Minggu, 06 Mei 2012

Sementara Ini Dulu ya Pasukan!

Terkadang kita mengalami mimpi yang terasa sangat nyata, namun tepat ketika kita bangun kita justru lupa mimpi apa yang baru saja kita alami. Saya merasakan hal yang sama pagi ini. Tepat ketika bangun, saya lupa saya mimpi apa, lalu seperti halnya ibu-ibu rumah tangga yang lain, saya bantu mertua saya masak untuk sarapan. Disitulah saya ingat akan mimpi saya semalam.

Saya seperti benar-benar kembali ke tempat itu, sepetak lahan dengan segala keterbatasannya yang luar biasa yang justru mampu menyedot saya ke suatu kotak yang saya namai hidup. Saya merasa sangat hidup di tempat itu. Saya tidak perlu menjadi orang lain untuk tetap dihargai dan berbaur di sana.

On the top steep cliff  yang terletak pas di belokan jalan, terhampar sebidang tanah yang luas setelah kita memanjat jalan batu di tebing yang tinggi itu. Disana berdiri bangunan permanen yang dua lokalnya sudah setengah ambruk. SDI Wae Paku. Saya menemukan cinta saya di sana. Saya sayang tempat itu, orang-orang disana dan suasananya. Baru sekali seumur hidup saya repot-repot menengadahkan kepala saya untuk melakukan satu hal yang saya sangat tidak suka: MELIHAT BINTANG. Di tempat itu, saya tidak melihat bintang, saya menikmatinya malah.

Di tempat itu saya berbaur dengan Pasukan, mereka anak-anak kelas 6. Mereka tidur dengan Pak Fian, bertigapuluh sekian dalam satu ruang, mereka menimba air, mengisi termos, mencuci piring, membersihkan kamar dan bercanda-canda.

Saya suka mendengarkan mereka menyanyi. Lagu mereka adalah lagu-lagu yang kita tahu tapi cara mereka menyanyi benar-benar membuat lagu itu tampak baru. Sapaan 'selamat pagi Pak' khas mereka selalu mengembangkan senyum saya. Notasi Garuda Pancasila selalu berakhiran 0 di tiap barisnya, hasil gubahan mereka tentu. Sebuah lagu khas SDI Wae Paku yang saya tidak hafal berlirik awal di tengah-tengah kota Jakarta, hampir setiap pagi dinyanyikan dengan penuh semangat. Mereka berseloroh sambil tiduran setiap siang, terkadang disisipi lagu satu-satu aku sayang pacar.

Pasukan telah menawan hati saya. Perjalanan via darat, laut dan udara yang saya lakukan tidaklah sebanding dengan apa yang saya dapatkan di sana. Ketika saya pulang, beberapa dari mereka mengantarkan saya ke pinggir jalan, Lexi yang membawakan kopor 9kg saya menuruni tebing berjalan batu terjal itu. Di sana, mereka tak henti berbisik dan memandangi saya, Pak Fian dan Pak Fit, tiga orang Jawa yang berbincang-bincang dengan bahasa yang asing untuk mereka.

Kala saya hampir bergerak meninggalkan mereka, Rensi, anak paling pintar seangkatan itu berkata dengan jelas, "Ibu jangan lupakan kami ya!"
Sepanjang jalan saya terngiang-ngiang kalimat itu, Saya ingin kembali. Menonton persekolahan tanpa sepatu, memasak pagi dengan makanan superenak; telur dan daun singkong. Menanti sore dengan makan timun di bawah pohon atau tiduran sambil menguping lagu-lagu khas Pasukan, Malam hari kami mencari cahaya, ke rumah Papa Wulang yang punya lampu tenaga surya atau ke rumah Ibu Ani menonton TV jika generator bisa menyala.

Pasukan itu hidup memeriahkan sebidang tanah di atas tebing, Lexi satu-satunya yang bisa menyalakan generator; hal yang sebegitu sulit dilakukan oleh guru-gurunya. Sipri adalah si pemimpin pasukan yang bertanggung jawab dan dewasa. Bajang suka melucu, rajin dan cerewet. Kardus, anaknya Pak Sales Latung (dalam bahasa Manggarai latung berarti jagung) yang kakeknya pun bernama Latung, termasuk anak yang malas namun jika dihitung tingkat kemalasannya pasti dia 98% jauh lebih rajin daripada anak-anak sekolah di sekitar saya. Rensi dan Elis yang tinggal di rumah Papa Wulang, malu-malu menjawab tebakan, lucu sekali. Foni dan seorang temannya yang membantu saya napeni beras, terimakasih ya hehehe...

Hari ini kalian berjuang, Pasukan. Saya sedang membayangkan wajah-wajah kalian yang pastinya jadi jauh lebih cantik dan ganteng dengan sepatu yang kinclong, kaos kaki, baju rapi dimasukkan ke bawahan yang diikatpinggangi. Selamat berjuang ya Pasukan! Semoga kalian bisa masuk SMP yang kalian inginkan, semoga kalian bisa membangun tanah kelahiran kalian nantinya, semoga kalian menjadi orang-orang jujur yang akan memajukan negeri kita. Jangan lupakan saya, Pasukan! Saya memang istrinya pak guru kalian, tapi saya murid kalian. Seorang murid tidak akan melupakan gurunya, percayalah! Tuhan punya rencana, Pasukan. Saya akan terus berusaha untuk kembali ke sana, melihat pasukan-pasukan generasi berikutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar