Minggu, 18 Maret 2012

Tetralogi Cerpen The Shadow episode #1

TERLAMBAT

Ada segumpal tanah liat di depan pintu rumahku. Entah siapa yang menaruhnya di situ.Usut punya usut, bukan hanya aku yang dikirimi tanah liat. Beberapa orang temanku pun menemukan segumpal tanah liat di depan pintu rumah mereka. Satu dua orang hanya memandang tanah liat itu dan membiarkannya tetap di depan pintu, beberapa ada yang menyimpannya, ada pula yang tidak menghiraukannya, bahkan ada pula yang langsung mengguyurnya.
Tanah liat di depan pintu rumahku sangat menjijikkan. Warnanya yang merah kecoklatan membuatku mual-mual, bentuknya yang berupa gumpalan lembek membuatku bergidik tidak doyan makan. Akhirnya kubuang segumpal tanah liat itu.

Keesokan paginya, ketika kubuka pintu rumahku, ada segumpal tanah liat lagi di situ. Kutelpon beberapa temanku; sama, mereka pun menerima ‘bingkisan indah’ itu. Ada yang melakukan hal yang sama dengan kemarin, ada pula yang memberikan perlakuan yang berbeda pada segumpal tanah liat itu.

Satu minggu, tetap kudapatkan tanah liat menjijikkan di depan pintu rumahku – dan tentu saja tetap kubuang. Beberapa temanku mulai memelihara tanah anugrah itu. Sampai berbulan-bulan lamanya masih tetap ada kiriman tanah liat di depan pintu rumahku, hanya segumpal setiap harinya namun tetap sangat menjijikkan bagiku.

Setelah setahun, tidak ada lagi yang mengirimiku segumpal tanah liat di depan pintu rumahku. Aku tenang. Satu per satu temanku menelponku, menanyakan perihal segumpal tanah liat yang tak lagi menunggu di depan pintu rumah mereka. Beberapa kecewa. Beberapa biasa saja. Beberapa sedih. Beberapa bingung. Tapi semuanya memelihara. Ya, semuanya. Hanya aku yang tidak tertarik untuk menyentuh apalagi memelihara tanah liat itu.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Kukunjungi rumah salah seorang temanku. Ia punya banyak vas dan pot bunga cantik yang berisi tanaman-tanaman indah dan wangi. Kutanya, berapa uang yang ia keluarkan untuk membeli vas dan pot sebanyak itu. Ia terkekeh, tanpa biaya, katanya. Ia buat semua vas dan pot yang cantik itu dari tanah liat yang setiap hari datang segumpal di depan pintu rumahnya. Aku terperanjat.

Kukunjungi rumah temanku yang lain. Ia punya bermacam-macam guci dan gentong antic nan mewah di rumahnya. Ada yang berukir naga, ada pula yang berukir putri Cina. Ada yang polos sederhana berwarna menyala. Kutanya, berapa uang yang ia keluarkan untuk menghias rumahnya dengan guci dan gentong antik sebanyak itu. Ia menggeleng, katanya ia buat sendiri semua benda-benda itu dari tanah liat yang selalu menghampirinya segumpal demi segumpal setiap hari. Aku terkesiap.

Kukunjungi rumah temanku yang lain. Tidak ada vas dan pot, tidak ada guci dan gentong. Masih sama seperti dulu, ketika kami belum dikirimi tanah liat. Lima menit aku duduk mengobrol dengannya, anak perempuannya datang membawa nampan berisi cangkir-cangkir kecil dan poci cantik ditemani cawan-cawan manis nan indah. Kutujukan kekagumanku pada wadah-wadah makanan yang ia suguhkan. Ia tergelak, katanya ia punya banyak sekali di lemari penyimpanan. Ia menunjukkanku koleksinya yang sangat amat banyak dan menakjubkan. Ambil berapapun jika kau mau, katanya padaku. Aku kaget, sungguh? Tanyaku. Ia mengangguk, menawariku beberapa jenis poci, cangkir, bahkan kendi yang unik dan cantik. Kau tak sayang jika ini kuambil? Tanyaku memastikan. Ia terkekeh, Aku justru senangjika kau menyukai hasil karyaku. AKu membuatnya sendiri dari tanah liat yang selalu datang setiap hari di depan pintu rumahku. Deg! Kukembalikan lagi poci yang tadi kupegang. Aku tidak percaya.

Di rumah, kusadari kebodohanku. Kusesali keangkuhanku. Aku berdoa pada Tuhan untuk mengirimiku tanah liat lagi. Meski hanya segumpal, namun jika dikumpulkan setiap hari pasti hasilnya akan banyak juga. Dua tahun aku menunggu dan berdoa, kiriman tanah liat itu tak juga datang. Kucari sendiri tanah liat dimana-mana, namun sudah tidak ada. Lapangan sudah menjadi gedung, sawah sudah menjadi perumahan, tepi jalan sudah dipaving seluruhnya. Di perjalanan pulang, langit menurunkan hujan dengan lebatnya. Bukan hujan air, tapi hujan lumpur. Bersungut-sungut, kucari tempat berteduh. Tak juga reda. Sementara aku melontarkan sumpah serapah karena hujan lumpur telah mengotori pakaian dan tubuhku, orang-orang justru berbondong-bondong keluar dari rumahnya, membawa ember-ember besar dan menampung lumpur sebanyak mereka bias.

Kuangka bahu, kupikir orang-orang ini sudah gila. Seorang wanita bertubuh besar lewat di depanku, sayup-sayup berkata pada dirinya sendiri, Semoga panas segera datang agar aku bisa membuat patung peri cantik untuk pernikahan anakku.

Aku tersadar, kucari plastik, ember atau apapun yang bias kugunakan untuk menampung hujan lumpur yang tinggal setetes-setetes ini. Tak ada. Kutadahi dengan tangan, habis. Tak ada lumpur yang bisa kupegang, hanya ada bekas lumpur yang mengotori tanganku. Langit cerah, semua orang riang. Aku lemas, terduduk kaku menatap hingar-bingar orang-orang.

Terima kasih Tuhan, Kau selalu memberi apa yang kubutuhkan, meski bukan selalu hal yang kuminta. Akulah yang selalu terlambat untuk mengerti dan mensyukuri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar