Minggu, 23 September 2012

MENGGAMBAR


Tiba-tiba saya ingin menulis. Di puncak hasrat saya yang sedang menggebu-gebu, justru tangan saya tergerak kaku untuk menggerakkan telunjuk kanan di atas tetikus dan kiri di atas papan ketik instead of memainkan sepuluh jari di atas tombol-tombol huruf. Setelah crop sana crop sini, blend ini blend itu, jadilah sebuah gambar yang berisi tumpukan gambar lain. Kurang halus, kurang bagus. Tapi inilah saya yang hanya mampu menggunakan pensil untuk menulis.

Suatu hari nanti, siapa tahu anak saya akan bertanya, “Ibu, menggambar itu apa sih?”
Thus, saya harus persiapkan jawaban saya dari sekarang. Secara teori, menggambar itu membuat bentuk atau pola tertentu. Tapi teori akan basi jika berbenturan dengan ruang hampa, yang bahkan membuat kita berpikir dimana letak benturannya. Inilah manusia, suka berteori, suka membatasi, maka ketika batas-batas yang ia karang ternyata hanya fiktif belaka maka orang-orang semacam saya ini yang repot. Apa jawaban yang harus saya ungkapkan pada anak saya?

Kalau hanya menggoreskan pensil di atas kertas, saya bisa. Tulis nama saya, tempat tinggal, umur, paling banter tulis hal-hal yang mengusik pikiran saya. Pada kenyataannya, saya tidak bisa menggambar. Sama sekali. Berbeda dengan menulis, semua orang (terutama yang muda) diwajibkan bisa menulis, jadi sekedar untuk menulis, pasti yang sudah pernah diajari akan bisa. Menggambar tidak begitu. Sejak kecil saya belajar menggambar, hampir mati-matian tapi selalu gagal. Semua gambar seni ukir di masa SMP saya dibuatkan oleh Mbah Kakung yang dengan bangga saya rusak dengan pewarnaan yang tidak bagus.

Aslinya saya tidak mau membahas tentang menggambar dan menulis, saya ingin berterima kasih pada Bos Besar saya, yang telah menginspirasi saya (dan saya yakin, beberapa teman saya juga) dengan kerja kerasnya dan kekerasan terselubungnya. Tadinya saya bermaksud membuat gambar yang bagus untuk dikenang, tapi jujur saja karena keterbatasan saya yang tidak ada batasnya, jadilah gambar itu begini adanya. Tidak halus, tidak bagus tapi 100% saya pakai sotosop yang bagi saya tingkat kesulitannya lebih dari teman-teman seperjuangannya.

Mungkin tulisan ini memang sedikit berlebihan, tapi saya sendiri tidak tahu harus bicara apa untuk berterima kasih (saya harap tidak ada yang mendikte saya untuk mengucapkan te-ri-ma-ka-sih dalam hati). Karena ini bukan teori, saya merasakan betapa sulitnya kata-kata akan keluar dari mulut saya. Maka terimalah gambar amburadul nan menyedihkan ini sebagai wujud ungkapan terimakasih saya yang telah dinasihati, didukung, diajak berfikir bijaksana, terkadang dipuji juga dan atas jemputannya bersama Bos Kecil di bandara pada waktu pertama kali saya kemari (padahal sampai sekarang juga masih pertama kali).

Sejujurnya, meski ini bukan tulisan terjelek saya, tapi tulisan ini sangat amburadul, tidak bagus dan acak-acakan. Dan itulah ternyata untuk mempersembahkan yang terbaik pun saya tidak bisa. Bos, tengkiu ya sudah menyemangati saya, mengguyur kepala saya dengan es batu ketika sedang mendidih, mengarahkan saya memiliki teman-teman yang beragam dan semuanya spesies langka. Intinya saya mau kasih foto ini ke Bos, tapi kalau tiba-tiba saya kasih lewat flesdis, kayaknya saya culun banget gitu kayak anak TK jadi mending biar ada adegan sedih-sedihnya ya saya berikan dalam format seperti ini. Maaf Bos, nggak bisa ngonvert docx jadi 3gp hehehe…

Intinya itulah, makasih ya Bos… Kalau sudah di Bali jangan lupakan kami yang disini. Kalau bisa ya jangan ingat doang, et lis pas kesini bawalah kaos Joger buat masing2 orang atau brownies Amanda juga boleh. Hehehe…

Sekian ah, kepanjangan jadi tambah jelek dan memalukan.







NB: karena tidak semua gambar teman-teman saya punya, jadi yang saya bisa tempel juga tidak semua =) harap maklum

Kamis, 13 September 2012

Baju Lebaran Ayah

jum'at, 7 januari 2000 (kurang lebih 12 tahun yang lalu...)
pukul 19.00 WIB

Jika kau ingat... kau akan tahu kalau malam itu adalah malam terindah untuk semua umat muslim, ya...malam dimana suara2 takbir berkumandang dimana-mana... aku yakin kau hanya bisa tersenyum dan menangis bahagia malam itu...
'malam takbiran' biasanya... aku seharusnya begitu...
tapi kali ini ada yang berbeda, sesuatu telah terjadi dan itu bukanlah sesuatu yang baik atau cukup baik.kurang lebih seperti itulah...

Dan malam itu....
sejak 2 bulan yang lalu aku tidak bisa tersenyum layaknya orang yang bahagia, justru air mata 'bodoh' ini yang selalu keluar, membuat mataku benar2 kering malam ini...
aku tidak bisa berpura2 tersenyum dan menangispun rasanya sudah tidak mungkin lagi, air mataku sudah benar2 kering..
isak tangis lirih ibu diruang tamu membuat aku semakin ngeri. Aku tahu, sebisa mungkin ibu menyembunyikan tangisan itu tapi aku cukup terbiasa dengan semua tangisan dirumah ini...selirih apapun itu aku pasti mendengarnya, dan aku bahkan ngga mampu lagi untuk menenangkannya...aku sendiri tag kuasa menenangkan diri sendiri.

jadi...sejak beberapa bulan yang lalu ayahku sakit paru2 (dia adalah perokok hebat tapi selalu mengajarkan anak2nya untuk tak merokok), dan 3 hari terakhir ini bertambah parah saja, tubuhnya benar2 hanya tersisa tulang...sesekali ayah mengeram kesakitan sampai menangis, dia sudah benar2 berpeluh dengan rasa sakit, aku sudah tidak bisa melakukan apapun...sejak kemarin aku tidak berani melihatnya,

setelah cukup lama aku duduk2 diteras depan,
entah mengapa tiba2 aku sangat ingin menemui ayah dikamarnya.
dan keinginan itu begitu kuat,
dengan langkah pelan aku menuju kekamar ayah.
pintu kamar sedikit terbuka, aku bisa melihat ayahku yang terbujur tak berdaya diranjangnya ditemani kakak, rasanya aku hanya bisa mendekat sedekat itu...
mencoba menahan isak agar ayah dan kakak tag menyadari kehadiranku disana...
"ngesuk bapak tukukna pakean anyar ya" kata ayah tiba2 dengan suara paraunya. kakak yang masih terkejut hanya bisa mengangguk cepat, "sing murahan bae... warnane putih polos" lanjut ayah lagi, kakak hanya bisa diam mendengar kata2 ayah...
ngga biasanya ayah minta dibelikan baju lebaran, dan anehnya lagi... beliau minta baju berwarna putih polos yang murah... astaghfirullah' semoga ini hanya persaanku saja, aku berusaha menghilangkan firasat buruk itu. segera aku menjauh dan kuambil air wudhu kemudian sholat isya...
dan tentu saja, dalam doaku sepenuhnya untuk kesembuhan ayah dan kekuatan ibu dan kami sekeluarga, berharap esok kami berbahagia dalam fitri...

malam ini aku benar2 ngga bisa tidur...
malam paling menegangkan!

selesai sholat id aku langsung menemui ayah dan sungkem dengannya (Alhamdulillah...ayah sempat bersalaman dengan keluarga dan tetangga), kemudian aku membacakan surat yasin 2 kali... kemudian aku kebelakang sebentar... begitu aku kembali...
tepat pukul 08.00 WIB.

'innalillahi wa'innailaihi rajiuun!'

Ayah tertidur, dan benar2 tidur...

Sabtu, 8 januari 2000
(Aku bahagia, karna Ayah tutup usia dengan senyum di Hari yang Fitri)
Bahkan, waktupun menyayangi Ayah, dan membiarkan ayah merasakan Fitri...