrah yang kudapat.
Bahwa ada beberapa pertanyaan yang tak akan bisa dijawab serta ada
beberapa hal yang tetap akan menjadi misteri dan hanya Dia Yang
Mengetahuinya.
Allah Maha Adil. Aku yakin semua perbuatan
akan kembali kepada pelakunya, hal baik akan berbuah kebaikan,
sebaliknya pun hal buruk akan berbuah keburukan kepada si penanam.
Kejadian itu menempaku menjadi seseorang yang lebih tegar. Saat duka
menyapa kehidupan, percayalah bahwa kelak akan berganti dengan senyum
bahagia jika kita berhasil melewatinya dengan sabar tanpa kenal putus
asa.
Epilog
Hari ini ada tugas
bahasa Inggris yang harus dikumpulkan. Namun ketika sudah setengah
jalan, aku baru sadar bahwa tugasku ketinggalan di rumah. Terpaksa aku
turun dari angkutan dan naik angkutan yang berbalik arah ke rumah.
Waktuku tinggal beberapa menit lagi sebelum bel masuk sekolah. Aku
mengomeli diriku sendiri yang suka berangkat mepet walaupun selama bulan
puasa jam masuk dimundurkan menjadi jam 8.
Setelah sampai
di rumah aku langsung menyambar tugasku yang tergeletak di meja ruang
tamu. Aku melirik jam dinding, syukurlah masih ada waktu cukup untuk
berangkat (lagi) ke sekolah. Adik laki-lakiku, Ahmad terlihat sedang
sibuk membetulkan jam tangan di pergelangan tangannya di depan pintu
rumah. Aku heran mengapa sudah jam segini tapi dia belum berangkat
sekolah. Biasanya ia yang nomor satu. Kuperhatikan adikku yang masih
berdiri di depan pintu rumah tanpa firasat apapun.
Siapa
yang menyangka bahwa itulah saat terakhir melihat adikku, terakhir kali
aku menyapanya, terakhir kali ia menjawab salamku, pagi itu terakhir
kalinya ia membangunkanku sahur, terakhir kali aku melihat senyumnya dan
mendengar tawanya. Setiap orang tak akan pernah tahu kapan
perjalanannya di dunia usai. Pun kita tak pernah tahu kapan kita masih
bersama dengan orang-orang yang kita cintai dan sayangi hingga
penyesalan datang saat kelak kita tak dapat bersapa. Ketika tak ada kata
yang sanggup kita ucapkan atau mereka katakan. Ia akan datang dengan
cara dan waktu yang tak bisa diduga. Tak ada yang pernah tahu.
“Cepet berangkat. Ntar telat lho dek,” aku mengingatkannya.
“He eh”, jawabnya masih berkutat dengan jam tangannya. Sepintas kulihat raut bingung di wajahnya.
“Ya wis, aku berangkat dulu. Ati-ati ya. Assalamu’alaikum,” kataku berpamitan.
“Wa’alaikum salam”
Kemudian
aku berlari agak tergesa-gesa karena harus mencegat angkot menuju
sekolah. Hari itu 6 November 2003, hari kesekian bulan Ramadhan di tahun
itu.
SELESAI
Panic Room
4 Juni 2010
*Tulisan
ini berawal dari coretan di sebuah buku yang telah sobek disana-sini
tertanggal 20 Februari 2004 ketika ia belum ditemukan
For
my brother, you know we always love you. Ia yang jiwanya tak pernah
mati di dalam hati, hanya dapat berharap suatu saat kita akan bertemu.
Semoga.
Terima kasih untuk setiap doa dan nasehat dari semuanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar