Kamis, 15 Maret 2012

Ditulis pada Malam Jumat

Suatu hari di suatu bulan, saya lupa tepatnya kapan. Saya tinggal di sebuah kota kecil di pesisir pantai utara pulau jawa, Jepara. Hari itu kami akan berkemah dalam rangka pelantikan suatu tingkaatan dalam Pramuka. Biasanya, kami hanya akan mendirikan tenda di lapangan sekolah selama satu atau dua malam, tapi kali ini lain. Kami didampingi alumni berkemah di sebuah hutan pinus yang terletak di Kecamatan Batealit. Saya lupa nama hutan itu apa. Kami berangkat di pagi hari menjelang siang. Awalnya tidak ada kejadian janggal apapun sampai setelah dzuhur ditemukanlah benda itu, awal dari sebuah pengalaman yang tidak ingin saya ulangi untuk kedua kali.

Bentuknya seperti sapu lidi tapi berukuran lebih kecil, kurang lebih seperti sikat pemoles pipi. Benda itu ditemukan oleh adik kelas saya yang tentu saja dengan hebohnya langsung memamerkan benda itu ke siapa saja, termasuk saya. Kontan kami memainkannya, menggilirnya untuk menjadi mainan yang mengasyikkan dan seru. Entah karena bosan atau dimulainya kegiatan, benda itu terlupakan begitu saja oleh kami.

Selepas maghrib, mulailah segala bentuk kejadian menakutkan yang baru pertama kali saya alami itu. Satu persatu teman saya melihat apa yang tidak bisa saya lihat, menuai reaksi yang sangat beragam namun tidak satupun menyenangkan. Ada yang berteriak histeris, ada yang pingsan, ada yang menangis ketakutan, satu persatu dari kami mulai tidak sadarkan diri. Saya sangat takut tentunya, saya diam sambil terus berdoa di dalam hati. Saya adalah orang yang buta, tuli dan bisu dalam masalah ghaib semacam itu. Saya tidak ingin dan benar-benar tidak ingin terlibat.

Seorang teman yang katanya memiliki 'balung kuning' menjadi perantara yang menghubungkan komunikasi kami dan mereka. Mereka bilang mereka tidak suka karena beberapa diantara kami bertutur tidak sopan dan bertingkah laku sembarangan. Mereka merasa kami telah mengganggu acara pesta yang seharusnya mereka adakan malam ini di tempat yang kami gunakan untuk berkemah. Memang kami tidak 'permisi' dulu pada mereka sejak awal karena beberapa alumni kami meyakini asal tujuan kami baik, siapapun akan dapat menerima kami dengan baik. Satu lagi, mereka mengungkapkan bahwa seorang anak kecil dari bangsa mereka kehilangan mainannya yaitu sapu lidi kecil seukuran pemulas pipi. Well, singkat cerita, kami harus menemukan sapu itu sebelum subuh jika ingin teman-teman kami (yang berjumlah sekitar 20 orang lebih, dari 40an peserta) sadar sepenuhnya dan kembali normal.

Dalam tengah malam yang gelap, kami yang masih sadar harus meraba-raba dan mencari sapu tersebt ke segala penjuru. Yang menyulitkan pencarian adalah sapu tersebut terbuat dari daun pinus dan kami berada di lautan daun pinus yang berguguran. Kami terus mencari dan mencari, akhirnya ditemukannya sapu kecil itu menjelang subuh. Mereka berterimakasih tapi menyuruh kami segera meninggalkan tempat itu begitu pagi tiba.

Rencana kami berkemah 4 hari 3 malam di hutan pinus itu luntur, kami berjalan kaki ke desa di dekat hutan lalu memutuskan untuk mendirikan tenda di halaman SD yang sedang libur. Pada waktu itu memang kami tidak diperbolehkan bercerita ke pihak sekolah atau orang tua mengenai apa yang terjadi di malam pertama perkemahan. Mengingat jumlah korban yang sangat banyak yaitu lebih dari separuh peserta, panitia khawatir ke depannya mereka tidak lagi dipercaya pihak sekolah untuk mengadakan perkemahan di luar. 

Beberapa teman saya yang sempat tidak sadarkan diri, hari itu sudah pulih dan mampu berjalan. Hanya saja, beberapa diantaranya masih diikuti 'seseorang'. Ada yang hanya merasa, ada yang benar-benar melihat. Bahkan teman saya yang awalnya buta, tuli dan bisu seperti saya, karena pada hari pertama ia menjadi 'korban', seterusnya ia bisa merasakan, bahkan melihat. Saya ngeri dengan itu.

Sampai tulisan ini saya buat, saya masih tidak menceritakan hal ini pada orang tua saya. Saya terlalu takut mengingat kejadian teman yang duduk di sebelah saya merasa punggungnya sangat panas padahal tangannya kedinginan, beberapa detik kemudian ia ambruk. Ada yang bilang ia 'kesenggol'. Teman saya yang lain melihat 'seseorang' duduk di atas pohon dengan rambut panjangnya yang menjuntai sampai tanah. Teman yang lain lagi mendengar tangisan dan jeritan anak kecil mencari mainannya.

Sungguh, saya bersyukur dengan menjadi buta, tuli dan bisu. Terimakasih Tuhan karena telah memberitahu saya dengan cara-Mu bahwa dunia itu memang benar adanya, tanpa melibatkan saya masuk ke dalamnya.

-The Real Story of Harizka-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar