Minggu, 18 Maret 2012

Tetralogi Cerpen The Shadow episode #2

REFLEKSI

Namaku Manusia. Terkadang, aku ingin berteriak sekencang-kencangnya kalau aku terusik, sakit atau tidak bahagia. Tapi aku takut orang-orang di sekitarku terganggu dengan teriakanku. terkadang, aku ingin bernyanyi, melompat, dan menari dengan senangnya kalau aku merasa menang, bebas dan bahagia. Tapi aku takut orang-orang di sekitarku terganggu dengan ulahku.

Sama sekali aku tak malu dianggap gila, tidak waras atau aneh. SEperti sekarang, aku hanya bisa menangis sesenggukan di dalam kamar tanpa kasur. Aku kalah dalam lomba menyanyi. Kata juri, suaraku terlalu serak, fals dan di bawah standar. Berani-beraninya aku ikut lomba menyanyi.

Yang membuatku sesenggukan begini bukanlah kekalahanku, melainkan sikap dan kata-kata juri padaku. Bukankah keberanian untuk ikut lomba menyanyi seharusnya mendapat perhatian juga, bukan hanya suara yang bagus saja yang dianggap. Bolehlah aku disadarkan agar tidak lagi ikut lomba menyanyi, tapi sikap dan kata-kata yang ditujukan padaku seharusnya yang lebih berterima.

Satu lagi, aku kalah dalam lomba berenang. Kata juri, fisikku terlalu lemah, gerakanku lambat dan tidak beraturan. Berani-beraninya aku ikut lomba berenang. AKu tidak menyesalkan kekalahanku, tapi sikap dan kata-kata juri padaku membuatku sakit hati. Bukankah keberanian untuk ikut lomba berenang, merenangi kolam dengan kedalaman 3m seharusnya juga mendapat perhatian, bukan hanya kehebatan fisik dan tehnik yang dihargai.

Kali ini aku ingin ikut lomba membentuk tanah liat. Sudah kubuat beberapa bentuk yang masih belum sempurna, dari tanah liat yang kukumpulkan tiap hari. Ada asbak, kendi, vas, piring, bahkan patung. Rencananya, besok akan kukirimkan benda-benda itu ke panitia.

Dua jam yang lalu, Dedi membuang hasil karyaku begitu saja, membuat benda-benda itu hancur berkeping-keping. Ia boleh tak suka dengan hasil karyaku, ia boleh menganggap benda-benda itu jelek dan tidak berharga, tapi ada keringat menetes saat membuatnya, ada ratusan joule energi yang terkuras saat membentuknya, ada ribuan detik terlewai dan kini berliter-liter air mata tak akan bisa mengembalikannya.

Di kamar yang sempit tanpa kasur ini, aku dengan masih sesenggukan menatap cermin. Mataku sembab, wajahku merah, rambutku semrawut. Sekarang aku sedang terpenjara dalam sel tanpa jeruji, sel tanpa pintu, sel tanpa tembok. Aku sendiri, sayu, sepi dan sadar bahwa aku tak bisa apa-apa. Bahwa tak akan ada yang menolongku karena aku tak bisa apa-apa. Aku tak berguna.

Dedi anggap aku bodoh. Mami tentunya malu punya anak macam aku. Namaku Manusia, aku tidak kenal dengan orang-orang yang bernama Teman, Cinta, Sahabat, Musuh. Yang aku kenal, semuanya bernama Orang, yang akan jadi teman, cinta, sahabat atau musuh semau mereka.

Kupecahkan cermin di depanku, dengan pecahannya, kusayat tanganku dengan serangkaian huruf kapital BERSAMBUNG

*karena hidup tidak ada akhirnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar