TERLAMBAT
Ada segumpal tanah liat di depan pintu
rumahku. Entah siapa yang menaruhnya di situ.Usut punya usut, bukan
hanya aku yang dikirimi tanah liat. Beberapa orang temanku pun menemukan
segumpal tanah liat di depan pintu rumah mereka. Satu dua orang hanya
memandang tanah liat itu dan membiarkannya tetap di depan pintu,
beberapa ada yang menyimpannya, ada pula yang tidak menghiraukannya,
bahkan ada pula yang langsung mengguyurnya.
Tanah liat di depan
pintu rumahku sangat menjijikkan. Warnanya yang merah kecoklatan
membuatku mual-mual, bentuknya yang berupa gumpalan lembek membuatku
bergidik tidak doyan makan. Akhirnya kubuang segumpal tanah liat itu.
Keesokan
paginya, ketika kubuka pintu rumahku, ada segumpal tanah liat lagi di
situ. Kutelpon beberapa temanku; sama, mereka pun menerima ‘bingkisan
indah’ itu. Ada yang melakukan hal yang sama dengan kemarin, ada pula
yang memberikan perlakuan yang berbeda pada segumpal tanah liat itu.
Satu
minggu, tetap kudapatkan tanah liat menjijikkan di depan pintu rumahku –
dan tentu saja tetap kubuang. Beberapa temanku mulai memelihara tanah
anugrah itu. Sampai berbulan-bulan lamanya masih tetap ada kiriman tanah
liat di depan pintu rumahku, hanya segumpal setiap harinya namun tetap
sangat menjijikkan bagiku.
Setelah setahun, tidak ada lagi
yang mengirimiku segumpal tanah liat di depan pintu rumahku. Aku
tenang. Satu per satu temanku menelponku, menanyakan perihal segumpal
tanah liat yang tak lagi menunggu di depan pintu rumah mereka. Beberapa
kecewa. Beberapa biasa saja. Beberapa sedih. Beberapa bingung. Tapi
semuanya memelihara. Ya, semuanya. Hanya aku yang tidak tertarik untuk
menyentuh apalagi memelihara tanah liat itu.
Hari berganti
hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Kukunjungi rumah
salah seorang temanku. Ia punya banyak vas dan pot bunga cantik yang
berisi tanaman-tanaman indah dan wangi. Kutanya, berapa uang yang ia
keluarkan untuk membeli vas dan pot sebanyak itu. Ia terkekeh, tanpa
biaya, katanya. Ia buat semua vas dan pot yang cantik itu dari tanah
liat yang setiap hari datang segumpal di depan pintu rumahnya. Aku
terperanjat.
Kukunjungi rumah temanku yang lain. Ia punya
bermacam-macam guci dan gentong antic nan mewah di rumahnya. Ada yang
berukir naga, ada pula yang berukir putri Cina. Ada yang polos sederhana
berwarna menyala. Kutanya, berapa uang yang ia keluarkan untuk menghias
rumahnya dengan guci dan gentong antik sebanyak itu. Ia menggeleng,
katanya ia buat sendiri semua benda-benda itu dari tanah liat yang
selalu menghampirinya segumpal demi segumpal setiap hari. Aku terkesiap.
Kukunjungi
rumah temanku yang lain. Tidak ada vas dan pot, tidak ada guci dan
gentong. Masih sama seperti dulu, ketika kami belum dikirimi tanah liat.
Lima menit aku duduk mengobrol dengannya, anak perempuannya datang
membawa nampan berisi cangkir-cangkir kecil dan poci cantik ditemani
cawan-cawan manis nan indah. Kutujukan kekagumanku pada wadah-wadah
makanan yang ia suguhkan. Ia tergelak, katanya ia punya banyak sekali di
lemari penyimpanan. Ia menunjukkanku koleksinya yang sangat amat banyak
dan menakjubkan. Ambil berapapun jika kau mau, katanya padaku. Aku
kaget, sungguh? Tanyaku. Ia mengangguk, menawariku beberapa jenis poci,
cangkir, bahkan kendi yang unik dan cantik. Kau tak sayang jika ini
kuambil? Tanyaku memastikan. Ia terkekeh, Aku justru senangjika kau
menyukai hasil karyaku. AKu membuatnya sendiri dari tanah liat yang
selalu datang setiap hari di depan pintu rumahku. Deg! Kukembalikan lagi
poci yang tadi kupegang. Aku tidak percaya.
Di rumah,
kusadari kebodohanku. Kusesali keangkuhanku. Aku berdoa pada Tuhan untuk
mengirimiku tanah liat lagi. Meski hanya segumpal, namun jika
dikumpulkan setiap hari pasti hasilnya akan banyak juga. Dua tahun aku
menunggu dan berdoa, kiriman tanah liat itu tak juga datang. Kucari
sendiri tanah liat dimana-mana, namun sudah tidak ada. Lapangan sudah
menjadi gedung, sawah sudah menjadi perumahan, tepi jalan sudah dipaving
seluruhnya. Di perjalanan pulang, langit menurunkan hujan dengan
lebatnya. Bukan hujan air, tapi hujan lumpur. Bersungut-sungut, kucari
tempat berteduh. Tak juga reda. Sementara aku melontarkan sumpah serapah
karena hujan lumpur telah mengotori pakaian dan tubuhku, orang-orang
justru berbondong-bondong keluar dari rumahnya, membawa ember-ember
besar dan menampung lumpur sebanyak mereka bias.
Kuangka
bahu, kupikir orang-orang ini sudah gila. Seorang wanita bertubuh besar
lewat di depanku, sayup-sayup berkata pada dirinya sendiri, Semoga panas
segera datang agar aku bisa membuat patung peri cantik untuk pernikahan
anakku.
Aku tersadar, kucari plastik, ember atau apapun
yang bias kugunakan untuk menampung hujan lumpur yang tinggal
setetes-setetes ini. Tak ada. Kutadahi dengan tangan, habis. Tak ada
lumpur yang bisa kupegang, hanya ada bekas lumpur yang mengotori
tanganku. Langit cerah, semua orang riang. Aku lemas, terduduk kaku
menatap hingar-bingar orang-orang.
Terima
kasih Tuhan, Kau selalu memberi apa yang kubutuhkan, meski bukan selalu
hal yang kuminta. Akulah yang selalu terlambat untuk mengerti dan
mensyukuri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar