Jumat, 05 Oktober 2012

Benar-Benar Curhat

Hari ini saya mengalami peledakan emosi yang mimpes dan lumayan membuat dada saya sakit. Saya merasa terhina, dianggapnya kami bekerja dengan semrawut tanpa dia pernah mau membuka matanya yang tidak buta untuk benar-benar mencermati apa yang kami sehari-hari hadapi.

Siapapun, tidak hanya saya, pastinya mendamba seorang presiden yang bijaksana, mengerti dan membumi. Bukan kepala yang minta tempat di atas namun berfikir dengan lutut yang bahkan lebih rendah daripada perut. Saya kecewa. Mungkin memang hidup saya penuh dengan kekecewaan karena ekspektasi untuk dihargai yang lumayan tinggi. Saya tidak minta harga mahal sebenarnya, saya cuma minta kualitas saya, kami, dihargai sesuai semestinya.

Kalau kamu mengeluarkan uang sejuta untuk membeli ponsel dengan spesifikasi kamera seadanya, sinyal sebisanya dan memori yang pas-pasan ya tidak apa-apa ketika memang harganya segitu. Tapi mana bisa kalau laptop canggih yang memorinya besar, kecepatannya oke dan bisa melakukan lebih dari yang ponsel lakukan tetap dihargai satu juta meski itu barang baru yang juga masih bagus.

Saya tidak suka ketika saya disamakan dengan orang yang hanya bisa jualan. Saya juga jualan, tapi beda barang. Saya juga bodoh, tapi minimal masih mau belajar. Dan demi seluruh paha mulus di dunia ini, sesungguhnya kepala itu tidak seharusnya menggunakan lutut sebagai alat untuk berfikir.