Terkadang kita mengalami mimpi yang terasa sangat nyata, namun tepat ketika kita bangun kita justru lupa mimpi apa yang baru saja kita alami. Saya merasakan hal yang sama pagi ini. Tepat ketika bangun, saya lupa saya mimpi apa, lalu seperti halnya ibu-ibu rumah tangga yang lain, saya bantu mertua saya masak untuk sarapan. Disitulah saya ingat akan mimpi saya semalam.
Saya seperti benar-benar kembali ke tempat itu, sepetak lahan dengan segala keterbatasannya yang luar biasa yang justru mampu menyedot saya ke suatu kotak yang saya namai hidup. Saya merasa sangat hidup di tempat itu. Saya tidak perlu menjadi orang lain untuk tetap dihargai dan berbaur di sana.
On the top steep cliff yang terletak pas di belokan jalan, terhampar sebidang tanah yang luas setelah kita memanjat jalan batu di tebing yang tinggi itu. Disana berdiri bangunan permanen yang dua lokalnya sudah setengah ambruk. SDI Wae Paku. Saya menemukan cinta saya di sana. Saya sayang tempat itu, orang-orang disana dan suasananya. Baru sekali seumur hidup saya repot-repot menengadahkan kepala saya untuk melakukan satu hal yang saya sangat tidak suka: MELIHAT BINTANG. Di tempat itu, saya tidak melihat bintang, saya menikmatinya malah.
Di tempat itu saya berbaur dengan Pasukan, mereka anak-anak kelas 6. Mereka tidur dengan Pak Fian, bertigapuluh sekian dalam satu ruang, mereka menimba air, mengisi termos, mencuci piring, membersihkan kamar dan bercanda-canda.
Saya suka mendengarkan mereka menyanyi. Lagu mereka adalah lagu-lagu yang kita tahu tapi cara mereka menyanyi benar-benar membuat lagu itu tampak baru. Sapaan 'selamat pagi Pak' khas mereka selalu mengembangkan senyum saya. Notasi Garuda Pancasila selalu berakhiran 0 di tiap barisnya, hasil gubahan mereka tentu. Sebuah lagu khas SDI Wae Paku yang saya tidak hafal berlirik awal di tengah-tengah kota Jakarta, hampir setiap pagi dinyanyikan dengan penuh semangat. Mereka berseloroh sambil tiduran setiap siang, terkadang disisipi lagu satu-satu aku sayang pacar.
Pasukan telah menawan hati saya. Perjalanan via darat, laut dan udara yang saya lakukan tidaklah sebanding dengan apa yang saya dapatkan di sana. Ketika saya pulang, beberapa dari mereka mengantarkan saya ke pinggir jalan, Lexi yang membawakan kopor 9kg saya menuruni tebing berjalan batu terjal itu. Di sana, mereka tak henti berbisik dan memandangi saya, Pak Fian dan Pak Fit, tiga orang Jawa yang berbincang-bincang dengan bahasa yang asing untuk mereka.
Kala saya hampir bergerak meninggalkan mereka, Rensi, anak paling pintar seangkatan itu berkata dengan jelas, "Ibu jangan lupakan kami ya!"
Sepanjang jalan saya terngiang-ngiang kalimat itu, Saya ingin kembali. Menonton persekolahan tanpa sepatu, memasak pagi dengan makanan superenak; telur dan daun singkong. Menanti sore dengan makan timun di bawah pohon atau tiduran sambil menguping lagu-lagu khas Pasukan, Malam hari kami mencari cahaya, ke rumah Papa Wulang yang punya lampu tenaga surya atau ke rumah Ibu Ani menonton TV jika generator bisa menyala.
Pasukan itu hidup memeriahkan sebidang tanah di atas tebing, Lexi satu-satunya yang bisa menyalakan generator; hal yang sebegitu sulit dilakukan oleh guru-gurunya. Sipri adalah si pemimpin pasukan yang bertanggung jawab dan dewasa. Bajang suka melucu, rajin dan cerewet. Kardus, anaknya Pak Sales Latung (dalam bahasa Manggarai latung berarti jagung) yang kakeknya pun bernama Latung, termasuk anak yang malas namun jika dihitung tingkat kemalasannya pasti dia 98% jauh lebih rajin daripada anak-anak sekolah di sekitar saya. Rensi dan Elis yang tinggal di rumah Papa Wulang, malu-malu menjawab tebakan, lucu sekali. Foni dan seorang temannya yang membantu saya napeni beras, terimakasih ya hehehe...
Hari ini kalian berjuang, Pasukan. Saya sedang membayangkan wajah-wajah kalian yang pastinya jadi jauh lebih cantik dan ganteng dengan sepatu yang kinclong, kaos kaki, baju rapi dimasukkan ke bawahan yang diikatpinggangi. Selamat berjuang ya Pasukan! Semoga kalian bisa masuk SMP yang kalian inginkan, semoga kalian bisa membangun tanah kelahiran kalian nantinya, semoga kalian menjadi orang-orang jujur yang akan memajukan negeri kita. Jangan lupakan saya, Pasukan! Saya memang istrinya pak guru kalian, tapi saya murid kalian. Seorang murid tidak akan melupakan gurunya, percayalah! Tuhan punya rencana, Pasukan. Saya akan terus berusaha untuk kembali ke sana, melihat pasukan-pasukan generasi berikutnya.
Terkadang cerita sangat bermakna namun tabu untuk diceritakan. Mari berbagi cerita di harizkanugroho@yahoo.com Cerita yang masuk akan saya publikasi disini tanpa menunjukkan identitas penulis. Semoga bermanfaat.
Minggu, 06 Mei 2012
The Point doesn't float, It's burried deep inside the soil
Awal Tahun Ajaran Baru 2004/2005.
“Dia masuk kelas ini?” batinku shock mendapati kenyataan bahwa aku akan sekelas dengan seorang anak yang memilki track record negatif selama di kelas X.
Namanya Berlian. Sebenarnya aku tak begitu mengenalnya. Sejauh ini aku hanya mendengarnya dari cerita “ini itu”. Aku tak sanggup membeberkan apa saja “ini itu” yang dimaksud. Satu hal yang sudah dapat dipastikan kebenarannya, ia pernah menjalani operasi tumor otak waktu di kelas X. Tak heran jika rambutnya sekarang dipotong cepak mirip laki-laki.
Aku meliriknya. Gadis putih bertubuh mungil itu tersenyum padaku. Ia memakai seragam yang sudah dimodif lebih pendek. Sekilas aku seperti melihat bekas luka di kepalanya, mungkin bekas operasinya dulu. Ia duduk sendirian terlihat seperti kebingungan. Aku membalas senyumnya.
“Cobaan apa lagi ini?” aku berkeluh kesah pada diriku sendiri.
Ini tahun keduaku di SMA, memulai “kehidupan baru” dengan memilih jurusan bahasa, sebuah jurusan yang oleh kebanyakan orang dijadikan “underdog”, diremehkan dan semacam itu. Aku tak pernah menyangka bakal terjerumus ke kelas bahasa. Di sisi lain, aku sama sekali gak berminat masuk jurusan IPS. Bukannya sombong, tapi sebenarnya nilaiku lebih dari cukup untuk masuk di kelas IPA. Namun karena tak memenuhi syarat yang kutetapkan untuk diriku sendiri, akhirnya dengan sangat terpaksa akan kucoba jalani dua tahun ke depan di kelas ini. Terdampar di sebuah kelas yang asing dengan orang-orang yang asing sama sekali!
Keadaan terasa begitu sepi, hanya ada 23 siswa di kelas bahasa. Kuulangi lagi, dua puluh tiga! Jumlah itu adalah separuh dari jumlah sebuah kelas normal di SMA ini. Ini artinya, tiap siswa bakal mendapat giliran yang sama rata seumpama ada guru yang memberi pertanyaan. Ditambah lagi, ada beberapa anak yang dianggap “bermasalah” masuk di kelas ini.
“Arrrrgggghhhh!!!!”
Menyesal? Agak sih, tapi sudah terlambat.
17 Agustus 2004
Setelah mengikuti upacara hari kemerdekaan RI di sekolah, aku bingung mau kemana. Rasanya masih malas untuk beranjak pulang ke rumah. Kelas sudah sepi. Hanya ada tiga orang di dalam. Berlian bersama dua temanku yang lain, Rahma dan Indah.
“Koq belum pulang?” tanyaku pada mereka sambil menghampiri.
“Mo ke swalayan sama Indah,” jawab Rahma, “Tapi jam segini kan belum buka.”
“Berlian juga?” tanyaku pada gadis itu.
“Aku gak ikut. Cuma nunggu jemputan.” kata Berlian sambil memasukkan handphone ke dalam tas.
“Oh, kalo aku si lagi males pulang.” sahutku tanpa ditanya.
Tanpa sengaja, kita berempat sudah duduk mengitari satu meja. Awalnya kita hanya membahas tentang PR-PR baru yang sudah menyerbu. Lama-lama kita sampai pada topik mengapa-masuk-jurusan-bahasa. Satu persatu bercerita. Indah beralasan kalo dia pengen banget belajar bahasa Prancis. Sedangkan Rahma beranggapan karena jurusan ini kelihatannya asik. Berlian bilang karena ia disarankan masuk sini. Tiba giliranku, kuceritakan tentang sikap anti-IPS ku dan diriku yang tak memenuhi syarat-masuk-IPA-sesuai-standarku. Anehnya, setelah bercerita seolah-olah ada sebuah beban yang terlepas dari kepalaku. Aku baru menyadari bahwa aku mulai merasa nyaman berada di kelas bahasa. Selama beberapa jam, kita saling bertukar pikiran, tertawa, dan bercanda. Hingga akhirnya terlontar sebuah pertanyaan pada teman-teman ngobrolku itu.
“Kejadian apa yang sangat membekas buat kalian?”
Mereka bertiga mencoba mengingat-ingat.
“Kalo aku..” aku tak meneruskan kalimatku. Mengurungkan niatku untuk bercerita.
“Apa hayo? Cerita…” Indah mendesak.
Aku diam sejenak. Peristiwa itu terputar kembali di dalam ingatan. Insiden tahun lalu yang mengubah hidupku dan keluargaku secara drastis. Adik laki-lakiku diculik pada November 2003 dan baru ditemukan 6 bulan setelahnya dalam keadaan meninggal. Ketiga temanku mendengarkan dengan serius. Sebenarnya aku tak mau mengingat kejadian itu lagi. Namun ada sebuah keinginan untuk bisa membagi. Aku bertutur sambil tetap tersenyum walau suaraku terdengar bergetar menahan tangis. Tiba-tiba aku merindukan adikku itu.
“Kalau kamu Ber?” todongku tiba-tiba pada Berlian.
Kemudian ia mulai bercerita. Ia bercerita tentang awal-awal ketika ia sering mengeluh pusing. Mamanya tahu namun tak mempedulikannya. Malah Berlian dianggap hanya mencari-cari alasan saja untuk bisa bersantai. Semakin hari ia sering pingsan dan dari situ diketahui bahwa ia mengidap tumor otak. Operasi telah dilakukan dan sekarang Berlian masih perlu menjalani berbagai macam perawatan. Dari apa yang diceritakannya, kusimpulkan bahwa ia merasa sangat kesepian. Di antara keluarganya, papanya lah yang sangat memperhatikan Berlian. Kurasa ia membutuhkan dukungan.
Kami mendengar ceritanya dengan seksama. Seketika itu aku merasa kasihan padanya. Aku malu pada diriku sendiri yang dulu sempat berpikiran macam-macam tentangnya. Berlian, maafin aku ya.
Juni 2005
Sudah hampir setahun aku menghabiskan waktu bersama teman-teman kelas bahasaku. Coba tebak? Jika awalnya aku sempat menyesal telah masuk ke jurusan ini. Sekarang aku justru bersyukur dengan pilihanku. Aku kini memiliki mereka, teman-teman dan guru-guru yang hebat. Kami memang sudah biasa dipandang sebelah mata, namun karena itulah kami saling menguatkan dan bersama-sama membuktikan bahwa kami mampu untuk bersaing dalam prestasi. Tak hanya itu, kelas kita juga terkenal kompak. Bahkan dengan senior sesama jurusan bahasa. Aku seperti menemukan keluarga baru di kelas ini.
Kabar Berlian? Ia kembali menjalani operasi di kelas XI. Setelahnya, ia mengenakan scraft untuk menutupi kepalanya. Ia juga memakai kacamata minus berwarna biru. Kini Berlian memiliki ciri khas. Dan kami jadi tahu bahwa ia fans berat tokoh kartun bernama “Pucca”, gadis sipit berbaju merah yang rambutnya dikuncir dua itu kalau tidak salah.
Berlian mulai bisa menyesuaikan diri dengan sekolah. Walaupun untuk membaca tulisan di papan tulis saja ia masih harus dibantu. Akan tetapi disitulah letak keindahannya. Bagi kami, Berlian bukanlah beban namun sebuah titipan yang harus kami jaga. Kami maklum ia sering tidak masuk karena sakit. Kami mencoba membantunya jika sedikit-sedikit ia bertanya tentang pelajaran yang bahkan bisa membuatnya sakit kepala karena tidak mengerti. Dan terkadang akhirnya menyerah. Berlian memang kami istimewakan. Kami Seakan-akan kami ingin mengatakan padanya, “Jangan bersedih dan menyerah. Kami akan selalu ada untukmu kawan.”
Aku teringat sesuatu. Pernah suatu sore, tertera nomornya memanggil di handphoneku. Ketika kuangkat, hanya tangisan yang kudengar. Aku panik.
“Berlian, kamu kenapa?”
Ia masih menangis. “Berlian, kenapa? Coba cerita. Tarik nafas dulu.” Ucapku mencoba menenangkan.
Berlian masih menangis sesenggukan. “Tugasnya..”, ia menjawab lirih.
“Apa Ber? Gak denger. Tenang dulu ya. Cerita pelan-pelan coba.” Aku berkata dengan lembut.
“Tugasnya-kemarin-ilang.” Ia menjawab lagi dengan terbata-bata.
Tugas? tanyaku dalam hati sambil mencerna maksudnya. Kemudian aku paham. Aku ingat kemarin lusa guru sejarah memberi tugas kelompok dan Berlian mendapat bagian untuk mengetiknya. Ternyata tugas yang dibawa Berlian hilang. Aku tersenyum lega kerena ternyata hanya itu penyebab ia sampai menangis histeris. Kukira ada sesuatu yang serius. Lalu aku mengatakan padanya untuk tenang, “Ntar biar aku ma temen-temen yang bikin aja. Udah Ber, gak usah dipikirin ya. Gak pa-pa koq.”
Begitulah Berlian. Kadang bisa sangat polos, kadang bisa sangat bijak. Ia juga bisa menjadi sangat frustasi karena hal kecil. Kadang-kadang ia bersikap sangat manja. Namun ada satu waktu terlihat raut aku-bisa-mengerjakan-semua-sendiri di wajahnya. Yang menarik darinya adalah tawanya yang khas. Dan ia selalu tersenyum pada siapapun.
Persiapan Menjelang UAN 2006
Hari demi hari berlalu, sebentar lagi kami hampir meninggalkan bangku sekolah menengah. Akhir-akhir ini mulai disibukkan dengan berbagai persiapan menjelang ujian nasional. Lagi-lagi Berlian masuk rumah sakit. Kembali ia harus menjalani operasi.
Beberapa minggu sudah ia dirawat dan belum bisa bergabung bersama kami di sekolah. Kami bergiliran menjenguknya. Terakhir aku melihatnya, ia masih ceria seperti biasa. Hingga aku mendengar kabar bahwa syaraf Berlian sudah tidak bisa berfungsi dengan baik, ia tak bisa bergerak bahkan untuk membuka mata.
Januari 2006
Suatu malam, aku menjenguknya bersama teman-teman. Kami bergiliran masuk dua orang ke kamarnya. Kuperhatikan teman-temanku selalu keluar kamar dengan menangis. Aku jadi semakin penasaran.
Kini giliranku dan temanku, Karina masuk. Kubuka tirai. Miris rasanya melihat Berlian yang biasanya tertawa sudah tidak berdaya. Berbagai macam selang dan alat-alat yang tak kuketahui namanya membelenggunya disana sini. Ia tak bergerak. Hanya diam terbaring di atas tempat tidur di ruang ICU. Karina sudah tak tega menatap gadis itu. Aku mendekati Berlian. Kugenggam tangannya yang terasa dingin.
Aku berbisik di telinganya, “Berlian, ini aku ma Karina. Cepet sembuh ya.. Jangan menyerah. Jangan putus asa. Kita semua sayang sama Berlian. Pokoknya kita berdoa terus ya, biar dikasi yang terbaik. Kita sayang Berlian, pokoknya jangan menyerah ya.”
Aku meliriknya sekilas, sebulir air mata mengalir di pipinya.
Aku terdiam sejenak, menghela nafas. Aku kehilangan kata untuk beberapa saat.
“Ber, kita pamit dulu ya. Besok-besok kita jenguk lagi, ok. Tetep berjuang ya.” bisikku lagi. Kemudian Karina dan aku keluar dari kamar sambil menangis juga.
9 Februari 2006
Hari itu hari Kamis, kalau tak salah ingat. Karena sudah kelas XII, kami diberi pelajaran tambahan yang dimulai jam 6 pagi. Dan seperti biasa aku datang terlambat ke sekolah. Tirai kelas sudah ditutup, aku berpikir “Wah, ini pasti kerjaan anak-anak buat ngerjain anak yang sering telat kayak aku. Biar dikiranya jam tambahan udah dimulai.” Dengan cengengesan aku membuka pintu dan masuk, meletakkan helm di meja depan kelas sambil terus senyum-senyum.
Sewaktu berbalik menghadap teman-teman yang sudah duduk di bangku kelas, aku kaget. Pemandangan kontras sekali dengan suasana hatiku yang girang karena ternyata kali ini aku tidak terlambat masuk. Aku mengedarkan pandangan ke isi kelas. Sebagian temanku menunduk ke meja, mereka hanya mendongak sekilas melihatku sambil menunjukkan ekspresi sedih. Aku hafal betul ekspresi semacam itu. Sebuah ekspresi kehilangan.
Aku mencoba memikirkan alasan penyebab mendung gelap di kelas pagi ini. Aku benci sekali menebaknya, dan semoga tebakanku meleset. Belum sempat aku bertanya, salahsatu temanku yang duduk paling depan mengucapkan satu kata kemudian tersedu-sedu, sebuah nama “Berlian”.
Rasanya hati ini tertusuk pisau yang tak terlihat. Tanpa mereka menjelaskan lebih detail, otakku bekerja lebih cepat mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Walaupun aku berharap itu tak nyata, rasa pahit itu kembali kurasakan. Rasa tidak percaya, rasa ingin menyangkal dan menghindari kenyataan, serta rasa takut. Takut akan kehilangan orang yang kusayangi. Aku mendekati teman-temanku. Menguatkan mereka dan diriku sendiri, mencoba mengingatkan bahwa semua ini adalah yang terbaik untuknya.
“Innalillahi wa innailaihi roji’un.….” sebuah pengumuman duka cita terdengar dari intercom dan disiarkan di seluruh sekolah. Suasana kelas begitu memilukan. Hari itu kami menangis bersama. Berlian, perhiasan kami telah Diambil oleh Sang Pemilik dan kami harus merelakannya.
8 Desember 2009
Aku menemukan senyumnya di sebuah album foto yang tanpa sengaja kubuka. Aku tak berhasil mengingat kapan persisnya gambar itu diambil. Sepertinya waktu masih di kelas XI sebab ia belum mengenakan scraft. Kucoba mengais memori tentangnya. Kususun dalam sebuah catatan. Ya, ini hanyalah sebuah catatan yang dibungkus dalam kisah dengan bahasa seadanya. Semuanya mengalir begitu saja. Entahlah, namun aku hanya ingin menulis tentangnya, agar ia selalu hidup dalam ingatan semua orang yang pernah mengenalnya.
Aku menggeledah isi kamar, mencari diaryku sewaktu SMA. Kalau tidak salah aku pernah menuliskan sebuah puisi pendek untuknya pada hari kepergiannya.
“Nah, ketemu!”
Our Shining Star
You’ll be our spirit,
Not to fulfill the sadness
Dear…
No words can describe you, friend
But we’ll always love you…
Kembali kupandangi potret dirinya yang sedang tersenyum sambil memegang tasnya. Aku pun membalas senyumnya.
__________________________________________________________
*Semarang
8 Desember 2009
*** Untuk seorang sahabat yang kami rindukan senyumnya. Ia yang secara tak langsung menyatukan kami dalam sebuah ikatan persahabatan. Ia yang memang seperti namanya, perhiasan bagi kami di kelas bahasa tercinta. Ia yang sering bersikap manja namun tersimpan jiwa yang sangat tegar dibaliknya. Kami akan selalu ada untukmu, kawan.
“Dia masuk kelas ini?” batinku shock mendapati kenyataan bahwa aku akan sekelas dengan seorang anak yang memilki track record negatif selama di kelas X.
Namanya Berlian. Sebenarnya aku tak begitu mengenalnya. Sejauh ini aku hanya mendengarnya dari cerita “ini itu”. Aku tak sanggup membeberkan apa saja “ini itu” yang dimaksud. Satu hal yang sudah dapat dipastikan kebenarannya, ia pernah menjalani operasi tumor otak waktu di kelas X. Tak heran jika rambutnya sekarang dipotong cepak mirip laki-laki.
Aku meliriknya. Gadis putih bertubuh mungil itu tersenyum padaku. Ia memakai seragam yang sudah dimodif lebih pendek. Sekilas aku seperti melihat bekas luka di kepalanya, mungkin bekas operasinya dulu. Ia duduk sendirian terlihat seperti kebingungan. Aku membalas senyumnya.
“Cobaan apa lagi ini?” aku berkeluh kesah pada diriku sendiri.
Ini tahun keduaku di SMA, memulai “kehidupan baru” dengan memilih jurusan bahasa, sebuah jurusan yang oleh kebanyakan orang dijadikan “underdog”, diremehkan dan semacam itu. Aku tak pernah menyangka bakal terjerumus ke kelas bahasa. Di sisi lain, aku sama sekali gak berminat masuk jurusan IPS. Bukannya sombong, tapi sebenarnya nilaiku lebih dari cukup untuk masuk di kelas IPA. Namun karena tak memenuhi syarat yang kutetapkan untuk diriku sendiri, akhirnya dengan sangat terpaksa akan kucoba jalani dua tahun ke depan di kelas ini. Terdampar di sebuah kelas yang asing dengan orang-orang yang asing sama sekali!
Keadaan terasa begitu sepi, hanya ada 23 siswa di kelas bahasa. Kuulangi lagi, dua puluh tiga! Jumlah itu adalah separuh dari jumlah sebuah kelas normal di SMA ini. Ini artinya, tiap siswa bakal mendapat giliran yang sama rata seumpama ada guru yang memberi pertanyaan. Ditambah lagi, ada beberapa anak yang dianggap “bermasalah” masuk di kelas ini.
“Arrrrgggghhhh!!!!”
Menyesal? Agak sih, tapi sudah terlambat.
17 Agustus 2004
Setelah mengikuti upacara hari kemerdekaan RI di sekolah, aku bingung mau kemana. Rasanya masih malas untuk beranjak pulang ke rumah. Kelas sudah sepi. Hanya ada tiga orang di dalam. Berlian bersama dua temanku yang lain, Rahma dan Indah.
“Koq belum pulang?” tanyaku pada mereka sambil menghampiri.
“Mo ke swalayan sama Indah,” jawab Rahma, “Tapi jam segini kan belum buka.”
“Berlian juga?” tanyaku pada gadis itu.
“Aku gak ikut. Cuma nunggu jemputan.” kata Berlian sambil memasukkan handphone ke dalam tas.
“Oh, kalo aku si lagi males pulang.” sahutku tanpa ditanya.
Tanpa sengaja, kita berempat sudah duduk mengitari satu meja. Awalnya kita hanya membahas tentang PR-PR baru yang sudah menyerbu. Lama-lama kita sampai pada topik mengapa-masuk-jurusan-bahasa. Satu persatu bercerita. Indah beralasan kalo dia pengen banget belajar bahasa Prancis. Sedangkan Rahma beranggapan karena jurusan ini kelihatannya asik. Berlian bilang karena ia disarankan masuk sini. Tiba giliranku, kuceritakan tentang sikap anti-IPS ku dan diriku yang tak memenuhi syarat-masuk-IPA-sesuai-standarku. Anehnya, setelah bercerita seolah-olah ada sebuah beban yang terlepas dari kepalaku. Aku baru menyadari bahwa aku mulai merasa nyaman berada di kelas bahasa. Selama beberapa jam, kita saling bertukar pikiran, tertawa, dan bercanda. Hingga akhirnya terlontar sebuah pertanyaan pada teman-teman ngobrolku itu.
“Kejadian apa yang sangat membekas buat kalian?”
Mereka bertiga mencoba mengingat-ingat.
“Kalo aku..” aku tak meneruskan kalimatku. Mengurungkan niatku untuk bercerita.
“Apa hayo? Cerita…” Indah mendesak.
Aku diam sejenak. Peristiwa itu terputar kembali di dalam ingatan. Insiden tahun lalu yang mengubah hidupku dan keluargaku secara drastis. Adik laki-lakiku diculik pada November 2003 dan baru ditemukan 6 bulan setelahnya dalam keadaan meninggal. Ketiga temanku mendengarkan dengan serius. Sebenarnya aku tak mau mengingat kejadian itu lagi. Namun ada sebuah keinginan untuk bisa membagi. Aku bertutur sambil tetap tersenyum walau suaraku terdengar bergetar menahan tangis. Tiba-tiba aku merindukan adikku itu.
“Kalau kamu Ber?” todongku tiba-tiba pada Berlian.
Kemudian ia mulai bercerita. Ia bercerita tentang awal-awal ketika ia sering mengeluh pusing. Mamanya tahu namun tak mempedulikannya. Malah Berlian dianggap hanya mencari-cari alasan saja untuk bisa bersantai. Semakin hari ia sering pingsan dan dari situ diketahui bahwa ia mengidap tumor otak. Operasi telah dilakukan dan sekarang Berlian masih perlu menjalani berbagai macam perawatan. Dari apa yang diceritakannya, kusimpulkan bahwa ia merasa sangat kesepian. Di antara keluarganya, papanya lah yang sangat memperhatikan Berlian. Kurasa ia membutuhkan dukungan.
Kami mendengar ceritanya dengan seksama. Seketika itu aku merasa kasihan padanya. Aku malu pada diriku sendiri yang dulu sempat berpikiran macam-macam tentangnya. Berlian, maafin aku ya.
Juni 2005
Sudah hampir setahun aku menghabiskan waktu bersama teman-teman kelas bahasaku. Coba tebak? Jika awalnya aku sempat menyesal telah masuk ke jurusan ini. Sekarang aku justru bersyukur dengan pilihanku. Aku kini memiliki mereka, teman-teman dan guru-guru yang hebat. Kami memang sudah biasa dipandang sebelah mata, namun karena itulah kami saling menguatkan dan bersama-sama membuktikan bahwa kami mampu untuk bersaing dalam prestasi. Tak hanya itu, kelas kita juga terkenal kompak. Bahkan dengan senior sesama jurusan bahasa. Aku seperti menemukan keluarga baru di kelas ini.
Kabar Berlian? Ia kembali menjalani operasi di kelas XI. Setelahnya, ia mengenakan scraft untuk menutupi kepalanya. Ia juga memakai kacamata minus berwarna biru. Kini Berlian memiliki ciri khas. Dan kami jadi tahu bahwa ia fans berat tokoh kartun bernama “Pucca”, gadis sipit berbaju merah yang rambutnya dikuncir dua itu kalau tidak salah.
Berlian mulai bisa menyesuaikan diri dengan sekolah. Walaupun untuk membaca tulisan di papan tulis saja ia masih harus dibantu. Akan tetapi disitulah letak keindahannya. Bagi kami, Berlian bukanlah beban namun sebuah titipan yang harus kami jaga. Kami maklum ia sering tidak masuk karena sakit. Kami mencoba membantunya jika sedikit-sedikit ia bertanya tentang pelajaran yang bahkan bisa membuatnya sakit kepala karena tidak mengerti. Dan terkadang akhirnya menyerah. Berlian memang kami istimewakan. Kami Seakan-akan kami ingin mengatakan padanya, “Jangan bersedih dan menyerah. Kami akan selalu ada untukmu kawan.”
Aku teringat sesuatu. Pernah suatu sore, tertera nomornya memanggil di handphoneku. Ketika kuangkat, hanya tangisan yang kudengar. Aku panik.
“Berlian, kamu kenapa?”
Ia masih menangis. “Berlian, kenapa? Coba cerita. Tarik nafas dulu.” Ucapku mencoba menenangkan.
Berlian masih menangis sesenggukan. “Tugasnya..”, ia menjawab lirih.
“Apa Ber? Gak denger. Tenang dulu ya. Cerita pelan-pelan coba.” Aku berkata dengan lembut.
“Tugasnya-kemarin-ilang.” Ia menjawab lagi dengan terbata-bata.
Tugas? tanyaku dalam hati sambil mencerna maksudnya. Kemudian aku paham. Aku ingat kemarin lusa guru sejarah memberi tugas kelompok dan Berlian mendapat bagian untuk mengetiknya. Ternyata tugas yang dibawa Berlian hilang. Aku tersenyum lega kerena ternyata hanya itu penyebab ia sampai menangis histeris. Kukira ada sesuatu yang serius. Lalu aku mengatakan padanya untuk tenang, “Ntar biar aku ma temen-temen yang bikin aja. Udah Ber, gak usah dipikirin ya. Gak pa-pa koq.”
Begitulah Berlian. Kadang bisa sangat polos, kadang bisa sangat bijak. Ia juga bisa menjadi sangat frustasi karena hal kecil. Kadang-kadang ia bersikap sangat manja. Namun ada satu waktu terlihat raut aku-bisa-mengerjakan-semua-sendiri di wajahnya. Yang menarik darinya adalah tawanya yang khas. Dan ia selalu tersenyum pada siapapun.
Persiapan Menjelang UAN 2006
Hari demi hari berlalu, sebentar lagi kami hampir meninggalkan bangku sekolah menengah. Akhir-akhir ini mulai disibukkan dengan berbagai persiapan menjelang ujian nasional. Lagi-lagi Berlian masuk rumah sakit. Kembali ia harus menjalani operasi.
Beberapa minggu sudah ia dirawat dan belum bisa bergabung bersama kami di sekolah. Kami bergiliran menjenguknya. Terakhir aku melihatnya, ia masih ceria seperti biasa. Hingga aku mendengar kabar bahwa syaraf Berlian sudah tidak bisa berfungsi dengan baik, ia tak bisa bergerak bahkan untuk membuka mata.
Januari 2006
Suatu malam, aku menjenguknya bersama teman-teman. Kami bergiliran masuk dua orang ke kamarnya. Kuperhatikan teman-temanku selalu keluar kamar dengan menangis. Aku jadi semakin penasaran.
Kini giliranku dan temanku, Karina masuk. Kubuka tirai. Miris rasanya melihat Berlian yang biasanya tertawa sudah tidak berdaya. Berbagai macam selang dan alat-alat yang tak kuketahui namanya membelenggunya disana sini. Ia tak bergerak. Hanya diam terbaring di atas tempat tidur di ruang ICU. Karina sudah tak tega menatap gadis itu. Aku mendekati Berlian. Kugenggam tangannya yang terasa dingin.
Aku berbisik di telinganya, “Berlian, ini aku ma Karina. Cepet sembuh ya.. Jangan menyerah. Jangan putus asa. Kita semua sayang sama Berlian. Pokoknya kita berdoa terus ya, biar dikasi yang terbaik. Kita sayang Berlian, pokoknya jangan menyerah ya.”
Aku meliriknya sekilas, sebulir air mata mengalir di pipinya.
Aku terdiam sejenak, menghela nafas. Aku kehilangan kata untuk beberapa saat.
“Ber, kita pamit dulu ya. Besok-besok kita jenguk lagi, ok. Tetep berjuang ya.” bisikku lagi. Kemudian Karina dan aku keluar dari kamar sambil menangis juga.
9 Februari 2006
Hari itu hari Kamis, kalau tak salah ingat. Karena sudah kelas XII, kami diberi pelajaran tambahan yang dimulai jam 6 pagi. Dan seperti biasa aku datang terlambat ke sekolah. Tirai kelas sudah ditutup, aku berpikir “Wah, ini pasti kerjaan anak-anak buat ngerjain anak yang sering telat kayak aku. Biar dikiranya jam tambahan udah dimulai.” Dengan cengengesan aku membuka pintu dan masuk, meletakkan helm di meja depan kelas sambil terus senyum-senyum.
Sewaktu berbalik menghadap teman-teman yang sudah duduk di bangku kelas, aku kaget. Pemandangan kontras sekali dengan suasana hatiku yang girang karena ternyata kali ini aku tidak terlambat masuk. Aku mengedarkan pandangan ke isi kelas. Sebagian temanku menunduk ke meja, mereka hanya mendongak sekilas melihatku sambil menunjukkan ekspresi sedih. Aku hafal betul ekspresi semacam itu. Sebuah ekspresi kehilangan.
Aku mencoba memikirkan alasan penyebab mendung gelap di kelas pagi ini. Aku benci sekali menebaknya, dan semoga tebakanku meleset. Belum sempat aku bertanya, salahsatu temanku yang duduk paling depan mengucapkan satu kata kemudian tersedu-sedu, sebuah nama “Berlian”.
Rasanya hati ini tertusuk pisau yang tak terlihat. Tanpa mereka menjelaskan lebih detail, otakku bekerja lebih cepat mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Walaupun aku berharap itu tak nyata, rasa pahit itu kembali kurasakan. Rasa tidak percaya, rasa ingin menyangkal dan menghindari kenyataan, serta rasa takut. Takut akan kehilangan orang yang kusayangi. Aku mendekati teman-temanku. Menguatkan mereka dan diriku sendiri, mencoba mengingatkan bahwa semua ini adalah yang terbaik untuknya.
“Innalillahi wa innailaihi roji’un.….” sebuah pengumuman duka cita terdengar dari intercom dan disiarkan di seluruh sekolah. Suasana kelas begitu memilukan. Hari itu kami menangis bersama. Berlian, perhiasan kami telah Diambil oleh Sang Pemilik dan kami harus merelakannya.
8 Desember 2009
Aku menemukan senyumnya di sebuah album foto yang tanpa sengaja kubuka. Aku tak berhasil mengingat kapan persisnya gambar itu diambil. Sepertinya waktu masih di kelas XI sebab ia belum mengenakan scraft. Kucoba mengais memori tentangnya. Kususun dalam sebuah catatan. Ya, ini hanyalah sebuah catatan yang dibungkus dalam kisah dengan bahasa seadanya. Semuanya mengalir begitu saja. Entahlah, namun aku hanya ingin menulis tentangnya, agar ia selalu hidup dalam ingatan semua orang yang pernah mengenalnya.
Aku menggeledah isi kamar, mencari diaryku sewaktu SMA. Kalau tidak salah aku pernah menuliskan sebuah puisi pendek untuknya pada hari kepergiannya.
“Nah, ketemu!”
Our Shining Star
You’ll be our spirit,
Not to fulfill the sadness
Dear…
No words can describe you, friend
But we’ll always love you…
Kembali kupandangi potret dirinya yang sedang tersenyum sambil memegang tasnya. Aku pun membalas senyumnya.
__________________________________________________________
*Semarang
8 Desember 2009
*** Untuk seorang sahabat yang kami rindukan senyumnya. Ia yang secara tak langsung menyatukan kami dalam sebuah ikatan persahabatan. Ia yang memang seperti namanya, perhiasan bagi kami di kelas bahasa tercinta. Ia yang sering bersikap manja namun tersimpan jiwa yang sangat tegar dibaliknya. Kami akan selalu ada untukmu, kawan.
Sabtu, 05 Mei 2012
The Deepest
Prolog
Suara bising panci dan alat-alat dapur yang ditabuh beberapa anak di kampung untuk membangunkan orang sahur terdengar hingga kamar tempatku tidur yang terletak di lantai dua. Pasti adik laki-lakiku termasuk salah satu dari mereka, batinku. Mataku masih terpejam ingin kembali bermimpi lagi. Lalu kurasakan seperti ada tangan yang menggoyang-goyang bahuku.
“Mbak, sahuuurrr” ternyata adik laki-lakiku yang membangunkanku untuk makan sahur. Aku hanya bergumam tanpa membuka mata.
Tumben dia gak ikut “klotekan” keliling kampung, ujarku dalam hati lagi. Ia kemudian ngeloyor pergi dari kamar, kemungkinan besar ingin bergabung dengan rombongan berisik pembangun sahur tadi.
“Mbaaaak,”kembali kudengar ada yang memanggilku untuk turun.
“Iya iyaaaaa,” ucapku malas-malasan kemudian turun untuk santap sahur.
>>>>>
6 November 2003
Siang itu matahari begitu terik bertahta di atas kota Semarang. Seperti biasa, aku turun dari angkutan sepulang sekolah dan harus berjalan kurang lebih satu kilometer menuju rumah. 6 November 2003 ini adalah hari ke sekian di bulan Ramadhan, cuaca panas dan rasa mengantuk setelah mengikuti pelajaran membuatku ingin segera sampai di rumah. Kupercepat langkahku menuju rumah.
Saat sedang berjalan itu iba-tiba sebuah motor berhenti di sampingku. Aku menoleh. Ternyata itu bapak yang baru pulang dari membeli dagangan. Kemudian ia mematikan mesin motornya dan berkata dengan terbata-bata, namun aku tak dapat menangkap dengan jelas ucapannya . Semakin lama bapak berkata dengan diiringi tangis. Aku semakin bingung dan mencoba berpikir apa yang membuatnya demikian. Jantungku berdetak kencang karena firasatku mengatakan ada sesuatu yang buruk tengah terjadi. Mungkin ada kabar kerabatku yang kecelakaan, meninggal atau jangan-jangan… ah, aku menyalahkan diriku yang berpikiran macam-macam.
“Pak..” kupanggil ia sambil memegang lengannya yang mulai bergetar.
“Adikmu..”
“Adik? Ada apa pak?” Otakku mulai berpikir keras. Apa yang terjadi dengan adikku sampai bapak sangat shock? Adikku yang mana? Aku punya tiga orang adik, satu laki-laki dan dua perempuan. Ada apa ini?
“Adikmu dibawa orang,” kata bapak lagi dengan terisak. Aku mengernyitkan dahi, semakin tak paham.
“Jangan bilang ibumu. Adikmu, Ahmad,” lanjutnya lagi sambil terisak. Aku tambah bingung.
“Sampun, bapak sekarang pulang aja. Istirahat,” akhirnya aku memintanya pulang dan tak minta dibonceng karena tak tega melihat bawaan bapak yang sangat banyak.
Aku kembali berjalan tergesa-gesa dengan berbagai pikiran buruk berkecamuk di dalam kepala. Buntu. Aku tak bisa sama sekali menebak apa gerangan yang sedang terjadi.
***
Dari keterangan salah seorang saudaraku yang sudah ada di rumah, aku mendapati cerita bahwa ada seseorang yang menelepon ke rumah tadi. Si penelepon mengatakan bahwa ia menculik adikku dan meminta sejumlah uang untuk tebusan. Tak lupa pula, seperti yang ada di film-film, ia mengancam bapak yang saat itu menerima telepon untuk tidak lapor ke polisi. Aku terperangah mendengar cerita saudaraku itu. Bagaimana tidak? Keluargaku hanyalah keluarga sederhana yang menggantungkan hidupnya dari sebuah warung. Pun keluargaku tak bermusuhan dengan siapapun. Lalu, apa-apaan ini? Dalam hati aku tak percaya, mungkin kerjaan orang iseng.
Kenyataannya, adik laki-lakiku satu-satunya itu memang tak pulang hingga sore. Padahal, selama bulan Ramadhan ini kegiatan di Madrasah Tsanawiyahnya hanya mengaji. Sekolahnya memang jauh, terletak di perbatasan Semarang-Demak, setengah jam lebih dari rumahku yang relatif dekat dengan pusat kota Semarang. Namun tak biasanya ia pulang telat. Selepas dzuhur biasanya ia sudah ada di rumah. Bapak sudah melaporkan hal ini ke pihak berwajib tadi siang.
Ketakutan bercampur rasa kuatir mulai menyergap. Yang kutakutkan sekarang adalah bagaimana menyampaikan berita ini pada ibuku, mengingat ia anak laki-laki satu-satunya yang paling disayanginya.Ia juga adik kesayanganku. Aku mengambil air wudlu dan menunaikan sholat ashar. Airmataku menetes saat berdoa. Aku memohon padaNya untuk menguatkan ibuku melewati cobaan ini jika benar sesuatu terjadi pada adikku. . Tiba-tiba tangisku semakin deras. Ada perasaan yang tak dapat dijelaskan di dalam hati. Aku kembali meminta padaNya agar aku bisa tegar menghadapi semua ini.
Dari dalam kamar aku mendengar ibuku pulang. Aku mulai was-was saat saudaraku mulai bercerita pada ibuku. Kudengar jeritan kecil. Aku segera keluar. Namun ternyata reaksinya tak seperti yang kuperkirakan. Ia hanya menangis terisak-isak, tidak histeris. Mungkin sama sepertiku, sama sekali tak percaya atau tak mau percaya. Kuminta ibu menunaikan sholat ashar. Dari luar pintu kamar, dengan masih mengenakan mukena aku melihatnya yang sedang berdoa sambil menangis. Aku mendekatinya dan memeluknya.
“Adik gak apa-apa, Bu. Sabar. Berdoa semoga ia baik-baik .”
***
Malamnya selepas sholat tarawih, banyak warga yang mendatangi rumah setelah mendengar berita ini. Beberapa polisi berpakaian preman datang ke rumah dan meminta keterangan dari beberapa anggota keluargaku, termasuk aku. Polisi itu menanyakan banyak hal mulai dari kapan aku bertemu adikku, dengan siapa ia berteman, sampai apa yang belakangan terlihat mencurigakan.
Aku kenal betul adikku. Sebagai anak lelaki satu-satunya ia termasuk anak yang penurut. Ia memang agak cengeng dan gampang sakit-sakitan. Namun, sama sekali ia tak pernah melakukan hal-hal aneh dan buruk. Sebagaimana anak seusianya ia senang sekali bermain dengan teman-teman sebayanya di kampung ini, ia senang bermain tamiya yang saat itu sedang trend, atau bay blade. Walaupun anak laki-laki, ia anak yang rajin. Bahkan sering sekali ia dengan senang hati pergi ke pasar untuk membantu berbelanja. Ia anak yang baik, sangat baik malah. Jadi tak mungkin ada yang tega berbuat jahat padanya.
Sepanjang malam itu aku hanya merenung. Di sudut kamar yang terbuka aku melihat tetangga, saudara, keluarga yang lalu lalang. Beberapa mengitari telepon, menunggu si penculik menghubungi kami lagi mengingat telepon rumah sudah disadap. Namun yang ditunggu tak kunjung datang.
Mataku tak bisa terpejam memikirkan adik kesayanganku ini, dimana ia sekarang, dengan siapa ia, apa dia sudah tidur? Apa dia sudah makan? Aku melewatkan buka puasa dan sahurku begitu saja. Rumah semakin ramai didatangi banyak orang. Namun, pikiranku semakin kalut. Aku tak mau menangis. Aku tak boleh menangis. Aku hanya dapat meminta padaNya untuk Melindungi dimanapun adikku berada.
***
Hari demi hari berlalu. Tiga bulan sudah tak ada kabar lagi tentang adikku. Berbagai usaha sudah dilakukan oleh pihak kepolisian, keluarga, maupun teman-teman orang tuaku. Mulai dari menginterogasi orang-orang yang dicurigai hingga ke paranormal. Namun hasilnya nihil. Ia tetap tak ditemukan. Entah sedang apa dan dimana ia sekarang.
Walaupun sudah mulai tenang, secara tak langsung kejadian ini sangat berdampak terhadap finansial dan psikologis keluarga kami. Kami hanya bisa pasrah. Kami hanya ingin melihatnya kembali.
Aku teringat suatu hari ketika pulang sekolah. Kebetulan SMA ku satu arah dengan sekolahnnya berada. Secara tak sengaja ia naik angkutan yang sama yang kutumpangi menuju ke rumah. Aku kaget saat mendapati ia duduk di bangku paling pojok angkutan mengenakan seragam biru putihnya. Dengan tersenyum lebar ia terlihat senang sekali bisa pulang bersama, pun aku begitu.
Kini setiap pulang sekolah aku selalu melongok ke angkutan-angkutan yang lewat, berharap barangkali ia sudah menungguku disana sambil nyengir. Atau ketika sampai di rumah, aku membayangkan ia sudah ada di depan televisi sedang menonton acara kartun Jepang kesukaannya atau sedang makan siang. Tapi semua itu hanyalah ilusi.
Mulai saat itu setiap berpergian, baik di dalam atau di luar kota, aku selalu mengamati jalan yang ku lewati. Aku berpikir bahwa mungkin saja ia tersesat di suatu tempat dan tak bisa pulang. Atau bisa saja si penculik menyuruhnya jadi peminta-minta di jalan seperti yang ada di sinetron. Aku selalu memperhatikan setiap ada anak jalanan sebayanya yang tersebar di perempatan traffic light. Kemanapun aku pergi aku selalu terbayang sosoknya.
Jangan tanyakan pula apakah aku memimpikannya. Sangat sering. Pernah aku bermimpi ia tiba-tiba ada di sekolahku mengikuti sholat tarawih yang memang diadakan tiap hari di SMA ku selama bulan Ramadhan, pernah aku bermimpi ada yang memberitahuku bahwa ia sedang bersembunyi di genteng rumah hingga aku benar-benar penasaran ingin mengecek ke atas rumah. Pernah juga satu kali ketika aku tertidur dan bermimpi, namun rasanya itu bukan mimpi karena kehadirannya tampak sangat nyata, seolah-olah aku benar-benar melihatnya di depan mataku bahwa ia sedang tidur dengan tenang. Ada perasaan “agak” lega semenjak hari aku memimpikan hal itu.
***
Enam bulan sudah terlewat tanpa kejelasan nasib adikku. Polisi sudah mulai jarang datang ke rumah. Wartawan juga tak diizinkan meliput karena keluarga khawatir keselamatan adikku jika dimunculkan di media. Kami tak dapat mengandalkan siapa pun lagi selain Allah. Yang bisa kami lakukan hanyalah berdoa padaNya, hingga Dia pun Menjawab doa kami selama ini.
Suatu hari sepulang sekolah, pada bulan Mei 2004, saudaraku dari luar kota sudah ada di rumah. Kedatangan saudara atau kerabat secara tiba-tiba sudah biasa sejak peristiwa itu. Entah tujuan mereka ingin mengetahui perkembangan kasus ini atau mengabarkan kemungkinan keberadaan adikku dari “orang pintar” yang telah mereka datangi.
Setelah berbincang sejenak karena tak banyak orang di rumah siang itu, salah seorang saudaraku menunjukkan sebuah artikel di koran hari itu, yang bukanlah surat kabar langganan bapak. Dalam berita itu dikatakan bahwa telah ditemukan kerangka manusia dengan menyebutkan pakaian, tas, topi dan sebagainya oleh seorang pencari kayu di antara “alang-alang” di tepi sungai perbatasan Demak-Semarang. Aku langsung menangkap maksud saudaraku menyuruhku membaca berita itu.
“Ahmad ditemukan,” ucapnya singkat.
Aku paham. Namun entah perasaan apa yang ada di dalam benakku saat itu, rasa syukur, sedih, rasa untuk mengingkari kenyataan, serta apapun campur aduk menjadi satu. Aku ingin berteriak keras, “Bukan! Ini bukan adik! Ia masih hidup di suatu tempat dan mungkin sedang bermain!”
Namun, tak sepatah kata pun keluar dari mulutku. Aku bergetar ketakutan. Takut untuk sekali lagi kehilangan, terlebih kehilangan ia yang yang kusayangi, adikku.
***
Para pelayat sudah memenuhi rumah yang juga telah dipasangi tenda di depan. Kudengar pertanyaan dan cerita sama yang diulang-ulang tentang ditemukannya adikku. Bahwa ketika bapak berkunjung ke tempat salah seorang temannya hari itu, ia menunjukkan sebuah berita di koran pada bapak karena mencurigai kesamaan barang-barang yang dibawa adikku ketika hilang dan barang-barang yang ada di sekitar kerangka yang ditemukan. Setelah itu, bapak mendatangi rumah sakit tempat jenazah adik yang berupa kerangka dan melihat barang-barang yang dibawanya, ternyata bisa dipastikan bahwa itu benar-benar dia. Semua identitas di seragamnya telah diberedel sehingga tak ada yang bisa mengenali. Akan tetapi topi, sepatu sandal serta tasnya masih utuh, lengkap dengan isinya yang terdiri atas alat tulis dan kitab yang dibawanya berangkat mengaji di sekolah sehingga pihak keluarga yakin bahwa itu memang adik.
Polisi-polisi kembali berdatangan lagi meminta keterangan kronologis ditemukannya (jenasah) adikku itu. Tak ketinggalan para pencari berita. Aku tak mau tahu dengan semua itu. Hatiku sangat sakit. Sakit memikirkan siapa gerangan yang tega melakukan hal keji itu pada adikku. Aku sakit membayangkan bagaimana ia menghadapi sakaratul maut sendirian di sana? Aku benar-benar sakit hati hingga tak tega menonton atau membaca berita tentang kematian “tragis” adikku ini. Berhari-hari aku bermimpi buruk detik-detik kematiannya, sampai akhirnya aku jatuh sakit karena tak makan berhari-hari.
Aku bisa berpura-pura kuat saat di rumah dan menangis dalam diam. Lambat laun, berkat dorongan dan perhatian teman-temanku, aku berhenti menyiksa diri. Aku berpikir bahwa aku harus bangkit dari keterpurukan ini. Kemudian, bayang-bayang kejadian yang mengerikan itu pun perlahan-lahan menyingkir dari benakku meski si pelaku belum ditemukan hingga sekarang. Aku sadar, bahwa takdir berkata bahwa telah cukup adikku mengarungi perjalanan hidupnya sampai di sini. Aku harus rela.
Banyak sekali ibrah yang kudapat. Bahwa ada beberapa pertanyaan yang tak akan bisa dijawab serta ada beberapa hal yang tetap akan menjadi misteri dan hanya Dia Yang Mengetahuinya.
Allah Maha Adil. Aku yakin semua perbuatan akan kembali kepada pelakunya, hal baik akan berbuah kebaikan, sebaliknya pun hal buruk akan berbuah keburukan kepada si penanam. Kejadian itu menempaku menjadi seseorang yang lebih tegar. Saat duka menyapa kehidupan, percayalah bahwa kelak akan berganti dengan senyum bahagia jika kita berhasil melewatinya dengan sabar tanpa kenal putus asa.
Epilog
Hari ini ada tugas bahasa Inggris yang harus dikumpulkan. Namun ketika sudah setengah jalan, aku baru sadar bahwa tugasku ketinggalan di rumah. Terpaksa aku turun dari angkutan dan naik angkutan yang berbalik arah ke rumah. Waktuku tinggal beberapa menit lagi sebelum bel masuk sekolah. Aku mengomeli diriku sendiri yang suka berangkat mepet walaupun selama bulan puasa jam masuk dimundurkan menjadi jam 8.
Setelah sampai di rumah aku langsung menyambar tugasku yang tergeletak di meja ruang tamu. Aku melirik jam dinding, syukurlah masih ada waktu cukup untuk berangkat (lagi) ke sekolah. Adik laki-lakiku, Ahmad terlihat sedang sibuk membetulkan jam tangan di pergelangan tangannya di depan pintu rumah. Aku heran mengapa sudah jam segini tapi dia belum berangkat sekolah. Biasanya ia yang nomor satu. Kuperhatikan adikku yang masih berdiri di depan pintu rumah tanpa firasat apapun.
Siapa yang menyangka bahwa itulah saat terakhir melihat adikku, terakhir kali aku menyapanya, terakhir kali ia menjawab salamku, pagi itu terakhir kalinya ia membangunkanku sahur, terakhir kali aku melihat senyumnya dan mendengar tawanya. Setiap orang tak akan pernah tahu kapan perjalanannya di dunia usai. Pun kita tak pernah tahu kapan kita masih bersama dengan orang-orang yang kita cintai dan sayangi hingga penyesalan datang saat kelak kita tak dapat bersapa. Ketika tak ada kata yang sanggup kita ucapkan atau mereka katakan. Ia akan datang dengan cara dan waktu yang tak bisa diduga. Tak ada yang pernah tahu.
“Cepet berangkat. Ntar telat lho dek,” aku mengingatkannya.
“He eh”, jawabnya masih berkutat dengan jam tangannya. Sepintas kulihat raut bingung di wajahnya.
“Ya wis, aku berangkat dulu. Ati-ati ya. Assalamu’alaikum,” kataku berpamitan.
“Wa’alaikum salam”
Kemudian aku berlari agak tergesa-gesa karena harus mencegat angkot menuju sekolah. Hari itu 6 November 2003, hari kesekian bulan Ramadhan di tahun itu.
SELESAI
Panic Room
4 Juni 2010
*Tulisan ini berawal dari coretan di sebuah buku yang telah sobek disana-sini tertanggal 20 Februari 2004 ketika ia belum ditemukan
For my brother, you know we always love you. Ia yang jiwanya tak pernah mati di dalam hati, hanya dapat berharap suatu saat kita akan bertemu. Semoga.
Terima kasih untuk setiap doa dan nasehat dari semuanya.
Suara bising panci dan alat-alat dapur yang ditabuh beberapa anak di kampung untuk membangunkan orang sahur terdengar hingga kamar tempatku tidur yang terletak di lantai dua. Pasti adik laki-lakiku termasuk salah satu dari mereka, batinku. Mataku masih terpejam ingin kembali bermimpi lagi. Lalu kurasakan seperti ada tangan yang menggoyang-goyang bahuku.
“Mbak, sahuuurrr” ternyata adik laki-lakiku yang membangunkanku untuk makan sahur. Aku hanya bergumam tanpa membuka mata.
Tumben dia gak ikut “klotekan” keliling kampung, ujarku dalam hati lagi. Ia kemudian ngeloyor pergi dari kamar, kemungkinan besar ingin bergabung dengan rombongan berisik pembangun sahur tadi.
“Mbaaaak,”kembali kudengar ada yang memanggilku untuk turun.
“Iya iyaaaaa,” ucapku malas-malasan kemudian turun untuk santap sahur.
>>>>>
6 November 2003
Siang itu matahari begitu terik bertahta di atas kota Semarang. Seperti biasa, aku turun dari angkutan sepulang sekolah dan harus berjalan kurang lebih satu kilometer menuju rumah. 6 November 2003 ini adalah hari ke sekian di bulan Ramadhan, cuaca panas dan rasa mengantuk setelah mengikuti pelajaran membuatku ingin segera sampai di rumah. Kupercepat langkahku menuju rumah.
Saat sedang berjalan itu iba-tiba sebuah motor berhenti di sampingku. Aku menoleh. Ternyata itu bapak yang baru pulang dari membeli dagangan. Kemudian ia mematikan mesin motornya dan berkata dengan terbata-bata, namun aku tak dapat menangkap dengan jelas ucapannya . Semakin lama bapak berkata dengan diiringi tangis. Aku semakin bingung dan mencoba berpikir apa yang membuatnya demikian. Jantungku berdetak kencang karena firasatku mengatakan ada sesuatu yang buruk tengah terjadi. Mungkin ada kabar kerabatku yang kecelakaan, meninggal atau jangan-jangan… ah, aku menyalahkan diriku yang berpikiran macam-macam.
“Pak..” kupanggil ia sambil memegang lengannya yang mulai bergetar.
“Adikmu..”
“Adik? Ada apa pak?” Otakku mulai berpikir keras. Apa yang terjadi dengan adikku sampai bapak sangat shock? Adikku yang mana? Aku punya tiga orang adik, satu laki-laki dan dua perempuan. Ada apa ini?
“Adikmu dibawa orang,” kata bapak lagi dengan terisak. Aku mengernyitkan dahi, semakin tak paham.
“Jangan bilang ibumu. Adikmu, Ahmad,” lanjutnya lagi sambil terisak. Aku tambah bingung.
“Sampun, bapak sekarang pulang aja. Istirahat,” akhirnya aku memintanya pulang dan tak minta dibonceng karena tak tega melihat bawaan bapak yang sangat banyak.
Aku kembali berjalan tergesa-gesa dengan berbagai pikiran buruk berkecamuk di dalam kepala. Buntu. Aku tak bisa sama sekali menebak apa gerangan yang sedang terjadi.
***
Dari keterangan salah seorang saudaraku yang sudah ada di rumah, aku mendapati cerita bahwa ada seseorang yang menelepon ke rumah tadi. Si penelepon mengatakan bahwa ia menculik adikku dan meminta sejumlah uang untuk tebusan. Tak lupa pula, seperti yang ada di film-film, ia mengancam bapak yang saat itu menerima telepon untuk tidak lapor ke polisi. Aku terperangah mendengar cerita saudaraku itu. Bagaimana tidak? Keluargaku hanyalah keluarga sederhana yang menggantungkan hidupnya dari sebuah warung. Pun keluargaku tak bermusuhan dengan siapapun. Lalu, apa-apaan ini? Dalam hati aku tak percaya, mungkin kerjaan orang iseng.
Kenyataannya, adik laki-lakiku satu-satunya itu memang tak pulang hingga sore. Padahal, selama bulan Ramadhan ini kegiatan di Madrasah Tsanawiyahnya hanya mengaji. Sekolahnya memang jauh, terletak di perbatasan Semarang-Demak, setengah jam lebih dari rumahku yang relatif dekat dengan pusat kota Semarang. Namun tak biasanya ia pulang telat. Selepas dzuhur biasanya ia sudah ada di rumah. Bapak sudah melaporkan hal ini ke pihak berwajib tadi siang.
Ketakutan bercampur rasa kuatir mulai menyergap. Yang kutakutkan sekarang adalah bagaimana menyampaikan berita ini pada ibuku, mengingat ia anak laki-laki satu-satunya yang paling disayanginya.Ia juga adik kesayanganku. Aku mengambil air wudlu dan menunaikan sholat ashar. Airmataku menetes saat berdoa. Aku memohon padaNya untuk menguatkan ibuku melewati cobaan ini jika benar sesuatu terjadi pada adikku. . Tiba-tiba tangisku semakin deras. Ada perasaan yang tak dapat dijelaskan di dalam hati. Aku kembali meminta padaNya agar aku bisa tegar menghadapi semua ini.
Dari dalam kamar aku mendengar ibuku pulang. Aku mulai was-was saat saudaraku mulai bercerita pada ibuku. Kudengar jeritan kecil. Aku segera keluar. Namun ternyata reaksinya tak seperti yang kuperkirakan. Ia hanya menangis terisak-isak, tidak histeris. Mungkin sama sepertiku, sama sekali tak percaya atau tak mau percaya. Kuminta ibu menunaikan sholat ashar. Dari luar pintu kamar, dengan masih mengenakan mukena aku melihatnya yang sedang berdoa sambil menangis. Aku mendekatinya dan memeluknya.
“Adik gak apa-apa, Bu. Sabar. Berdoa semoga ia baik-baik .”
***
Malamnya selepas sholat tarawih, banyak warga yang mendatangi rumah setelah mendengar berita ini. Beberapa polisi berpakaian preman datang ke rumah dan meminta keterangan dari beberapa anggota keluargaku, termasuk aku. Polisi itu menanyakan banyak hal mulai dari kapan aku bertemu adikku, dengan siapa ia berteman, sampai apa yang belakangan terlihat mencurigakan.
Aku kenal betul adikku. Sebagai anak lelaki satu-satunya ia termasuk anak yang penurut. Ia memang agak cengeng dan gampang sakit-sakitan. Namun, sama sekali ia tak pernah melakukan hal-hal aneh dan buruk. Sebagaimana anak seusianya ia senang sekali bermain dengan teman-teman sebayanya di kampung ini, ia senang bermain tamiya yang saat itu sedang trend, atau bay blade. Walaupun anak laki-laki, ia anak yang rajin. Bahkan sering sekali ia dengan senang hati pergi ke pasar untuk membantu berbelanja. Ia anak yang baik, sangat baik malah. Jadi tak mungkin ada yang tega berbuat jahat padanya.
Sepanjang malam itu aku hanya merenung. Di sudut kamar yang terbuka aku melihat tetangga, saudara, keluarga yang lalu lalang. Beberapa mengitari telepon, menunggu si penculik menghubungi kami lagi mengingat telepon rumah sudah disadap. Namun yang ditunggu tak kunjung datang.
Mataku tak bisa terpejam memikirkan adik kesayanganku ini, dimana ia sekarang, dengan siapa ia, apa dia sudah tidur? Apa dia sudah makan? Aku melewatkan buka puasa dan sahurku begitu saja. Rumah semakin ramai didatangi banyak orang. Namun, pikiranku semakin kalut. Aku tak mau menangis. Aku tak boleh menangis. Aku hanya dapat meminta padaNya untuk Melindungi dimanapun adikku berada.
***
Hari demi hari berlalu. Tiga bulan sudah tak ada kabar lagi tentang adikku. Berbagai usaha sudah dilakukan oleh pihak kepolisian, keluarga, maupun teman-teman orang tuaku. Mulai dari menginterogasi orang-orang yang dicurigai hingga ke paranormal. Namun hasilnya nihil. Ia tetap tak ditemukan. Entah sedang apa dan dimana ia sekarang.
Walaupun sudah mulai tenang, secara tak langsung kejadian ini sangat berdampak terhadap finansial dan psikologis keluarga kami. Kami hanya bisa pasrah. Kami hanya ingin melihatnya kembali.
Aku teringat suatu hari ketika pulang sekolah. Kebetulan SMA ku satu arah dengan sekolahnnya berada. Secara tak sengaja ia naik angkutan yang sama yang kutumpangi menuju ke rumah. Aku kaget saat mendapati ia duduk di bangku paling pojok angkutan mengenakan seragam biru putihnya. Dengan tersenyum lebar ia terlihat senang sekali bisa pulang bersama, pun aku begitu.
Kini setiap pulang sekolah aku selalu melongok ke angkutan-angkutan yang lewat, berharap barangkali ia sudah menungguku disana sambil nyengir. Atau ketika sampai di rumah, aku membayangkan ia sudah ada di depan televisi sedang menonton acara kartun Jepang kesukaannya atau sedang makan siang. Tapi semua itu hanyalah ilusi.
Mulai saat itu setiap berpergian, baik di dalam atau di luar kota, aku selalu mengamati jalan yang ku lewati. Aku berpikir bahwa mungkin saja ia tersesat di suatu tempat dan tak bisa pulang. Atau bisa saja si penculik menyuruhnya jadi peminta-minta di jalan seperti yang ada di sinetron. Aku selalu memperhatikan setiap ada anak jalanan sebayanya yang tersebar di perempatan traffic light. Kemanapun aku pergi aku selalu terbayang sosoknya.
Jangan tanyakan pula apakah aku memimpikannya. Sangat sering. Pernah aku bermimpi ia tiba-tiba ada di sekolahku mengikuti sholat tarawih yang memang diadakan tiap hari di SMA ku selama bulan Ramadhan, pernah aku bermimpi ada yang memberitahuku bahwa ia sedang bersembunyi di genteng rumah hingga aku benar-benar penasaran ingin mengecek ke atas rumah. Pernah juga satu kali ketika aku tertidur dan bermimpi, namun rasanya itu bukan mimpi karena kehadirannya tampak sangat nyata, seolah-olah aku benar-benar melihatnya di depan mataku bahwa ia sedang tidur dengan tenang. Ada perasaan “agak” lega semenjak hari aku memimpikan hal itu.
***
Enam bulan sudah terlewat tanpa kejelasan nasib adikku. Polisi sudah mulai jarang datang ke rumah. Wartawan juga tak diizinkan meliput karena keluarga khawatir keselamatan adikku jika dimunculkan di media. Kami tak dapat mengandalkan siapa pun lagi selain Allah. Yang bisa kami lakukan hanyalah berdoa padaNya, hingga Dia pun Menjawab doa kami selama ini.
Suatu hari sepulang sekolah, pada bulan Mei 2004, saudaraku dari luar kota sudah ada di rumah. Kedatangan saudara atau kerabat secara tiba-tiba sudah biasa sejak peristiwa itu. Entah tujuan mereka ingin mengetahui perkembangan kasus ini atau mengabarkan kemungkinan keberadaan adikku dari “orang pintar” yang telah mereka datangi.
Setelah berbincang sejenak karena tak banyak orang di rumah siang itu, salah seorang saudaraku menunjukkan sebuah artikel di koran hari itu, yang bukanlah surat kabar langganan bapak. Dalam berita itu dikatakan bahwa telah ditemukan kerangka manusia dengan menyebutkan pakaian, tas, topi dan sebagainya oleh seorang pencari kayu di antara “alang-alang” di tepi sungai perbatasan Demak-Semarang. Aku langsung menangkap maksud saudaraku menyuruhku membaca berita itu.
“Ahmad ditemukan,” ucapnya singkat.
Aku paham. Namun entah perasaan apa yang ada di dalam benakku saat itu, rasa syukur, sedih, rasa untuk mengingkari kenyataan, serta apapun campur aduk menjadi satu. Aku ingin berteriak keras, “Bukan! Ini bukan adik! Ia masih hidup di suatu tempat dan mungkin sedang bermain!”
Namun, tak sepatah kata pun keluar dari mulutku. Aku bergetar ketakutan. Takut untuk sekali lagi kehilangan, terlebih kehilangan ia yang yang kusayangi, adikku.
***
Para pelayat sudah memenuhi rumah yang juga telah dipasangi tenda di depan. Kudengar pertanyaan dan cerita sama yang diulang-ulang tentang ditemukannya adikku. Bahwa ketika bapak berkunjung ke tempat salah seorang temannya hari itu, ia menunjukkan sebuah berita di koran pada bapak karena mencurigai kesamaan barang-barang yang dibawa adikku ketika hilang dan barang-barang yang ada di sekitar kerangka yang ditemukan. Setelah itu, bapak mendatangi rumah sakit tempat jenazah adik yang berupa kerangka dan melihat barang-barang yang dibawanya, ternyata bisa dipastikan bahwa itu benar-benar dia. Semua identitas di seragamnya telah diberedel sehingga tak ada yang bisa mengenali. Akan tetapi topi, sepatu sandal serta tasnya masih utuh, lengkap dengan isinya yang terdiri atas alat tulis dan kitab yang dibawanya berangkat mengaji di sekolah sehingga pihak keluarga yakin bahwa itu memang adik.
Polisi-polisi kembali berdatangan lagi meminta keterangan kronologis ditemukannya (jenasah) adikku itu. Tak ketinggalan para pencari berita. Aku tak mau tahu dengan semua itu. Hatiku sangat sakit. Sakit memikirkan siapa gerangan yang tega melakukan hal keji itu pada adikku. Aku sakit membayangkan bagaimana ia menghadapi sakaratul maut sendirian di sana? Aku benar-benar sakit hati hingga tak tega menonton atau membaca berita tentang kematian “tragis” adikku ini. Berhari-hari aku bermimpi buruk detik-detik kematiannya, sampai akhirnya aku jatuh sakit karena tak makan berhari-hari.
Aku bisa berpura-pura kuat saat di rumah dan menangis dalam diam. Lambat laun, berkat dorongan dan perhatian teman-temanku, aku berhenti menyiksa diri. Aku berpikir bahwa aku harus bangkit dari keterpurukan ini. Kemudian, bayang-bayang kejadian yang mengerikan itu pun perlahan-lahan menyingkir dari benakku meski si pelaku belum ditemukan hingga sekarang. Aku sadar, bahwa takdir berkata bahwa telah cukup adikku mengarungi perjalanan hidupnya sampai di sini. Aku harus rela.
Banyak sekali ibrah yang kudapat. Bahwa ada beberapa pertanyaan yang tak akan bisa dijawab serta ada beberapa hal yang tetap akan menjadi misteri dan hanya Dia Yang Mengetahuinya.
Allah Maha Adil. Aku yakin semua perbuatan akan kembali kepada pelakunya, hal baik akan berbuah kebaikan, sebaliknya pun hal buruk akan berbuah keburukan kepada si penanam. Kejadian itu menempaku menjadi seseorang yang lebih tegar. Saat duka menyapa kehidupan, percayalah bahwa kelak akan berganti dengan senyum bahagia jika kita berhasil melewatinya dengan sabar tanpa kenal putus asa.
Epilog
Hari ini ada tugas bahasa Inggris yang harus dikumpulkan. Namun ketika sudah setengah jalan, aku baru sadar bahwa tugasku ketinggalan di rumah. Terpaksa aku turun dari angkutan dan naik angkutan yang berbalik arah ke rumah. Waktuku tinggal beberapa menit lagi sebelum bel masuk sekolah. Aku mengomeli diriku sendiri yang suka berangkat mepet walaupun selama bulan puasa jam masuk dimundurkan menjadi jam 8.
Setelah sampai di rumah aku langsung menyambar tugasku yang tergeletak di meja ruang tamu. Aku melirik jam dinding, syukurlah masih ada waktu cukup untuk berangkat (lagi) ke sekolah. Adik laki-lakiku, Ahmad terlihat sedang sibuk membetulkan jam tangan di pergelangan tangannya di depan pintu rumah. Aku heran mengapa sudah jam segini tapi dia belum berangkat sekolah. Biasanya ia yang nomor satu. Kuperhatikan adikku yang masih berdiri di depan pintu rumah tanpa firasat apapun.
Siapa yang menyangka bahwa itulah saat terakhir melihat adikku, terakhir kali aku menyapanya, terakhir kali ia menjawab salamku, pagi itu terakhir kalinya ia membangunkanku sahur, terakhir kali aku melihat senyumnya dan mendengar tawanya. Setiap orang tak akan pernah tahu kapan perjalanannya di dunia usai. Pun kita tak pernah tahu kapan kita masih bersama dengan orang-orang yang kita cintai dan sayangi hingga penyesalan datang saat kelak kita tak dapat bersapa. Ketika tak ada kata yang sanggup kita ucapkan atau mereka katakan. Ia akan datang dengan cara dan waktu yang tak bisa diduga. Tak ada yang pernah tahu.
“Cepet berangkat. Ntar telat lho dek,” aku mengingatkannya.
“He eh”, jawabnya masih berkutat dengan jam tangannya. Sepintas kulihat raut bingung di wajahnya.
“Ya wis, aku berangkat dulu. Ati-ati ya. Assalamu’alaikum,” kataku berpamitan.
“Wa’alaikum salam”
Kemudian aku berlari agak tergesa-gesa karena harus mencegat angkot menuju sekolah. Hari itu 6 November 2003, hari kesekian bulan Ramadhan di tahun itu.
SELESAI
Panic Room
4 Juni 2010
*Tulisan ini berawal dari coretan di sebuah buku yang telah sobek disana-sini tertanggal 20 Februari 2004 ketika ia belum ditemukan
For my brother, you know we always love you. Ia yang jiwanya tak pernah mati di dalam hati, hanya dapat berharap suatu saat kita akan bertemu. Semoga.
Terima kasih untuk setiap doa dan nasehat dari semuanya.
Kamis, 03 Mei 2012
FEELing
Sering saya mendapat perasaan-perasaaan aneh, sepertinya itu yang orang sebut firasat. Saya tidak tahu berawal darimana dan bagaimana bisa menghentikannya. Yang saya tahu, firasat itu memberitahu saya suatu hal yang berhubungan erat dengan saya. Saya hanya diberitahu lewat rasa, itu saja. Saya tidak bisa menghentikan, saya tidak bisa memutar waktu atau menghalang-halangi. Bahkan sering saya tidak bisa menentukan 'tema' apa yang sedang diberikan lewat firasat yang saya terima.
Teman saya Trisetya, dia bilang saya manusia setengah dukun. Waw, kalau saya boleh memilih, lebih baik saya tidak. Dewi Lestari membuat cerpen berjudul Firasat, intinya menceritakan orang-orang semacam saya ini. Saya bukan indigo loh ya, saya tidak bisa meramal, saya tidak bisa melihat masa depan, saya tidak bisa membaca sifat orang, saya hanya sering dikirimi 'rasa'.
Banyak hal dalam hidup saya yang melibatkan rasa itu sebagai suatu pembuktian. That's why saya sering lebay, saya terkesan sering menuduh, padahal aslinya saya cuma ngomong apa yang saya rasakan. Kalau omongan saya dijadikan alasan untuk benar-benar merealisasikan apa yang saya khawatirkan, itu sungguh di luar keinginan saya.
Beberapa hari yang lalu, ketika saya akan mendatangi suatu tes kerja, rasa itu datang. Saya sering ikut wawancara dan grogi yang saya rasakan tidak pernah terasa mengganggu seperti ini. FYI, rasa itu ketika datang sangat mengganggu, sangat tidak menyenangkan. Ternyata, apa yang rasa coba katakan pada saya adalah tes yang mungkin hampir tidak mungkin saya lewati tapi berbekal kepedean over dosis yang saya punyai, tes itu terlewati. Apa tesnya? Saya disuruh mengajari orang untuk membaca perbedaan kurs mata uang satu dengan yang lain. Padahal sejujurnya, membacanya dalam bahasa Indonesia saja saya tidak bisa. Kala itu saya HARUS mengajari orang cara membaca kurs dalam Bhs. INggris dan saya terangkan dengan Bahasa Inggris juga dalam waktu ajar 30 menit, the real 30 menit. Sejauh ini belum pernah saya micro teaching dalam waktu yang tidak dipotong.
In short, saya lolos dan yang saya ajar bilang: penjelasan Anda tidak membingungkan dan understandable, pasti Anda diterima. She's right!
Saya dihadapkan pada pilihan Denpasar atau Balikpapan. Atau tidak saa sekali, menurut saya hahahaa...
Kemarin seharian saya diserang rasa, dia memperkosa saya untuk khawatir sepanjang waktu. Saya mainkan tangan saya, berhasil saya tulis 8 halaman tulisan yang sedang menjadi proyek pribadi saya. Biasanya, dala sehari saya hanya bisa tulis 3-4 halaman saja, paling banter 5.
Hari ini akan saya temui yang menjadi jawaban dari rasa yang terus-terusan menyerang saya kemarin. Mungkin saya benar-benar akan ditepatkan di Balikpapan. Semoga saja tidak, semoga yang saya inginkan adalah yang Tuhan kabulkan. Amin...
Teman saya Trisetya, dia bilang saya manusia setengah dukun. Waw, kalau saya boleh memilih, lebih baik saya tidak. Dewi Lestari membuat cerpen berjudul Firasat, intinya menceritakan orang-orang semacam saya ini. Saya bukan indigo loh ya, saya tidak bisa meramal, saya tidak bisa melihat masa depan, saya tidak bisa membaca sifat orang, saya hanya sering dikirimi 'rasa'.
Banyak hal dalam hidup saya yang melibatkan rasa itu sebagai suatu pembuktian. That's why saya sering lebay, saya terkesan sering menuduh, padahal aslinya saya cuma ngomong apa yang saya rasakan. Kalau omongan saya dijadikan alasan untuk benar-benar merealisasikan apa yang saya khawatirkan, itu sungguh di luar keinginan saya.
Beberapa hari yang lalu, ketika saya akan mendatangi suatu tes kerja, rasa itu datang. Saya sering ikut wawancara dan grogi yang saya rasakan tidak pernah terasa mengganggu seperti ini. FYI, rasa itu ketika datang sangat mengganggu, sangat tidak menyenangkan. Ternyata, apa yang rasa coba katakan pada saya adalah tes yang mungkin hampir tidak mungkin saya lewati tapi berbekal kepedean over dosis yang saya punyai, tes itu terlewati. Apa tesnya? Saya disuruh mengajari orang untuk membaca perbedaan kurs mata uang satu dengan yang lain. Padahal sejujurnya, membacanya dalam bahasa Indonesia saja saya tidak bisa. Kala itu saya HARUS mengajari orang cara membaca kurs dalam Bhs. INggris dan saya terangkan dengan Bahasa Inggris juga dalam waktu ajar 30 menit, the real 30 menit. Sejauh ini belum pernah saya micro teaching dalam waktu yang tidak dipotong.
In short, saya lolos dan yang saya ajar bilang: penjelasan Anda tidak membingungkan dan understandable, pasti Anda diterima. She's right!
Saya dihadapkan pada pilihan Denpasar atau Balikpapan. Atau tidak saa sekali, menurut saya hahahaa...
Kemarin seharian saya diserang rasa, dia memperkosa saya untuk khawatir sepanjang waktu. Saya mainkan tangan saya, berhasil saya tulis 8 halaman tulisan yang sedang menjadi proyek pribadi saya. Biasanya, dala sehari saya hanya bisa tulis 3-4 halaman saja, paling banter 5.
Hari ini akan saya temui yang menjadi jawaban dari rasa yang terus-terusan menyerang saya kemarin. Mungkin saya benar-benar akan ditepatkan di Balikpapan. Semoga saja tidak, semoga yang saya inginkan adalah yang Tuhan kabulkan. Amin...
Untuk May 2nd
Hari Pendidikan Nasional membuat tangan saya horny lagi.
Bertahun-tahun yang lalu, saya dan Arfian pernah membahas tentang
PENDIDIKAN dan PERSEKOLAHAN. Saya sudah pernah membahas tentang hal itu
sebelumnya, di note juga. Kali ini saya akan melanjutkan pembahasan saya
yang sama sekali tidak mutu itu untuk memuaskan hasrat kehorny-an
tangan saya.
Sepulang saya dari Manggarai, mindset saya benar-benar terobrak-abrik dengan pendidikan di sana. Di sana, anak-anak sudah terkondisi menghormati orang tua, ya ayah ibunya, ya gurunya, ya orang lain yg lebih tua darinya. Menghormati bukanlah seperti yang anak-anak Jawa lakukan; dengan basa krama, panggil mas mbak paklik bulik dll, atau bahkan dengan sikap duduk dan wajah bermanis-manis. Anak-anak Jawa di sini tentunya tidak semua, tapi most of them (or us, actually).
Saya sempat berbincang-bincang tentang sekolah di Jawa dengan Ibu Lin, guru SD di Manggarai. Saya bilang di sini fasilitas lengkap, segala macam ada dan bahkan siswa tidak diajar guru saja mereka sudah mampu mendapatkan semua materi dari buku dan internet, as long as siswa tidak malas untuk belajar. Bu Lin terkagum-kagum dan berkata, "Pastinya anak-anak Manggarai juga akan pandai kalau fasilitas lengkap."
Saya seperti disambar petir. Listrik saja tidak ada, mungkinkah kita pakai LCD saat proses KBM? Mungkinkah kita memberi tugas kepada anak2 untuk mencari di internet? Mungkinkah kita menyuruh mereka mengirimkan hasil pekerjaan mereka lewat email?
Padahal, seperti yang saya pernah ceritakan di catatan saya Berjalan ke Pulau Bunga, tugas mereka sebagai anak-anak tidaklah seremeh tugas anak-anak Jawa: belajar dan bermain. Mereka ngangsu (cari air dari sungai untuk diangkut ke rumah), cari kayu bakar, masak sendiri, cuci pakaian, membantu orang tua mengurus kebun dan ikut mengasuh anak guru mereka. Mereka tentunya masih memiliki waktu untuk bermain dan sesekali belajar di waktu senggang. Sulitnya transportasi membuat mereka berjalan lebih dari 1 km hanya untuk sampai ke sekolah dengan medan yang tidak mulus.
Masalah kebersihan, mereka memang sangat kotor dan tidak bisa kinclong seperti anak-anak Jawa. Tetapi bersih saja tidak cukup. Dengan fasilitas yang lengkap di Jawa, apakah benar anak-anak Jawa lebih 'berpendidikan' daripada anak-anak yang di Manggarai? Sayang saya belum sempat ke Talaud, Rote Ndao, Aceh Besar, Timika atau pedalaan Kapuas. Yang saya rasakan, Jawa dengan seribu satu kemudahan dan kemewahannya menjanjikan: PERSEKOLAHAN yang bagus, tapi mengenai pendidikan saya masih tidak yakin, terutama untuk pendidikan pengembangan diri.
Yang saya lebih soroti adalah tentang TANGGUNG JAWAB dan DISIPLIN. Anak Jawa terlalu tergantung pada orang lain. Untuk mencuci pakaiannya, bahkan seragamnya, mereka lebih menggantungkan diri pada orang yang bis encuci selain dirinya. HOnestly, dulu saya juga begitu. Yang merasa guru atau pernah jadi guru, pasti sering menemui anak-anak yang tidak mengerjakan PR seakan-akan PR itu yang butuh adalah Pak/Bu Guru bukan para siswa. Siswa tidak mendengarkan ketika diajar adalah hal biasa, karena mereka merasa sudah membayar. GUru menegur siswa dengan keras, siswa semakin membangkang. Guru menabok siswa, siswa lapor ke ortu, ortu lapor polisis lalu guru dipenjara.
Apa itu yang diagung-agungkan atas nama Pendidikan? Apa sih esensi pendidikan? Nilai yang bagus? Sorry to say, saya pernah jadi guru dan saya tidak mengalami kesulitan sedikitpun untuk memberi nilai pada siswa. Jadi nilai yang bagus itu bisa didapatkan cuma-cuma saja. Kalau esensinya adalah tingkat kelulusan yang tinggi, kongkalikong dalam UAN itu sudah biasa, rahasia umum ada sekolah-sekolah tertentu yang mengerahkan sebagian gurunya untuk mengerjakan UAN dan jawabannya disebar ke siswa. Sudah biasa. Kalau esensinya adalah perkejaan yang wah, hmm bagi saya pekerjaan itu seperti jodoh. Mau ganteng, cantik, kaya, terhormat, semua kembali ke diri sendiri dan sesuai dengan yang dikehendaki Tuhan.
Saya tidak minta kalian sepakat dengan saya, anggap saja ini Analytical Exposition. Bagi saya secara pribadi, pendidikan itu lebih menitikberatkan pembentukan karakter pribadi siswa. Saya sendiri ngeri kalau saya punya anak nanti. Apakah sekolah benar-benar akan membuatnya menjadi bertanggung jawab? apakah sekolah akan benar-benar membuatnya disiplin? apa iya? In fact, anak-anak di sekitar saya jika disuruh tidak langsung 'menyat', jika diperingatkan PASTI membantah, lebih suka dibantu daripada membantu diri sendiri. Mereka sekolah, mereka berprestasi bagus, tapi apa wujud nyata dari persekolahan yang mereka enyam tiap hari?Salah seorang orang tua siswa yang saya ajar berkata, "Prinsip saya, anak saya memang sekolahnya harus pinter. GImana nggak, anak sekarang ini tugasnya cuma sekolah saja, kalau jaman saya dulu sebelum berangkat asih harus nyuci, pulang sekolah bantu orang tua di kebun. Anak sekarang tidak melakukan itu, jadi kebangeten kalo sekolah saja tidak pinter."
Ya, benar! KEBANGETEN kalau sekolah saja tidak pinter. kebangeten kalau disuruh saja malas-malas, kebangeten kalau diberitahu masih membantah, kebangeten kalau asih tidak bisa disiplin dan tangung jawab atas kebutuhan diri sendiri. Saya punya cita-cita yang membuat saya mbateg karena tidak punya cukup uang untuk mewujudkannya. Tapi saya meyakini sepenuhnya, kalau bukan saya yang mewujudkan, akan ada orang yang prihatin akan pendidikan di Jawa, diana fasilitas lengkap, modernisasi dimana-mana tapi justru meluluskan pribadi-pribadi manja yang tidak bisa hidup sendiri.
Saya punya teman dari Polandia, dia bahkan tidak suka jika bajunya dicucikan orang lain. Padahal tentunya disana fasilitas lebih oke daripada di Jawa, mutu materi pelajaran jauh lebih tinggi daripada di Jawa tapi kemandirian, disiplin dan tanggung jawab tetap terdepan. Dan itulah PENDIDIKAN.
Selamat Hari Pendidikan bagi semua pendidik dan terdidik.Selamat Hari Pendidikan bagi pengajar dan terajar, semoga Tuhan menuntun kalian ke jalan pendidikan yang sesungguhnya, bukan persekolahan yang menipu.
Sepulang saya dari Manggarai, mindset saya benar-benar terobrak-abrik dengan pendidikan di sana. Di sana, anak-anak sudah terkondisi menghormati orang tua, ya ayah ibunya, ya gurunya, ya orang lain yg lebih tua darinya. Menghormati bukanlah seperti yang anak-anak Jawa lakukan; dengan basa krama, panggil mas mbak paklik bulik dll, atau bahkan dengan sikap duduk dan wajah bermanis-manis. Anak-anak Jawa di sini tentunya tidak semua, tapi most of them (or us, actually).
Saya sempat berbincang-bincang tentang sekolah di Jawa dengan Ibu Lin, guru SD di Manggarai. Saya bilang di sini fasilitas lengkap, segala macam ada dan bahkan siswa tidak diajar guru saja mereka sudah mampu mendapatkan semua materi dari buku dan internet, as long as siswa tidak malas untuk belajar. Bu Lin terkagum-kagum dan berkata, "Pastinya anak-anak Manggarai juga akan pandai kalau fasilitas lengkap."
Saya seperti disambar petir. Listrik saja tidak ada, mungkinkah kita pakai LCD saat proses KBM? Mungkinkah kita memberi tugas kepada anak2 untuk mencari di internet? Mungkinkah kita menyuruh mereka mengirimkan hasil pekerjaan mereka lewat email?
Padahal, seperti yang saya pernah ceritakan di catatan saya Berjalan ke Pulau Bunga, tugas mereka sebagai anak-anak tidaklah seremeh tugas anak-anak Jawa: belajar dan bermain. Mereka ngangsu (cari air dari sungai untuk diangkut ke rumah), cari kayu bakar, masak sendiri, cuci pakaian, membantu orang tua mengurus kebun dan ikut mengasuh anak guru mereka. Mereka tentunya masih memiliki waktu untuk bermain dan sesekali belajar di waktu senggang. Sulitnya transportasi membuat mereka berjalan lebih dari 1 km hanya untuk sampai ke sekolah dengan medan yang tidak mulus.
Masalah kebersihan, mereka memang sangat kotor dan tidak bisa kinclong seperti anak-anak Jawa. Tetapi bersih saja tidak cukup. Dengan fasilitas yang lengkap di Jawa, apakah benar anak-anak Jawa lebih 'berpendidikan' daripada anak-anak yang di Manggarai? Sayang saya belum sempat ke Talaud, Rote Ndao, Aceh Besar, Timika atau pedalaan Kapuas. Yang saya rasakan, Jawa dengan seribu satu kemudahan dan kemewahannya menjanjikan: PERSEKOLAHAN yang bagus, tapi mengenai pendidikan saya masih tidak yakin, terutama untuk pendidikan pengembangan diri.
Yang saya lebih soroti adalah tentang TANGGUNG JAWAB dan DISIPLIN. Anak Jawa terlalu tergantung pada orang lain. Untuk mencuci pakaiannya, bahkan seragamnya, mereka lebih menggantungkan diri pada orang yang bis encuci selain dirinya. HOnestly, dulu saya juga begitu. Yang merasa guru atau pernah jadi guru, pasti sering menemui anak-anak yang tidak mengerjakan PR seakan-akan PR itu yang butuh adalah Pak/Bu Guru bukan para siswa. Siswa tidak mendengarkan ketika diajar adalah hal biasa, karena mereka merasa sudah membayar. GUru menegur siswa dengan keras, siswa semakin membangkang. Guru menabok siswa, siswa lapor ke ortu, ortu lapor polisis lalu guru dipenjara.
Apa itu yang diagung-agungkan atas nama Pendidikan? Apa sih esensi pendidikan? Nilai yang bagus? Sorry to say, saya pernah jadi guru dan saya tidak mengalami kesulitan sedikitpun untuk memberi nilai pada siswa. Jadi nilai yang bagus itu bisa didapatkan cuma-cuma saja. Kalau esensinya adalah tingkat kelulusan yang tinggi, kongkalikong dalam UAN itu sudah biasa, rahasia umum ada sekolah-sekolah tertentu yang mengerahkan sebagian gurunya untuk mengerjakan UAN dan jawabannya disebar ke siswa. Sudah biasa. Kalau esensinya adalah perkejaan yang wah, hmm bagi saya pekerjaan itu seperti jodoh. Mau ganteng, cantik, kaya, terhormat, semua kembali ke diri sendiri dan sesuai dengan yang dikehendaki Tuhan.
Saya tidak minta kalian sepakat dengan saya, anggap saja ini Analytical Exposition. Bagi saya secara pribadi, pendidikan itu lebih menitikberatkan pembentukan karakter pribadi siswa. Saya sendiri ngeri kalau saya punya anak nanti. Apakah sekolah benar-benar akan membuatnya menjadi bertanggung jawab? apakah sekolah akan benar-benar membuatnya disiplin? apa iya? In fact, anak-anak di sekitar saya jika disuruh tidak langsung 'menyat', jika diperingatkan PASTI membantah, lebih suka dibantu daripada membantu diri sendiri. Mereka sekolah, mereka berprestasi bagus, tapi apa wujud nyata dari persekolahan yang mereka enyam tiap hari?Salah seorang orang tua siswa yang saya ajar berkata, "Prinsip saya, anak saya memang sekolahnya harus pinter. GImana nggak, anak sekarang ini tugasnya cuma sekolah saja, kalau jaman saya dulu sebelum berangkat asih harus nyuci, pulang sekolah bantu orang tua di kebun. Anak sekarang tidak melakukan itu, jadi kebangeten kalo sekolah saja tidak pinter."
Ya, benar! KEBANGETEN kalau sekolah saja tidak pinter. kebangeten kalau disuruh saja malas-malas, kebangeten kalau diberitahu masih membantah, kebangeten kalau asih tidak bisa disiplin dan tangung jawab atas kebutuhan diri sendiri. Saya punya cita-cita yang membuat saya mbateg karena tidak punya cukup uang untuk mewujudkannya. Tapi saya meyakini sepenuhnya, kalau bukan saya yang mewujudkan, akan ada orang yang prihatin akan pendidikan di Jawa, diana fasilitas lengkap, modernisasi dimana-mana tapi justru meluluskan pribadi-pribadi manja yang tidak bisa hidup sendiri.
Saya punya teman dari Polandia, dia bahkan tidak suka jika bajunya dicucikan orang lain. Padahal tentunya disana fasilitas lebih oke daripada di Jawa, mutu materi pelajaran jauh lebih tinggi daripada di Jawa tapi kemandirian, disiplin dan tanggung jawab tetap terdepan. Dan itulah PENDIDIKAN.
Selamat Hari Pendidikan bagi semua pendidik dan terdidik.Selamat Hari Pendidikan bagi pengajar dan terajar, semoga Tuhan menuntun kalian ke jalan pendidikan yang sesungguhnya, bukan persekolahan yang menipu.
Langganan:
Komentar (Atom)