Seputar Dedi
Aku membenci orang bernama Dedi. Meski aku tahu bahwa tidak semua Dedi seburuk dedi yang kukenal, aku tetap saja tidak suka jika di sebuah rumah ada yang bernama Dedi.
Dedi yang kukenal *yang membuatku membenci dedi-dedi yang lain* orangnya sangat penyayang. Ia rela memberikan apapun pada orang yang disayangnya, termasuk pernikahan dan anak. Dedi meninggalkanku dan memilih hidup bersama seorang dukun mistis yang ia yakini mampu memberi kebahagiaan untuknya. Dukun itu bertanduk dua seperti kerbau, hidung mancungnya berwarna merah dan bercula. Matanya membelalak berwarna hijau berkilat. Dari mulutnya selalu menetes air liur berupa lendir berwarna ungu. Napasnya berbau kamboja, dengar-dengar ia memang tidak makan nasi, makanannya adalah kembang tujuh rupa. Kulitnya kuning bersisik namun wajahnya putih pucat seperti tak berdarah.
Aku sendiri tak pernah bertemu dukun itu, karena pertemuan akan berujung kematian. Entah dia yang mati atau aku, atau justru Dedi yang akan mati.
Foto-foto mesranya bersama Dedi membuatku murka. Dengan semena-mena dedi membuangku demi dukun mistis itu, dengan tidak masuk akal Dedi memberikan semua uangnya pada si dukun, padahal bertahun-tahun aku menjalin hubungan dengan Dedi, jarang sekali ia memberiku uang.
Yang membuatku semakin tidak habis pikir, Dedi yang sudah beristri-istri itu tega melihat istrinya membusuk digerogoti rayap. Rayap itu masuk lewat telinga, mengaduk-aduk isi telinga hingga perih, merambat ke tenggorokan, masuk kerongkongan, membuat si empunya mual tidak doyan makan, bertelur dan bertai di situ, lalu pergi meninggalkan ribuan telurnya di kerongkongan dan tai-tainya masuk ke lambung. Ia sendiri kabur menuju kepala, mengikuti aliran darah sampai ke jantung, dipompa lagi sampai ke tangan, kaki, pipi, leher, hidung, mata dan bertengger di otak. Bagi rayap, otak adalah kasur terempuk dan terhangat untuknya tidur, berliur, ngompol dan mimpi basah.
Istri dedi kaku, seperti hidup tak bernyawa, mati belum diterima. dedi tetap santai, asmaranya dengan dukun mistis tidak bisa diganggu gugat oleh apapun dan siapapun.
Kuputuskan hubungan dengan Dedi. Tidak seharusnya, aku tahu. Tapi aku jauh lebih sakit hati daripada apapun. memang aku tidak pikir panjang, tapi aku tidak menyesal. Kesebatangkaraanku menuntunku untuk mengenal orang-orang lain bernama Dedi dan lama-kelamaan aku semakin tahu bahwa tidak semua Dedi seperti dedi yang kukenal.
Aku mulai belajar, mau tak mau aku lahir dengan keadaan yang sangat tidak kuinginkan. Mau tak mau aku menjalin hubungan aneh dengan Dedi dan istri-istrinya beserta anak-anaknya yang berbahagia. Mau tak mau aku pura-pura bahagia melihat bola dunia di genggamanku yang warnanya coklat kehitaman seperti habis tercebur lumpur lalu disambar petir. Mau tak mau aku menjalani hidup yang manisnya seperti brotowali ini. Tapi entah aku mau atau tidak, Tuhan selalu Maha Tahu bahwa aku pastinya mampu. Jadi tidak usah khawatir dengan Dedi di sekitarmu, mereka baik, mereka penyayang, mereka hebat dan mereka Dedi yang bisa diharapkan.
*catatan bohong dari anaknya Dedi #3 yang sangat bahagia
Aku membenci orang bernama Dedi. Meski aku tahu bahwa tidak semua Dedi seburuk dedi yang kukenal, aku tetap saja tidak suka jika di sebuah rumah ada yang bernama Dedi.
Dedi yang kukenal *yang membuatku membenci dedi-dedi yang lain* orangnya sangat penyayang. Ia rela memberikan apapun pada orang yang disayangnya, termasuk pernikahan dan anak. Dedi meninggalkanku dan memilih hidup bersama seorang dukun mistis yang ia yakini mampu memberi kebahagiaan untuknya. Dukun itu bertanduk dua seperti kerbau, hidung mancungnya berwarna merah dan bercula. Matanya membelalak berwarna hijau berkilat. Dari mulutnya selalu menetes air liur berupa lendir berwarna ungu. Napasnya berbau kamboja, dengar-dengar ia memang tidak makan nasi, makanannya adalah kembang tujuh rupa. Kulitnya kuning bersisik namun wajahnya putih pucat seperti tak berdarah.
Aku sendiri tak pernah bertemu dukun itu, karena pertemuan akan berujung kematian. Entah dia yang mati atau aku, atau justru Dedi yang akan mati.
Foto-foto mesranya bersama Dedi membuatku murka. Dengan semena-mena dedi membuangku demi dukun mistis itu, dengan tidak masuk akal Dedi memberikan semua uangnya pada si dukun, padahal bertahun-tahun aku menjalin hubungan dengan Dedi, jarang sekali ia memberiku uang.
Yang membuatku semakin tidak habis pikir, Dedi yang sudah beristri-istri itu tega melihat istrinya membusuk digerogoti rayap. Rayap itu masuk lewat telinga, mengaduk-aduk isi telinga hingga perih, merambat ke tenggorokan, masuk kerongkongan, membuat si empunya mual tidak doyan makan, bertelur dan bertai di situ, lalu pergi meninggalkan ribuan telurnya di kerongkongan dan tai-tainya masuk ke lambung. Ia sendiri kabur menuju kepala, mengikuti aliran darah sampai ke jantung, dipompa lagi sampai ke tangan, kaki, pipi, leher, hidung, mata dan bertengger di otak. Bagi rayap, otak adalah kasur terempuk dan terhangat untuknya tidur, berliur, ngompol dan mimpi basah.
Istri dedi kaku, seperti hidup tak bernyawa, mati belum diterima. dedi tetap santai, asmaranya dengan dukun mistis tidak bisa diganggu gugat oleh apapun dan siapapun.
Kuputuskan hubungan dengan Dedi. Tidak seharusnya, aku tahu. Tapi aku jauh lebih sakit hati daripada apapun. memang aku tidak pikir panjang, tapi aku tidak menyesal. Kesebatangkaraanku menuntunku untuk mengenal orang-orang lain bernama Dedi dan lama-kelamaan aku semakin tahu bahwa tidak semua Dedi seperti dedi yang kukenal.
Aku mulai belajar, mau tak mau aku lahir dengan keadaan yang sangat tidak kuinginkan. Mau tak mau aku menjalin hubungan aneh dengan Dedi dan istri-istrinya beserta anak-anaknya yang berbahagia. Mau tak mau aku pura-pura bahagia melihat bola dunia di genggamanku yang warnanya coklat kehitaman seperti habis tercebur lumpur lalu disambar petir. Mau tak mau aku menjalani hidup yang manisnya seperti brotowali ini. Tapi entah aku mau atau tidak, Tuhan selalu Maha Tahu bahwa aku pastinya mampu. Jadi tidak usah khawatir dengan Dedi di sekitarmu, mereka baik, mereka penyayang, mereka hebat dan mereka Dedi yang bisa diharapkan.
*catatan bohong dari anaknya Dedi #3 yang sangat bahagia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar